
Another Pov
Ellen hanya bisa menatap luka yang Jeo alami dengan tatapan penuh ketakutan, sampai-sampai membuat tubuhnya bergetar dengan sangat kuat, tersisip harapan kecil di dalam jiwanya untuk terus bertarung namun ketakutannya terhadap darah membuatnya tak mampu untuk menggenggam lagi senjata miliknya.
Murid laki-laki berbadan tinggi besar itu mengambil ancang-ancang berniat menebas pedangnya secara vertikal ke arah Ellen.
"Ellen! Bangkit Ellen!" teriak Artizy yang sudah tidak karuan rasa lagi di samping lapangan arena.
Begitu pula dengan anggota kelas 10F lainnya. Semua mencoba membuat Ellen bangkit tatapi usaha mereka sia-sia, ia tetap duduk sambil memeluk erat Jeo.
"Pecundang!"
"Pecundang!"
"Pecundang!"
Teriak sebagian penonton yang ada di tribun.
Murid laki-laki bertubuh tinggi besar itu tersenyum licik lalu berkata. "Ada kata-kata terakhir nona Beast warrior?"
Ellen hanya diam sambil menutup kedua matanya seperti telah pasrah dengan semua keadaan yang ada.
Ayolah Ellen bangkit!, batin Muzzy didalam hatinya.
"[Crash Slash]!" rapal murid laki-laki berbadan tinggi besar itu.
Belum sempat mengenai tubuh Ellen. Jeo mengaum dengan sangat kencang yang membuat murid laki-laki berbadan tinggi besar itu terpental mundur.
Jeo dengan sepenuh tenaga mencoba bangkit, walaupun tertatih-tatih ia tetap mencoba bangkit.
Jeo yang sudah bangkit, menatap Ellen lalu menjilat-jilat wajah Ellen seperti memberi semangat kepadanya.
Ellen hanya diam lalu tersenyum kecut kearah Jeo. Ia mencoba bangkit dibantu oleh Jeo dengan tubuh yang masih bergetar hebat, sangat terlihat jelas bahwa ia benar-benar ketakutan.
"Yeah!!!" sorak bahagia semua anggota kelas 10F di pinggir lapangan arena.
Luka ditubuh Jeo perlahan mulai memudar karena skill pasif miliknya yang bisa meregenerasi luka walaupun perlu waktu untuk sembuh kembali dan rasanya juga masih terasa sakit.
Ellen mengangkat kapaknya keatas sebelum memerintahkan Jeo untuk menerjang murid laki-laki itu.
Cakar tajam Jeo berhasil merobek kulit pelipis di wajah murid laki-laki itu. Tanpa menyia-yiakan momen itu, Ellen langsung melompat ke depan dan mengayunkan kapak besarnya kearah murid laki-laki itu. Arena dibuat bergetar akibat serangan kuat Ellen tadi.
"[Magnitude Cross]!" rapal Ellen.
Lantai arena yang semulanya mulus menjadi rusak akibat serangan Ellen, walaupun serangan itu meleset tetapi berimbas kepada mental si murid laki-laki itu.
Tapi tidak seperti Ellen, mentalnya berangsur-angsur cepat membaik walaupun untuk memegang kapaknya saja masih terasa susah.
Murid laki-laki itu kembali memegang erat pedangnya sambil menarik napasnya dengan tenang. Mereka pun kembali berhadap-hadapan dan saling mencoba mengintimidasi satu sama lain.
Pertarungan terus berlanjut, Ellen dan murid laki-laki itu terus menjual beli serangan, namun Muzzy masih merasakan bahwa Ellen masih terlihat ketakutan.
Aku punya perasaan yang buruk!, batin Muzzy.
"Murid laki-laki itu seperti mesin saja, staminanya tidak habis-habis!" ucap Mika yang terlihat mencemaskan Ellen karena kondisinya yang sudah mulai melemah.
Muzzy mengangguk, mengiyakan argumen Mika lalu menelan ludahnya dengan berat.
Murid laki-laki itu memang mempunyai stamina yang lebih besar dibanding Ellen yang juga sebenarnya mempunyai stamina di atas rata-rata di kelas mereka, namun sekuat apapun ia, Ellen tetaplah hanya seorang perempuan yang kekuatannya berbeda dengan laki-laki.
Tidak terasa sudah hampir setengah jam Ellen dan murid laki-laki itu bertarung, namun keduanya masih terlihat tidak puas karena sama-sama belum berhasil mengalahkan satu sama lain.
"Ellen!" gumam Artizy menggenggam erat tangannya sambil melihat ke arah Ellen dengan ekspresi serius.
Ellen menancapkan kapaknya di lantai arena, lalu mencoba mengatur napasnya secara perlahan agar energi miliknya pulih dengan cepat.
Melihat hal itu tentu saja tidak di sia-siakan oleh murid laki-laki itu, melihat Ellen yang terlihat sedang lengah membuatnya terpancing untuk menyerang secara lansung tanpa pikir panjang.
Jeo menghadang murid laki-laki itu untuk melindungi Ellen yang masih mencoba memulihkan kembali energinya. Dengan taringnya yang panjang, Jeo mencoba mengalihkan perhatiannya.
Setelah merasa cukup, Ellen langsung mengangkat kembali kapak besarnya itu lalu memanggil Jeo untuk mundur.
"JEO!" teriak Ellen memanggil Liger miliknya itu.
Jeo dengan sigap langsung melompat mundur.
"Ayo kita akhiri ini!" lanjut Ellen melirik ke arah Jeo.
Jeo mengaum dengan keras seperti mencoba mengintimidasi murid laki-laki itu.
Ellen lalu menaiki tubuh Jeo dan mereka berdua pun langsung menyerang murid laki-laki itu dengan sangat cepat namun serangan mereka mampu ditahan oleh murid laki-laki itu.
Dengan sepenuh tenaga, murid laki-laki itu melakukan serangan balik yang usahanya membuahkan hasil, Ellen dan Jeo terpental keluar arena yang membuat mereka berdua dianggap kalah.
...※※※...
Skor sementara menjadi 2-1 yang membuat kelas 10F diwajibkan untuk memenangkan pertandingan selanjutnya agar tidak jatuh ke lower bracket.
"Maaf teman-teman, aku gagal meraih poin," ucap Ellen dengan wajah yang seperti ingin mengeluarkan air mata di kedua matanya.
Melihat moral timnya mulai memudar, Karin berinisiatif memberi beberapa kalimat untuk meningkatkan moral mereka semua.
Perlahan moral anggota kelas 10F mulai kembali bangkit berkat kalimat yang diucapkan Karin tadi.
Para anggota kelas 10F mencoba memberi semangat satu sama lain.
...
Pemilihan pemain sudah dilakukan yang hasilnya terpilihlah Taka dari kelas 10F untuk melawan pemain rank ke 2 dikelas 10B, seorang murid perempuan berambut hijau dengan warna mata sama seperti rambutnya. Ia bernama Kana, pemilik Warrior Lighting Majesty dengan senjata Fulgur Grimoire.
"Perbedaan kualitas warrior antara kita sudah sangat jelas berbeda. Aku dengan rank ke 2 dari kelasku melawan rank ke 12 di kelas mu yang F itu!" ucap Kana dengan sombongnya sambil melakukan pose merendahkan lawannya.
Mendengar hal itu, Taka malah tertawa. Ia menganggap kalimat yang barusan di ucapkan Kana adalah lelucon yang sangat lucu.
"Haha, kau menyombongkan rank yang hanya sebuah angka yang tidak ada habis-habisnya itu? Ku kira kelas dengan tingkatan atas memiliki pemikiran yang jauh lebih maju di banding kelas kami yang selalu di anggap sampah, rupanya kalian lebih buruk dari sampah!" ejek Taka lalu melakukan Summon.
Taka memutar-mutar senjatanya sambil menatap tajam kearah Kana yang merasa terhina karena ucapannya tadi.
Kana yang tidak terima juga ikut melakukan Summon dan mereka berdua sudah dalam keadaan siap bertarung.
"Taka, tunjukkan hasil latihan kita!" teriak Maze di pinggir arena.
Taka menoleh ke arah Maze lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Kana, namun senyum itu adalah sebuah sartir oleh seorang Taka.
...
Pertarungan antara Taka dari kelas 10F melawan Kana dari kelas 10B berlangsung sangat sengit.
Kana menggunakan senjatanya dengan sangat hebat, begitu pula dengan Taka yang bergerak sangat cepat. Karena pergerakan Taka yang terlalu cepat membuat Kana terkadang kewalahan, sampai akhirnya Taka berhasil mengikat tubuh Kana dengan senjatanya, Awakened Chain Sickle.
"Mana kalimat sombong mu tadi nona Kana si peringkat 2?!" tanya Taka sambil memainkan rantai di senjatanya.
Taka mengencangkan ikatan dari senjatanya yang membuat tubuh Kana menjadi semakin terlilit, bahkan untuk menggerakan jarinya saja sangatlah susah.
"J-jangan senang dulu kau, [Electric Guard]!" sahut Kana lalu mengeluarkan sebuah pelindung beraliran listrik ketubuhnya.
Melihat hal itu Taka langsung melepaskan tubuh Kana agar tidak terkena sengatan listrik yang di pancarkan oleh tubuhnya.
"Sial, padahal sedikit lagi!" gumam kesal Taka lalu melompat mundur.
Tanpa sadar sekujur tubuh Kana terdapat luka goresan akibat terkena lilitan rantai milik Taka yang sebenarnya juga memiliki efek seperti senjata miliknya.
Penonton yang awal meneriaki kelas 10F seketika terdiam karena siapa sangka rank ke 2 kelas 10B yang terkenal kuat, dapat di sudutkan oleh rank 12 kelas 10F yang terkenal karena gagal.
Kana tersungkur karena menahan perih di seluruh tubuhnya, ia belum pernah merasa dipermalukan seperti ini.
Melihat Kana yang sudah tidak berdaya lagi membuat Taka mempunyai niat untuk segera menyelesaikan pertandingan ini. Ia berlari lurus kearah Kana sambil menyeret Awakened Chain Sickle miliknya.
"[Chain Suppression]!" rapal Taka sebelum ia melompat ke sana kemari untuk mengikat secara paksa tubuh Kana.
Sebuah lilitan yang tidak teratur melilit tubuh Kana yang sudah tidak berdaya itu. Dengan sekuat tenaga Taka menarik paksa lilitan itu sampai-sampai membuat Kana berteriak dan pada akhirnya tubuhnya terbelah menjadi beberapa potongan yang membuat penonton menutup matanya karena harus menyaksikan seorang perempuan cantik harus mengalami nasib yang sangat menyedihkan walaupun itu hanyalah warriornya saja bukan manusia aslinya.
Kana pun kembali ke bentuk manusianya dan ia pun tidak sadarkan diri. Para petugas medis langsung membawanya ke tepi arena dan segera melalukan pemeriksaan terlebih dahulu. Taka yang merasa iba langsung mendekat kearah Kana yang masih tidak sadarkan diri untuk mencek secara langsung bagaimana keadaan lawannya itu.
Petugas medis mengatakan ia hanya pingsan dan akan siuman sebentar lagi, mendengar hal itu membuat Taka cukup senang.
Skor sementara 2-2 yang artinya pertandingan terakhir adalah penentu siapa yang akan tetap berada di upper bracket dan yang kalah akan turun ke lower bracket.
Waktu istirahat disuguhi dengan musik agar suasana di arena menjadi lebih terasa, apalagi musik yang di putar adalah musik bergenre rock yang mampu membuat intensitas meningkat.
...※※※...
"Ini adalah pertandingan terakhir kita yang akan menjadi penentu apakah kita akan tetap di upper bracket atau turun ke lower bracket, apapun hasilnya kita sudah berusaha sejauh ini!" ucap Karin lalu semua anggota kelas 10F berteriak membakar semangat mereka yang masih ada.
Pertandingan akan dimulai sebentar lagi. Mesin pemilih tengah memilih siapa yang akan mewakili kelas mereka masing-masing.
Terpilihlah rank no 1 dikelas 10F yaitu si Artizy yang langsung melompat ketika namanya di panggil. Ia akan melawan rank no 1 dikelas 10B, yaitu seorang murid laki-laki berambut coklat pendek dengan wajah yang sepertinya pernah terkena sayatan dibagian wajah kirinya.
"Halo Artizy, aku telah mendengar beberapa rumor atau informasi tentang kau yang berhasil mengalahkan rank 10 di kelas 10A dan juga terpilih menjadi penerus Elder ke 3," ujar murid laki-laki itu.
Artizy terlihat tidak ingin meladeni apa yang dikatakan oleh murid laki-laki itu, ia tetap fokus melakukan peregangan dan juga sesekali melompat.
Para penonton mulai membicarakan Artizy yang memang akhir-akhir ini menjadi buah bibir karena ia terpilih menjadi calon penerus Elder ke 3.
"Apa Kak Zen sudah salah pilih orang?" tanya salah satu penonton kepada temannya yang disamping.
"Mungkin kak zen hanya mencari sensasi saja tapi itu tidak mungkin bukan, karena Kak Zen orangnya sangat jenius dan juga ganteng!" sahut temannya yang disamping sambil kegirangan karena menghayal wajah Zen yang ganteng.
Muzzy mendekat kearahnya sambil membawa sebuah kertas informasi yang beisi tentang warrior lawannya.
"Orang ini pengguna pedang besar seperti mu jua, ia memiliki Warrior Berserk Phantom dengan pedang besarnya Demon Great Sword," ujar Muzzy membacakan informasi tentang murid laki-laki itu.
"Jika memang seperti itu, berarti dia adalah lawan yang pantas untuk Demon Hunter sepertiku. Tubuhku sudah tidak sabar lagi untuk bertarung, seakan-akan tatapan matanya tadi menghisapku, kaca-kaca mulai berbisik dan bayangan mulai bernyanyi seperti aku sedang tidur berjalan!" ujar Artizy sambil melakukan pemanasan.
"Wow kalimat yang bagus, tapi tunggu dulu. Bukannya itu lirik lagu Sleepwalking milik BMTH!" sahut Muzzy berwajah datar.
Artizy lalu memegang belakang kepalanya lalu menggaruknya padahal kepalanya sedang tidak gatal sama sekali.
...-Tbc-...