
Teriakan penonton bergemuruh di seluruh sudut arena 18 Mei yang tengah digunakan untuk pertandingan Robin melawan Putri Yasmin.
"Robin, jangan terlalu memaksakan diri lagi!" pinta Mr. Jack yang melihat anak muridnya sudah cukup babak belur.
"Masih belum!" ujarnya sambil berlari sambil terus menembakkan anak panahnya ke dalam badai pasir yang diciptakan oleh Putri Yasmin.
"Jangan lakukan hal gila, keluar dari badai pasir itu Robin!" ujarku memberi saran kepadanya namun sepertinya ia tidak akan pernah menerima saran gratis yang kuberikan itu.
Kondisi saat ini bisa dibilang tengah menguntungkan Putri Yasmin, tapi Robin yang digadang-gadang kalah di menit-menit awal dapat memberikan tekanan yang membuat seorang seperti Putri Yasmin harus terus bersembunyi di dalam badai pasirnya yang pasti akan terus menguras energinya.
"Perempuan itu mempunyai energy yang besar sekali, ini sudah 10 menit ia menggunakan skillnya itu!" ucap Artizy kagum dengan ketahanan Putri Yasmin.
"Robin keluar dari badai pasir itu, apa kau ingin kalah?" perintahku kepadanya namun tidak ada jawaban.
Aku yang merasa ia tidak akan mendengarkan apapun dari kami, lantas melepas intercom yang ada di telingaku lalu menghela napasku dengan sangat panjang.
"Robin sialan, ia terbakar emosi!" ucap Artizy yang sedikit kesal.
Mr. Jack juga ikut kecewa dengan tingkah Robin yang keras kepala, ia benar-benar berubah 180 derajat hanya karena termakan omongan dari putri Yasmin yang melakukan provokasi kepadanya.
Another Pov on
"Kau tidak tau arti dari kerja keras!" teriak robin sambil melindungi kedua matanya dari pasir yang terus bergemuruh.
"Kau itu hanya tuan putri yang sudah terlahir sempurna di dunia ini!"
Putri Yasmin terlihat mengigit giginya dengan kuat, ia tidak terima dengan apa yang dikatakan Robin kepada dirinya itu.
"Terlahir sempurna?"
"Kau pikir aku juga tidak berlatih dengan sangat keras, memangnya kau tau apa?!"
Dengan membabi buta Robin menerbangkan anak panahnya ke sembarang arah berharap setiap lesatan anak panahnya bisa mengenai Putri Yasmin yang tengah bersembunyi di dalam badai pasir buatannya itu.
"Jika kau memang benar-benar berlatih keras, berhentilah bersembunyi dan hadapi aku secara langsung!" tantang Robin sambil terus melesatkan anak panahnya.
Lambat laun badai pasir itu secara berangsur-angsur mulai menghilang dan terlihatlah sosok Putri Yasmin yang tengah berdiri sambil menatap tajam ke arah Robin yang juga menatapnya seperti yang di lakukan oleh lawannya itu.
Putri Yasmin seperti orang yang kehilangan kewarasannya langsung berlari sambil berteriak layaknya seorang maniak.
Seperti tidak mau kalah, Robin yang dikenal begitu tenang juga ikut berteriak sambil mengayunkan busurnya.
"Apa yang Robin lakukan!?" tanya Artizy yang terlihat begitu bingung.
Putri Yasmin mengajak Robin yang senjatanya bukan untuk di ajak berduel secara langsung.
Dengan penuh amarah, keduanya saling membalas serangan demi serangan. Mereka berdua tidak peduli lagi dengan luka yang mereka dapatkan di tubuh mereka masing-masing.
Anak panah yang Robin lesatkan beberapa berhasil mengenai tubuh Putri Yasmin dan ada beberapa yang berhasil menggores kulit mulusnya. Begitu pula dengan Putri Yasmin, tebasan pedangnya beberapa kali melukai tubuh Robin bahkan beberapa kali goresan besar mengenai tubuhnya itu.
Keduanya mundur secara bersamaan. Putri Yasmin mencabut beberapa anak panah yang mengenainya dan Robin mencoba menutup luka akibat terkena sayatan dari Putri Yasmin.
Robin meludahkan beberapa darah di mulutnya lalu berkata. "Apa hanya itu saja kerja keras mu? Lahir di keluarga kerajaan dan hanya itu yang bisa kau manfaatkan!?""
Mendengar hal itu Putri Yasmin ingin mengucapkan sesuatu.
"Aku dan clanku harus bermigrasi layaknya segerumbulan hewan yang kehilangan habitatnya, itu semua akibat clan mu!" teriak Robin.
Bak ditampar dengan keras, Putri Yasmin hanya bisa berdiam dan tertunduk malu.
"A-apa yang Robin bicarakan, Muzzy?" tanya Artizy kepada Muzzy.
"Clan Robin memang pendatang di Distrik ini, tapi aku tidak tau ada konflik antar clan yang mengakibatkan clannya terusir."
"Memangnya, aku bisa memilih untuk terlahir di clan ini?!" tanya Putri Yasmin kepada Robin.
Robin yang mendengar hal itu menjadi tidak bisa berkata-kata lagi.
Perlahan-lahan, kesadaran Robin pun mulai menghilang, di dalam penglihatannya sudah banyak sekali bintik-bintik hitam yang mulai membesar setiap detiknya.
Robin pun ambruk yang juga di ikuti oleh Putri Yasmin yang juga ikut ambruk namun Robin yang duluan kehilangan kesadaran mengakibatkan ia dinyatakan kalah oleh panitia pertandingan.
Another Pov end
Aku dan teman-teman yang lain berkumpul sambil menunggu kabar dari pemeriksaan Robin.
Tidak berlangsung lama, Mr. Jack dan seorang dokter keluar sambil membawa laporan pemeriksaan Robin.
"Bagaimana keadaan Robin, Mr. Jack?" tanya Karin yang juga di ikuti anggukan teman-teman yang lain termasuk aku.
Sambil menghela napas Mr. Jack menyuruh menanyakan langsung kepada dokter saja.
"Teman kalian yang bernama Robin mengalami cidera dan harus menepi beberapa waktu, paling lama ia harus menepi selama 1 tahun penuh tapi jika pemulihannya berjalan cepat paling lama ia hanya menepi sampai satu semester itu pun harus tetap di awasi."
Mendengar hal itu tentu saja kami semua menjadi sedih terlebih Artizy.
"untuk cidera fisiknya tidak begitu parah, namun cidera mental yang ia alami lumayan cukup bebahaya," lanjut dokter menjelaskan kepada kami.
"Mental?" tanya Ellen yang bingung kenapa Robin punya masalah pada mentalnya.
"Robin di indikasi mempunyai PTSD, mungkin dulu dia pernah menyaksikan sesuatu yang tidak harus ia saksikan."
"T-tapi selama ini kami tidak menyadari hal itu?" ujarku kepada dokter.
"Dia tipe yang bisa menutupi sesuatu, untung saja indikasi dia mempunyai PTSD tidak begitu parah namun ia butuh terapi berkala," sahut dokter kepadaku.
"Sama seperti ku?" tanya Ellen kepada dokter.
"Kasusnya mungkin hampir sama seperti mu, nak Ellen namun ini akan sedikit sulit karena ia sudah memendam hal itu begitu lama."
"Tapi dokter apakah Robin bisa pulih kembali?" tanya Mika dengan raut wajah sedihnya.
Dokter mengangguk."Tentu saja, jika ditangani dengan baik ia akan sembuh dan bisa kembali bertarung bersama kalian lagi."
Mendengar hal itu tentu saja membuat kami merasa di terpa angin segar penuh harapan agar Robin bisa kembali lagi dan aku benar-benar tidak menyangka ia mempunyai masalah seperti itu.
"Kita harus membantunya agar cepat pulih seperti yang kita lakukan kepada Ellen!" ujar Artizy dengan mata penuh dengan harapan.
...
Pulang dari sekolah, aku berkunjung ke rumah Mika untuk bersantai sejenak sambil menikmati secangkir teh yang dibuat oleh Mika.
"Terima kasih Mika, tehnya sangat enak."
"Sama-sama, silakan juga makan cemilannya,"sahutnya sambil tersenyum.
Tanpa di beri peringatan tiba-tiba saja Mika menyandarkan kepalanya ke bahuku, aku sedikit terkejut namun aku mencoba membiasakan hal itu.
"Akhir-akhir ini aku mempunyai banyak sekali penglihatan masa depan," ujar Mika.
"Penglihatan seperti apa?"
Mika menatapku lalu memegang tanganku. "Aku melihat pertarungan yang besar dan kau ada di sana Muzzy."
Akhir-akhir ini aku juga lebih sering berbicara dengan Tree of Life dan juga Paman Grey, latihanku bersama mereka jauh lebih ketat semenjak kejadian aneh mulai bermunculan.
Aku hanya bisa berharap, hal-hal yang buruk tidak akan terjadi lagi.
-Tbc-
Hola teman-teman udah lama gak update nih, berhubung LB saat ini tengah liburan semester ya walaupun setelah ini LB bakalan menghadapi final semester atau semester akhir. Terimakasih banyak yang masih membaca cerita ini, LB harap apa yang LB tulis bisa membawa kebahagian karena itulah alasan LB menulis cerita ini ( ◜‿◝ )♡
Kalo begitu sampai ketemu lagi teman-teman (^∇^)ノ