
Another Pov
Seluruh pasukan Metal memang berhasil membawa pulang Red Ord yang di incar oleh para pasukan Wilkes, namun harga yang harus mereka bayar terlalu mahal, hanya untuk sebuah bola merah yang bersinar seperti lampu lava ketika di malam hari itu.
Dua dari seluruh anggota metal yang saat ini berjumlah lima orang, harus dirawat intensif dirumah sakit militer. Mereka berdua adalah Linkin dan Lynryd, Lynryd hanya menderita cidera ringan namun berbeda dengan Linkin yang terluka begitu parah, nyawanya hampir saja melayang namun beruntung nona Sarah berhasil memberikan pertolongan pertama yang sangat berguna untuk keselamatan Linkin.
Ketika para pasukan Metal bersedih, pasukan Wilkes dengan gembira merayakan keberhasilan mereka yang padahal itu adalah kegagalan mereka, mereka tengah asik berpesta pora. Entah mereka bodoh atau apa, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa benda yang mereka bawa itu bukanlah barang yang mereka incar melainkan hanya tiruan yang dibuat oleh Linkin berkat kemampuan warrior miliknua yang sangat hebat dalam memanipulasi berbagai macam benda.
"Mereka akan membayar semua ini!" ucap Sandman dengan nada kesal sambil melihat dari luar kaca rumah sakit militer yang di dalamnya tengah terbaring lemah salah satu anggotanya, Linkin.
Blink hanya mengangguk sambil menepuk pundak besar milik Sandman. Ia sangat mengerti atas kekesalan kaptennya, kapten mana yang tidak marah ketika anak buahnya di buat menderita seperti itu.
...
Pasukan Wilkes yang bergembira tadi berniat ingin menunjukkan hasil dari keberhasilan mereka kepada tuannya, namun Wilkes yang sudah mengetahui bahwa Orb yang mereka bawa adalah barang tiruan lantas hanya menertawakan anak buahnya itu.
"Barang yang kalian bawa di hadapanku itu adalah barang tiruan yang dibuat oleh salah satu anak buah anjing pemerintah itu!" ucap Wilkes sambil meremukkan Orb itu dengan tangannya.
Ruxio merasa sangat kesal ketika ia tahu bahwa benda yang ia bawa hanyalah sebuah benda yang tidak ada gunanya sama sekali. Kekesalannya pun di tambah karena ia merasa malu dan gagal dalam misi ini, namun entah apa yang ada di dalam pikiran tuannya Wilkes, Wilkes malah menanggapinya dengan sangat santai bahkan ia tetap memberi selamat kepada Ruxio dan pasukkannya.
"Ruxio, kau telah berhasil mengalahkan Sandman yang sampai saat ini selalu saja mengganggu rencana kita. Dengan begini, mereka akan sadar bahwa mereka bukanlah lagi masalah yang besar untuk rencanaku ini!" puji Wilkes kepada Ruxio yang di dalam hatinya merasa belum puas atas hasil yang ia capai hari ini.
Ruxio dan pasukannya di persilahkan untuk beristirahat namun Ruxio yang masih merasa kesal enggan untuk beristirahat dan malah memilih untuk berlatih karena ia masih merasa terlalu lemah untuk melawan Sandman yang menurutnya jauh lebih kuat dibanding dirinya.
Ia menatap kedua tangannya dengan mata tajamnya itu, disetiap jarinya keluar kuku cakar yang begitu tajam.
"Aku harus bisa mengalahkan orang itu, apapun yang terjadi!" gumamnya bersumpah kepada dirinya sendiri.
Tidak jauh dari Ruxio berdiri, Dimna dan Kalila terlihat memperhatikan kaptennya yang sedang berlatih dengan menyerang beberapa patung-patung yang tubuhnya sudah tercabik-cabik dan bahkan ada yang terpotong karena serangan yang di lancarkan oleh Ruxio.
"Sepertinya kapten dalam mood yang tidak baik, padahal ada makanan kesukaannya di meja pesta tadi," ucap Dimna yang di tangannya ada sepotong paha ayam.
Kalila hanya menggangguk lalu memakan sebuah apel yang ada di tangannya.
***
Another Pov End
Tidak terasa semester baru akhirnya telah tiba, kewajiban ku sebagai seorang siswa sekolah yaitu belajar dan menuntut ilmu pun dimulai kembali setelah lamanya berlibur.
Seperti biasa, aku hanya di temani Nala kucingku di pagi ini untuk sarapan dikarenakan pekerjaan kakakku yang semakin hari semakin banyak. Isu-isu munculnya para Beast telah bertebaran di telinga masyarakat. Kondisi ini di perparah dengan adanya cuaca yang bisa-bisa berubah menjadi aneh, terkadang hujan badai di titik-titik tertentu dan terkadang juga cuacanya begitu terik sampai-sampai membuat aspal di jalanan mencair di titik-titik tertentu.
Hal itulah yang membuat masyarakat semakin percaya bahwa mereka telah bangun dari tidur lamanya.
"Semakin hari semakin kacau saja dunia ini!" gumamku sambil mematikan televisi.
Aku lalu mengelus lembut kepala Nala yang saat itu telah selesai makan dan ia sedang asik menjilat-jilat tangannya.
"Apa kakak sudah makan ya?" tanyaku kepada diriku sendiri.
Aku lalu mengambil ponsel pintarku untuk memberi pesan kepada kakakku apakah ia sudah sarapan dan memberitahunya untuk tidak berlebihan dalam bekerja.
...
Masuk di hari pertama sekolah ketika telah lama libur terasa sangat berbeda, banyak sekali murid-murid baru yang terlihat bingung dan ada juga yang tengah asik berbincang-bincang dengan temannya.
Aku berjalan ke arah papan pengumuman dan melihat denah sekolah untuk mencari kelasku yang baru. Berkat kemenangan kami, kami berhak memiliki kelas A yang fasilitasnya begitu lengkap dan juga pastinya lebih berkualitas dibanding ketika kami masih di kelas F yang dengan fasilitas biasa dan juga dengan kualitas biasa pula. Memang benar hidup itu sangatlah tidak adil, tetapi tidak ada alasan untuk menjatuhkan seseorang karena kita merasa paling hebat.
Baru juga aku menginjakkan kakiku di lorong menuju kelas baruku, di dapan kelas sudah banyak saja murid-murid kelas 10 yang nampaknya tengah berkumpul sambil berteriak-teriak seperti melihat idola mereka.
Aku mencoba memaksa masuk di tengah-tengah kumpulan mereka dan bertanya kepada Reznov apa yang terjadi.
"Reznov, apa yang terjadi?" tanyaku kepadanya.
Dengan wajah kesalnya ia lalu menunjuk ke arah Artizy yang terlukis di wajahnya senyum bangga atas dirinya.
"Aaaaa, kak Artizy!" teriak salah satu murid perempuan itu.
"Sejak kapan ia begitu populer?" tanyaku lagi kepada Reznov yang merasa kesal karena Artizy masih saja berpose sok keren.
"Permisi-permisi!" ujar Robin yang mencoba masuk ke dalam kelas.
Robin pun menanyakan hal yang sama denganku.
"Lihatlah orang bodoh itu, aku ingin sekali menendang bokongnya!" ucap Reznov kesal.
"Ya, kami juga!" ucapku dan Robin dengan kompak sambil terus menatap pose-pose aneh dari salah satu orang yang paling Kunyuk di sekolah ini.
Kita tau sendiri ketika orang begitu populer, pasti ada saja orang yang tidak suka dengan kepopuleran orang tersebut dan orang itu ada tepat di belakang para penggemar Artizy saat ini.
Dengan senyum mengerikannya, ia meminta kepada para penggemar itu untuk memberi ia jalan untuk ia masuk kedalam kelas.
"Aku rasa ini akan menjadi hari terakhir Artizy bersekolah," ucap Robin yang langsung duduk dan di ikuti oleh aku, Reznov dan juga teman-teman lainnya yang saat itu sudah ada di dalam kelas.
Artizy yang masih tidak mengetahui akan datangnya bahaya malah masih asik dengan dunianya sendiri.
"i-itu kak Karin!" ucap salah satu murid perempuan yang membukakan jalan.
"Eeh Karin, s-selamat p-pagi!" sapanya sambil berwajah pucat.
Tangan Karin langsung menarik salah satu telinga Artizy yang membuatnya seperti seorang anak nakal yang tengah di marahi ibunya.
"Baru juga hari pertama, kau sudah membuat kekacauan dasar Kunyuk!" ucap Karin dengan geram.
Artizy hanya bisa kesakitan dan meminta maaf namun badai baru saja dimulai, dia harus mendengar ceramah panjang dari Karin dengan berlutut sambil digantungkan sebuah papan bertulisan aku membuat keributan dan aku menyesalinya.
"sudah chapter berapa tuh ceramah?" tanya Ellen kepada Lumia yang hanya bisa menggaruk-garuk pipinya.
"Entahlah," jawab Lumia.
"Kau ini bodoh sekali, aku ini cemburu!" ucap Karin dengan suara pelan.
"A-apa yang kau katakan tadi ketua Karin?" tanya Artizy yang kebingungan.
"Dasar laki-laki tidak peka!"
Artizy mendapat pukulan di kepalanya. Tentu saja Artizy hanya diam dan hanya bisa memasang wajah memelas ampun kepada Karin.
"Maaf," ucap Artizy dengan nada suara rendah.
Karin hanya diam lalu menjauh darinya dan kembali ke duduk di bangkunya.
Artizy dengan wajah sedihnya berjalan menuju bangkunya.
"Kau sudah mengerti kenapa ia begitu marah?" tanyaku kapada Artizy.
Artizy hanya menggangguk.
"Baguslah, minta maaflah lagi nanti dengan betul-betul oke?"
"Oke," jawabnya.
...
Aku, Reznov dan Robin berniat untuk membantu Artizy untuk meminta maaf kepada Karin yang dari awal pelajaran sampai jam pelajaran terakhir membuang mukanya seakan tidak mau menatap wajah Artizy bahkan Mr. Jack sampai dibuat bingung.
"Kau harus benar-benar meminta maaf kali ini ok!" ucap Robin mencoba memberi motivasi kepada Artizy.
Oh iya, selain kami bertiga, Ellen, Mika dan Lumia juga ikut membantu karena mereka tidak ingin hubungan Artizy dengan Karin menjadi renggang tapi tetap saja Ellen selalu menyalahkan Artizy yang memang bersikap bodoh dan membuat masalah menjadi runyam.
"Entah kenapa Karin jatuh cinta kepada orang bodoh seperti ini!" ejek Ellen yang langsung di pukul lengannya oleh Mika.
Artizy hanya meminta maaf dan menyesali perbuatannya.
Rencana pun di mulai posisi kami saat ini tepat dibalik tembok, Mika memintanya untuk menunggu dibawah pohon di samping sekolah karena itu adalah tempat favorit Karin karena banyak bunga-bunga yang tumbuh di sana dan muncullah Artizy.
Awalnya Karin yang menyadari kehadiran kekasih bodohnya itu langsung membuang muka dan berniat untuk pergi, namun tangan Karin di tahan oleh Artizy.
"Maaf Karin!" ucap Artizy.
Karin hanya diam tidak menjawab sepotong kata pun. Mulutnya seakan ingin mengucapkan sesuatu namun mungkin terasa berat begitulah pikirku.
Karin pun membuka mulutnya. "Kau itu bodoh sekali!"
"Iya aku memang bodoh, tapi aku tidak ada niatan untuk meninggalkan mu apalagi berpikir memilih perempuan lain. Kau perempuan pertama yang mau menerimaku padahal kau tau sendiri aku bukanlah manusia normal pada umumnya,"
"Berjanjilah!" ucap tegas Karin yang matanya mulai sembab.
Artizy mengangguk lalu berkata. "Iya aku berjanji!"
Mereka saling menatap lalu dengan lembut Artizy menyapu air mata Karin yang membuat kami semua merasa senang sekali.
"Sudah kuduga kalian pasti yang merencanakan semua ini, mana mungkin si bodoh ini bertindak dengan pikirannya sendiri!" ucap Karin yang mengetahui keberadaan kami.
"L-lagi pula mungkin aku saat ini tengah mengandung anak Artizy," lanjutnya sambil mengelus-elus perutnya dengan wajah senyum manis layaknya pengantin baru .
"HAH!!!!!!" teriak kami semua sambil menatap Artizy yang terlihat sangat gugup sampai-sampai bercucuran keringatnya.
Kami dengan wajah serius menyudutkan Artizy yang membuatnya semakin kalang kabut.
"A-anu aku bisa jelaskan teman-teman!" ujarnya sambil mengangkat kedua tangannya seperti tengah di acungkan senjata api tepat di wajahnya.
Dan ia pun bercerita yang membuat Wajah Ellen, Mika dan Lumia memerah tidak main.
"K-kami khilaf dan berakhir melakukannya. T-tapi kami memakai pengaman dan tidak mungkin kan Karin hamil hanya sekali melakukan hal itu," ucapnya.
"Ok aku tidak menyalahkan mu berbuat seperti itu tapi ingat kita masih sangat muda dan jangan hancurkan mimpi-mimpi kalian berdua hanya karena kalian mendapat titipan dari tuhan. Kalian bebas melakukan hal seperti itu jika kalian sudah lulus nanti!" ujarku menceramahi mereka berdua padahal aku sendiri juga sering sekali tergoda melakukan hal-hal seperti itu namun jiwa dan iman ini begitu kuat.
Setelah itu Karin dan Artizy mendapat ceramah dari masing-masing oleh kami semua.
-Tbc-