
Another Pov
"Dia? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau maksud?" Snake Eyes Berdelih, beralasan tidak mengenali wajah tuannya, Wilkes.
Tangan dingin Sandman langsung mengarah dengan sangat kuat ke perut Snake Eyes.
"Perut mu sangat lembut sekali, tidak seperti kepala mu yang keras itu!" ucap Sandman setelah memukul kuat perut Snake Eyes.
Snake Eyes menahan sakit dan hampir memuntahkan minuman yang baru ia minum, ia terbatuk-batuk dan adrenalinnya mulai terpicu karena rasa takut yang berlebihan.
"Dia orang yang tidak menyukai kekalahan, kalian akan menderita dan semua orang akan menderita jika kalian berani mencampuri urusannya!" ancamnya kepada Sandman dan Blink yang mendengar hal itu seperti gurauan saja.
Blink langsung mengarahkan pedangnya ke leher Snake Eyes, tatapan Mata Blink langsung menusuk ke dalam kejiwaan Snake Eyes.
"Kami tidak peduli. Bicara atau ..." Blink lalu mendekatkan mata pedangnya yang berkilau itu semakin dekat dengan leher Snake Eyes.
Snake Eyes hanya bisa menelan ludahnya dengan amat teramat berat, keringatnya mulai bercucuran keluar dari pori-pori kulitnya. Di dalam benaknya ia hanya berpikir bagaimana caranya ia bisa selamat tanpa harus memberitahu tentang tuannya, Wilkes.
Sandman mengambil sebotol minuman keras lalu menuangkannya di sebuah gelas khusus yang biasa di gunakan untuk meminum air yang katanya bisa memicu orang berkata jujur itu.
"Blink, mundur! Ini minumlah minuman kesukaan mu!" Sandman menyerahkan gelas itu dihadapan Snake Eyes.
Entah kenapa Snake Eyes malah mau saja mengambil gelas yang berisikan alkohol itu dan menegaknya hingga habis dengan sekali minum.
"Aku tidak terlalu suka dengan kekerasan, jadi mohon untuk kerjasamanya, Tuan Snake Eyes!" Sandman mendekatkan kepalanya ke wajah Snake Eyes.
Snake Eyes hanya diam dengan napas yang mulai tidak teratur, matanya melirik ke kanan dan ke kiri seperti mencari sebuah peluang untuk kabur dari cengkraman Sandman dan Blink namun semua itu adalah hal yang sia-sia karena Sandman tidak pernah gagal dalam hal menginterogasi musuhnya.
"Beritahu saja apa yang dia lakukan disini," ucap Sandman yang berjalan mendekat ke arah sebuah jam besar di pinggir ruangan itu.
"Ok tidak ada jawaban!" Sandman berjalan santai lalu memukul dan menendang Snake Eyes sampai membuatnya terpental cukup jauh dari kursinya tadi.
"Bunuh saja aku karena aku ini sudah menjadi orang yang mati juga!" pinta Snake Eyes kepada mereka berdua.
Blink mengangkat kepala Snake Eyes dengan menjambak rambutnya lalu dengan kerasnya melemparnya kembali ke kursi.
Sandman memecahkan kaca jam besar itu lalu mengambil sebuah pecahan kaca.
"Bicara!" ancam Blink lalu menyayatkan sebuah pisau kecil ke hidung Snake Eyes.
Snake Eyes hanya diam menahan perih, dia hanya bisa berdoa semua penderitanya cepat berlalu namun ia tahu doa doanya tidak akan pernah didengar oleh tuhan karena semua dosa yang telah ia buat.
"Siapa namanya dan apa yang ia lakukan disini?!" Sandman bertanya kembali sambil memainkan kepingan dari pecahan kaca dari jam besar tadi.
Snake Eyes tetap diam dan enggan memberitau apapun kepada mereka berdua.
Sandman memberikan isyarat untuk mempegangi tubuh Snake Eyes kepada Blink dan dengan sadisnya mereka berdua memaksa Snake Eyes membuka mulutnya dan langsung dimasukkan pecahan kaca itu, lagi-lagi tangan dingin Sandman kembali mendarat tepat di wajah Snake Eyes yang membuatnya kejiwaannya terguncang karena siksaan ini.
Snake Eyes memuntahkan Darah dan juga pecahan kaca yang dimasukkan ke dalam mulutnya tadi.
"Sekarang masih tidak mau bicara?!" tanya Sandman menegadahkan wajah Snake Eyes yang terlihat lemas karena semua penyiksaan yang ia terima, bukan hanya fisiknya saja yang tersiksa namun secara mental ia pun juga ikut tersiksa.
Interogasi berlangsung selama bermenit-menit lamanya, kedua tangan Sandman sudah penuh dengan Darah dari Snake Eyes. Semua penyiksaan itu membuat Snake Eyes sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi dan akhirnya membocorkan semua yang ia tau.
"Kerjas bagus Snake Eyes, terima kasih atas segala informasin yang telah kau berikan kepada kami. Sesuai janji kami, kau akan kami bebaskan!" ujar Sandman tersenyum manis sambil membersihkan darah yang ada di tangannya dengan sebuah sapu tangan.
Sandman dan Blink berjalan meninggalkan ruangan yang sudah seperti kapal pecah, dilantainya saja penuh dengan tetesan darah yang membuat bau ruangan itu menjadi berbau amis.
Blink menghentikan langkahnya lalu melirik kebelakang sambil memegang pedangnya yang ada di punggunya dan dengan sekejap mata, kepala Snake Eyes sudah terjatuh dari tempatnya.
***
Mereka mengganti baju mereka di dalam lift dan dengan sangat santainya berjalan dengan wajah mereka yang terlukis senyum seperti seorang pembisnis yang berhasil melakukan deal dengan kliennya.
Mereka bertemu lagi dengan penjaga pintu di luar bangunan itu.
"Dilihat dari wajah kalian sepertinya bisnis kalian berjalan dengan lancar," ucap pria penjaga itu.
Sandman tersenyum sambil mengambil barang-barangnya lalu berkata. "Haha iya, bos kalian rupanya sangat ramah sekali sampai-sampai kami betah berlama-lama berbincang dengannya."
"Baguslah berarti aku akan mendapatkan jatah juga, bukan?" tanya pria itu tanpa curiga sedikitpun.
Blink tersenyum lalu bertanya kepada pria itu. "Tentu saja tuan, ini jatah bonus untuk tuan!"
Pedang Blink langsung menyayat tubuh pria itu yang membuatnya langsung terkapar tanpa nyawa.
Begitupula dengan yang ada di dalam bangungn tersebut, seluruh anak buah Snake eyes sudah mereka bantai dan hanya menyisakan beberapa saja. Mereka yang selamat dari pembantaian itu memang tidak menderita secara fisik namun mental mereka yang telah berhasil dibunuh oleh Sandman dan Blink.
Sandman melaporkan kepada Erina yang tengah menikmati liburan dengan teman-teman adiknya, Muzzy.
"Overload! Ini Sandman, kami berhasil mengindentifikasi siapa pria berjubah itu dan tujuan ia ada disana!"
Mendengar hal itu Erina beralasan mau ke toilet dan memastikan tidak ada satu orangpun yang tengah berada di dalam ruangan itu.
"Kerja bagus Sandman! Blink! Jadi siapa nama orang itu dan tujuannya!?"
"Pria itu bernama Wilkes, mantan prajurit The Guardian dalam satuan B-141 dan berita buruknya lagi dia adalah anak angkat dari Mantan Jendral Elliot!"
"A-apa!?" teriak Erina terkejut.
Bak disambar petir, Erina yang awalnya memasang wajah serius sekarang malah memasang wajah penuh kekecewaan. Ia mengenal Wilkes yang juga teman dari ayahnya sendiri, orang yang dulu adalah salah satu orang yang ia juga kagumi.
"Bahkan di dalam The Guardian itu sendiri, Jendral!" lanjut Sandman.
Erina tidak bisa berkata-kata lagi, ia benar-benar terguncang. Mentalnya tiba-tiba melemah, bukan saja sahabatnya yang menjadi musuhnya, dan sekarang teman dari ayahnya sendirilah musuh yang harus ia lenyapkan.
Tangis air mata membasahi pipinya, Jendral yang dikenal dengan ketegasannya pun hilang bak ditelan lubang hitam. Dadanya terasa sesak dan sulit bernapas, seolah-olah oksigen enggan mengisi ruang-ruang yang ada di paru-parunya.
Amarah mulai mengisi dirinya, ia membuang semua memori tentang sahabatnya dan juga teman ayahnya yang ia kenal baik dan ramah.
"Mera!" panggil Erina lalu memukul dinding dengan sekuat tenaga sampai meninggalkan bekas retakkan di dinding itu.
"Paman Wilkes!" lanjut Erina dengan geram.
"Aku yang akan membunuh kalian, dengan kedua tanganku ini!" Erina kembali memukul dinding yang ada di sampingnya dan menambah kerusakan pada dinding itu.
Di sisi lain, Wilkes yang tau anak buahnya sudah mengkhianatinya malah tersenyum bahagia. Ia merasa para The Guardian sudah masuk dalam perangkapnya dan peperangan antar manusia dan para monster sebentar lagi akan berguncang hebat ditambah lagi ia sudah mempunyai Blue Orb yang artinya ia sudah bisa membangunkan Beast yang sudah lama tertidur selama ini.
"Mayumi!" panggil Wilkes yang tengah duduk disinggasananya.
Mayumi membungkukkan tubuhnya. "Ada apa Tuan?"
"Aku punya pesan yang harus kau sampaikan!"
"Pesan apa itu Tuanku?" tanya Mayumi.
Wilkes tersenyum lalu menopang dagunya. "Beritahu Ruxio untuk menyiapkan pasukan, Kumpulkan anak buah terbaiknya dan satu lagi."
Mayumi memiringkan kepalanya karena bingung dan juga penasaran.
"Katakan padanya untuk menyikat giginya sesekali, aku ingin muntah jika dia berbicara denganku nanti!"
Mayumi menahan tawanya membuat pipinya menjadi mengelembung.
Wilkes memberi isyarat untuk Mayumi untuk bergegas pergi.
...
Mayumi mendatangi sebuah bangunan di tengah hutan yang sebenarnya adalah markas rahasia milik Wilkes.
"Ah anak kesayangan Tuan Wilkes, ada perlu apa mendatangi gubuk kami yang reot ini?" Ruxio mengejek Mayumi.
Mayumi memutar bola matanya karena ucapan yang dilontarkan oleh Ruxio. "Tuan Wilkes memperintahkan mu untuk mempersiapkan pasukan dan tolong sikatlah gigi mu itu, apa kau tidak sadar bau mulut mu itu bisa membunuh Tuan Wilkes!"
Ruxio mencium bau mulutnya dan langsung memperlihatkan ekspresi mual-mual.
"B-baiklah aku akan rajin sikat gigi mulai hari ini, apa kita akan membangkitkan Beast itu?"
"siapkan saja dulu pasukan mu itu, Tuan Wilkes meminta mu untuk memilih pasukan yang terbaik saja. Kemungkinan besar kita akan bertarung terlebih dahulu sebelum bisa mengendalikan Beast itu!"
Ruxio mengangguk sambil menyeringai layaknya seorang iblis yang berhasil melakukan aksinya dan Mayumi pun keluar dari bangunan itu sambil menatap sekeliling.
Setelah selesai menyampaikan pesan tuannya Wilkes, Mayumi merasa ingin berjalan-jalan terlebih dahulu sebelum pulang kembali kerumahnya.
Ditengah perjalanan ia teringat masa lalunya yang begitu kelam dan menyedihkan karena melihat seorang anak perempuan kecil dengan baju lusuhnya mencari sesuatu di sebuah tempat sampah.
"Apa yang sedang kau cari, Adik kecil?" tanya Mayumi kepada anak perempuan kecil berpakaian lusuh itu.
Anak itu ketakutan karena ia mengira ia akan di marahi oleh Mayumi karena telah mengacak-acak tempat sampah.
"Tidak perlu takut, Kakak tidak akan memarahi mu kok, apa kau lapar?" tanya Mayumi sambil mengulurkan tangannya.
Anak itu hanya bisa mengangguk sambil memegangi perutnya yang kecil itu, ia merasa perutnya sudah mulai mau membunuhnya secara perlahan karena kekurangan asupan makanan.
Mayumi tersenyum pahit melihat anak kecil itu, ia memegang pipi anak itu lalu mengatakan bahwa ia akan membelikan makanan untuknya dan wajah anak itu langsung berubah menjadi berseri-seri sambil memandangi Mayumi bak seorang malaikat yang menyelamatkannya dari kematian.
Mayumi membelikannya 5 bungkus roti bermacam jenis dan 3 botol air mineral dan 2 kotak susu kemasan.
Melihat anak itu makan dengan lahapnya membuatnya merasa de javu. Ia teringat ketika ia ditolong oleh Wilkes dan kejadian hari ini sama persis seperti yang ia alami dulu.
"Kakak boleh tau nama Adik?" tanya Mayumi yang tengah memperhatikan anak itu makan dengan sangat lahap.
Anak kecil itu mengangguk cepat lalu menelan makanan yang ada di mulutnya. "Namaku Miu, Kak!"
"Hmm Miu, nama yang cantik. Perkenalkan nama Kakak Mayumi, panggil saja Kakak Kak Yumi," ujar Mayumi mengelus rambut Miu.
"Dimana keluarga mu, Miu?" lanjut Mayumi bertanya.
Miu hanya diam, wajah cerianya berubah menjadi raut wajah sedih. Ia bercerita bahwa keluarganya sudah tidak ada lagi karena suatu insiden. Dulu ia hidup bersama kakaknya namun naas kakaknya menghilang begitu saja dan meninggalkannya sendirian.
Merasa Iba, Mayumi mengajak Miu untuk ikut serta bersamanya.
"Ikutlah bersama kakak, Kakak akan merawat mu dan kau tidak perlu lagi mencari makanan di tempat sampah,"
"T-tapi apa Kak Yumi tidak merasa terbebani untuk merawatku?" tanya Miu dengan wajah sedihnya.
Mayumi memeluk Miu seperti seorang kakak memeluk adik kesayangannya. "Tentu saja tidak, di tempat Kakak juga banyak anak seumuran dengan mu yang tinggal bersama-sama."
Mereka pun dengan bergandengan tangan pulang menuju rumah penampungan yang telah Wilkes buat untuk menampung anak-anak yang kurang beruntung. Ia mendidik anak-anak itu dan mengajarinya menjadi warrior yang hebat jika mempunyai keahlian warrior sedangkan yang tidak mempunyai keahlian warrior maka akan mendapatkan jatah pewarisan warrior oleh wilkes dengan kemampuannya yaitu mengambil paksa warrior milik orang lain.
...-Tbc-...