Mythical Rubick

Mythical Rubick
37 | Popular Monster



"Artizy, apa kau sudah punya rencana untuk melawan perempuan itu?" tanyaku kepadanya yang masih terlihat kesal, aku tau sekali itu adalah tatapan yang pernah aku lihat ketika dia benar-benar murka dulu.


Artizy berhenti melangkah lalu membalikkan badannya sambil menggaruk kepalanya. "Aku tidak punya rencana."


Aku dan teman-teman yang lain secara kompak menepuk dahi kami.


"Sudah ku duga!" ujarku.


"Artizy kau ini benar-benar..." Ellen mengepal tangannya seperti ingin memukul wajah Artizy yang tengah memasang wajah polosnya.


"Anak perempuan tadi itu, dia adalah salah satu murid dari kelas 10 A. Apa kalian lupa saat mereka mendapatkan penghargaan dan dia ada di atas podium juga," sahut Karin dengan wajah khawatirnya


"Karin, aku tidak peduli dia anak dari kelas mana ataupun dia itu anak dewa sekalipun, aku tidak akan takut. Aku tidak akan membiarkan orang-orang seperti dia berkeliaran di dunia ini!" sahut Artizy dengan penuh percaya diri.


Artizy melanjutkan langkahnya menuju lapangan arena yang sebenarnya juga berada di pantai itu, belum jauh melangkah Karin menggenggam tangan Artizy.


"Jangan kalah, berjanjilah!"


Merasa tidak mau kalah, Ellen juga menggenggam tangan Artizy yang satunya lagi.


"Awas saja jika kau kalah, tidak akan ku maafkan!"


Artizy terlihat malu karena ulah mereka berdua, dia hanya tersenyum canggung lalu kembali melanjutkan langkahnya.


...


Kami tidak di izinkan untuk memasuki area bertarung dan hanya diperbolehkan menonton di kursi penonton. Jadi aku berinisiatif menjadi pendampingnya di samping lapangan dan Mika juga aku ajak agar jika terjadi sesuatu Mika bisa mengobati Artizy secara langsung.


Artizy memandang ke kursi penonton dan melambaikan tangannya ke arah Karin, Ellen dan Reznov lalu berteriak. "Doakan aku teman-teman!"


Aku menyerahkan data informasi seputar perempuan yang menantang Artizy tadi.


"Jadi namanya Komoe!" ujar Artizy sambil melakukan pemanasan ringan.


"Yep, dia pengguna Warrior Blader Runner, tipe Offensive Ranger,"


"Jarak jauh rupanya berarti pertahanannya empuk sekali!"


"Jangan senang dulu, dia memiliki senjata Frosty Blade, senjata miliknya hampir mirip dengan Cube of Arcane yang juga melayang di belakang penggunanya," ujarku sambil memperlihatkannya catatan bertarung Komoe yang terkesan agresif dan tidak suka bertele-tele.


Prepare for battle, suara pengumuman untuk segera mempersiapkan bertarung.


"Ok Artizy sepertinya waktuku sudah habis, semoga beruntung sobat. never forget never forgive!" ucapku lalu menjauh dari lapangan dan duduk di samping arena yang telah di siapkan memang untuk tim pendamping.


※※※


Another Pov


Artizy dan Komoe melakukan summon secara bersamaan.


"Summon!" rapal Artizy.


Lalu semua penonton dibuat terkagum-kagum dengan efek summoning milik Artizy. Ia membuat arena yang terang menderang karena matahari tengah berada di titik tertingginya seketika berubah menjadi gelap serta di iringi kicauan burung gagak yang menambah kesan mengerikan warrior milik Artizy.


"Menarik juga, Summon!" rapal Komoe.


Berbeda dengan Artizy, efek summoning Komoe hanya mengubah sekitar dirinya menjadi bersuhu dingin dan terkesan biasa saja dimata penonton.


Ten second to battle, begitulah suara yang ada di pengeras suara di dampingi teriakan menghitung mundur para penonton.


9


8


7


6


5


4


3


2


1


Battle has begin


Dengan sepenuh tenaga, Artizy berlari menyeret pedang besarnya Rondo dan mencoba menyerang Komoe di jarak dekat.


Merasa tidak ingin kalah, Komoe juga ikut berlari kearah Artizy sambil melakukan serangan yaitu melempar belati es miliknya.


Artizy seperti sudah menduga hal itu akan terjadi dan lantas menangkis dengan menembakkan Rhapsody miliknya dan menghindar ke samping.


"Boleh juga kau, tapi apa kau bisa menangkis serangan ini!" Komoe lalu melempar puluhan belatinya ke arah Artizy secara terus menerus.


"Cih!" Artizy mulai sedikit kesulitan karena arena di pantai ini memiliki medan berpasir yang membuat pergerakan menjadi kurang fleksibel.


Dengan sekuat tenaga Artizy menghindari tiap serangan bak badai yang di luncurkan oleh Komoe tetapi itulah yang Artizy inginkan untuk menguras semua energi milik Komoe.


Komoe terlihat tengah mengatur nafasnya, dia tidak menduga serangannya tidak ada satupun yang mengenai Artizy.


"Giliranku!" teriak Artizy lalu berlari kearah Komoe yang tengah memulihkan energinya.


Walaupun sedang dalam kondisi tidak di untungkan, tetap saja Komoe berhasil menghindari tiap tebasan dari pedang besar milik Artizy.


"Rasakan ini!" Artizy melompat ke udara lalu memanfaatkan gravitasi untuk menambah kekuatan tebasannya yang mengarah langsung ke kepala Komoe.


Namun sayang sekali, serangan Artizy mampu di hindari oleh Komoe. Efek serangan tadi membuat tumpukan pasir yang ada di arena tadi terbelah layaknya tongkat Nabi Musa yang membelah laut Merah.


Pedang sebesar itu, jika mengenaiku bisa-bisa tubuhku ini akan hancur, aku harus lebih berhati-hati lagi, batin Komoe di dalam hati.


Komoe berguling kebelakang untuk menghindari serangan berikutnya.


"Mana omong besar mu yang di awal tadi hah!?" tanya Artizy kepada Komoe.


"Diam kau murid kelas F, kau itu hanya sampah di sekolah!"


"Baiklah kita lihat saja siapa yang sampah sebenarnya! Akan ku putarkan sebuah lagu pengantar tidur untuk mu, sebuah lagu yang akan membuat mu tidak bisa merasakan mimpi indah lagi!" ucap Artizy lalu menyilangkan Rhapsody dan Rondo miliknya.


Artizy tersenyum. "[Song of Lullaby]!"


Artizy mulai memainkan biola dengan sangat merdu di telinga penonton, namun sebaliknya di telinga Komoe, dia mendengar hal yang mengerikan sampai-sampai ia berteriak bukan main sambil menutup kedua telinganya.


"HENTIKAN!" teriak Komoe yang terbaring sambil menggulingkan tubuhnya dan mencoba memasukkan kepalanya kedalam pasir agar tidak mendengar musik Artizy.


"Indah sekali!" puji Karin tersenyum memandangi pujaan hatinya yang tengah memainkan biola dengan gagahnya.


Artizy kau benar-benar keren sekali, batin Ellen di dalam hatinya.


Penonton pun bersorak kepada Artizy dan menyebut-nyebut namanya berulang-ulang kali.


Artizy...Artizy... Artizy...


Komoe yang tadi memasukkan kepalanya di dalam pasir sekarang malah mengeluarkan kepalanya yang mulai mengeluarkan darah dari kedua matanya, hidung, mulut bahwa telinganya juga mengalir deras cairan berwarna merah pekat itu.


"MAAFKAN AKU ... HENTIKAN! HENTIKAN!"


Artizy tetap memainkan Biolanya dengan penuh penghayatan dan mempercepat gerakannya yang membuat Komoe langsung berteriak semakin kencang.


"AKU MENYERAH!!!" teriak kencang Komoe dan akhirnya Artizy menghentikan permainan biolanya lalu menundukkan kepalanya ke hadapan para penonton seperti seorang violis yang telah berhasil melakukan konsernya.


Penonton bersorak di sertai tepuk tangan yang sangat meriah.


"Artizy kau memang hebat!" teriak Reznov sambil bertepuk tangan dengan sangat kegirangan.


Muzzy dan Mika menatap satu sama lain dan bersyukur Artizy tidak mengalami hal yang buruk.


Artizy melompat kegirangan karena berhasil mengalahkan Komoe lalu berlari ke arah Muzzy dan Mika.


"Bagaimana, hebat bukan!?"


"Aku tidak menyangka kau sekuat itu sobat!" sahut Muzzy lalu menepuk pundak Artizy.


"Selamat Artizy atas kemenangannya, kau memang terhebat!"


"Wah kalian berdua terima kasih, jadi malu hehe," sahutnya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


Another Pov off


※※※


Kami berjalan meninggalkan arena bersama-sama dan menghampiri karin, Ellen dan Reznov yang telah menunggu kami di samping kursi penonton.


Karin secara tidak di sangka-sangka berlari lalu memeluk Artizy. "Syukurlah kau tidak apa-apa!"


Ellen yang melihat hal itu langsung menarik tubuh Karin agar tidak memeluk Artizy terus menerus. "Lepaskan, apa yang kau pikirkan Karin!?"


"A-aduh ... kau ini apaan sih tarik-tarik, sakit tau!"


Reznov menggelengkan kepalanya. "Kalian berdua ini, saat di kursi penonton juga sama seperti ini!"


"S-sudahlah kalian berdua, terima kasih banyak sudah mengkhawatirkanku," ujar Artizy lalu tersenyum yang membuat Karin dan Ellen terdiam dengan wajah mereka yang mulai memerah.


Aku dan Mika hanya tersenyum kearah mereka bertiga yang bertingkah malu-malu.


Kami berenam memutuskan untuk kembali ke payung pantai yang kami tempati tadi dan bersiap-siap untuk kembali di penginapan.


"Kak Erina, ngomong-omong dimana ya?" tanya Mika.


"Tadi dia bilang, dia dan Dokter Lute tengah berjalan-jalan ke pusat kota di dekat pantai ini. Malam ini kita mungkin makan BBQ," sahutku.


"Wah!" ucap mereka kompak.


...


Reznov, Ellen dan Karin lebih dulu kembali ke penginapan sedangkan aku, Artizy dan Mika masih berduduk-duduk santai sambil menyaksikan langit pantai yang mulai berwarna Jingga.


Walaupun ada Artizy, aku dan Mika tetap memberanikan diri untuk bergandengan tangan walau ya harus diam-diam.


"Kalian berdua!" ucap Artizy secara tiba-tiba yang membuat kami terkejut.


"I-iya, ada apa Artizy?" sahut kami berdua yang masih terkejut-kejut.


"Apa kalian pernah punya mimpi aneh seperti bangun di suatu tempat yang asing?"


Mimpi aneh, apa Artizy pernah bermimpi tentang hal itu, kurasa tidak mungkin, batinku di dalam hati.


"Mimpi seperti apa Artizy?" sahut Mika.


Artizy tidak merespon, dia hanya diam dan beberapa saat kemudian baru dia menjawab. "Di mimpi itu aku terbangun di suatu tempat yang anehnya dan terdapat banyak sekali Cube seperti milik mu, Muzzy!"


Apa!? Ini tidak mungkin bukan, kenapa Artizy di panggil oleh Tree of Life?, batinku di dalam hati.


"L-lalu apa lagi?" tanyaku pura-pura tidak tau.


Artizy mengambil sebuah ranting pohon kecil lalu menggambarnya di atas pasir. "Ada sebuah pohon besar yang entah mengapa bisa berbicara! Aneh bukan, sebuah pohon besar yang memancarkan cahaya kebiruan berbicara!"


Apa yang direncanakan oleh Tree of Life kepadaku dan Artizy, sebaiknya aku akan tanya paman Grey secepatnya!, batinku di dalam hati.


"Apa yang di katakannya, Artizy?" tanya Mika yang dari tadi memperhatikan dengan seksama gambar yang di buat oleh Artizy.


"Ia berkata, bahwa aku terpilih menjadi The Guard. Aku diperintahkan untuk melindungi The Key dan The Pure, lalu aku terbangun begitu saja tapi ketika aku bangun sebuah bola cahaya hitam memasuki diriku!"


The Key dan The Pure, seingatku ketika di panggil oleh Tree of life, aku lah The Key namun aku masih tidak mengerti The Key itu untuk apa?, batinku.


"Ah aku ingat! Dulu aku juga pernah bermimpi seperti itu juga!" ujar Mika sambil menunjuk gambar Artizy.


"Kau juga Mika?!" tanyaku berwajah pucat karena hal ini.


"Banyak kalimat yang aku lupakan tapi aku hanya ingat beberapa kalimat, tentang The Pure dan ia meminta ku untuk menjaga sesuatu lalu sebuah kristal putih seperti sebuah biji memasuki tubuhku!"


Lalu mereka berdua melirikku yang kebingungan ada apa ini, kenapa mereka berdua ikut terseret sampai sejauh ini.


"Muzzy apa kau tau sesuatu?" tanya Mika lalu memegang tanganku.


"Kenapa di mimpiku ada Cube milik mu, Muzzy?!" tanya Artizy.


Aku sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan mereka berdua, aku hanya diam dan berpikir kenapa harus mereka, kenapa harus mereka berdua yang di pilih oleh Tree of Life, memikirkannya saja membuatku pusing. The Key, The Pure dan The Guard, aku akan mencari tau semua ini.


-Tbc-