Mythical Rubick

Mythical Rubick
40 | The Trooper



Semenjak hari itu seluruh anggota kelas mulai berlatih bersama-sama, semua jadwal belajar pun telah diganti dengan kegiatan latihan rutin dan pertarungan praktik yang dimana Karin dan Ellen menganggap semua pertandingan itu begitu nyata sampai-sampai mereka berdua harus di lerai olehku dan anggota kelas yang lainnya.


Di malam hari aku teringat dengan paman Grey dan ingin menemuinya, dengan penuh konsentrasi aku mencoba memasuki alam bawah sadarku yang juga di bantu oleh Rubick-chan yang bertindak sebagai penghubung.


Tetapi ada keanehan terjadi dari biasanya, yang biasanya aku pasti terbangun di tengah hutan, sekarang malah terbangun di depan pohon besar nan rindang, daun-daunnya begitu lebat bahkan ranting pohonnya saja berukuran sangat besar dan juga di setiap sisi pohon itu terdapat cahaya-cahaya terang yang terkadang berkerlap-kerlip.


Aku mencoba bangun sambil memandangi pohon besar yang ada di hadapanku. "Tree... of... Life!"


Aku melihat paman Grey tengah duduk di bawah pohon itu sambil meminum secangkir teh seperti biasanya.


"Selamat datang kembali Nak Muzzy!" sapa paman Grey sambil mengangkat cangkir tehnya, gestur yang biasa beliau lakukan ketika pertama kali bertemu denganku.


Aku hanya mengangguk lalu mendekat kearah paman Grey sambil tetap menatap Tree of Life yang terlihat sangat mengagumkan jika dilihat dari dekat.


"Selamat datang Muzzy, ada yang bisa ku bantu?!" tanya pohon besar itu.


Aku memandang kearah Paman Grey yang menyuruhku untuk bertanya saja langsung kepada Tree of Life.


"Tree of Life..., apa maksud dari The Key, The Pure dan The Guard, dan satu lagi mengapa seluruh informasi tentang Mythical Rubick harus di hapus!?"


Tiba-tiba saja Rubick berubah wujudnya menjadi sesosok anak perempuan, dia berlari kesana kemari sambil sesekali melompat-lompat.


"Tuan Muzzy!" sapanya kepadaku sambil tersenyum manis.


"Pertama-tama aku mengucapkan terimakasih kepada mu karena telah merawat Yui dengan sangat baik, baiklah aku akan langsung menjawab semua pertanyaan mu itu. Pertama adalah The Guard yang berarti pelindung, dia bertugas melindungi The Key dan The Pure


Lalu The Pure yang berarti kemurnian yang tugasnya menjaga Seed of Life agar tetap terjaga kemurniannya dan The Key yang menjadi kunci untuk membuka Seed of Life itu sendiri,"


"Seed of Life? Apa itu?" tanyaku sambil memiringkan kepalaku.


"Seed of Life adalah sebuah biji kehidupan yang akan tumbuh menjadi Tree of Life selanjutnya, Tuan!" jelas Yui lalu ia duduk di pangkuanku dan memintaku untuk mengelus kepalanya.


Tree of Life menjelaskan bahwa usianya tidak akan lama lagi dan dia akan memilih para warrior yang akan memiliki tugas untuk menjaga Seed of Life dari kegelapan dan keserakahan, para Warrior itu bernama Seven Knight dan Tree of Life baru memilih 3 warrior sejauh ini termasuk aku, Mika dan Artizy. Ia juga mengatakan alasan mengapa dihapuskannya Mythical Rubick karena ulah manusia itu sendiri yang menginginkan kekuatan Mythical Rubick yang terlalu kuat. Hati manusia sangatlah mudah sekali haus akan kekuatan dan bukan hanya itu, manusia lah yang menciptakan kehancuran itu sendiri karena keserakahannya sendiri.


Itulah yang membuat Mythical Rubick di hapus keberadaannya.


"Jadi kapan kami semua akan menanam Seed of Life itu?" tanyaku.


"Ketika waktu yang telah di tetapkan!"


Aku kembali menutup mataku dan mulai berpikir tentang aktivitas aneh Monster yang seolah-olah berhubungan dengan semua ini, kemungkinan besar mereka mengincar Seed of Life.


Paman Grey mendekat kearahku lalu menepuk pundakku beberapa kali. "Aku akan melatih mu mulai dari sekarang, jadi persiapkanlah diri mu!"


...


Yui kembali berubah menjadi sebuah kubus, paman Grey melatihku bagaimana caranya mengendalikan kekuatan Spell Steal milikku yang sama sekali masih belum bisa ku kendalikan sepenuhnya.


"Aku akan mengeluarkan sebuah skill lalu lakukan Spell Steal milikmu, oke!" pinta paman Grey kepadaku.


Aku mengangguk dan bersiap sambil memasang kuda-kuda bertarungku.


"[Blink Step]!" ucap paman Grey, lalu paman Grey dengan sangat mudah berpindah-pindah tempat.


Aku tidak bisa berkonsentrasi untuk menggunakan Spell Steal karena paman Grey selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat cepat.


"Haha aku disini!" paman Grey tertawa melihatku yang kebingungan.


Aku berlari kearah paman Grey untuk mencoba mendekatinya tetapi ia lagi-lagi berpindah tempat dengan sangat cepat.


Sampai akhirnya aku harus menggunakan skill yang selama ini aku simpan dan sama sekali tidak ingin ku gunakan.


"[Telekinesis]!" ucapku lalu tubuh paman Grey melayang di udara.


"Wowowo turunkan aku Nak!" pinta paman yang tengah melayang di udara karena skill milikku.


Secara perlahan aku menurunkan paman Grey, yang terlihat mengeluarkan banyak sekali keringat entah itu keringat dingin atau keringat biasa.


"Apa kau ingin membunuhku? Skill itu sangat berbahaya dan juga skill itu memiliki tingkatan teratas, hanya dengan skill itu kau dapat dengan sangat mudah menghancurkan tubuh manusia ataupun monster yang menjadi musuh mu. Bukan hanya itu, skill itu juga memiliki efek Silence yang artinya siapa saja yang terkena skill itu tidak bisa mengeluarkan skill mereka ataupun berkata-kata lagi!" ujar paman Grey yang sebenarnya sudah mati tapi ia entah mengapa ia sangat ketakutan.


"Hehe maaf paman, tapi hanya dengan skill itu aku bisa menangkap Paman," sahutku sambil menggaruk kepalaku.


Paman Grey menghela napasnya. "Aku juga sebenarnya sudah mati tapi jangan gunakan skill itu kecuali terdesak, apa kau sudah menggunakan Spell Steal milik mu itu?"


Aku menggeleng dengan senyum lebar diwajahku. "Hehe belum paman."


Paman Grey menepuk dahinya, lalu menyuruhku untuk fokus dan membayangkan seperti apa skill itu di dalam kepalaku dan benar saja aku berhasil mengambil skill itu hanya dengan pikiranku.


"Baiklah sekarang coba!" perintah paman Grey.


Aku mengangguk lalu mencoba berkonsentrasi untuk mengeluarkan skill tadi. "[Blink Step]!"


Hanya sekejap mata akhirnya aku berhasil menguasai skill yang digunakan paman Grey tadi dengan sangat mudah. Dengan skill ini, aku akan menggabungkannya dengan serangan cube milikku.


※※※


Keesokan harinya aku bergegas menjemput Mika dan di perjalanan aku menceritakan apa yang di maksud dengan The pure dan Seed of Life yang ada di tubuhnya, selain itu aku juga menceritakan bahwa masih ada 4 orang warrior yang akan di pilih tetapi saat aku menanyakan hal itu Tree of Life tidak menjawab begitu pula dengan paman Grey.


"Seven Knight, terdengar sangat keren tapi apa kita yang sudah terpilih ini bisa hidup dengan normal ketika sudah berhasil melindungi Seed of Life?" tanya Mika.


Mika menatapku lalu tersenyum manis, begitu pula diriku. Aku juga memberi senyum lalu bersama-sama menaiki bus untuk berangkat ke sekolah.


...


Di dalam kelas aku juga menceritakan hal itu kepada Artizy. Berbeda dengan reaksi Mika, Artizy jauh lebih bersemangat. Ia berkata bahwa ia akan berusaha sampai tetes darah terakhirnya untuk melindungi dunia ini apapun yang terjadi.


Setelah latihan ringan bersama, aku dan Artizy mendapatkan jadwal piket untuk membersihkan tempat latihan tadi namun kami berdua tiba-tiba saja di hampiri seorang pria dengan rambut hitam lurusnya itu. Ia menatap kami berdua dengan sangat rendah, melihat wajahnya saja mengundang tangan seseorang untuk memukulnya.


"Kalian anak buah Mr. Jack yang konyol itu bukan?" tanya pria itu sambil tersenyum licik.


Artizy melempar sapu yang tengah ia pegang itu kearah pria itu. "Apa kata mu?!"


Aku mencoba menenangkan Artizy dengan menahan tangannya lalu berkata kepada pria tadi. "Mohon maaf sebelumya, ada perlu apa Kak Kyle, si Elder nomor 1 menemui kami yang dikenal dengan orang gagal!?"


Lagi-lagi Kyle tersenyum licik ke arah kami berdua lalu berkata. "Aku hanya ingin menyapa si calon Elder pilihan Zen yang lemah itu dan temannya si bocah kubus yang sama sekali tidak berguna!"


Aku mendengar hinaan seperti itu sama sekali tidak membuatku emosi namun berbeda dengan Artizy, ia sangat marah sampai-sampai aura pemburunya lagi-lagi keluar yang membuat ruangan latihan yang awalnya sudah mulai rapi berangsur-angsur kembali berantakan hanya karena tekanan aura miliknya


"Kau datang kesini hanya untuk itu?!" ujar Artizy dengan penuh amarah, iris matanya berubah menjadi merah terang.


"Bagaimana kita membuat sebuah pertandingan kecil-kecilan, aku sendiri dan kalian berdua, apa kalian berani?!" tantang Kak Kyle dengan angkuhnya.


Di dalam hatiku sebaiknya aku tidak perlu menerima tantangan gila ini, tapi namanya juga Artizy ia sudah duluan naik pitam. Ia pasti menerima tantangan ini yang menurutku hanyalah sebuah jebakan.


"Aku terima tantangan mu, ayo Muzzy kita tunjukkan bahwa apa yang orang ini katakan adalah kesalahan besar dalam hidupnya yang menyedihkan itu!" ujar Artizy mengepal tangannya.


Mau tidak mau aku harus mengikuti permainan kak Kyle yang sudah pasti berat sebelah walaupun ia hanya seorang diri, tetapi melawan Elder nomor 1 bukanlah sesuatu yang bisa di anggap mudah.


...


Kami berjalan menuju hutan di belakang sekolah yang terdapat lapangan kecil yang biasanya digunakan oleh The Guardian ketika memarkirkan helikopter mereka. Mereka datang ke sekolah biasanya untuk merekrut warrior muda yang pantas untuk bertarung demi manusia dan rela berkorban demi manusia.


"Pertarungan disini kita lakukan bebas tanpa peraturan dan juga tanpa gelang nano yang artinya jika warrior kalian mati, kalian berdua juga akan ikut mati!" ucap kak Kyle dengan senyum liciknya yang aneh menurutku.


Artizy melakukan Summon lalu mengacungkan pedang besarnya Rondo kearah wajah kak Kyle. "Kita lihat saja nanti!"


Aku juga tidak mau kalah dari Artizy dan segera melakukan Summon. "Bantu aku Rubick!"


Kami berdua langsung menyerang kak Kyle dari depan yang entah mengapa menurutku itu hal yang konyol.


Aku menembakkan beberapa Cube sambil sesekali meledakkan Cube itu namun semua seranganku berhasil di hindarinya.


Begitu pula serangan Artizy, setiap sayatan dari Rondo dan tembakan yang di lontarkan Rhapsody tidak ada satupun yang mengenai Kak Kyle itu.


Orang ini bukan manusia biasa, gerakannya benar-benar susah ditebak, batinku dalam hati.


"Artizy, orang ini terlalu kuat untuk bertarung melawan kita yang masih pemula ini!" ujarku sambil mengatur napas karena terlalu banyak mengeluarkan energi.


Artizy mengangguk. "Iya, tapi jika kita bisa memojokkannya mungkin kesempatan kita untuk mengalahkannya semakin besar."


Aku dan Artizy melakukan Wombo Combo yang telah kami lakukan ketika di pusat pelatihan dulu.


"Ikuti aku Artizy!" teriakku lalu membuat sebuah papan seluncur agar pergerakanku semakin cepat.


Artizy berlari dengan sangat cepat lalu melompat ke udara dengan di bantu oleh beberapa Cube milikku.


"[Land of Cube]!" teriakku lalu meluncurkan sebanyak-banyaknya Cube milikku.


Kak Kyle masuk ke area trap milikku, ia hanya bisa melihat sekelilingnya yang dipenuhi Cube milikku. Artizy juga sudah menemukan titik tembaknya dan ia langsung mengeluarkan skill miliknya.


"[Phantom Strike]!" teriak Artizy mengeluarkan skill miliknya.


Seketika itu pula aku langsung mengaktifkan pemicu peledak yang terpasang di Cube milikku.


"[Cube Off]!"


sebuah ledakan nan besar terlahir sampai-sampai menghancurkan lapangan kecil itu, ledakan tadi juga melahirkan sebuah kawah yang ukurannya lumayan besar tapi siapa sangka serangan sebesar itu tetap tidak mampu mengalahkan kak Kyle.


Tubuh kak Kyle dilindungi oleh sebuah bola berwarna kehitaman, ia menatap kami sambil membersihkan bajunya yang terkena debu akibat ledakan tadi. "Serangan yang kuat, tapi Vortex milikku jauh lebih kuat dibanding serangan kalian tadi!"


Kami berdua terkejut bukan main melihat kak Kyle yang sama sekali tidak tersentuh ataupun terpental akibat ledakkan tadi.


"B-bagaimana bisa, bola berwarna hitam pekat yang ada di tangannya itu, apa itu senjata miliknya?" tanya Artizy sambil mengatur napasnya.


Aku mencoba menahan kakiku agar tetap berdiri tegap tetapi aku terlalu banyak mengeluarkan Cube yang membuat energi ku hampir habis.


Kami berdua sudah kelelahan karena latihan tadi dan sekarang malah harus melawan Elder nomor 1 di sekolah kami yang tercinta ini, sebuah hari yang benar-benar sial.


Kyle tertawa terbahak-bahak seperti puas melihat kami yang sudah mulai tidak berdaya karena kelelahan. "Sekarang giliranku, [Black Hole]!"


Tiba-tiba saja sebuah lubang hitam kecil tercipta di tengah lapangan yang sudah menjadi sebuah kawah itu, tubuh kami berdua terhisap dan mulai terseret kedalam lubang hitam itu. Artizy mencoba menahan tubuhnya dengan menancapkan pedang besarnya ke tanah sedangkan aku dengan energi yang sudah hampir habis mengeluarkan dua buah Cube kecil agar menahan kakiku tidak terseret ke lubang hitam itu.


Naas bagi kami berdua, usaha yang kami lakukan itu hanyalah sia-sia belaka. Tubuh kami tetap terseret kearah lubang hitam itu. Pedang yang menahan tubuh Artizy tidak sanggup menahan kuatnya hisapan dari lubang hitam itu yang membuatnya semakin terseret semakin dekat dengan lubang hitam itu dan aku sama sekali tidak sempat menarik tangannya.


"Artizy!" teriakku melihat Artizy yang sudah sangat dekat dengan lubang hitam itu.


-Tbc-