Mythical Rubick

Mythical Rubick
41 | Fire On Fire



Saat tubuh Artizy mulai terseret kearah lubang hitam itu, seseorang tiba-tiba saja muncul lalu menahan tubuh Artizy seolah ia tak terhisap di dalam lubang hitam itu.


"Sudah cukup, Kyle!" ucap perempuan berambut putih seputih salju itu.


Mendengar hal itu Kyle hanya berdecit kesal.


"Lily, apa yang kau lakukan disini?!" ujar Kyle kesal karena merasa terganggu dengan kehadiran Lily, si Elder ke 2 atau lebih terkenal dengan gelar si Putri Salju.


Lily menggelengkan kepalanya. "Hentikan permainan bodoh mu ini Kyle, pertarungan yang kau lakukan ini hanyalah buang-buang tenaga mu saja!"


Kyle tanpa mengucapkan sepatah katapun langsung beranjak pergi tapi sebelum ia pergi menjauh ia membalikkan badannya lalu memandang Artizy dengan senyum yang seakan-akan memandang Artizy dengan sangat menyedihkan.


"Kali ini kau beruntung bocah Hunter, tapi keberuntungan mu itu lama kelamaan akan menghilang, ingat itu!" ujar Kak Kyle memberi peringatan kepada Artizy yang masih terduduk di tanah.


Aku langsung membantu Artizy berdiri sambil melihat punggung Kyle yang semakin menjauh setiap langkahnya. Di dalam benakku, aku hanya bertanya kenapa dia begitu ingin melenyapkan Artizy dan juga Permainan apa yang tengah ia mainkan saat ini.


"Apa kalian berdua tidak apa-apa?" tanya Kak Lily khawatir melihat kondisi kami yang terlihat menyedihkan.


Aku mengangguk pelan. "I-iya Kak Lily, kami berdua tidak apa-apa, terima kasih banyak telah menolong kami berdua!"


Lily tersenyum lalu berkata. "Sama-sama, syukurlah jika kalian berdua tidak apa-apa, entah mengapa ketika Kyle mendengar teman mu ini dari Clan Hunter ia begitu ingin menemuinya dan terlebih dia adalah calon Elder yang Zen rekomendasikan."


"Sebaiknya kau antar teman mu itu ke ruang UKS, dia terlihat sangat lemas seperti mengalami Lost Energi," lanjut Lily menyarankanku untuk membawa Artizy ke ruang UKS.


Aku mengangguk lalu berpamitan dan sekali lagi berterima kasih kepada Kak Lily.


Aku tidak pernah melihat Artizy selemah ini dari sebelumnya.


...


Perawat di UKS bilang kami berdua tidak mengalami luka serius tetapi hanya mengalami tekanan mental akibat pertarungan tadi. Perawat itu juga bilang kepada kami untuk menghindari bertarung terlebih dahulu sebelum memasuki minggu pertandingan antar kelas agar kondisi mental kami berdua tetap terjaga dan siap tarung.


Kami pun berpamitan dan berterimakasih kepada perawat itu, ia hanya tersenyum kearah kami lalu memberikan sebuah pil yang membantu meregenerasi energi kami berdua.


"Sial, padahal serangan tadi sudah sangat kuat!" ujar Artizy kesal karena merasa kalah melawan Elder nomor 1, Kak Kyle.


"Kak Kyle memang luar biasa, aku belum pernah melihat senjata seperti yang ia miliki itu,"


Artizy menghentikan langkahnya lalu berdiam mematung, kepalanya menunduk ke bawah dan di dalam pandangannya bisa terlihat ketidakpuasan. "Aku harus menjadi lebih kuat lagi!"


Aku menepuk pundaknya. "Ya ... kita harus!"


...


Saat tiba dikelas semua orang terkejut mendengar kami berdua bertarung melawan Kak Kyle.


Mika langsung mendekat kearahku lalu mencek bagaimana keadaanku. "Kau baik-baik saja, bukan?"


Aku mengangguk cepat dan menjelaskan aku dan Artizy baik-baik saja.


"T-tapi kenapa Kak Kyle mengincar kalian berdua?" tanya Karin sedikit gemetaran.


Aku menggeleng. "Kak Kyle bukan mengincar kami berdua tapi hanya Artizy seorang, ia melihatku bersama Artizy jadi dia juga ikut mengajakku bertarung tadi."


"T-tapi kenapa harus Artizy?" Ellen memandang Artizy yang masih berwajah masam.


"Karena ia adalah calon Elder!" sahut kak Zen dari depan pintu kelas.


Kak Zen mendekat kearah kerumunan kami yang tengah membicarakan masalah tadi.


"Maafkan aku, Artizy. Aku terlambat menghentikan pertarungan berat sebelah tadi, untung saja ada Lily dan ia juga yang memberitahuku bahwa calon penerusku sedang di usili oleh Kyle," kak Zen menundukkan kepalanya meminta maaf.


Aku merilik ke arah Artizy, ia masih terlihat sangat kesal.


Artizy memandang kak Zen dengan tatapan yang bisa membuat bulu kuduk menjadi naik. "Beritahu Kak Kyle, aku akan menantangnya lagi dan kali ini aku yang akan menang!"


Kak Zen tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh seorang Artizy. "Tentu saja, itulah mengapa aku memilih mu, Artizy!"


※※※


Seminggu telah berlalu semenjak hari itu, aku terus berlatih dengan paman Grey secara rutin untuk menjadi pengguna Cube of Arcane yang kuat, dan dalam kurun waktu satu minggu akhirnya aku berhasil menguasai pasif yang paling aku sukai itu yaitu Spell Steal.


Tapi sampai sejauh ini baru 1 senjata yang aku ambil lewat buku kala itu.


Jadwal pertarungan antar kelas juga semakin dekat dan persiapan kami semua telah matang untuk mengalahkan kelas-kelas lain demi untuk mendapatkan kelas terbaik.


Dan hari pertandingan pun telah tiba, sontak seluruh murid di sekolahku berbondong-bondong menyaksikan pertandingan untuk memperebutkan kelas mereka masing-masing.


Mr. Jack memberi beberapa kalimat penyemangat di koridor Arena, saat ini kelas 10A tengah bertarung melawan kelas 10C. Sebuah pertarungan yang terlihat berat sebelah tapi walaupun kenyataannya kelas 10A adalah kelas terkuat tetapi kelas 10C juga tidak bisa di anggap remeh ataupun dipandang sebelah mata.


"Baiklah semua, Bapak tidak berharap kalian harus ataupun wajib memenangkan pertandingan ini. Bapak hanya ingin kalian menikmatinya dan belajar dari pertandingan ini, apapun hasilnya Bapak tidak peduli, asalkan kita bisa tetap selalu bersama-sama itu sudah membuat Bapak senang!" ujar Mr. Jack seperti tidak rela melihat kami bertarung.


"Tenang saja Mr. Jack, jika ada Artizy dan Muzzy. Semua musuh pasti langsung bertekuk lutut. Benar bukan sobat!" sahut Artizy dengan penuh percaya diri.


Semua anggota kelas mulai memasuki ruang persiapan terlebih dahulu, kami di jadwalkan akan bertarung setelah kelas 10D vs 10E selesai.


Aku dan Mika di minta oleh Mr. Jack untuk mengambil dokumen administrasi sebelum bertanding dan juga disuruh mengambil sekardus botol minuman berenergi. Ketika kami keluar dari ruangan persiapan tadi, aku bertemu dengan siswi yang dulu pernah ku tolong ketika ia kehilangan sepatunya itu.


"H-halo!" sapanya seperti gugup melihatku.


"Eh kamu, mau bersiap ke Arena?" tanyaku kepada perempuan berambut hitam kebiruan itu yang mempunyai warna mata seiras dengan rambutnya.


Mika terlihat bingung lalu menarik lengan bajuku. "Kau kenal dengan dia, Muzzy?"


Aku tersenyum canggung karena kebingungan, aku hanya sebatas tau dan tidak mengenal namanya perempuan itu.


"Namaku Mayumi, maaf aku baru memperkenalkan nama!" ujarnya dengan sangat sopan.


Aku memperkenalkan nama dan juga memperkenalkan Mika kepada Mayumi.


"Maafkan aku juga, saat itu aku tidak memperkenalkan namaku dan langsung berlari, soalnya saat itu aku sedang buru-buru ingin memberi makan kucingku!"


Mika terlihat cemburu dan wajahnya mulai cemberut, ia mengembungkan pipinya.


Melihat Mika yang cemburu, Mayumi menjelaskan bahwa ia dulu pernah dibantu oleh Muzzy ketika sepatunya di sembunyikan oleh teman sekelasnya dan seketika wajah Mika langsung berubah.


"Muzzy memang selalu baik kepada setiap orang ya!" ucap Mika memandangiku dengan penuh kehangatan.


Teringat dengan permintaan Mr. Jack, aku dan Mika berpamitan kepadanya dan  sebelum kami beranjak dari tempat itu kami berdua mendoakannya agar ia mendapatkan kemudahan ketika bertarung nanti.


Another POV


Mayumi hanya tersenyum sebentar lalu senyum itu hilang ketika melihat Muzzy dan Mika yang tengah berjalan sambil berbincang-bincang dan sesekali tertawa bersama-sama.


"Apa aku cemburu?" gumamnya pelan lalu menggelengkan kepalanya.


Mayumi berjalan menuju Arena yang dimana seluruh anggota kelasnya tengah berkumpul untuk bersiap-siap bertarung.


Sebuah siluet hitam muncul di samping Mayumi yang tengah berjalan pelan menuju arena.


"Jangan lupa dengan misi mu, Mayumi!" ucap siluet hitam itu kepada Mayumi yang terus berjalan sambil menundukkan kepalanya tanpa menghiraukan ucapan orang itu.


Saat Mayumi mulai sampai di bibir gerbang Arena, ia berpaling memandangi orang itu dari kejauhan. "Aku tau itu, Kak Emeralia!"


...


Muzzy dan Mika telah kembali ke ruangan yang dimana para anggota kelas 10F tengah berkumpul. Mata mereka sedang terfokus memandangi sebuah layar datar yang menayangkan pertandingan antara kelas 10D dan 10E.


...


Hal yang mengejutkan terjadi, Kelas D berhasil merebut 2 poin yang artinya mereka telah memenangkan 2 pertandingan dan pertandingan ini adalah penentu apakah akan ada pertandingan tambahan jika kelas 10E berhasil merebut poin atau kelas 10D akan mengambil poin penuh tanpa kekalahan.


Mayumi terpilih sebagai pemain lewat mesin pemilih acak untuk mewakili kelas 10D dan seorang murid laki-laki dengan rambut spike terpilih mewakili kelas 10E.


Murid laki-laki itu dengan penuh percaya diri menjabat tangan Mayumi yang terlihat sedikit gugup.


"Ayo bertarung dengan sepenuh tenaga dan sportivitas!" ajak murid laki-laki berambut spike itu.


Mayumi mengangguk dan memasang seutas senyum yang membuat murid laki-laki itu jadi salah tingkah.


Mereka berdua telah melakukan Summon warrior mereka dan memperlihatkan senjata mereka masing-masing.


Mayumi memiliki Warrior Samurai Dancer dengan Senjata Shane's Katana Sword sedangkan murid laki-laki itu memiliki Warrior Swordman dengan senjata Plate Sword.


Penonton pun mulai menghitung mundur mulai dari 10 dan ketika sudah mencapai angka 1, Mayumi langsung berlari kedepan murid laki-laki itu yang juga tengah di posisi siap menerima serangan dari Mayumi.


"Cepat sekali ayunan pedangnya!" ujar Robin yang tengah ikut terbawa ketegangan pertarungan.


Artizy mengeluarkan pedang besarnya lalu berkata. "Pedang itu memiliki aura hitam sama seperti Rondo milikku."


Berlanjut ke pertandingan tadi, jual beli serangan tengah terjadi antara Mayumi dan murid laki-laki berambut spike itu.


Seperti tidak kenal lelah, murid laki-laki itu terus menangkis serangan dan juga terkadang melakukan serangan yang membuat Mayumi kewaspadaannya meningkat setiap serangan yang ia hindari.


"Hebat juga kau, Mayumi!" ujar salah satu temannya yang tengah menonton di samping lapangan.


Mayumi mengambil napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan untuk meminimalisir kelelahan pada tubuhnya. Berbeda dengan murid laki-laki berambut spike itu, ia bahkan memaksakan dirinya untuk terus bertarung habis-habisan.


Murid laki-laki berambut spike itu pun akhirnya melakukan kesalahan akibat memaksakan tubuhnya yang sebenarnya sudah kelelahan itu. Kesempatan emas itu pun langsung dimanfaatkan oleh mayumi dengan menebas dada murid laki-laki itu secara horizontal dan seketika darah pun mulai keluar dari dada murid laki-laki berambut spike itu.


Tubuh murid laki-laki berambut spike itu terhempas ke lantai arena yang berwarna putih, penonton bersorak dan kemenangan telak 3-0 telah diraih oleh kelas 10D melalui aksi Mayumi sang Samurai Dancer.


-Tbc-


Pojok Fyi


● Lost Energi adalah kondisi dimana seorang pengguna warrior mengalami kekurangan energi di dalam tubuhnya akibat terlalu memaksakan warriornya ketika bertarung. Kondisi ini akan membuat si pengguna warrior merasa lemas seperti dehidrasi.