
Another Pov
Pertarungan antara Erina dan Emeralia masih berlangsung dengan sangat sengit, insting membunuh mereka berdua sangat terlihat jelas dari setiap ayunan pedang yang mereka ayunkan sampai-sampai membuat dinding disekitarnya terkena dampak dari pertarungan mereka berdua. Dinding yang semulanya mulus, kini bentuknya sudah penuh goresan mulai dari yang besar kasar sampai yang kecil halus.
Di lain tempat, Mika dan Muzzy yang tadi merasakan dadanya begitu sakit dan terasa sesak, kini sudah mulai berangsur-angsur membaik namun aura gelap yang membuat dada mereka sakit masih terasa walau sudah tidak sekuat saat Wilkes masih ada di sekitar mereka.
Merasa Erina yang pergi begitu lama, membuat dokter Lute berinisiatif untuk mencarinya.
Dokter Lute berjalan perlahan sambil memikirkan hal-hal yang akan ia lakukan bersama Erina pada hari ini. Ia pikir semuanya akan berjalan dengan sangat lancar.
Secara perlahan suara pedang yang sedang beradu membuat telinga dokter Lute menjadi sangat penasaran.
Dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat Erina sedang bertarung dengan seseorang yang saat itu belum jelas siapa orang itu karena lampu yang menerangi mereka berkedip-kedip.
"Erina!" panggil dokter Lute berlari mencoba menghampiri Erina.
"Apa yang kau lakukan disini sayang?! Jangan mendekat!" tanya Erina yang napasnya tersengal akibat pertarungan yang cukup intensif.
"S-siapa dia?" dokter Lute tidak menjawab pertanyaan Erina dan malah bertanya kembali.
Erina hanya diam sambil mengigit bibir bawahnya, lalu Emeralia sendiri yang menjawab pertanyaan itu.
"Lama tidak bertemu Lute, kau sama sekali tidak berubah ya!" sapa Emeralia sambil berjalan maju ke arah cahaya lampu yang membuat wajahnya akhirnya nampak jelas.
Iris mata dokter Lute membesar ketika melihat sosok teman lamanya, Emeralia. Ya mereka bertiga adalah kawan satu seperjuangan ketika masih duduk di bangku sekolah dan selalu bersama-sama.
"M-mera, kau kah itu?!" tanya dokter Lute yang seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Tangan dokter Lute bergetar hebat karena merasakan ada yang salah dengan teman lamanya ini.
"D-dia bukan Mera yang kita kenal dulu lagi, sayang!" ucap Erina.
Erina menggenggam kuat kedua senjatanya sampai-sampai kulit tangannya yang mulus mengeluarkan darah hanya karena genggaman itu.
Emeralia melihat jari manis Lute yang tengah mengenakan cincin yang sama persis seperti milik Erina.
Emeralia mengigit giginya dengan kencang, emosinya memuncak seperti ingin meledak, tangannya pun menggenggam pedang dengan sangat kuat sampai pedang itu bergetar karena kekuatan genggaman yang ia ciptakan.
"Bukan hanya menghancurkan mimpiku, namun kau juga merebut orang yang aku cintai juga!" Emeralia berteriak dan langsung menyerang Erina dari depan.
Pedang mereka lagi dan lagi beradu, menciptakan suara khas logam yang berbenturan.
Dokter Lute kebingunan harus berbuat apa, keringat dingin mulai mengalir melalui pori-pori kulitnya. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa, menyelamatkan temannya atau pasangannya.
"HENTIKAN!" teriak dokter Lute dengan suara lantangnya.
Erina dan Emeralia ketika mendengar dokter Lute berteriak dengan sangat lantang langsung melompat mundur.
Baju yang tengah di pakai Erina sudah banyak yang sobek dan begitu pula dengan Emeralia, baju yang awal memang sudah kekurangan kain semakin berkurang kainnya dan hampir memperlihatkan bagian yang seharusnya tidak boleh di perlihatkan namun anehnya kulit mereka tidak ada satupun yang terluka.
"Mera, tolong hentikan. Bukankah kita dulu berteman?" Lute membujuk Emeralia untuk berhenti bertarung.
Emeralia hanya tersenyum lalu membuka portal. "Lute kau memang pria baik yang pernah aku temui, tapi Tuanku menjanjikan sesuatu yang bisa mengabulkan semua keinginanku jadi tunggulah aku, aku akan kembali!"
Emeralia memasuki portal yang ia buat tadi, Erina hanya terdiam melihat hal itu terjadi. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan yang begitu dingin.
Erina menjatuhkan kedua pedangnya lalu memeluk Lute sambil menangis tersedu-sedu.
"Aku yakin Mera hanya tersesat, kita harus menyelamatkannya dan membuatnya kembali menjadi Mera yang kita kenal dulu!" ujar dokter Lute yang tengah memeluk Erina lalu memakaikan jubahnya yang tengah ia pakai untuk menutupi tubuh Erina.
Erina hanya mengangguk pelan sambil terus menangis pelan di dalam pelukan dokter Lute yang juga hatinya teriris karena melihat temannya yang dulunya baik telah berubah menjadi seperti itu.
Another Pov End
※※※
Dadaku masih terasa sesak, perasaan ini benar-benar menyiksaku secara perlahan, Mika juga merasakan apa yang kurasakan namun berbeda dengan Artizy yang entah mengapa jantungnya berdetak sangat kencang seperti memperingatkan sesuatu hal yang buruk terjadi.
Aku mencoba menekan rasa sakit di dadaku secara perlahan dengan bantuan Rubick tetapi energiku yang tersisa sedikit membuatnya terasa begitu lambat.
"Kebencian ini sangat kental dan juga sangatlah gelap, Tuan!" ucap Rubick di dalam pikiranku.
Aku belum pernah merasakan kebencian seperti ini, batinku.
Beberapa menit kemudian akhirnya perasaan itu menghilang namun aku merasakan aura kesedihan yang cukup dalam, perasaan sedih yang benar-benar murni karena sebuah kehilangan dan keputusasaan.
"Mika, apa dada mu masih terasa sesak?" tanyaku sambil mencoba membantunya berdiri.
Mika mengangguk pelan namun ada yang aneh dengan raut wajahnya, ia mengigit bibir bawahnya seperti menahan sesuatu.
"Ada apa Mika, ada sesuatu yang salah?" tanyaku khawatir kepadanya.
Melihatnya seperti itu membuatku sangat khawatir.
Dia memandang pelan kepadaku dengan mata yang berkaca-kaca seperti ingin menangis. "Aku melihat sesuatu yang mengerikan, dalam penglihatan masa depanku!"
Tangannya bergetar secara perlahan dan mulai mengeluarkan peluh dingin.
"S-sesuatu yang mengerikan?" tanyaku sekali lagi.
Mika mengangguk lalu memandang ke arah Artizy yang tengah berbicara dengan Karin dan yang lainnya. "Dalam penglihatanku itu..."
Mendengar hal itu tentu saja bagaikan disambar petir.
"H-hal itu tidak mungkin terjadi, Mika. Artizy tidak akan mungkin mampu melakukan itu apa lagi-"
"Seseorang mengendalikannya, sesosok pria dengan jubah hitamnya yang membuat hal itu terjadi!" potong Mika.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya memandang Artizy dengan penuh harapan hal itu tidak akan pernah terjadi dan kuharap Sister of Fate tidak melakukan sesuatu yang tidak perlu di lakukan.
"Jika hal itu memang terjadi, aku lah orang yang paling depan akan menendang bokongnya!" ucapku sambil tersenyum ke arah Mika lalu menghapus air matanya yang masih tersisa dipipinya yang lembut itu.
...
Aku dan Mika merahasiakan hal itu dan bersikap seperti biasanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Seluruh anggota kelas memutuskan untuk merayakan kemenangannya dengan makan di salah satu restoran BBQ di tengah kota.
Ketika tengah asik berpesta, Kakakku, Erina MacTavish datang dan membuat heboh seisi kelas dan akhirnya rahasiaku selama ini ku simpan terbongkar juga.
"Apa! Jadi kau meninggalkan nama Ayah di nama mu?!" Kakakku menggenggam erat tangannya dan ingin memukulku karena aku meninggalkan nama ayahku.
Namum Mr. Jack menjelaskan yang sebenarnya sebelum sebuah bencana datang menimpaku.
Kakakku menghela napasnya lalu tersenyum kepadaku sambil mengacak rambutku. "Kau ini, bagaimanapun kita tidak boleh meninggalkan identitas kita sebagai anaknya ayah, walaupun berat tapi ya begitulah, maafkan kakak yang dulu terlalu sibuk bekerja sampai-sampai tidak tau kalo kau menderita karena kesepian."
Mika menggenggam kedua tangan Kakakku lalu berkata. "Sudah-sudah Kakak Erina jangan cemberut seperti itu, ayo kita rayakan kemenangan kita hari ini!"
Kakakku langsung memeluk Mika dengan sangat erat. "Kau memang adik iparku yang paling imut dan sangat baik, seandainya aku laki-laki sudah ku nikahi kau sekarang Mika!"
Mendengar hal itu wajah Mika langsung berubah memerah dan canda tawa kembali terdengar di restoran yang sudah di pesan khusus hanya untuk kami itu.
Rahasiaku memang sudah terbongkar namun aku tetap meminta kepada seluruh teman-temanku untuk merahasiakannya, bayangkan saja bagaimana hebohnya nanti jika seluruh sekolah tau aku anak dari Kidd MacTavish, yang ada kelasku semakin kena bully.
※※※
Pesta perayaan berlangsung sangat meriah, dokter Lute dan Mr. Jack dengan asik minum-minum sampai wajah mereka memerah karena mabuk.
Tingkah Mr. Jack ketika mabuk sangatlah unik, sampai-sampai membuat seluruh anggota kelas tertawa terbahak-bahak.
"Aduh Mr. Jack, kau terlalu banyak Minum!" protes Karin yang melihat Mr. Jack tetap bersikeras untuk minum.
Berbeda dengan dokter Lute yang sudah tidak sanggup lagi untuk minum. Lalu tertidur di pangkuan kakakku.
...
Di dalam kamar hotel, Artizy, Robin dan Reznov tengah berencana melakukan sebuah tantangan yang menurutku bisa membuat mereka di gantung Karin di tiang bendera.
"Apa yang kalian sebenarnya rencanakan?" tanyaku yang mulai penasaran karena sejak dari tadi mereka berbisik-bisik.
Artizy tersenyum licik lalu menyuruhku untuk mendekat dan mulai membisikkan beberapa kalimat yang siapa saja mendengarnya bisa membuat orang sakit kepala.
"A-apa kau sudah gila?!" ujarku protes setelah mendengar apa yang akan mereka lakukan.
"Sudah tenang saja, rencana ini akan berhasil jika kita berhasil membuat ketua Karin tidak curiga," tepis Artizy meyakinkanku bahwa rencananya akan berjalan dengan lancar.
Mereka bertiga tertawa licik bersama, namun aku ingat betul bukannya Artizy sudah punya janji bahwa dia besok harus jalan-jalan bersama Karin.
"Tunggu dulu, bukannya kau sudah punya janji dengan Karin besok, Artizy?" ujarku yang membuat tawa mereka seketika berhenti dan tatapan kosong pun mereka tunjukkan.
"Ah ... aku lupa itu, hampir saja aku mati jika melupakan itu!" Artizy memegang kepalanya sambil berguling-guling di atas kasurnya.
"Jadi gagal nih rencana kita!?" tanya Reznov dengan wajah kecewa.
"Yah padahalkan kita sudah merencanakannya dengan sangat keren tadi," ujar Robin dengan lemas.
Mereka bertiga menghela napas mereka secara kompak dan itu terlihat sangatlah lucu.
"Sudahlah, lagi pula besok kita libur dan bisa menikmati liburan kita di kota ini, ayolah kawan-kawan tetap semangat!" aku mencoba memberi semangat kepada mereka bertiga.
Namun usahaku seperti sia-sia, mereka masih saja masih menghela napas mereka dan memasang ekspresi kecewa.
Jika kalian bertanya apa yang mereka rencanakan jawabannya adalah mereka mendengar ada pertandingan warrior ilegal di kota ini, ya sebenarnya di setiap kota memang ada hal-hal seperti itu namun jika dilakukan di kota sendiri agak susah untuk menutupi jejak dari kepolisian.
Artizy merencanakan itu untuk menambah pengalaman bertarungnya dan juga mengasah skillnya.
Keuntungan yang didapat juga sangatlah berlimpah, bayangkan saja 1 kali bertanding bisa menghasilkan lebih dari 100.000 sampai 300.000 ribu € namun kebanyakan pengguna warrior yang bertarung disana sudah di atur sedemikian rupa.
Kebanyakan para petarung adalah warrior yang sudah kehilangan lisensi mereka karena kebiasaan mereka yang suka mempertaruhkan KLW dan ketika seorang kehilangan KLWnya karena bertaruh maka kesempatan untuk mendapatkan KLW itu lagi hanya isapan jempol belakang.
"Lagi pula jika kalian kesana yang ada kalian hanya akan menjadi sasaran empuk para pemburu KLW!" ujarku sambil berbaring di atas kasur hotel yang sangat empuk, sampai-sampai mengalahkan kasurku yang ada di rumah.
"Rencana ini sebenarnya hanya bualan saja Muzzy ...," Artizy tiba-tiba memasang wajah serius.
"Sebenarnya kami bertiga mendengar sesuatu yang mengerikan saat kami ingin menuju lobby tadi!" lanjut Artizy.
"L-lalu apa yang kalian ingin lakukan disana!?" tanyaku yang merasa ada sesuatu yang memang benar-benar serius dan itu terlihat sangat berbahaya.
...-Tbc-...