Mythical Rubick

Mythical Rubick
63 | A Book?



Seminggu setelah kejadian pada hari itu, semua telah kembali normal seperti sedia kala. Para penduduk sudah mulai kembali kepada aktivitas mereka sehari-hari, dan pemerintahan dunia juga sudah memperketat penjagaan mereka di tiap-tiap batas distrik yang langsung terhubung dengan habitat monster yang di anggap bisa membahayakan para penduduk.


Flashback on


Di hari itu, aku tertidur lebih dari 2 hari begitu pula dengan Mika. Kami berdua bangun dengan kepala yang terasa begitu berat dan perut yang keroncongan karena lapar.


Lucunya, nenek Mika dan juga ibu Mika mengira kami telah melakukan hal itu dan tentu saja hal itu dibantah langsung oleh Mika dengan wajah merahnya karena merasa Malu dan hal itu langsung membuat nenek dan ibu Mika tawa karena melihat reaksi lucu si cucu dan anak semata wayangnya. Aku yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk kepalaku.


Setelah makan dan membersihkan badanku dengan mandi dan berendam di air hangat yang ada di kuil milik keluarga Mika. Aku berencana untuk langsung pulang namun paman Shira mengajakku bicara dan pembicaraan hanya dilakukan 4 mata saja.


Kami berdua berbicara di dalam sebuah ruangan khusus pertemuan para petinggi clan Shaman.


"Sepertinya AM sudah benar-benar kecolongan, mereka baru sadar bahwa ada pengkhianat di dalam diri mereka sendiri. Aku tau kakak mu sangatlah ketat dalam menyeleksi orang-orangnya namun berbeda dengan jendral yang terdahulu yaitu jendral Elliot, pimpinanku dulu,"ucap paman Shira lalu meminum secangkir teh hijau.


"Kak Erina sebenarnya sudah menduga hal itu bisa saja terjadi namun dia tidak mengetahui kapan hal itu akan terjadi, bukan hanya di AM hal itu juga terjadi di pemerintahan dunia yang saat ini di pegang oleh 10 clan Fundamental," sahutku sambil melihat ke dalam cangkir yang ada di hadapanku.


"Rupanya anak dari Kapten Kidd mempunyai pemikiran yang luas sama seperti ayahnya, jika dilihat-lihat kau lebih cocok menggantikan posisi ayah mu dibanding dengan kakak mu itu!" kata paman Shira lalu tertawa.


Aku hanya menjawab bahwa hal itu tidak mungkin, karena aku bukan seseorang dengan tipe seorang pemimpin yang bisa mengerakkan orang lain hanya dengan kalimat atau kharisma yang aku punya. Aku jauh lebih suka menjadi seorang teman yang bisa di andalkan dalam situasi apapun begitulah yang kurasa.


Tak terasa kami sudah berbicara lebih dari 1 jam lamanya, sampai-sampai Mika bolak-balik membawakan kue dan minuman untuk kami berdua.


Akupun berpamitan dan berterima kasih kepada seluruh keluarga Mika dan juga Mika yang telah mengizinkanku menginap dan telah menjamu ku dengan hidangan yang sangat lezat.


Mika mengantarkanku ke depan gerbang kuil lalu mencium pipiku sambil mengucapkan kalimat terima kasih karena telah membantunya.


Aku hanya bisa mengangguk dan merasa malu, walaupun kondisi kuil saat itu tengah sepi.


Flashback off


Kakaku bercerita bahwa mereka benar-benar kecolongan, ada sesuatu yang mereka incar namun para pasukan AM belum mampu mencari tau apa yang mereka sebenarnya rencanakan.


Kebanyakan para intel AM malah seperti di alihkan dengan beberapa isu yang sudah jelas untuk mengalihkan perhatian dan rencana orang-orang itu berhasil.


Walaupun sudah seminggu dari hari kejadian itu, kebanyakan para warga masih merasa takut untuk berpergian keluar distrik yang mengakibatkan kondisi persedian pangan mengalami penurunan walaupun tidak terlalu banyak namun hal ini bisa saja mengakibatkan harga pangan bisa-bisa naik karena barang yang begitu langka sedangkan permintaan terus bertambah.


***


Aku dan teman-temanku dijadwalkan libur karena semester dua telah selesai dan akan kembali lagi bersekolah 1 bulan kemudian jadi aku masih mempunyai waktu 1 bulan sebelum liburan ini selesai.


Liburan juga di perpanjang karena libur akhir tahun, jika kalian bertanya apakah distrik borneo water bisa dituruni hujan salju, jawabannya tentu saja tidak namun suhu udara benar-benar rendah ketika akhir tahun datang. Terkadang suhu udara bisa mencapai 18-20 celsius, terkadang air yang ada di aliran sungai bisa-bisa membeku namun anehnya ya itu tadi, disini tidak ada yang namanya salju. Berbeda dengan distrik-distrik lain yang bisa saja di jatuhi hujan salju.


Jadwalku hari ini adalah hanya bersantai di rumah di temani Nala. Nala ketika malam penyerangan itu terjadi dia hanya tidur dan tidak tau apa-apa, berbeda dengan tuannya yang kalang-kabut karena serangan itu. Enak ya jadi kucing peliharaan, tidur, makan, lalu tidur lagi tetapi lebih enak jadi manusia sih kalo dipikir-pikir.


Karena bosan aku menyalakan televisi dan melihat berita yang saat itu tengah membicarakan seputar pasukan monster yang di pimpin oleh seorang manusia. Oh iya, isu tentang seorang manusia memimpin pasukan monster itu sudah menjadi trending topik dimana-mana, mau itu sosial media, tv, Koran, bahkan radio.


Ibu-ibu komplek yang biasanya menggosipkan tetangganya sendiri saja sudah beralih dan malah membicarakan orang tersebut yang entah siapa itu. Mereka hanya mengelarinya dengan sebutan si jubah hitam, karena orang tersebut katanya menggunakan jubah hitam yang panjang.


Pemerintahan dunia yang saking takutnya sosok si jubah hitam itu akan menyerang kembali, sampai-sampai di isukan bakal mengubah sekolah warrior menjadi sekolah militer yang artinya aku dan teman-temanku bakal masuk dunia militer alias kami semua di isukan bakal masuk AM di usia kami yang baru menginjak angka 16 tahun ini.


Aku memindah-mindah saluran televisi untuk mencari acara yang mungkin saja bisa mengusir rasa bosanku. Dan anehnya seluruh acara tv saat itu menayangkan isu-isu tersebut seperti di ulang-ulang.


Aku menanyakan Artizy dan teman-temanku yang lain apakah mereka juga tengah menyaksikan televisi. Artizy menjawab bahwa televisi saat ini hanya berisikan acara-acara sampah makanya dia tidak pernah menyaksikan televisi lagi. Aku sebenarnya juga sependapat dengannya namun pertanyaanku itu bukan menanyakan hal itu.


"Aku setuju itu, seseorang menggunakan isu tersebut agar menakut-nakuti para penduduk. Lalu ketika penduduk sudah kehilangan kepercayaannya dengan para pemerintah dunia, orang itu akan hadir dan membela para penduduk yang telah kehilangan harapannya itu namun itu semua hanya kebohongan belakang!" sahut Robin.


"Maksud mu, konsep Ratu Adil?" tanyaku kepada mereka berdua.


"Ya seperti itulah, namun. Ini hanya pemikiran seorang anak Sekolah yang susah untuk di cerna oleh orang lain," sahut Robin yang terkesan sarkas.


"Kalian ini membicarakan apasih, mending kita main game aja di rumahku! Dari pada membicarakan televisi yang gak ada habisnya dan bikin pusing!" celetus Artizy dan kami bertiga langsung menjawab ide yang bagus.


Aku langsung berganti baju dan bersiap-siap pergi untuk kerumah Artizy namun sebelum itu aku harus menyediakan makan siang untuk Nala dan menulis memo untuk kakaku, terkadang dia itu padahal sudah aku menulis pesan lewat handphone namun karena terlalu sibuk mungkin dia tidak memperhatikan lagi.


***


Singkat cerita aku, Reznov dan juga Robin sudah ada di rumah Artizy yang megah ini, walaupun sudah sering ke sini entah kenapa kami selalu saja terkagum-kagum dengan ornamen-ornamen di tiap ruangan di dalam rumah ini.


"Silakan masuk, anggap rumah sendiri ya! Hari ini ayahku sedang tidak ada di rumah jadi kita bisa bermain game dengan puas!"


Kalian pasti bertanya kenapa jika ada ayah Artizy di rumah kami tidak bisa bermain dengan puas, jawabannya karena jika saat itu ayah Artizy tengah ada di rumah kami biasanya malah di perintahkan beliau untuk latihan bersama dan didikan militer pun sudah kami rasakan. Namun progress yang kami rasakan sangatlah mengagumkan keahlian kami meningkat drastis, bukan hanya dalam segi fisik namun juga mental ya walaupun kami juga butuh yang namanya santai.


"Hehe baguslah, badanku rasanya sakit sekali akhir-akhir ini," ucap syukur Robin sambil menepuk-nepuk pundaknya yang katanya sering sakit.


"Mungkin kau kebanyakan mambaca buku, Robin. Makanya badan mu jadi sakit karena tidak ada bergerak sama sekali," tebakku.


Robin langsung menggaruk kepalanya. "Hehehe, aku menemukan buku yang sangat langka di perpustakaan dan itu adalah seri tahun 2000-an. Bagaimana tidak membuatku penasaran, buku itu saja kertasnya sudah berwarna kuning dan untungnya kertasnya begitu kuat!"


Mendengar hal itu tentu saja kami bertiga langsung pensaran dengan buku yang telah dibaca oleh Robin.


"Buku apa itu, Robin?" tanya Reznov yang sejak dari tadi membawa dua buah toples yang isinya penuh dengan kue buatan tangan.


"Entahlah, aku juga tidak mengetahuinya. Buku itu hanya mempunyai sampul kulit coklat lalu berisi catatan-catatan yang bermacam-macam mulai dari catatan seperti apa kehidupan di masa lalu, peristiwa yang pernah terjadi dan mungkin banyak hal lain yang ada di buku itu," jawab Robin.


Robin melanjutkan kisahnya, buku itu memang masih di penuhi pertanyaan. Mulai dari siapa penulisnya, kapan buku ini mulai di tulis, dan apa tujuan dari penulis. Ia bercerita bahwa di halaman pertamanya, buku itu memperkenalkan kehidupan yang amat damai sampai kebencian, iri, dan dengki memasuki hati manusia lalu terjadilah konflik yang membuat manusia berubah layaknya seperti hewan.


"Karena bahasanya begitu sulit ku baca dan diterjemahkan, jadi aku kebanyakan mengambil intinya saja, seperti peristiwa bencana alam yang memusnahkan hampir seluruh umat manusia walaupun tidak semua manusia di musnahkan lalu ada juga wabah mengerikan yang saat itu tidak ada obatnya. Mereka menyebutnya dengan penyakit kista!"


"Apa kau mempunyai foto buku itu?" tanya Reznov sambil terus memakan kue yang ada di toples.


Robin mengeluarkan Smartphone miliknya lalu menunjukkan beberapa foto yang ia abadikan terhadap buku itu.


"Terlihat familiar!" gumamku yang membuat geger mereka semua.


"Apa maksud mu terlihat familiar?" tanya Artizy yang terlihat begitu kebingungan.


Aku saja yang mengatakan hal itu juga dibuat bingung, aku mencoba mengingat-ingat ketika aku berada di dalam alam bawah sadarku. Oh iya aku telah mengetahui nama alam bawah sadarku itu, Paman Grey menyebut alam bawah sadar itu dengan sebutan Tether Land.


"Dari pada tambah pusing, mending kita mulai saja main gamenya!" ujar Artizy lalu mulai menekan tombol on pada konsel game miliknya.


Aku masih mencoba mengingat, tetapi terasa begitu aneh karena pikiranku menjadi samar-samar. Padahal itu adalah sesuatu yang penting. Aku pun akhirnya menyerah dengan pikiranku dan ikut bermain dengan teman-temanku, dan semoga saja aku bisa mengingatnya di lain waktu.


...-Tbc-...