
Another Pov
H-hentikan dia itu sahabatku, aku tidak ingin menyakitinya!, batin Artizy.
Aku sudah memberikan kekuatanku padamu, jadi nikmati saja, batin Artizy yang satunya lagi.
"Muzzy!" panggil Artizy namun tubuhnya tetap dengan kuat mendorong pedang besarnya ke arah Muzzy.
Melihat kekacauan itu, Mayumi lantas tak menyia-yiakan kesempatan ini. Ia langsung menarik napas panjang dan langsung berlari ke arah Muzzy dan Artizy.
"Ini kesempatan emasku!" gumam Mayumi lalu melompat ingin menyerang Muzzy dan Artizy secara langsung.
"[War Cry]!" rapal Muzzy.
Muzzy berteriak dengan sangat kencang, yang membuat apa saja di sekitarnya terpental, bukan hanya tubuh Mayumi yang lagi-lagi harus terpental namun tubuh Artizy juga ikut terpental walaupun tidak terlalu jauh karena jubah hitam yang melekat pada tubuh Artizy terus menerus melindunginya.
"Maafkan aku sobat," ujar Muzzy meminta maaf kepada Artizy yang masih belum bisa mengendalikan diri.
Artizy hanya menggeram seperti seekor serigala ke arah Muzzy lalu mengambil pedangnya yang ada di hadapannya.
Entah mengapa Artizy tiba-tiba saja memegangi kepalanya, ia seperti melawan monster yang ada di dalam tubuhnya.
Artizy melonglong seperti seekor serigala dan sesekali menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku kawan!" ucap Muzzy lalu memukul keras kepala Artizy dengan sebuah cube miliknya.
"K-kenapa kau memukulku!?" ucap Artizy dengan suara monsternya.
Artizy mengepalkan tangannya.
"Wow kepalan tangan yang besar, hati-hati dalam menggunakannya!" ujar Muzzy yang kelihatan sedikit ketakutan melihat Artizy yang seperti ingin memukulnya.
Melihat konflik yang terjadi antara Muzzy dengan Artizy, Mayumi melihat itu sebagai kesempatannya untuk sekali lagi menyerang mereka secara bersamaan.
"[Talon Strike]!" rapal Mayumi yang menebaskan pedang katananya itu kedepan dan menciptakan sebuah sayatan besar yang langsung mengarah kepada Artizy dan Muzzy.
Sial, yang satu ini saja belum selesai, sekarang malah Mayumi menambah keruh keadaan saja, batin Muzzy.
"[Shield of Light]!" rapal Muzzy menciptakan sebuah perisai cahaya miliknya.
Serangan kuat dari Mayumi hanyalah sebuah isapan jempol belaka untuk skill perisai yang Muzzy miliki.
"Apa?!" Mayumi terkejut, ia tidak menyangka bahwa serangan kuat yang ia miliki mampu di tahan dengan sangat sempurna oleh Muzzy.
Perisai itu, Bukannya milik clan Shaman? Bagaimana bisa ia menggunakan skill itu?! Batin Mayumi.
Muzzy melirik ke arah Artizy yang masih bertarung melawan dirinya sendiri.
"Aaaaa, berhenti mengendalikan diriku!" Artizy berteriak lalu keseimbangannya mulai hilang, namun sebelum ia kehilangan keseimbangannya Muzzy memegangi tubuhnya dengan satu tangannya yang tersisa.
"Oy, kendalikanlah kemampuan mu itu, lihat lah Karin..." ucap Muzzy yang napasnya sudah tidak teratur lagi, seperti orang yang kesulitan bernapas.
Apa itu benar-benar Artizy? Apa ia benar-benar seperti itu? Batin Karin bertanya-tanya.
Di dalam hati Karin, ia terus bertanya-tanya namun ia tetap percaya bahwa Artizy bukanlah yang seperti teman-temannya dulu katakan.
Karin mengepal kedua tangannya, lalu berteriak. "ARTIZY, KUATKAN DIRIMU!"
Mendengar hal itu, kesadaran Artizy langsung mampu ia kendalikan. Ia memandang Karin dari kejauhan yang tersenyum kearahnya. Air mata Karin mengalir kala itu namun air mata itu bukanlah air mata kesedihan namun air mata harapan.
"K-kau baik-baik saja sobat?" tanya Artizy kepada Muzzy.
"Apa kau buta? Aku sudah babak belur seperti ini baik-baik saja, tapi syukurlah kau kembali sadar," ucap Muzzy lalu mulai kehilangan keseimbangannya.
"K-kau hampir mengalami Energi lost, beristirahatlah dulu!" ujar Artizy menyuruh Muzzy untuk beristirahat.
Muzzy menepuk pundak Artizy. "Kau bukan Monster Artizy, kau temanku. Hajar dia sobat, buat ketua Karin semakin mengagumi mu. Aku tidur dulu sebentar!"
Muzzy pun pingsan dan kembali dalam bentuk manusianya. Untuk pertama kalinya Artizy mampu mengendalikan bentuk Werewolf miliknya yang sebelumnya ia tidak pernah mampu mengendalikannya.
Mayumi memasang kuda-kudanya sambil memandang fokus kearah Artizy, begitu pula Artizy. Ia menarik tudung yang ada di bajunya itu untuk menutupi kepalanya lalu mengangkat pedang besarnya Rondo.
"Hanya kau dan aku sekarang Mayumi!"
"Ayo kita selesaikan ini!" sahut Mayumi sambil mulai berlari dan Artizy juga mulai berlari.
Kedua pedang mereka bertemu dan menciptakan suara khas yang nyaring.
"Ayo Artizy, kalahkan orang itu!" gumam Ellen yang sedikit kelihatan cemas.
Tubuh Muzzy langsung dipindahkan lewat teleport oleh para tenaga medis, Mika dan Reznov langsung menuju ruangan medis untuk melihat kondisi Muzzy.
***
Muzzy langsung dipeluk oleh Mika yang kesadarannya masih belum 100%, itu adalah hal yang wajar di dunia warrior.
"Waaaa, kau terlalu nekat!" ucap Mika sambil menangis.
Muzzy hanya bisa tersenyum sambil mengelus lembut kepala Mika. "Maaf, aku terlalu banyak mengeluarkan energi saat menahan serangan milik Mayumi tadi dan juga aku kurang mengatur pemakaian energi ketika aku ingin menghentikan pendarahan di lengan kiri ku tadi."
Reznov tersenyum lalu berkata. "Syukurlah kau baik-baik saja comrade, beristirahatlah dulu."
Muzzy menggeleng lalu mencoba bangun dari kasur. "Ada satu orang yang tengah berjuang saat ini, kita harus menontonnya dan memberi dukungan!"
Reznov mengulurkan tangannya. "Benar itu, ayo! Biar ku bantu kau berjalan."
Mika juga ikut membantu Muzzy untuk berdiri
"Maaf aku merepotkan mu, Mika."
Mika hanya menggeleng lalu tersenyum manis. "Tidak kok, Muzzy sudah berusaha dengan keras jadi terima kasih atas kerja kerasnya!"
"Yep betul itu, terima kasih atas kerja kerasnya, comrade!" sahut Reznov.
...
Pertarungan Artizy dan Mayumi masih terus bergulir, keduanya memperlihatkan keindahan dan juga teknik berpedang yang berbeda namun sama-sama mematikan.
Apa-apaan orang ini, dengan pedang sebesar itu ia masih sanggup mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat!, gumam Mayumi.
"Sudah hampir 1 jam dan mereka masih bertarung dengan sangat hebat!" ucap Reznov sambil melihat kearah waktu pertandingan.
"[Talon Strike]!" Mayumi lagi-lagi mengeluarkan skill miliknya yang berdaya rusak tinggi.
"Serangan seperti itu tidak akan pernah bisa menyentuhku!" ucap Artizy menghindar dengan sangat cepat.
Kemampuan dan tubuh Artizy menjadi sangat kuat dan kecepatannya juga bertambah 2 kali dari biasanya karena bantuan dari kemampuan khususnya yang bernama Metamorphosis.
Kemampuan Metamorphosis yang belum pernah bisa ku kendalikan sekarang malah mampu aku kendalikan, entah mengapa ketika melihat Karin menangis seperti itu membuat kesadaranku kembali lagi, batin Artizy.
"Sekarang giliranku!" ujar Artizy tersenyum.
"[Phantom Dive]!" Artizy menghentakkan pedang besarnya kebawah lalu menciptakan 5 cabang serangan seperti sayatan namun berada di bawah tanah.
Mayumi mencoba menghindarinya dengan cara melompat.
"Apa!?" Mayumi terkejut.
Phantom Dive milik Artizy bukan hanya menyerang melalui bawah tanah tapi juga mengikuti targetnya kemana pun ia berada.
Skill itu mengenai langsung ke tubuh Mayumi tanpa sempat ia hindari.
"Yes, itu baru Artizy yang aku kenal!" ucap syukur Karin di pinggir arena.
Artizy menghendus bau darah melalui kemampuannya yaitu Blood Seeker untuk mengetahui apa Mayumi masih mampu bertahan dari serangan yang ia luncurkan.
"Cih, orang ini kuat sekali!" Artizy terlihat kecewa dan kesal karena serangannya belum mampu mengalahkan Mayumi.
Mayumi mencoba bangkit dengan berpegangan dengan pedang katananya, dan sesekali terbatuk-batuk.
"Menyerah saja Mayumi, tubuh mu sudah hampir mencapai batas maksimal!" teriak salah satu temannya.
Mayumi menggeleng pelan dan terus berusaha memaksakan tubuhnya untuk berdiri tegap menghadap Artizy.
"Aku sangat menghormati kegigihan mu Mayumi tapi aku akan segera mengakhiri ini!" ucap Artizy membidikkan Rhapsody miliknya yang sudah sangat kehausan darah manusia.
"[Death Melody]!"
Tubuh Mayumi seketika terhempas tak kala ketiga peluru yang di muntahkan Rhapsody milik Artizy mengenai tubuhnya yang mungil itu.
"Selamat tidur, Mayumi!" ucap Artizy lalu mengakhiri summonnya.
Penonton pun berteriak setelah wasit menyatakan babak pertama di menangkan oleh kelas 10F.
Karin berlari ke arah Artizy, dan langsung melompat memeluk Artizy.
"Waaa, apa yang kau lakukan Ketua Karin!?" Artizy sedikit malu dengan tindakan yang dilakukan Karin kepadanya.
"Haha, liat wajah Artizy. Merah seperti tomat!" ejek Lumia yang diikuti tawa dari anggota kelas lainnya.
"Mana Muzzy?!" tanya Artizy.
"Kau mencariku?" ucap Muzzy yang masih terlihat menyedihkan.
Artizy langsung berlari kearah sobatnya itu lalu membungkukkan kepalanya untuk meminta maaf.
"Maafkan aku! Jika saja ..."
"Apa yang kau bicarakan, kau itu MVP di pertandingan tadi. Jika saja kau tidak berubah mungkin kita akan kalah!" potong Muzzy menepuk-nepuk pundak Artizy.
Artizy hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya, ia merasa seperti sangat di andalkan oleh seluruh teman-temannya.
...
Di dalam ruang medis, Mayumi hanya diam sambil sesekali menghela napasnya tanda kekecewaan yang ia rasakan.
Teman-temannya hanya datang untuk melihat kondisinya lalu beberapa saat kemudia langsung meninggalkannya seperti tidak mempedulikannya lagi.
"Kenapa kau gagal mengalahkan Artizy?" tanya siluet hitam yang berada di depan pintu ruangan itu.
Mayumi langsung memandangi arah suara tadi.
"Apa karena Muzzy si target utama kita?" tanyanya sekali lagi.
Wajah Mayumi menjadi masam, ia menggigit kuat giginya. "Berhentilah membual, Artizy sangatlah kuat, ia sudah jauh di atas levelku saat ini, Kak Emeralia!"
"Yah tidak apa, lagi pula misi kita saat ini adalah mengukur seberapa kuat mereka saja!" ucap Emeralia lalu melangkah memasuki ruangan medis itu.
Emeralia duduk di samping Mayumi yang masih berwajah masam.
"Aku tau kau kesal, tapi ingat misi utama mu itu Mayumi. Jangan biarkan perasaan memasuki hati mu, aku juga seorang perempuan jadi aku paham sekali isi hati mu itu!" ujar Emeralia lalu memeluk Mayumi seperti layaknya seorang ibu menyemangati anaknya.
Mayumi melepas paksa pelukan dari Emeralia.
"Berhenti memperlakukanku seperti seorang anak kecil, aku bisa mengatasi masalah itu sendiri!" ucap mayumi yang terlihat sangat kesal.
Mayumi lalu meninggalkan ruangan itu, di dalam hatinya benar-benar bertanya-tanya. Kenapa ia bisa merasakan perasaan seperti ini, apa arti dari semua perasaan ini, begitu hangat namun menyakitkan.
"Mika, kuharap kau mati saja!" gumamnya kesal, lalu memukul sebuah mesin minuman.
...
Disebuah altar besar, Wilkes baru saja selesai menonton pertandingan Mayumi melawan Artizy.
"Sepertinya Jesse melatih anak itu dengan sangat baik, ini menarik!" Wilkes tertawa lalu melempar gelas yang berisi minuman anggur.
Selesai tertawa, Wilkes lantas berdiri dari singgasananya.
"Sebentar lagi, anak Hunter dan anak kubus itu akan merasakan dosa dari ayahnya sendiri!" Wilkes tersenyum licik lalu memandang ke arah Artizy dan Muzzy yang sedang asik tersenyum bersama teman-temannya.
...-Tbc-...
Halo LB is back ^_^
Maaf ya akhir-akhir ini LB rada sibuk makanya baru Up padahal niatnya minggu lalu (●__●)
Makasih banyak ya yang udah mampir ke sini, nantikan kelanjutan ceritanya ya teman-teman, see ya (^∇^)ノ