Mythical Rubick

Mythical Rubick
42 | Cold Fire



Pertandingan antara kelas 10D melawan kelas 10E akhirnya telah berakhir dengan hasil, kelas 10D meraih kemenangan telak 3-0 dan membuat kelas 10E harus turun ke lower bracket ditemani oleh kelas 10C yang juga telah kalah 3-1 dari kelas 10A.


Persiapan pertandingan antara kelas 10B melawan kelas 10F, sebentar lagi akan berlangsung.


"Okay teman-teman, kita mempunyai waktu sekitar 1 jam lebih 10 menit sebelum memasuki waktu pertandingan, jadi siapa saja yang harus kita waspadai di dalam kelas 10B?" tanya Karin kepada seluruh anggota kelas 10F.


Lalu Reznov menunjuk kepada gambar murid laki-laki bermata tajam. "Orang ini terlihat berbahaya, lihat saja statistika bertarungnya!"


Statistik yang sungguh mengerikan dimiliki oleh murid bermata tajam itu, bagaimana tidak dari seluruh pertandingan yang ia pernah lakukan dulu ia hanya pernah kalah sebanyak 3 pertandingan dari 30 pertandingan yang ia lakukan.


"Selain murid laki-laki itu, ada satu yang patut di kita waspadai. Lihat murid perempuan yang memiliki rambut pendek berwarna biru itu!" lanjut Reznov.


Berbeda dengan murid laki-laki tadi, murid perempuan itu memiliki statistik fisik yang lumayan berbahaya. Ia memiliki statistik Intelegent tingkat A atau tingkat paling tinggi di kelasnya.


"Menurutku, murid perempuan itu akan rutin menggunakan skill miliknya jadi dia adalah musuh alamiku!" ujarku mencoba menyakinkan teman-temanku.


Karin mengangguk. "Benar juga, kau pengguna skill bertahan paling kuat di kelas kita!"


"Bukan hanya itu, kau juga bisa menggunakan pasif mu itu, Muzzy!" sahut Artizy.


Aku tidak kepikiran untuk menggunakan pasif Spell Steal milikku, aku hanya ingin bertarung dengan kemampuan milikku sendiri walaupun aku sudah mampu mengendalikan kemampuan pasif itu tetapi terasa kurang jika aku terus menggunakan skill yang kata paman Grey memiliki efek samping kepadaku itu namun entah mengapa paman Grey tidak pernah mengatakan apa efek samping yang akan ku terima jika terlalu sering menggunakan kemampuan pasif itu.


...


Tidak terasa waktu persiapan sudah tersisa hanya 10 menit lagi dan Mr. Jack pun menginstruksikan kami semua untuk bersiap ke samping lapangan arena.


Penonton mulai bersorak meneriaki kami ketika memasuki arena, bukan sorakan dukungan yang kami terima tetapi sorakan hinaan.


"Kelas pecundang!" teriak salah satu penonton.


"Paling mereka akan bertahan kurang lebih 1 menit di arena lalu di babat habis oleh kelas 10B!" ujar penonton yang duduk berdekatan dengan lorong menuju arena.


Mr. Jack menghirup dalam napasnya lalu mengeluarkannya secara perlahan seraya berkata. "Bapak mencium bau kemenangan untuk kelas kita, jangan biarkan teriakan mereka merusak moral kalian! Apapun yang terjadi, kalah ataupun menang itulah hasil usaha kita selama ini, Bapak tetap bangga mempunyai anak murid seperti kalian!"


Semua anggota kelas berteriak untuk membakar semangat jiwa muda kami, hujatan yang kami terima tadi dengan mudah sirna karena kami mempunyai satu hal yang paling penting, yaitu harapan.


Terlihat Pak Sam berjalan mendekat kearah Mr. Jack. Kami tidak tau apa yang mereka berdua bicarakan tetapi dari raut wajah Mr. Jack aku bisa tau apa yang sedang dibicarakan mereka berdua.


Pak Sam memandang kami sambil menggerakkan kumisnya yang tebal itu namun berbeda dengan Mr. Jack, ia memandangi kami semua dengan senyum hangat yang tersimpan perasaan penuh harapan agar kami tetap bertarung dengan penuh semangat dan pantang menyerah.


Mr. Jack sangat menaruh harapan kepada kami, itulah yang aku lihat saat beliau tengah berbicara dengan pak Sam, Mr. Jack percaya kepada kami semua dan kamipun percaya kepada beliau, itulah yang membuat semangat bertarung kami lebih besar dibanding musuh kami.


※※※


Another Pov


Pertandingan akan dimulai sebentar lagi, pemilihan petarung yang akan bertarung tengah dilakukan, dan terpilihlah dari kelas kami yaitu Lumia, sedangkan dari kelas 10B seorang anak perempuan dengan tatapan sayunya terpilih mewakili kelasnya.


Mr. Jack mendekat kearah Lumia lalu memberikan sedikit masukan kepadanya. "Musuh mu adalah pengguna serangan jarak dekat, ia pengguna tombak jadi kau sangat di untungkan dalam pertandingan ini, Nak Lumia!"


Lumia mengangguk, iris matanya membesar karena ia merasa sangat senang dan bersemangat.


Teman-temannya juga memberi dukungan dengan sepenuh tenaga, terlebih lagi Artizy yang meminjam megaphone milik Karin untuk berteriak menyemangati Lumia.


Hitung mundur pun dilakukan dan pertandingan antara Lumia melawan murid perempuan berwajah sayu itu pun akhirnya dimulai.


...


Murid perempuan berwajah sayu itu tau bahwa dia harus menyerang dengan sangat hati-hati karena Lumia memiliki jarak serang jauh sedangkan ia memiliki jarak serang yang harus mendekat ke arah target.


"[Fire Ball]!" rapal Lumia sebelum melempar sebuah bola api raksasa kearah murid perempuan itu.


Murid perempuan itu mencoba menghindari serangan Lumia namun ia hanya berpikir bahwa Lumia hanya mengeluarkan 1 buah bola api tetapi sebenarnya setelah bola api yang pertama Lumia juga mengeluarkan bola api selanjutnya sebanyak 4 buah bola api yang selalu membesar tiap serangannya.


Sebanyak 2 buah bola api, mengenai tubuh murid perempuan itu yang membuatnya menjerit kesakitan.


Baju yang ia kenakan pun ikut terbakar beserta dengan kulit putih mulusnya itu.


"Menyerahlah sebelum kau terbakar sampai habis!?" kata Lumia menyarankan untuk menyerah saja karena sudah pasti murid perempuan itu tidak bisa bertahan lagi.


"A-aku tidak akan menyerah!" tegas perempuan itu sambil mencoba bangkit dengan tubuh penuh uap panas akibat terkena serangan Lumia.


Alih-alih menyerang lawannya, Lumia malah membantu musuhnya itu untuk bangkit.


Para penonton merasa kebingungan, sedangkan anggota kelas 10F bersorak karena aksi sportivitas yang dilakukan oleh Lumia.


"K-kenapa kau membantu musuh mu?" tanya murid perempuan itu sambil menahan rasa sakit dan malu karena bajunya yang sudah tidak terlalu menutup tubuhnya.


"Disini bukan peperangan yang melahirkan permusuhan dan kekejaman, tetapi disini adalah pertarungan antar Warrior sejati yang bertujuan untuk melindungi orang yang kita sayangi,"


Mendengar pernyataan Lumia yang mungkin sebagian orang menganggap itu hanya bualan omong kosong belakang, membuat murid perempuan itu tersenyum kearah Lumia.


"Ayo kita bertarung!" ajak murid perempuan itu.


"Dengan senang hati!" sahut Lumia sambil mengeluarkan api di tangan kirinya.


Murid perempuan itu berlari secara memutar sambil memutar tombaknya agar terlindung dari serangan api milik Lumia.


Sebenarnya pertarungan ini sudah dimenangkan oleh Lumia karena jarak serang mereka yang berbeda tetapi semangat warrior yang dimiliki murid perempuan itu terpeletuk akibat kata-kata Lumia barusan, semula ia berwajah sayu saat ini wajahnya sudah mulai mengekspresikan ketegangan.


Serangan demi serangan di luncurkan berniat melukai Lumia tapi lagi-lagi Lumia selalu berhasil menghindar dan terkadang menangkis serangan tombak milik murid perempuan itu dengan Blaze Staff miliknya.


"[Drill]!" rapal murid perempuan itu yang membuat moncong tombaknya berputar kencang layaknya sebuah bor yang siap melubangi apapun di hadapannya.


"Awas Lumia!" teriak Karin memperingati Lumia agar berhati-hati dari samping arena.


"[Flame Guard]!" rapal Lumia lalu sebuah api membungkus tubuhnya yang melindungi dari serangan murid perempuan itu.


Serangan itu seakan tertahan oleh panasnya api milik Lumia. Melihat usahanya gagal, murid perempuan itu melompat mundur.


Namun api yang membalut Lumia tiba-tiba meledak yang membuat murid perempuan itu harus melindungi matanya karena ledakan yang dihasilkan Lumia lumayan kuat.


"[Flame Shot]!" rapal Lumia yang membuat sebuah api berbentuk jarum meluncur kearah murid perempuan itu.


Sadar dirinya akan terkena serangan dari Lumia, murid perempuan itu mencoba menghindar dengan melompat ke arah samping namun usahanya sia-sia karena Lumia mampu mengendalikan serangan tadi dengan tangan kirinya.


Serangan itupun mengenai murid perempuan itu dan ketika mengenainya serangan tadi Lumia langsung menghilangkan serangan miliknya itu.


Lumia mendekat kearah murid perempuan itu yang tengah terbaring lemah dengan kulit penuh luka bakar ia meminta maaf kepada murid itu lalu berjalan ke tengah arena disambut sorak meriah dari anggota kelas 10F, kemenangan pun berhasil diraih oleh kelas 10F berkat pertandingan Lumia yang sangat menghibur dan juga sangat sportif.


Another Pov end


※※※


Babak selanjutnya akan di lakoni oleh salah satu murid laki-laki yang memiliki Warrior Soldier di kelas kami dan akan melawan seorang murid laki-laki yang sepertinya memiliki Warrior bertipe Magic yang sebelumnya belum pernah ku dengar.


"Baiklah babak selanjutnya akan berlangsung 15 menit lagi, jadi kita punya waktu untuk membahas strategi," ujar Karin yang tengah memegang sebuah kertas yang isinya informasi mengenai para murid kelas 10B.


Sebelum pertandingan, di dalam arena di putarkan musik mulai dari musik bergenre pop, rock, metal, dan genre musik lainnya yang pastinya cukup menghibur penonton.


"Wah bukankah ini lagu Can't stop yang dibawakan oleh RHCP!" ujar Artizy tersenyum lebar mendengar salah satu lagu favoritnya di putarkan.


...


Tidak bisa dianggap remeh, murid dari kelas 10B itu berhasil memojokkan anggota kelas kami dengan serangan sihirnya yang luar biasa.


Seperti tengah menelan pil pahit, kelas kami dengan mudah kehilangan 1 poin yang membuat skor sementara menjadi 1 sama.


"Maafkan aku teman-teman, aku gagal memenangkan pertandingan tadi," ucap murid laki-laki itu kepada kami.


"Tidak apa, kau sudah berusaha dengan sepenuh tenaga!" sahut Karin agar moral temannya tidak luntur karena kekalahan.


Karin berkoordinasi dengan Mr. Jack tentang strategi selanjutnya karena pemain telah terpilih, kali ini Ellen yang terpilih sebagai perwakilan kelas dan ia akan melawan perwakilan kelas 10B yaitu seorang murid laki-laki berbadan tinggi besar.


"Ellen jangan sampai kalah, keluarkan seluruh kemampuan mu itu!" teriak Artizy memberi semangat kepada Ellen yang terlihat gugup.


Mika melirik kearahku lalu berkata. "Ellen kenapa ya, sepertinya ada yang tidak beres dengannya?!"


"Aku juga merasa ada sesuatu yang tengah ia tutupi, Mika!" ujarku sambil melihat punggung Ellen yang tengah berjalan menuju arena.


...


Hitung mundur pun dilakukan, Ellen dan murid laki-laki itu telah berhasil melakukan Summon warrior mereka masing-masing tetapi entah mengapa perasaanku mengatakan bahwa Ellen terlihat ragu ketika melihat senjata murid laki-laki itu.


"Mereka sama-sama petarung jarak dekat, ini akan sangat menarik!" kata Robin tersenyum lebar.


"Kapak milik Ellen akan melawan pedang bergerigi itu!" ujar Artizy lalu menelan ludahnya setelah melihat kearah senjata milik lawannya Ellen.


Hitung mundur telah selesai, dan pertandingan pun dimulai.


Ellen memanggil Jeo, si liger miliknya untuk membantunya bertarung.


"2 lawan 1, ini pertarungan yang berat sebelah!" ujar Maze dengan senyum percaya diri.


Namun murid laki-laki itu tetap tak gentar ataupun takut menghadapi Ellen walaupun ia kalah jumlah. Ia langsung menyerang di depan Ellen walaupun Jeo terkadang mengganggunya.


Kombinasi yang sangat cocok di perlihatkan oleh Ellen dan Joe, mereka menyerang begantian dan melindungi satu sama lain, namun kesalahan terjadi.


"Jeo!" teriak Ellen ketika melihat liger miliknya terluka akibat sayatan pedang bergerigi itu.


"Pedangku ini memiliki fungsi untuk mencabik musuhnya bukan memotong, jadi akan ku buat kalian menderita bersama-sama!" ucap murid laki-laki itu dihadapan mereka berdua.


Ellen memeluk erat tubuh Jeo yang terluka parah akibat sabetan pedang murid laki-laki itu, tubuhnya bergetar tatapannya begitu ketakutan.


"Ada apa dengan Ellen?!" tanya Artizy yang tatapannya fokus kearah Ellen yang masih memeluk Jeo sambil menutup kedua matanya.


"Jangan bilang bahwa Ellen phobia darah!" ujarku lalu berdiri memandang Ellen yang seperti terlihat pasrah.


Murid laki-laki itu tak menyia-yiakan kesempatan emas ini, ia lalu mengambil ancang-ancang berniat menebas Ellen dan Joe dengan pedang besarnya itu.


-Tbc-