Mythical Rubick

Mythical Rubick
54 | Night For Our Ghost



Hari dimana pertandingan final pun akhirnya tiba, sahut sorak-sorak penonton bergema di seluruh sudut penjuru arena. Membuat suasana euforia final semakin menjadi-jadi, ditambah dengan acara pembukaan yang membuat penonton semakin betah dan menambah minat mereka untuk sesegera mungkin menyaksikan pertandingan final yang telah dinanti-nantikan.


"Wah lihat semua teriakan penonton itu, padahal ini hanya pertandingan antar kelas dan bukan kejuaraan antar warrior yang sesungguhnya!" ucap Karin terkagum-kagum karena melihat penuhnya bangku penonton di arena sekolah.


"Kurasa jawabannya sudah jelas, coba lihat ini!" sahut Lumia sambil menunjukkan berita yang ada di smartphone miliknya.


Aku dan teman-teman lain mencoba membaca isi berita itu dan pada intinya terjawablah sudah mengapa pertandingan ini sangat diminati atau ditunggu-tunggu oleh semua orang.


"A-apa?! mereka membuat voting pemain yang akan bertanding!?" teriak teman-temanku yang terkejut melihat isi berita tadi.


Kami semua terkejut, namaku dan Artizy tertulis akan bertarung di babak pertama dan akan melawan Mayumi dan ketua kelas dari Kelas 10D.


"Kurasa si Kyle bajingan itu yang sudah mengatur ini semua!" ujar Artizy yang terlihat kesal namun entah mengapa ia sama sekali tidak mengeluarkan aura yang biasa ia keluarkan ketika mendengar nama kak Kyle.


Selang beberapa menit kemudia, Mr. Jack memasuki ruangan sambil membawa beberapa lembar kertas yang isinya adalah informasi mengenai anggota kelas 10D yang akan kami lawan.


"Aku akan melawan Mayumi, dan Muzzy kau lawan yang satunya!" saran Artizy dengan penuh percaya diri.


Aku mengambil kertas yang di dalamnya tertulis informasi seputar Mayumi yang terkesan aneh dan janggal dalam pandanganku.


"Tunggu Artizy, apa kau sudah lupa bahwa Mayumi memiliki efek Silence di pedangnya itu, jadi ada baiknya aku saja yang akan melawannya!" sahutku kepada Artizy mengingatkan tentang Mayumi yang mempunyai efek yang cukup menganggu para pengguna warrior.


"Betul itu Artizy, selain Muzzy memiliki pertahanan yang kompleks, ia juga memiliki jarak serang yang cocok untuk melawan seorang petarung jarak dekat seperti Mayumi," ucap Mr. Jack membenarkan ide yang aku berikan tadi.


Artizy lalu meminta kertas yang satunya lagi untuk melihat informasi ketua kelas 10D. "Hmm ia petarung jarak dekat, Platini dari Clan Noble pemilik Warrior Nestara bersenjatakan Pallanus D?"


"Pallanus D itu sejenis robot mekanik namun tidak ada mesin di dalam tubuh robot itu, bisa dibilang sejenis roh yang masuk kedalam sebuah alat peraga, memiliki serangan magic dan serangan fisik," jelasku kepada Artizy namun ekspresi menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak mengerti apa saja yang telah aku jelaskan.


Artizy meletakkan kertas itu lalu memegangi kepalanya sambil sesekali menggaruknya. "Aku bingung dan juga penasaran dalam bersamaan!"


...


Setelah melakukan semua persiapan, seluruh anggota kelas yang akan bertarung terlebih dahulu menyanyikan Mars Distrik lalu menyanyikan Mars sekolah.


Kami semua berterima kasih kepada seluruh penonton yang ada, dan mulai bersiap untuk bertanding.


Aku melihat ke arah penonton dan melihat ada seseorang yang sepertinya ku kenali namun aku tidak begitu yakin


"Kak Sandman?" gumamku bertanya pada diriku sendiri.


Artizy menggaruk kepalanya. "Sandman? Maksud mu lagu Metallica Enter Sandman?"


Aku memasang wajah datar. "Bukan Metallica, tapi ah lupakan saja lah. Sebaiknya kita melakukan pemanasan dulu Artizy!"


Mika dan Karin serta beberapa anggota kelas lain menghampiri kami berdua yang tengah melakukan sedikit pemanasan ringan di pinggir arena bertarung.


"Muzzy, Artizy semangat!" Mika memberi semangat dan tidak lupa pula dengan senyum manisnya itu. Ia jua memberikan kami berdua jimat keberuntungan namun bagiku melihat senyumnya saja sudah menjadi jimat keberuntungan.


"Kalian berdua, berhati-hatilah. Aku punya firasat buruk!" ujar Karin dengan ekpresi wajah yang khawatir.


Artizy mengacungkan jempolnya ke arah Karin. "Kau tidak perlu khawatir Ketua Karin, disini Artizy dan Muzzy adalah duet paling mematikan yang pernah ada di dunia ini bahkan mungkin kami ini adalah saudara yang telah lama terpisah, haha!"


***


Another Pov


Di sebuah ruangan dengan meja mundar khas para politikus tengah berkumpul para Ex-Fundamental dan para petinggi The Guardian. Mereka tengah membahas tentang Wilkes dan kelompoknya yang akhir-akhir ini membuat banyak keributan.


Jesse menghentakkan tangannya ke meja yang berbentuk lingkaran itu. "Sudah ku katakan pada kalian semua, kenapa kalian harus menghentikan pencarian terhadap Wilkes!"


"Kami sudah melakukan pencarian dan kami menemukannya sudah tewas ditempat!" ucap salah satu petinggi The Guardian.


Shira mencoba menenangkan temannya, Jesse. "Tenanglah orang tua, ini jua salah satu dosa kita dulu yang telah membiarkannya pergi begitu saja."


"Wilkes benar-benar sudah keterlaluan, kita harus menghentikannya sesegera mungkin sebelum ia berhasil membangunkan si kecebong Baruna itu!" Teriak Jesse sambil memukul meja dengan tinjunya sampai-sampai meja itu dibuat hancur olehnya.


Di tengah perdebatan panas itu berlangsung, mantan Jendral Elliot tiba-tiba memasuki ruangan rapat sambil ditemani oleh seorang perawat yang membantunya untuk berjalan.


"Jendral Elliot!" Erina terkejut melihat mantan Jendral Elliot, begitu pula dengan yang lain.


Mantan Jendral Elliot langsung membungkukkan badannya. "Tolong, Bunuh dia untuk ku!"


"Oy orang tua sialan, jika kau tidak menghalangi kami saat itu. Masalah ini tidak akan pernah terjadi, dan juga Kapten Kidd pasti juga masih hidup!" protes Jesse sambil melirik kearah Erina yang terlihat murung.


"Jesse, jaga mulut mu!" tegas Shira kepada Jesse yang kepalanya hanya dipenuhi oleh kekesalan.


Mantan Jendral Elliot hanya memandang Erina dengan kedua matanya yang sudah tidak muda lagi, dengan perlahan mantan Jendral Elliot berjalan mendekat ke arah Erina.


"Ini adalah kutukan yang harusnya ku miliki sendiri, namun kutukan itu malah menelan kita semua," ucapnya dengan raut wajah sedih.


"Saat itu aku masih melihatnya sebagai anak kecil yang polos ketika aku memungutnya, namun siapa sangka, kebencian menelannya bulat-bulat dan jatuh di jurang dendam yang tak berujung!" lanjut mantan Jendral Elliot dengan suara yang sudah tidak tegas lagi karena faktor usia.


Mata Erina mulai berkaca-kaca, ia teingat sosok ayah dan ibunya dulu. Namun mata itu berangsur-angsur berapi-api ketika mengingat temannya Emeralia yang juga terseret kedalam pusaran yang dibuat oleh Wilkes.


"Sandman dan timnya telah bergerak, mereka pasti akan menemukan lokasi dimana mereka bersembunyi!" kata Erina dengan suara lantang.


"Apa kau punya rencana Jendral muda?" tanya Shira kepada Erina.


Erina tersenyum percaya diri. "Tentu saja, Wilkes dan kelompoknya akan tau siapa yang mereka lawan!"


...


Muzzy dan Artizy tinggal menunggu hitungan detik sebelum pertandingan dimulai, teriakan penonton yang menghitung mundur terdengar sampai keluar arena. Di luar arena dipasang puluhan layar yang menayangkan kondisi di dalam arena, para penjual saja dan pelanggannya yang tadinya asik melakukan kegiatan jual beli kini malah asik menyaksikan pertandingan yang akan berlangsung.


"1! The battle has begin!" teriak penonton yang di ikuti dengan suara terompet perang yang dibawa oleh para penonton.


"Lakukan sesuai rencana, Artizy!" ujar Muzzy, mengingatkan sahabatnya yang kunyuk itu.


Artizy tersenyum bahagia sambil berlari menyeret pedang besarnya Rondo. "Hancurkan si pengguna Pallanus D itu, bukan?"


Artizy melompat tinggi di udara sambil mengayunkan pedang besarnya ke arah Platini.


Namun tiba-tiba saja Muzzy sudah berada di sampingnya.


Apa!? Bagaimana bisa Muzzy sudah ada di sampingku, batin Mayumi.


Muzzy mendekatkan cube miliknya ke tubuh Mayumi. "[Cube Shot: Shotgun]!"


Tubuh Mayumi langsung menerima rasa sakit, bukan hanya itu saja tubuhnya juga terlempar cukup jauh dari tempat berdirinya tadi.


Mayumi menancapkan pedang katana miliknya sambil berusaha bangkit dari jatuhnya, ia juga sesekali mengatur napasnya agar mengurangi tekanan rasa sakit yang ia alami.


Di bagian arena lain, Artizy dan Platini tengah asik mengadu kekuatan dari senjata yang mereka miliki.


"Boleh juga kau!" ucap Artizy sambil mengatur napasnya.


"Kau juga!" sahut Platini sambil menutup luka di bagian lengannya akibat serangan pertama Artizy tadi.


Mayumi mulai melancarkan serangannya ke arah Muzzy. Tebasan demi tebasan berhasil Muzzy hindari bahkan beberapa tebasan berhasil Muzzy tahan dengan sangat mudah.


Aku harus mencari titik buta dari pertahannya Muzzy tapi sejauh ini pertahanannya begitu kokoh, ini diluar duguaanku, batin Mayumi.


Mayumi tersenyum sambil tetap fokus mengatur napasnya. "Rupanya rumor yang mengatakan kau mempunyai pertahanan paling kuat di kelas mu itu memang benar."


"Terima kasih banyak, ku anggap itu sebagai sebuah pujian dari mu," sahut Muzzy yang juga mengatur napasnya.


Mayumi menarik napas panjang lalu melakukan kuda-kuda khasnya, ia meletakkan pedang katananya di dekat kepalanya lalu melihat ke arah ujung pedangnya itu.


"[Arial Ace]!" Mayumi meluncur dengan cepat kearah Muzzy namun itu hanyalah tipuan belakang.


Ketika serangan Mayumi itu hampir mengenai Muzzy, Mayumi langsung berbelok serangan itu dan malah mengarah kepada Artizy yang saat itu masih fokus bertarung melawan Platini.


"Sial, Artizy Awas!" Muzzy memperingati Artizy.


Sepotong lengan kiri terjatuh dan berguling di arena yang membuat semua penonton terkejut.


Lengan itu rupanya milik Muzzy, ia berhasil melakukan Blink Step sebelum serangan kilat milik Mayumi mengenai sobatnya itu.


"MUZZY!" teriak histeris Mika di samping arena.


"[Cube Blast]!" rapal Muzzy mengeluarkan skill miliknya.


Serangan itu mengenai Pallanus D milik Platini dan menghasilkan ledakkan yang cukup besar di tengah arena.


"Tuan, Maafkan Rubick!" Yui meminta maaf dengan suara lirihnya.


Itu hanya sebuah lengan, aku masih bisa bertarung dengan satu tangan, Rubick-chan, batin Muzzy.


Muzzy memang berhasil menahan serangan itu tetapi dia harus mengorbankan satu lengannya.


"Oy, ini bohong bukan!?" Artizy menatap sobatnya meringis menahan sakit akibat lengan kirinya putus .


"Aku masih bisa bertarung, aku lengah dan inilah akibatnya!" ucap Muzzy sambil mencoba menahan darah yang keluar dari lengannya yang putus itu.


"T-tapi lengan mu!" sahut Artizy, tubuhnya bergetar kuat, seolah ia ketakutan.


"Fokus Artizy, mereka akan menyerang kita la-."


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Mayumi dan Platini langsung menyerang mereka berdua yang saat itu masih dalam keadaan belum siap sama sekali.


Tubuh Muzzy terlempar cukup jauh bahkan hampir keluar lapangan arena. Sedangkan Artizy berhasil menahan serangan Mayumi yang mengarah kepadanya.


Artizy dengan pedang besarnya mencoba memukul mundur Mayumi dengan kekuatannya yang besar.


Soal kekuatan, Mayumi memang kalah dengan Artizy. Merasa pedangnya sudah tidak kuat lagi beradu, Mayumi langsung melompat mundur menghindari Artizy.


"[Death Melody]!" Artizy merapalkan skill miliknya namun setiap tembakan dari Rhapsody mampu di tebas oleh Mayumi dengan pedangnya.


"A-apa!? b-bagaimana bisa?!" Karin kebingungan karena Mayumi dengan sangat mudah menggagalkan serangan Artizy yang ia tau sangatlah kuat.


Muzzy memuntahkan darah yang cukup banyak di mulutnya akibat serangan yang ia terima dari Platini tadi, ia sama sekali tidak memperhitungkan serangan tadi.


Platini mendekat ke arah Muzzy, sambil berjalan ia sempat sempatnya berdoa kepada dewa yang ia sembah.


"Dengan Pallanus D milikku ini aku akan menghapuskan seluruh dosa mu itu Muzzy!" ucap Platini sambil mengumpulkan energi sihir di tangan Pallanus D.


Artizy melihat hal itu, langsung berlari sekuat tenaga yang ia miliki tanpa memikirkan Mayumi yang juga mengikutinya dari belakang.


Muzzy! Keluarkan perisai mu itu!, batin Mika.


"[Judge Sacred]!" rapal Platini dan langsung meluncurkan pukulan penuh energi sihir kearah Muzzy yang terlihat hanya pasrah tanpa melakukan apapun.


Sebuah guncangan yang kuat tercipta akibat serangan tadi, bahkan debu-debu berterbangan dibuatnya. Mika yang melihat hal itu hanya bisa terduduk lemas, akibat kakinya sudah tidak sanggup berdiri lagi, ia hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepala sambil berkata tidak berulang-ulang kali.


Tatapan Artizy langsung berubah 180 derajat, iris matanya mengecil ketika melihat sobatnya Muzzy terkena serangan Platini tadi. Ia tidak habis pikir kenapa Muzzy bisa dengan sangat mudah di kalahkan begitu saja, padahal ia kenal betul Muzzy tidak mungkin bisa dikalahkan hanya dengan satu serangan seperti itu saja.


Tubuh Mayumi tiba-tiba terdorong mundur kebelakang karena efek aura yang Artizy keluarkan. Tatapannya sekarang benar-benar mengerikan, bahkan bulu kuduk milik Mayumi dan Platini pun ikut takut dibuatnya.


Tubuh Artizy langsung diselimuti aura hitam pekat di iringi ribuan kicauan burung gagak. Matanya mulai berubah menjadi berwarna merah darah dan gigi taringnya mulai memanjang, bukan hanya taringnya saja, kuku jarinya juga ikut memanjang dan meruncing seperti cakar seekor serigala.


"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN!" teriak Artizy namun dengan suara yang berbeda dari sebelumnya.


"Artizy...!" ucap Karin yang melihat perubahan bentuk Artizy yang menyerupai sesosok manusia Serigala.


Dari auranya saja orang ini begitu kuat, apa yang tuan Wilkes katakan kepadaku itu memang benar. Orang ini benar-benar berbahaya, batin Mayumi.


"Kekuatan macam apa ini!?" Platini melindungi matanya karena debu terus berterbangan akibat aura yang Artizy keluarkan.


Platini dan Mayumi langsung berlindung di balik tubuh Pallanus D milik Platini.


Mayumi mengigit bibir bawahnya. "Inilah kekuatan yang sebenarnya dari seorang pengguna Demon Hunter!"