
Another Pov
Ditengah amarah Artizy yang tengah menggebu-gebu bak genderang perang yang tengah di tabuh, ada seseorang yang tengah menyaksikannya dari kejauhan, orang itu menatap Artizy dengan tatapan penuh dendam akan clan dari keluarga Artizy itu sendiri, ya clan Hunter.
Siapa lagi yang amat teramat membenci Artizy di sekolah ini kalo bukan Kyle, si Elder no 1 yang saat ini tengah duduk santai di kursi khusus yang terletak di tengah sudut ruangan arena, ruangan itu di penuhi oleh kaca yang hanya bisa di lihat dari dalam jadi jika seseorang melihat dari luar ruangan itu ia hanya bisa melihat pantulan dirinya saja.
"Apa yang dikatakan oleh Tuanku memang benar, kekuatan anak dari clan Hunter itu memang benar-benar mengagumkan. Tanganku saja bergetar merasakan kekuatan dari warrior miliknya itu, aku semakin tidak sabar untuk bertarung lagi dengannya!" gumam Kyle sambil tersenyum jahat lalu tertawa dengan keras.
Flashback on
"Lari Kyle, selamatkan diri mu!" ucap seorang remaja perempuan berambut pirang yang kakinya terluka akibat terkena timah panas dari senjata api.
"T-tapi kak!" ucap Kyle yang wajahnya dipenuhi darah, darah itu bukan dari luka yang ia alami namun darah dari rekan-rekan satu clannya yang saat ini tengah di buru oleh clan Hunter.
Sambil mencoba bangkit dengan berpegang ke sebuah pohon, perempuan muda berambut pirang itu memegang pipi Kyle lalu tersenyum. "Tidak apa-apa, lari lah. Kakak mu akan melindungi mu dari sini!"
Hati Kyle benar-benar teriris ketika melihat wajah kakaknya yang saat itu memasang senyum penuh kepalsuan.
Perempuan muda berambut pirang itu mendorong tubuh Kyle agar segera berlari meninggalkannya, dari kejauhan para anggota clan Hunter sudah mulai mendekat dari posisi mereka saat itu. Mudah bagi mereka untuk menemukan kedua orang yang tengah berlari ini karena kemampuan blood seeker yang mereka miliki.
"Itu mereka, tangkap atau bunuh jika mereka melakukan perlawanan!" ucap salah seorang anggota clan Hunter bertopi ala para pemburu, di lengan mereka juga tertulis kalimat semboyan yang mereka banggakan dan itulah motivasi para seluruh anggota clan Hunter miliki.
Perempuan muda berambut pirang itu mengeluarkan dua senjata yang berbentuk seperti sebuah burus namun ukurannya sangatlah kecil. "Cepat Kyle! Kakak akan menahan mereka dan larilah, selamatkan lah diri mu!"
Kyle berlari dengan sekuat tenaga yang ia miliki saat itu, ia menangis sejadi-jadinya karena ia tau ini adalah akhir dari segalanya, ia mempertanyakan apakah tuhan telah menulis bahwa ini semua adalah hukuman dari kejahatan clannya padahal ia sama sekali tidak mengetahui apapun.
Tubuhnya seperti mendapat kekuatan yang amat besar untuk berlari dari kejaran para anggota clan Hunter.
Saat ia mencoba membalikkan pandangannya, ia menyaksikan sesuatu hal yang amat mengerikan dalam hidupnya sekali lagi.
Warrior yang dimiliki kakaknya berhasil dikalahkan dengan begitu mudah karena jumlah lawan yang tidak sebanding dengannya, dan ia pun melihat kakaknya di tusuk di 5 penjuru yang langsung membuat kakaknya menghembuskan napas terakhirnya, langkahnya pun dibuat terasa begitu berat bahkan waktu pun berjalan sangatlah lambat pada saat itu.
AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH SELURUH ANGGOTA CLAN HUNTER!, batin Kyle sambil terus berlari menuju sebuah air terjun.
Kyle terlihat kebingungan karena sudah tidak ada jalan lain selain melompat dari ketinggian namun ia tidak punya pilihan lain.
"Berhentilah dan jangan melawan!" ancam salah satu anggota clan Hunter yang berhasil menyusulnya.
Sebanyak 6 orang dewasa dari clan Hunter mengacungkan senjata mereka masing-masing ke tubuh seorang anak yang saat itu masih berusia sekitar 10 tahun.
"Kami tidak akan melakukan perlawanan jika kalian tidak menyerang duluan, jadi bersikap koperatif lah bocah!" ucap anggota clan Hunter berkacamata hitam bulat.
Kyle meludah ke arah samping lalu berkata. "Persetan dengan kalian!"
Kyle langsung melompat kebawah air terjun, tubuhnya langsung menembus air dingin dari air terjun itu. Ia hanya berharap hidupnya benar-benar telah selesai, seluruh keluarganya telah tiada dan untuk apa juga ia hidup di dunia yang begitu dingin ini namun ada jauh di dalam hatinya ambisi untuk membalas semua ini.
Para anggota clan Hunter itu hanya bisa melihat ke bawah air terjun itu.
"Anak yang nekat, ia pasti sudah mati kedinginan!" ujar salah satu anggota berambut coklat abu-abu.
Mereka pun meninggalkan tempat itu sambil membicarakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya karena telah gagal menangkap Kyle.
...
Tubuh Kyle terbawa arus deras di aliran sungai, tubuhnya tidak mampu menahan kuatnya arus air yang lama kelamaan semakin kuat, tubuhnya mengalami luka-luka akibat terbentur bebatuan sungai yang mengakibatkan ia kehilangan kesadarannya.
Beruntung tubuhnya tersangkut di akar pohon yang berada di bantaran sungai itu, lama-kelamaan kesadarannya kembali dengan tangan yang sudah tidak kuat lagi untuk memegang sesuatu, ia mencoba tetap memaksakan otot-otot tangannya untuk mengenggam akar itu lalu perlahan menarik tubuhnya ke tepi sungai.
Sesekali ia terbatuk karena mulut dan paru-parunya kemasukan air sungai ketika terbawa arus sungai tadi. Ketika ia sudah hampir sampai ke tepi sungai, ia menengadah dan melihat seseorang pria berjubah hitam mengulurkan tangannya berniat untuk membantunya, pria itu siapa lagi kalo bukan Wilkes. Kyle meraih tangah Wilkes, tubuhnya dibantu untuk berdiri lalu di sandarkan di sebuah batu yang cukup besar, tidak lupa Wilkes juga melepas jubahnya dan langsung memasangkannya ke tubuh Kyle agar mengurangi rasa dingin yang ia alami.
"S-siapa anda? Kenapa anda membantu saya?" tanya Kyle yang menggigil kedinginan.
Wilkes tak langsung menjawabnya, ia asik mencari kayu bakar lalu meletakkanya di depan Kyle.
Sambil mencoba menyalakan kayu bakar tadi Wilkes berkata. "Aku? Aku Wilkes, aku seorang pengelana yang sedang mencari keadilan di dunia yang begitu dingin ini, aku membantu mu karena aku hanya ingin membantu mu."
"A-apa anda salah satu dari anggota clan Hunter?" tanya Kyle menatap dengan mata penuh kebencian.
Wilkes tersenyum lalu melempar beberapa potong ranting ke dalam api unggun yang ia buat tadi. "Jika aku salah satu dari anggota clan Hunter untuk apa aku membantu mu tadi, dan lagi pula bukannya sudah ku bilang bahwa aku ini adalah seorang pengelana yang sedang mencari keadilan di dunia ini."
Kyle menatap kosong api unggun yang ada di hadapannya, ia teringat oleh kakaknya yang baru saja telah terbunuh oleh clan Hunter.
"Tatapan itu!" ujar Wilkes kepada Kyle.
Kyle menatap Wilkes.
"Tatapan yang di penuhi oleh kebencian, apa kau ingin kekuatan untuk membalas semua yang telah mereka rebut?" tanya Wilkes kepada Kyle dengan wajah serius.
Darah Kyle tiba-tiba mendidih, andenalinnya seolah-olah meningkat drastis yang membuat tubuhnya langsung terasa hangat ketika di tanya oleh Wilkes.
Kyle menggenggam erat kedua tangannya. "Iya, saya sangat menginginkan kekuatan dan membalas semua yang telah mereka lakukan itu!"
Wilkes mengulurkan tangannya. "Ikutlah bersamaku, aku membutuhkan orang seperti mu di dunia ini, untuk melawan dunia ini dan melakukan pembersihan terhadap mereka yang menyebut ini semua adalah keadilan!"
Flashback Off
"Kyle, sebaiknya kita menunggu waktu yang tepat atau menunggu perintah Tuan sebelum melakukan aksi nanti!" ucap kepala sekolah kepada Kyle yang berdiri di sampingnya.
Kyle tersenyum jahat sambil menopang dagunya dengan satu tangannya di lengan kursi. "Ya ya ya, aku juga tau orang tua. Saat ini Tuan Wilkes tengah berusaha membangunkan Baruna dari tidur panjangnya, padahal aku sangat ini membantunya tapi tuan malah menyuruhku untuk mengawasi bocah Hunter ini."
***
Pedang yang Mayumi tengah ia genggam tiba-tiba bergetar hebat, pedang itu seakan-akan takut terhadap apa yang saat ini ada di hadapannya. Armor dari Pallanus D milik Platini saja mulai mengalami pengaratan yang membuat sendi-sendi dari Pallanus D itu sendiri susah untuk digerakkan.
Apa yang terjadi, kenapa pedang ini tiba-tiba bergetar dengan sendirinya?, batin Mayumi sambil melihat ke arah pedangnya.
"K-kenapa Pallanus D milikku tiba-tiba mengalami karatan seperti ini, ini aneh. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnnya!" ujar Platini yang mencoba untuk memulihkan Pallanus D miliknya.
Tekanan aura yang di keluarkan oleh Artizy berangsur-angsur menghilang namun tubuhnya tetap diselimuti oleh jubah hitam yang menambah kesan mengerikan dari warrior Artizy.
Mayumi mencoba melirik Artizy yang masih ada dihadapannya namun seketika tubuh Artizy sudah tidak ada di sana lagi.
"Dimana dia?" tanya Mayumi.
Tiba-tiba saja tubuh Platini yang saat itu dalam keadaan belum siap langsung menerima serangan Artizy yang membuat dadanya berlubang akibat di tusuk dengan tangan Artizy.
"B-bagaimana bisa?" Platini memuntahkan beberapa tetes darah di mulutnya lalu melirik ke arah Artizy yang masih ada di belakangnya.
Mayumi yang melihat hal itu mencoba menolong temannya dengan menyerang Artizy namun kecepatan yang Artizy miliki lebih cepat dari pada serangan darinya.
Artizy kembali menyerang Platini yang masih dalam keadaan tersungkur, Artizy mencakar-cakar tubuh Platini dengan sangat cepat yang membuat Platini langsung dinyatakan pingsan tak sadarkan diri lagi.
Dari sisi lain arena, terlihat Muzzy mulai mencoba bangkit dengan menekan rasa sakit yang ia alami sebelumnya.
"Untung saja tadi aku sempat menahan serangan itu dengan cube, tapi walaupun bisa ku tahan rasa sakitnya masih terasa!" gumam Muzzy sambil menahan rasa sakit yang ia alami.
Muzzy melihat ke arah Artizy yang saat itu tubuhnya diselimuti oleh jubah kegelapan.
"A-apa yang terjadi dengan mu, Artizy?" tanya Muzzy sambil mencoba menyembuhkan pendarahan di lengan kirinya.
Serangan demi serangan Artizy lancarkan kepada Mayumi, sampai-sampai membuat Mayumi kewalahan. Bukan hanya fisik Mayumi yang Artizy serang namun mental Mayumi juga terasa diserang oleh teriakan Artizy yang juga membuat penonton merasa kengerian dan bahkan ada sebagian penonton yang kehilangan kesadarannya.
"Artizy!" panggil Muzzy namun Artizy tidak menoleh kearahnya dan tetap terus menatap Mayumi.
Artizy dengan cepat menyerang Mayumi dengan menendang perutnya yang mungil itu.
Tubuh Mayumi langsung terpental cukup jauh dan hampir keluar dari arena namun untung saja Mayumi menancapkan pedangnya agar tubuhnya tetap di dalam arena.
Bagus pendarahan lenganku sudah berhenti, aku harus menyadarkan Artizy sebelum hal yang lebih buruk terjadi!, batin Muzzy.
Flashback on
"Nak Muzzy, ada sesuatu yang ingin aku beritahu pada mu!" ujar Paman Grey sambil menuangkan teh ke cangkirnya.
"Apa itu Paman?"
"Salah satu teman mu itu dari clan Hunter bukan?"
Muzzy mengangguk. "Namanya Artizy."
"Aku merasakan kekuatan yang ia miliki sangatlah besar dan tidak mudah untuk dikendalikan bahkan oleh dirinya sendiri, kekuatan dari para anggota clan Hunter itu semakin lama ia berubah menjadi sosok monternya maka kekuatannya akan semakin kuat pula."
Muzzy menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap Yui yang saat itu dalam bentuk manusianya. "Jadi, apa hubungannya paman?"
"Kau harus menghentikannya, cobalah untuk mengajaknya berbicara terlebih dahulu namun jika ia masih tidak sadar juga satu-satunya cara yaitu kau harus memasukkan cube milik mu ke dalam tubuhnya tapi itu sangat beresiko sekali, aku ragu teman mu itu akan mati atau yang lebih parah lagi kau yang akan dibunuhnya!"
Muzzy menelan ludahnya setelah mendengar hal itu, untuk mati di tangan sahabatnya sendiri yang sudah ia anggap saudara sendiri adalah hal yang mengerikan yang pernah ia dengar.
Flashback off
Muzzy mencoba mendekat ke arah Artizy lalu mencoba memanggilnya sekali lagi. "Oy sobat, ada apa dengan mu?"
Artizy masih tidak menoleh ke arah Muzzy yang terus menerus mencoba memanggil sahabatnya itu.
"Oy Artizy, ini aku Muzzy!"
Artizy mengambil pedang besarnya yang ada di punggunya lalu menoleh kebelakang, mata merahnya mengintimidasi Muzzy yang padahal adalah sahabatnya sendiri.
Artizy terlihat tersenyum ketika melihat Muzzy namun Artizy malah berlari ke arah Muzzy sambil menyeret Rondo miliknya.
"Oh yang benar saja!" protes Muzzy lalu mengeluarkan cube miliknya untuk menahan serangan Artizy.
Pedang milik Artizy beradu kuat dengan cube milik Muzzy.
"Artizy, ini aku Muzzy. Kenapa kau menyerangku!" ucap Muzzy sambil menahan kuatnya dorongan dari Artizy.
"A-apa yang Artizy lakukan?!" tanya Karin dengan raut wajah penuh kecemasan.
Inikah sosok Artizy yang sebenarnya?, batin Karin.
Karin menggelengkan kepalanya.
Bukan ini bukan Artizy, Artizy yang aku kenal bukan seperti ini!, batin Karin.
"ARTIZY!!!" teriak Karin di sisi Arena.