Mythical Rubick

Mythical Rubick
30 | Sang Pemburu yang Kehilangan Taringnya



Artizy POV


Hari ini aku merasa senang sekali, akhirnya teman-temanku untuk pertama kalinya berkunjung ke rumahku. Aku sangat bersemangat untuk menyambut mereka semua.


Ketika aku ingin menyambut mereka, aku kebingungan melihat Karin dan ibuku berpelukan sambil meneteskan air mata, seakan-akan terjadi sesuatu hal yang sangat menyedihkan. Aku melirik kedua sahabatku Muzzy dan Reznov yang sama sekali tidak ikut bersedih seperti Karin dan ibuku, tetapi mereka malah asik memakan kue buatan ibu dengan wajah acuh mereka. Dasar tidak tau malu.


Selain mereka bertiga, aku juga mengundang yang lain tetapi hanya Ellen dan Mika saja yang bisa datang ke rumahku, sisanya ada yang beralasan karena sudah memiliki janji dan sedang liburan dengan keluarganya masing-masing. Sangat susah mengumpulkan teman-teman semua, begitulah pikiranku.


Aku mendengar bel rumahku berbunyi dan sudah di pastikan itu Ellen dan Mika, aku membukakan pintu untuk mereka dan mempersilahkan mereka berdua masuk.


"Ayo silahkan duduk Ellen! Mika!" pintaku kepada mereka berdua.


Aku duduk di antara Karin dan Ellen yang sedang berbicara satu sama lain sedangkan Mika duduk di samping Reznov lalu bertukar dengan Muzzy. Aku melihat Muzzy mendekatkan kepalanya ke telinga Mika, mereka seperti membisikkan sesuatu lalu melirik Karin dan Ellen yang tengah mendebatkan sesuatu.


"Kalian berdua, ini bukan saatnya berdebat," ucapku agar mereka berdua berhenti bertengkar tapi usahaku nihil, mereka tetap bersitegang.


Aku memandang sobatku Muzzy bermaksud agar aku di bantu olehnya tetapi dia memberi isyarat bahwa mereka sedang tidak bisa di ganggu, aku sama sekali tidak mengerti apa maksud dari Muzzy.


"Lihat saja siapa yang akan dia pilih, aku atau kau!" ucap Ellen sambil mengerutkan dahinya.


"Oke, siapa takut. Menyerah saja, dia pasti tidak suka wanita tomboi seperti mu!" sahut Karin sambil mengibaskan rambutnya yang panjang kebelakang.


"A-apa kata mu!?" geram Ellen dan mulai menaikkan nada suaranya.


"Kalian ini meributkan apa sih, sebaiknya kita masuk ke kamar ku saja. Ayo teman-teman!" kataku sambil menarik tangan Ellen dan Karin, lalu Muzzy, Mika dan Reznov mengikuti dari belakang, si Reznov masih membawa setoples kue dan memakannya sambil berjalan menuju kamarku.


※※※


"Wah kamar mu bagus juga, Artizy!" puji Muzzy lalu berjalan menuju rak buku milikku.


"Iya, kukira kamar mu itu berantakan dan penuh majalah dewasa," ejek Reznov sambil memakan kue.


"Sembarangan kau ini, tunggu dulu! Sejak tadi kau itu makan terus Reznov, kau suka sekali ya dengan kue kering itu?" sahut Artizy.


"Hmm mya, mni menak smekali!, boleh aku bawa pulang hehe," ucapnya dengan mulut penuh dengan kue.


"Wah kau ada komik langka ini, hanya ada 100 cetak loh dan kau dapat yang spesial edition!" ujar Muzzy terkaget karena melihat koleksi komikku yang lumayan banyak dan juga tentunya sangat langka.


"Hehe keren bukan, kalo mau baca atau pinjam silahkan saja tapi jaga baik-baik,"


Muzzy meletakkan komikku yang tadi ia ambil. "Tidak, aku tidak berani jika merusak edisi itu bisa-bisa aku kau banting."


Aku mempersilahkan mereka duduk dan menyalakan AC agar udara di dalam ruangan menjadi sejuk. Aku mengeluarkan game VR milikku yang bisa di mainkan banyak orang, game itu bisa di mainkan sebanyak 10 orang tetapi aku sering memainkannya sendirian.


"Game apa yang akan kita mainkan? Rpg atau Fps?" tanyaku kepada mereka semua.


"Apa tidak ada Moba?" tanya Reznov sambil menutup mulutnya yang tertawa.


Muzzy mendengar hal itu merubah raut wajah menjadi datar seperti yang dia lakukan ketika melihat kekonyolanku. "Game VR tidak ada yang Moba, Reznov!"


"Hehe iya aku tau kok, para perempuan apa bisa bermain fps?" jawab Reznov sambil cengigisan.


"Mika, apa kau pernah main game sebelumnya?" tanya Muzzy yang duduk bersebelahan dengannya sejak tadi mereka itu selalu lengket.


"Aku pernah bermain tapi tidak terlalu hebat, Ellen dan Karin bagaimana?" Mika mengibaskan tangannya sambil tersenyum canggung.


"T-tentu saja aku bisa, tidak seperti Karin yang mana mungkin bisa!" sahut Ellen sambil tersenyum jahat kepada Karin.


"Hmm aku memang tidak bisa, karena keluargaku sangat melarang untuk bermain game padahal aku ingin sekali mencoba beberapa game terutama game yang sedang ramai di mainkan," ujar Karin cemberut.


"Nanti aku ajari kok Ketua Karin jadi tenang saja hehe," kataku menyemangatinya agar ia tidak cemberut lagi sambil menyerahkan joystick untuknya.


Tiba-tiba saja Karin tersenyum manis kepadaku, wajahnya sangat manis dan pipinya juga merah merona entah kenapa saat itu dia begitu manis dari biasanya sampai sampai aku ingin mengigitnya, mungkin hanya perasaanku saja atau memang dia sangat berbeda hari ini.


Kami memainkan game yang bernama Red Zone. Game itu menceritakan bahwa dunia sudah di kuasai oleh wabah zombie jadi si pemain berusaha menyelamatkan diri.


"Ayo kita mulai teman-teman!" ucapku sambil menekan tombol start dan kamipun mulai memasuki dunia game tersebut.


"Wah hebat sekali, seperti dunia nyata saja!" ujar Muzzy terkagum-kagum.


"I-iya Comrade dan lagi karakternya adalah diri kita sendiri," sahut Reznov melirik kiri kanan dengan aksen Rusianya yang sangat oriental.


"Game ini memang sangat realistis, headger VR tadi mengambil memori yang ada di otak kita dan menampilkan karakter dari real life kita sendiri jadi kalo kita terkena serangan dari zombie bagian tubuh yang kena di akan terasa seperti di gigit semut!"


Kamipun memilih kemampuan khusus, setiap pemain mendapatkan pilihan dan bebas berekspresi dengan kostum dan juga kemampuan serta senjata yang di pakai.


"Aku akan memakai ahli navigator, bagaimana dengan Kalian teman-teman?" tanya Muzzy.


"Sepertinya aku akan mengambil mekanik, disini diberitahukan bahwa role ini sangat berguna selain navigator dan medis," jawab Reznov.


Mika memilih role medis sedangkan Ellen dan Karin masih terlihat bingung memilih role apa yang mereka ingin mainkan. Jika aku tentu saja aku memilih role petarung, jadi jika aku kehabisan peluru sisa di pukul saja zombienya.


"Aku memilih ahli peledak!" ujar Karin tersenyum-senyum.


"Ellen, kau mau memilih apa?" tanyaku sambil mendekat kearahnya.


"Hmm aku bingung, kau saja yang pilihkan!" jawab Ellen memintaku untuk memilihkan role untuknya.


"Bagaimana kalau role pelari, role ini mempunyai keahlian bisa berlari dengan sangat cepat, bagaimana kau mau?"


"I-iya mau, selanjutnya tekan apa?"


Aku memberikan arahan kepada Ellen lalu dia tersenyum lebar, dia memang jarang sekali tersenyum tetapi dia tetaplah perempuan yang manis, walaupun terkadang.


Selanjutnya kami memilih senjata dan langsung memilih lokasi mana yang akan kami kunjungi, aku sebagai room master memilih acak agar lebih menantang dan mengasikkan.


"Kau memilih shotgun, Muzzy?" tanyaku sebelum memasuki portal yang artinya kami akan memulai petualangan kami di dalam game.


"Yep, yang kau butuhkan ketika melawan zombie itu adalah sebuah shotgun!" sahutnya dengan penuh percaya diri sambil mengokang shotgun miliknya.


※※※


Kami memainkan game itu hampir 3 jam nonstopdan tebak siapa MVPnya, siapa lagi kalo bukan Mika.


"GG Mika, tidak ku sangka kau bermain hebat sekali," ujarku memuji Mika bukan hanya aku saja yang memujinya tapi semua yang ikut main juga ikut memuji permainan epiknya.


Setiap ada permainan yang terbaik selalu ada permainan yang terburuk, tebak siapakah orang tersebut, siapa lagi kalo bukan si Muzzy yang awalnya sombong karena hanya mengambil senjata shotgun, malah terkena batunya.


"Tadi itu tingkat kesulitannya apa sih? Kok Zombienya bisa sekampung gitu dan lagi kenapa mereka selalu mengincarku!" protes Muzzy dengan wajah cemberut.


Jawabannya satu karena dia menggunakan shotgun yang suara serangannya sangat berisik dibanding senjata yang kami pilih.


Setelah kami membereskan permainan tadi, kami langsung di panggil oleh ibuku untuk makan siang bersama yang telah di siapkan oleh pembantu-pembantu dirumahku.


"Ayo kita makan siang bersama!" ajakku kepada teman-temanku semua.


Mereka terkagum-kagum dengan hidangan yang berada di atas meja karena menurut mereka ini hidangan mewah, sampai-sampai Reznov makan dengan sangat lahapnya, saking lahapnya ia memakan jatahnya milik Muzzy. Aku jarang sekali bisa makan bersama-sama seperti ini di rumah, malah terkadang aku hanya makan sendiri.


Saat kami sudah selesai makan siang, ayahku akhirnya pulang. Sebenarnya ayahku lah yang mengundang mereka semua kesini karena aku terus menerus menceritakan mereka.


"Jadi kalian teman-teman Artizy?" tanya ayahku lalu melepaskan topi fedora miliknya.


Teman-temanku mengangguk secara kompak, mereka terlihat canggung karena wajah ayah yang memang terlihat menyeramkan ya karena juga wajah ayahku ada bekas luka akibat pertarungannya dulu ketika masih menjadi anggota The Guardian.


Ayahku berkenalan dengan mereka semua satu persatu layaknya seorang guru yang ingin mengenal muridnya satu persatu.


"Kau Muzzy bukan?" tanya ayahku kepada Muzzy.


"I-iya Paman, saya Muzzy," sahutnya dengan sopan.


"Terima kasih banyak sudah menjadi teman baiknya Artizy, Paman sering mendengar kisah mu dari Artizy. Kau pengguna Warrior Mythical Rubick bukan?"


"Hehe sama-sama Paman, iya itulah Warrior yang saya miliki,"


"Paman sangat penasaran seperti apa Warrior mu itu padahal Si Artizy ini sudah sering menceritakan tapi aku tetap penasaran, apa boleh Paman melihatnya?"


Muzzy mengangguk lalu mengeluarkan Cube of Arcane miliknya dan ayahku seketika terkejut bukan main, dia bercerita dulu ia pernah melihat sebuah tulisan yang ada di dinding saat dia masih muda dulu ketika masih menjadi seorang The Guardian yang isinya senjata kubus seperti yang Muzzy miliki.


Muzzy mengatakan bahwa ayahnya lah yang memberitahu nama senjata miliknya itu tetapi di dalam buku ensiklopedia Warrior ataupun Warriordex hal tersebut tidak ada, informasi Warrior Mythical Rubick dan senjata Cube of Arcane seakan-akan sengaja di lenyapkan begitu saja.


"Paman, kenapa Clan Hunter keluar dari Fundamental?" tanya Karin.


"Ada banyak Clan yang keluar dari Fundamental, termasuk Clan Hunter, Clan Red Army dan juga Clan Shaman," ucap ayahku lalu menyeruput kopinya.


"Dulu Clan Hunter dan Clan Enigma berperan seperti AM atau Anti Monster, kami beraliansi di bawah pimpinan langsung dari Clan teratas di posisi Fundamental yaitu Clan Grand Templar. Tetapi semua berubah ketika ketua dari Clan Enigma menginginkan kekuatan lebih dari kemampuan Warriornya lalu dia melakukan kudeta dengan para anggota clan lainnya!" lanjut ayahku lalu meletakkan cangkir kopi tadi ke atas meja.


Ayahku sedikit menceritakan bagaimana yang sebenarnya terjadi di perang Chaotic Century.


Sebenarnya aku sedikit tau rahasia kenapa Clan Hunter keluar dari Fundamental, yaitu karena banyaknya kebusukan di dalam Fundamental itu sendiri, ayahku yang membenci kebusukan itu lantas mengundurkan diri dari Fundamental.


"Kabar dari Clan Enigma sekarang bagaimana, paman? Apa keberadaan mereka masih ada?" tanya Ellen dengan ekspresi penuh tanda tanya.


Ayahku menutup matanya lalu menggeleng perlahan dan kembali membuka kedua matanya. "Semenjak mereka mendeklarasikan perang, seluruh anggota Enigma di buru dan mungkin sekarang mereka sudah tamat tetapi ada rumor bahwa pemimpin dari Clan Enigma dan beberapa anak buahnya berhasil kabur dan bersembunyi di suatu tempat. Ada kemungkinan mereka akan segera merencanakan balas dendam kepada kita semua!"


"B-balas dendam tapi bagaimana, mereka saja tidak mempunyai pasukan dan sedangkan kekuatan kita saat ini sangatlah kuat?" sahut Ellen dengan raut wajah tegang.


"Mungkin ini hanya pemikiran paman saja, tetapi melihat aktivitas aneh para monster akhir-akhir ini berarti sudah jelas itu ulah mereka. Tugas para Ex Fundamental adalah memberi nasehat kepada para Fundamental yang sekarang tetapi sepertinya mereka susah untuk di beri masukan!" sahut ayahku lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Aku melihat Muzzy terdiam membisu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Muzzy, kau kenapa?"


Dia menggeleng cepat. "Tidak apa-apa sobat, aku hanya memikirkan sesuatu."


Itulah mengapa aku ingin semakin kuat dan semakin kuat, bukan hanya untuk mengalahkan para orang yang bertindak semaunya karena posisi mereka di atas tetapi juga untuk melindungi orang terdekatku.


-Tbc-