
"Apa kau mengetahui maksud dari semua itu, Muzzy?" tanya Mika lalu menggenggam tangan kananku.
Aku menggeleng pelan lalu berkata. "Aku juga tidak mengerti sama sekali, sama halnya seperti kalian. Aku juga pernah bermimpi seperti itu dan ia menyebutku The Key."
Artizy berdiri dari duduknya, dengan tubuhnya yang tegak dan tinggi itu ia memalingkan pandangannya ke arah matahari yang mulai terbenam. "Apapun itu Muzzy, aku yakin sekali pasti ada hubungannya dengan warrior milik mu itu!"
"Mungkin sobat, sebaiknya kita rahasiakan ini dan jangan sampai teman-teman kita tau apalagi keluarga kita, jika mereka mengetahui hal ini aku takut ketiga hal ini bisa membahayakan nyawa mereka semua!"
Mika memegang erat tanganku, dia terlihat sedikit ketakutan.
Aku memegang lembut tangannya dan tersenyum kepada Mika. "Tenang saja, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan mu!"
Artizy tersenyum lebar lalu mengeluarkan pedang besarnya Rondo. "Hey kalian berdua, dengan pedang ini aku bersumpah akan melindungi kalian berdua seperti yang dikatakan oleh pohon besar aneh itu!"
Kami bertiga tersenyum bersama-sama dan kembali ke penginapan. Kami bertiga bersikap normal dan enggan menunjukkan perilaku aneh atau ada sesuatu yang ditutup-tutupi.
※※※
Di malam harinya kami semua melakukan pesta BBQ di pinggir pantai yang sebenarnya di depan penginapan juga sih karena letak penginapannya tepat berada di depan pantai.
"Woy Reznov pelan-pelan makannya!" ujar Karin menegur Reznov yang makan sangat cepat.
Merasa tidak mau kalah dari Reznov, Artizy ikut mempercepat makannya.
"Astaga mereka berdua kompak sekali," ujar Kakakku tertawa melihat kelakuan kedua temanku.
"Hey kalian berdua ini!" tegas Karin tapi mereka tetap saja tidak mendengar.
"Sudah-sudah masih banyak kok dagingnya, semua pasti kenyang!" sahut Dokter Lute mengangkat kantong plastik yang isinya daging siap masak.
"Maafkan kelakuan mereka Kak Erina, Dokter Lute," ucap Ellen yang merasa tidak enak dengan kelakuan kedua temannya yang tidak tau malu.
Kakakku dan dokter Lute hanya tersenyum lalu mempersilahkan kami untuk makan lebih banyak lagi.
"Kakak tidak mau makan lagi?"
"Tidak, terlalu banyak makan daging nanti berat badanku bisa naik!" sahut Kakakku sambil memencet hidungku.
Melihat kakakku dan dokter Lute bergandengan tangan dan berjalan menuju ke arah pantai, sepertinya mereka ingin menghabiskan waktu berduaan.
"Kak Erina mau pergi kemana?" tanya Mika sambil tersenyum manis seperti biasa.
Kakakku memalingkan kepalanya lalu tersenyum. "Rahasia hehe."
Dokter Lute tersenyum canggung. "Kami akan pergi ke dekat tebing di pantai, katanya disana adalah tempat yang cocok untuk menyaksikan langit malam yang sangat indah apalagi dipenuhi bintang-bintang, bagaimana kalo kalian berdua ikut saja?"
Aku dan Mika menatap satu sama lain lalu membuang muka karena malu.
Mika melirikku dengan perlahan lalu tersenyum malu. Aku yang melihat tingkahnya seperti itu membuat hatiku berdetak kencang.
"Ah masa muda yang indah, ayo kalian berdua ikut saja!" ajak Kakakku lalu menarik tangan Mika.
Terpaksa aku juga harus ikut padahal aku baru makan sedikit.
"Oy Muzzy, Mika, kalian mau pergi kemana?" tanya Artizy.
"Muzzy dan Mika kami pinjam dulu ya!" jawab Dokter Lute menarik tanganku.
...
Kakakku dan Dokter Lute berjalan duluan di depan kami, sedangkan aku dan Mika berjalan dibelakang mereka berdua.
"Muzzy!" panggil Mika dengan suara lembutnya.
Aku meliriknya lalu berkata. "Ada apa, Mika?"
"Anu..." ucap Mika lalu berdiam entah kenapa.
Aku yang penasaran mencoba menanyakan apa yang dia ingin sampaikan. "Anu apa?"
"Tidak jadi, ayo kita jalan!" ujarnya lalu cemberut.
Aku sama sekali tidak mengerti kenapa ia bertingkah seperti itu, apa perempuan memang sangat suka bermain teka-teki.
Setelah berjalan cukup jauh kami berempat pun sampai ke tebing itu. Memang benar apa yang dikatakan dokter Lute tadi, disana sangatlah indah. Ribuan bintang di langit malam yang cerah tanpa ada awan sedikitpun menambah kecantikan langit malam di pantai White Coral.
"Wah indah sekali!" ucap kakakku sambil memeluk dokter Lute.
Sejak dari tadi mereka berdua membuat aku dan Mika canggung, sebenarnya aku juga ingin seperti mereka tapi sepertinya Mika sangat malu begitu pula dengan diriku, untuk bergandengan tangan saja kami masih malu-malu setengah mati.
"Mika ayo kita kebawah, sepertinya disana ada gua!" ajakku sambil menarik tangan Mika yang sangat lembut.
Benar saja dugaanku, di bawah tebing itu ada sebuah gua yang aneh namun sangat indah karena didalamnya bersinar cahaya kebiruan seperti layaknya kristal yang bersinar terkena cahaya.
"Lihat Muzzy, diatas sana sangat cantik!" tunjuk Mika ke atas dinding gua yang bersinar dengan sangat cantik.
Aku tidak memandang ke atas gua tersebut dan malah memandang wajah Mika yang berseri-seri dengan senyum manis yang menghias wajahnya. "Iya cantik sekali!"
Mika yang sadar bahwa aku bukan memuji kecantikan gua tersebut melainkan dirinya, membuatnya tersipu malu lalu membenarkan rambutnya yang diterpa angin ketika menuruni tebing tadi.
"Kita sudah lama tidak berkencan seperti ini ya," ujarku sambil menggaruk pipiku.
"Hehe iya, karena Muzzy juga harus bekerja paruh waktu bukan, tapi syukurlah kita akhirnya punya banyak waktu untuk berduaan seperti ini," sahutnya memandang wajahku.
Kami saling tatap-menatap.
"Muzzy!"
"Mika!"
Kami berdua memanggil nama satu sama lain secara bersamaan.
"Kau dulu, Muzzy!"
"T-tidak-tidak kau saja yang duluan!"
Kami berdua sama-sama terdiam, aku merasa jantungku terdetak sangat kencang. Di dalam pikiranku hanya ada Mika dan Mika.
"Mika, maaf ini mungkin terlambat tapi maukah kau menjadi pacarku?"
Aku langsung memeluk tubuh Mika yang lebih kecil dari tubuhku. "Maaf."
Mika menengadah lalu tersenyum kepadaku yang masih di dalam pelukanku. "Kenapa kau minta maaf, lagi pula kita ini sudah terikat janji bukan?"
Aku tersenyum lalu kembali memeluk tubuhnya, hatiku terasa sangat hangat dan nyaman.
"Tuan, selamat ya hehehe"
Terima kasih Rubick-chan, batinku di dalam hati.
Karena saking asiknya berpelukan, sampai-sampai aku lupa kakakku pasti khawatir dan mencari kami berdua.
Aku mengajak Mika untuk naik kembali ke atas, tapi Mika menahanku lalu menutup matanya seperti meminta sebuah ciuman di bibirnya yang berwarna merah jambu itu.
Aku mendekatkan wajahku sambil memegang belakang kepalanya, tangan Mika sudah melingkar di pundakku dan bibir kami sudah sangat dekat tapi...
"Muzzy!"
"Mika!"
Teriak kakakku dan juga Dokter Lute memanggil nama kami berdua, padahal tinggal sedikit lagi aku dan Mika akan melakukan First Kiss. Merasa gagal berciuman, aku tersenyum canggung kearah Mika yang juga tersenyum canggung kearahku, kami berdua tertawa kecil bersama-sama karena merasa hal ini sangat lucu.
Mika melepas tangannya yang melingkar tadi dan tanpa memberi aba-aba, Mika mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi kananku. "Nanti kita cari waktu yang tepat saja ya!"
Entah kenapa aku yang malah malu-malu, biasanya kan Mika yang bersikap malu-malu.
※※※
Keesokan harinya ada yang aneh dan tidak bisa terjadi. Artizy mendapat banyak penggemar dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa dan yang paling mendominasi adalah penggemar dari kalangan perempuan.
"Aaaa Artizy keren sekali!" teriak seorang penggemar perempuan.
Artizy hanya kebingungan sambil tersenyum kepada para penggemarnya yang memanggil-manggil namanya.
"Hmm sekarang menjadi tuan populer?!" ejek Ellen yang kelihatannya sangat tidak suka Artizy di peluk-peluk penggemarnya.
"A-aku juga tidak tau Ellen, Muzzy bisa kau tolong aku!" ujarnya memohon bantuan kepadaku.
"Maaf tuan populer aku harus pergi, ayo teman-teman liburan kita masih panjang!" kataku melambaikan tangan kepada Artizy.
Baru beberapa langkah berjalan menjauh dari gerombolan penggemar Artizy, Karin menghentikan langkahnya dan berkata ia mau menyelamatkan Artizy dari penggemar yang telah menghancurkan rencana kami hari ini.
Karin berlari menerjang kumpulan para penggemar dan mencoba untuk meraih tangan Artizy.
"A-apa Karin akan baik-baik saja?" tanya Mika khawatir.
"Tenang saja Mika, Ketua Karin pasti bisa mendapatkan Artizy!" sahut Reznov sambil menenteng payung pantai yang akan di gunakan hari ini.
Aku melihat ke arah Ellen yang memang wajah murung. Ia selalu memasang wajah seperti itu sejak malam tadi, aku sangat penasaran apa yang terjadi malam tadi sesaat setelah aku dan Mika pergi jalan-jalan karena diajak kakakku.
Karin dengan langkah mantapnya berhasil menarik tangan Artizy dan entah mengapa wajah Artizy berubah menjadi merah dan kepalanya seperti mengeluarkan asap.
Aku dan Reznov kebingungan memandang sobat kami yang satu ini.
Para penggemar berjalan menjauh sambil bergumam yang tidak-tidak.
"Rupanya ia sudah punya pasangan!" ujar salah satu penggemar yang kecewa.
"Ah ayo kita pergi, mereka pasangan yang tidak tau malu!" ejek penggemar laki-laki berbadan tinggi.
Aku mencoba menebak apa yang barusan terjadi dan alangkah terkejutnya aku bahwa Karin melakukan hal yang bisa dibilang berani untuk seorang perempuan.
...
"APA!?" ucap aku dan Reznov secara bersamaan terkejut mendengar hal yang di lakukan oleh Karin tadi.
Karin bercerita bahwa ketika dia mencoba memaksa masuk ke kerumunan dia selalu terhalangi dan akhirnya dia mendapatkan suatu ide yang bisa dibilang berbahaya, rupanya dia berkata kepada para penggemarnya ia adalah kekasihnya dan langsung memberi ciuman tepat di bibir Artizy.
"Aaaa ..." Artizy masih setengah sadar akibat ciuman Karin.
Ellen mendengar hal itu mengepal kedua tangannya, dia benar-benar cemburu atas apa yang dilakukan Karin kepada Artizy. Tanpa berpikir panjang Ellen mendekat kearah Artizy yang masih sempoyongan dan langsung mencium Artizy, sama halnya yang dilakukan oleh Karin tadi.
Tubuh Artizy langsung ambruk tanpa sempat aku dan Reznov jangkau.
"A-aku juga tidak akan kalah dari mu!" ujar Ellen dengan wajahnya yang memerah menatap Karin yang sebenarnya juga menyembunyikan wajah merahnya.
Melihat persaingan cinta antara kedua temannya, Mika hanya bisa tersenyum canggung, ia kelihatan bingung ingin membela siapa.
"Artizy, bertahanlah sobat!" ujarku menggoyangkan badannya.
Artizy hanya bisa berbaring dengan mulut tersenyum dengan air liur yang mulai mengalir karena mulutnya tetap terbuka.
"ARTIZY!" teriakku dramatis.
Another Pov
Flashback
Artizy dan Reznov masih asik memakan daging BBQ milik mereka sambil duduk-duduk santai disebuah kursi panjang, lain lagi dengan Karin dan Ellen yang hanya diam sambil sesekali melirik satu sama lain.
Karin memandang Ellen dengan tatapan sedikit sinis lalu berkata. "Sejak kapan kau mulai mendekati Artizy?"
"Kau sendiri sejak kapan mulai tertarik dengannya?" sahut Ellen menaikkan salah satu alisnya keatas.
"Kenapa aku harus mengatakannya padamu, kau saja tidak mengatakannya duluan. Aku kan yang bertanya duluan!" ujar Karin memalingkan tubuhnya.
Keheningan terjadi, hanya ada suara kayu bakar yang terdengar dan deburan suara ombak.
"Sejak aku tau dia salah satu anggota clan Hunter, sekarang giliran mu!" ucap Ellen pelan memotong keheningan.
Karin memandang Ellen yang wajahnya tengah memandang langit malam penuh bintang.
"Sejak aku duduk di bangku SMP," ucap Karin lalu memandang punggung Artizy sambil tersenyum manis di wajahnya.
-Tbc-