
Mentari pagi mulai bersinar, menyinari pulau yang begitu banyak misteri didalamnya, ya Turtle Island. Pulau ini seakan-akan bergerak tetapi bergerak amat lambat, begitulah yang kurasakan atau mungkin cuman perasaanku saja.
semua anggota kelas telah bersiap-siap untuk bersama-sama melakukan sarapan pagi. Ada yang menyiapkan air minum, ada yang menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya, dan yang pasti ada yang memasak makanan untuk sarapan pagi kali ini.
Kali ini tugasku hanya menyiapkan peralatan memasak, mulai dari kompor, panci, dan lain-lain. Tidak ada canda dan tawa di pagi hari ini, hanya Mika yang tetap tersenyum riang sambil memasak, sekali-kali Mika melirikku sambil menebar senyum manis di wajahnya yang cantik.
Mika mendekat kearahku lalu menyodorkan sendok sup dihadapanku. "Cobalah kuah sup ini! Bagaimana rasanya, Muzzy?"
Aku mengambil sendok itu lalu meniup beberapa kali karena sup itu masih sedikit agak panas sebelum mencicipinya. "Hmm ... rasanya enak Mika! Ini sangat enak, kau memang hebat dalam hal memasak Mika!"
Mika tersenyum bahagia. "Wah syukurlah! Tetapi kenapa wajahmu murung begitu, Muzzy?"
"Aku tidak murung kok Mika hehe,"
Mika mendekat dan memandang kedua bola mataku yang irisnya berwarna hitam. "Hmm ... kau tidak bisa berbohong kepadaku Muzzy!"
"Baiklah aku mengaku, aku hanya ... kau tau sedikit tidak bersemangat pagi ini," ujarku sambil mengaruk kepalaku dan memasang wajah menyedihkan.
"Kalo begitu aku akan membuatmu semangat lagi dengan masakanku," ucap Mika kepadaku sambil tersenyum manis.
Aku pun tersenyum. "Kau memang selalu bisa menambah semangat orang-orang disekitarmu ya Mika!"
Mika tertawa kecil lalu berjalan menuju anggota kelas lainnya, di dalam pikiranku enak sekali calon mempelai pria yang akan di jodohkan dengan Mika. Mika sudah pandai memasak dan juga dia perempuan yang amat teramat baik, dia bagaikan malaikat yang jatuh dari surga.
...
Kami semua akhirnya telah selesai melakukan sarapan bersama dan segera membereskan barang-barang yang ada di Camp, mulai dari tenda, Sentry dan lain-lain. Setelah semuanya beres kami pun berangkat menuju titik penjemputan yang letaknya di selatan Turtle Island.
Dalam perjalanan menuju titik penjemputan, aku dan Mika sedikit berbincang-bincang. Kami berjalan di paling belakang barisan bukan karena aku lambat tetapi karena memang perintah dari Maze dan ketua grup lainnya, yaitu tiap grup harus berjalan sesuai dengan posisi grupnya. Dengan kata lain karena aku berada di grup Delta jadi kami para anggota grup delta harus berjalan di paling belakang.
"Kau ini, masih saja tidak bersemangat Muzzy!" ucap Mika sambil membenarkan rambutnya yang terkena hembusan angin.
"Aku semangat kok, apalagi ditambah adanya Mika disini makin semangat jadinya!" sahutku bercanda kepadanya agar terlihat bersemangat.
Mika terlihat malu-malu, lalu memukul lenganku dengan tangan kanannya.
"Haha ... apa kau malu Mika?"
"Kau ini tentu saja aku malu, jangan membuatku malu seperti itu dong!"
"I-iya maaf," ucapku meminta maaf kepada Mika.
"Curang!"gumamnya pelan.
"hah? Apa yang kau katakan Mika?"
"Tidak ada kok!" ucapnya sambil melangkah dengan cepat menghampiri Karin yang berada di depan.
...
Akhirnya kami sampai di tepi pantai di mana yang menjadi titik penjemputan, deburan ombak yang bersahutan dengan kicauan burung camar menghiasi suasana di tepi pantai di selatan Turtle Island. Cuaca yang tidak terlalu panas membuat kami semua lebih rileks dalam menunggu kapal yang akan menjemput.
Tidak berlangsung lama kapal yang menjemput kami tiba, kami hanya menunggu hampir 50 menit, cukup lama untuk menunggu jemputan. Satu persatu anggota kelas menaiki kapal yang bertulisan LEIVY, seperti nama perempuan saja tapi begitulah nama yang tertulis di kapal itu.
※※※
Dalam perjalanan Mr. Jack beberapa kali memberi semangat kepada kami semua yang seperti kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup, Artizy yang biasanya selalu aktif kini malah seperti kehabisan baterai. Dia hanya diam sambil memandang air laut yang berwarna biru gelap.
Aku menghampiri Artizy lalu menepuk pundaknya, "kau kenapa sobat?"
"Waa ... Muzzy, kau membuatku kaget saja! Tidak apa-apa sobat hanya saja aku sedikit cemas," ujarnya sambil memasang wajah sedih.
"Tidak biasanya kau cemas, memangnya apa yang kau cemaskan?"
Artizy menghela nafas yang cukup panjang lalu memandang langit yang sedikit berawan. "Yang aku cemaskan adalah jika aku masih tidak terlalu kuat seperti saat ini, bagaimana aku bisa mengalahkan para Elder dan lagi sekarang kita sudah melihat bagaimana keganasan kelas A dan kelas B dalam bertarung, kalo kita hanya seperti ini terus bagaimana kita bisa mengalahkan mereka!"
Aku pun ikut memandang langit. "Kau tau, kita pasti bisa menjadi lebih kuat dari pada mereka jika kita bersama-sama berjuang dan berjuang. Kita harus bisa membuat mereka mengingat kita dan kita akan buktikan bahwa statistik bukan segalanya mungkin mereka memiliki jam bertarung lebih banyak dari pada kita tetapi itu bukan segalanya."
"Beri aku kekuatanmu sobat!" pinta Artizy.
"Aku bukan hanya akan meminjamkanmu kekuatanku tapi aku juga akan membantumu kawan," jawabku sambil menepuk pundaknya.
Kami berdua pun tertawa bersama-sama, aku merasa bahwa Artizy adalah teman yang sangat baik padahal kami baru beberapa hari bertemu kalo dihitung-hitung kami baru bertemu 4 hari dan kami sudah sangat akrab. Seakan-akan kami sudah menjalin hubungan pertemanan yang cukup lama.
...
Akhirnya sampai juga kami di pelabuhan yang berdekatan dengan pantai, suasana pelabuhan yang cukup sibuk di pagi hari menjadi tontonan yang cukup menarik untuk sebagian orang termasuk aku, melihat alat crane bergerak yang menyita pandanganku.
Sesaat setelah turun dari kapal penjemput, Mr. Jack memberi sedikit arahan dan memberikan informasi bagaimana kelanjutan bagaimana nasib kami semua.
"Murid-muridku sekalian, disini Bapak menginformasikan bahwa kalian akan di liburkan sampai hari minggu dan kembali masuk pada hari senin depan. Jadi kalian ada waktu untuk beristirahat dan persiapkan mental maupun fisik kalian untuk senin depan. Kalian mengerti?" ujar Mr. Jack kepada kami semua menggunakan pengeras suara.
"Mengerti Pak!" sahut kami bersama-sama.
"Mana semangatnya ini, baru pagi sudah loyo!" ejek Mr. Jack kepada kami semua.
"MENGERTI PAK!!!" semua berteriak layaknya seorang pelaut.
"Nah seperti itu semangat di pagi hari! Baiklah kita semua naik bus untuk ke sekolah terlebih dahulu lalu kalian baru diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing dan ingat jangan sampai ada barang yang tertinggal atau anggota kelas kita yang tertinggal, bakal susah nanti!"
"SIAP PAK!!!" teriak kami kompak bersama-sama.
※※※
Dalam perjalanan pulang menuju sekolah, aku hanya duduk diam sambil memandang ke arah luar jendela. Suasana sedikit berubah saat di dalam bus, para anggota kelas sepertinya sudah mendapatkan semangatnya kembali. Canda dan tawa mulai bermunculan, kali ini Artizy sudah mulai berbicara banyak dengan Reznov sedangkan aku hanya berbicara sesekali dengan Robin.
Robin sedang asik membaca sebuah buku novel detektif Sherlock Holmes yang di karangan oleh Sir Arthur Conan Doyle yang sangat terkenal itu, siapa sih yang tidak tau Sherlock Holmes. Sedangkan aku, aku hanya asik menguyah permen yang aku bawa dari rumah sambil sesekali melirik novel yang sedang dibaca oleh Robin.
Robin orangnya begitu kalem, dia hanya berbicara ketika dia benar-benar ingin bicara. Dia mirip sepertiku, aku juga jarang berbicara dan terkadang malah banyak diam sambil memikirkan sesuatu. Terkadang aku memikirkan kenapa keadaan dunia yang semakin hari semakin kacau akibat dari ulah manusia itu sendiri padahal aku juga seorang manusia.
"Robin, apa kau menikmati PLS ini?" tanyaku agar suasana tidak begitu dingin.
Aku tersenyum ringan. "Walaupun sesaat tapi menurutku itu sudah lebih dari cukup."
Robin menutup matanya sambil tertawa ringan. "Haha, ya benar sekali Muzzy."
Robin membuka matanya lalu menutup novel yang dia baca. "Apa kau merasa takut dengan anggota dari kelas lain Muzzy?"
"Jika kau tanya aku takut atau tidak, jawabannya ya. Rasa takut itu hal yang wajar dalam diri manusia, setiap orang mempunyai rasa takutnya masing-masing tapi jika kita selalu mengalah dengan rasa takut itu bagaimana kita bisa menjadi seorang yang hebat suatu hari nanti!" jawabku sambil tersenyum.
"Kau memang hebat Muzzy, aku juga memiliki rasa takut tapi kurasa perkataanmu tadi itu ada benarnya juga, jika aku terus menerus takut maka aku juga tidak akan pernah bisa menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi," ujar nya sambil menepuk pundakku.
Aku tersenyum ringan kepadanya, Robin pasti khawatir akan kegagalan karena bagi mereka yang memiliki Clan harus berjuang mempertaruhkan nama baik Clannya dengan bertarung sehebat mungkin. Jika kau menjadi seorang yang gagal maka kau akan di kucilkan di dalam Clan mu sendiri, begitulah pengguna Warrior yang membawa nama Clannya.
...
Akhirnya bus yang kami tumpangi sampai juga di halaman sekolah, Mr. Jack menginstruksikan kami semua untuk melakukan absen dan sekali lagi mencek barang bawaan, beliau begitu khawatir ada salah satu muridnya yang tertinggal. Beliau seperti induk ayam yang panik ketika anaknya ada yang hilang, jarang sekali punya wali kelas seperti beliau.
"Muzzy, kau langsung pulang?" tanya Artizy sambil mengangkat tasnya yang besar.
"Iya nih, aku merasa lelah sekali dan kurasa aku kurang tidur juga. Dari tadi aku menguap melulu," jawabku sambil mengaruk-garuk kepala.
"Kalo begitu hati-hati di jalan sobat!"
"Pasti! Kau juga Artizy,"
"Oy Reznov! Robin! Ayo kita pulang!" teriak Artizy mengajak Reznov dan Robin pulang bersama-sama.
Baru saja aku berjalan beberapa langkah ke luar gerbang sekolah, Mika menghampiriku sambil membawa sekaleng kopi Cappucino.
"Apa kau suka minum kopi, Muzzy?" tanyanya sambil memegang kaleng tadi di belakang tubuhnya.
"Aku suka minum apa saja, tidak termasuk alkohol atau minuman yang membuat mabuk. Memangnya kenapa Mika?" ujarku bertanya yang sebenarnya aku sudah tau dia membawa sekaleng kopi di belakang tubuhnya.
"Kalo begitu ini untukmu, waktu di dalam bus tadi aku lihat kau selalu menguap dan waktu absen di lapangan juga. Maka dari itu aku membelikan minuman ini agar kau tidak mengantuk di jalan, takutnya kau masuk ke jalur jalan raya atau tertidur di bus," ujarnya sambil menyerahkan Sekaleng kopi cappucino.
"Wah kau perhatian sekali, aku jadi malu hehe,"
"Hmm terima kasih Mika," lanjutku mengambil minuman tadi dari tangannya yang lembut.
"Hehe, kalo begitu aku pulang dulu sampai jumpa senin depan ya, Muzzy!" ucapnya sambil berpaling lalu tersenyum kepadaku.
※※※
Clak
Gluk gluk gluk
"Hmm enak dan lumayan meringankan rasa kantuk," gumamku setelah meminum kopi pemberian Mika.
Setelah berjalan lumayan jauh akhirnya akupun sampai juga di halte bus, aku menunggu sambil menghabiskan kopi tadi. Beruntungnya, kali ini aku tidak begitu lama menunggu busnya.
Hmm tumben sekali hari ini tidak terlalu menunggu lama,batinku di dalam hati.
Beruntungnya lagi di dalam bus, penumpangnya tidak terlalu banyak jadi aku bisa leluasa dalam memilih tempat duduk. Posisi duduk paling favoritku di bus adalah di sebelah kanan baris ke 5 dari depan, biasanya aku selalu memandang ke luar jendela. Mungkin terlihat kuno tetapi bagiku ini hiburan tersendiri ketika aku tidak punya teman untuk bicara.
Kurang lebih dari 15 menit perjalanan akhirnya aku sampai di halte bus pemberhentianku, aku berjalan sambil sesekali memandang langit yang lumayan cerah tetapi juga berawan yang mulai berwarna hitam.
Hmm sepertinya akan hujan deh sore ini, batinku di dalam hati.
Saat aku berada di pagar rumah, rupanya kakakku sedang berada dirumah.
Tok Tok Tok
Kleeek
"Aku pulang!" ucapku sambil membuka pintu rumah.
"Eh kok Adik sudah pulang, bukannya jadwalmu hari jumat baru pulang?"
"Hmm ceritanya panjang Kak!"
"Coba ceritakan kepada Kakakmu ini,"
"Maaf Kak, kurasa tidak perlu di ceritakan!" ujarku sambil memasang wajah sedih.
Tiba-tiba saja Kakakku langsung memelukku dengan sangat erat sambil mengelus-elus kepalaku. "Kakak yakin sekali kamu sudah berusaha dengan keras saat di pulau itu, jangan cemberut seperti itu dong! Adik Kakak kan tidak selemah ini."
"Hmm i-iya Kak maaf, tapi bisa tidak pelukannya dilepasin dulu soalnya aku kan sudah besar bukan anak kecil lagi!" sahutku sambil membuat pipiku mengelembung.
"Bagi Kakak, Kau itu selalu Adik kecil kakak yang manis!" ujarnya sambil tersenyum.
"Oh iya, di mana Nala?"
"Sepertinya dia ada di dapur, coba saja panggil dia,"
"Nala, aku sudah pulang loh!" teriakku memanggil Nala, Kucing kesayanganku.
Baru juga di panggil, Nala sudah berlari menghampiriku.
"Meong!" Nala mengeong sambil menggesekkan kepalanya di kakiku.
"Bagaimana kalo kita makan-makan, Kakak akan buat makanan yang enak untukmu, Dik!"
"Wah benaran nih Kak, Yey! Makasih banyak Kak," sahutku sambil mengangkat Nala.
-Tbc-
Pojok Fyi
● Info lanjut dari Warriordex : caramenggunakannya adalah bisa dengan di tulis nama dari Warrior tersebut atau lewat deteksi kamera yang ada dibagian belakang Warriordex. Warriordex harus terus di upgrate patch yang ada di dalam nya agar tidak ketinggalan informasi seputar Warrior terbaru.