Mythical Rubick

Mythical Rubick
61 | Lure



Another Pov


Malam yang sunyi dan hening seketika berubah ketika suara peringatan dari mesin radar mulai berbunyi. Terlihat segumpalan titik-titik merah terdeteksi mulai mendekat ke arah Distrik Borneo Water. Titik-titik merah itu terus bergerak dari arah hutan pedalaman dari perbatasan Distrik Java Hill.


"Jendral Erina, ada pergerakan Monster di bagian luar distrik Borneo Water bagian Barat!" lapor salah satu operator yang tengah menunjuk layar komputer di meja kerjanya.


Erina yang saat itu hatinya tengah berbahagia karena mendengar adik kesayangannya akhirnya memenangkan pertandingan finalnya, seketika suasana hatinya langsung berubah. Wajahnya langung berubah menjadi serius, di dalam benaknya ia sudah membuat beberapa spekulasi dan memikirkan hal-hal yang paling buruk akan terjadi.


Belum selesai ingin memberikan intruksi kepada bawahannya, radar yang lain juga ikut memberi peringatan. Kali ini dari distrik Kingstone, distrik Java Hill, distrik Ocean Blue dan beberapa distrik lainnya.


"I-ini g-gila, Peringatkan seluruh Distrik untuk melakukan siaga 1!" ujar Erina dengan wajah terkejutnya.


"Baik jendral!" ucap kompak seluruh operator yang saat itu sedang bertugas.


Masing-masing dari operator langsung menghubungi distrik yang bersangkutan, ruangan control yang awalnya hening dan biasa-biasa saja langsung berubah 180 derajat. Erina langsung menelpon adiknya yang saat ini mungkin sudah tertidur pulas karena kelelahan, namun ia tetap terus mencoba menghubungi adiknya itu.


"Muzzy, ayo angkat!" ujarnya sambil terus menatap telpon genggamnya.


Namun benar dugaannya, adiknya tertidur dengan sangat pulas. Erina pun menelpon assistenya, untungnya saat itu Luceria bangun ketika ia mendengar telpon genggamnya berdering cukup kencang karena malam begitu senyap dan sunyi.


"Luceria, untung kau mengangkat telponku!" ucap syukur Erina.


"A-ada Erina, sepertinya kau begitu panik. Apa ada sesuatu yang terjadi?!"


"Cepat kau ke rumahku dan bawa Muzzy ke kantorku, saat ini distrik akan mengeluarkan peringatan siaga 1!"


Luceria terkejut bukan main, dia hanya bisa mengigit bibir bawahnya dan langsung bergegas mengganti pakaiannya. Dengan mobilnya ia pun berangkat menuju rumah Erina untuk membawa Muzzy yang saat ini pasti tengah tertidur. Erina menceritakan apa yang tengah terjadi saat ini, hati Luceria semakin berdetak kencang, darahnya seperti mendidih ketika mendengar para monster tiba-tiba mendekat ke arah distrik dengan jumlah yang besar.


Apa-apaan semua ini, apa yang terjadi sebenarnya!, batin Luceria.


Ia memacu laju mobilnya agar secepatnya membawa Muzzy dan mengamankannya. Luceria tau betul kecemasan yang tengah di alami Erina sahabatnya, Erina begitu takut kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya yang paling ia sayangi.


...


"Ini Sandman, kami saat ini akan segera meluncur ke titik koordinator yang telah di tentukan!" lapor Sandman kepada Erina.


"Kill them all!" perintah Erina kepada seluruh prajurit yang ia kirim ke titik koordinat tadi.


Sebanyak 30 prajurit terbaik langsung di terbangkan menuju perbatasan distrik. Bukan hanya 30 prajurit namun juga berbagai peralatan perang super canggih juga turut ikut di kerahkan untuk memusnahkan para monster yang mencoba menganggu ketenangan umat manusia.


"Aku punya firasat yang buruk!" ujar Sandman kepada rekan satu timnya.


Lynyrd mencoba menyalakan pemantik apinya namun entah kenapa tiba-tiba api dari pemantik itu tidak mau menyala.


"Ya, aku juga!" sahutnya sambil memandangi pemantik api miliknya itu lalu meletakkanya kembali ke kantong sakunya.


"Aku merasa ini sebuah jebakan, atau sesuatu hal yang buruk akan terjadi!" sahut Linkin sambil menatap sebuah tablet digital.


Blink hanya diam seperti biasa, lalu memandang keluar jendela helicopter yang tengah mereka tumpangi.


***


Another Pov end


Tubuhku benar-benar kelelahan, baru sebentar aku berbaring, aku sudah masuk ke dalam dunia mimpi. Tidur pulas seperti seorang bayi, namun aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Aku terus bertanya-tanya, apakah perasaan aneh ini, apa aku dipanggil oleh Tree of Life atau Paman Grey? Perasaan ini benar-benar belum pernah aku rasakan sebelumnya.


Aku mendengar telponku yang mulai berbunyi namun tubuhku terasa tidak bisa bangun dan mata ini terasa tidak bisa membuka kelopaknya namun aku merasa saat ini aku melihat sebuah cahaya yang amat terang.


"Hallo!" sapa seseorang namun mataku masih terasa silau sekali jadi aku hanya mengira-ngira siapa itu.


"S-siapa disana?" sahutku sembari mencari letak suara itu namun mataku masih terasa sangat silau.


Cahaya yang menyilaukan mataku akhirnya secara perlahan mulai memudar, memperlihatkan seorang wanita muda yang sangat cantik. Matanya berwarna biru kehijauan dengan rambut hitam kebiruan miliknya menambah paras cantik wanita muda itu.


"Apa kau tersesat?" Tanyanya sambil memiringkan kepala.


Aku malah menatapnya dengan hal yang serupa, lalu dia tertawa melihatku yang kebingungan.


"Kok kakak malah tertawa, aku benar-benar sedang kebingungan saat ini!" ujarku sedikit kesal.


Wanita muda itu lalu tersenyum manis. Ia pun lantas menanyakan sekali lagi apakah aku tersesat.


"S-sepertinya begitu, ini dimana?"


"Entahlah, aku juga tidak terlalu banyak mengetahui tempat ini namun di sini begitu nyaman dan makanannya juga sangat enak!" ucapnya sambil meliat sekeliling.


Aku terbuat heran karena wanita ini juga tidak mengetahui tempat ini, apa ini sebuah mimpi namun terasa begitu nyata seperti mimpi ku ketika bertemu dengan paman Gray dan Tree of Life.


"siapa nama mu adik manis?" tanyanya melangkah mendekat.


"Muzzy, Muzzy MacTavish!"


"Muzzy kah, perkenalkan nama kakak, Sugumi,"


Kak Sugumi menjabat tanganku, lalu mengacak-acak rambutku.


"Kau ini benar-benar manis jika diliat dari dekat!" pujinya dan entah mengapa perasaan yang ku rasakan saat itu begitu hangat.


"T-tunggu dulu, apa kak Sugumi tau saat ini tahun berapa?"


"Tahun 2xxx bukan?"


Aku pun hanya terdiam tanpa menjawab apa yang kak Sugimi tanya, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku lalu mencoba mengalihkan pembicaraan namun usahaku untuk menutupi kebenaran rupanya terbaca dengan sangat mudah, ya karena aku seorang pemohong yang buruk.


"Sekarang bukan tahun itu lagi bukan, aku sebenarnya sudah lama mati, dik Muzzy. Tapi aku bukan hantu ya jadi jangan takut denganku!" ujarnya dari raut wajah sedih menjadi sedikit panik dan itu terlihat sangat lucu dan manis.


Di dalam hatiku siapa juga yang takut dengan hantu secantik ini yang ada malah membuat betah untuk dipandang.


Kak Sugumi mulai bercerita bahwa ia tiba-tiba terbangun di tempat ini, ia juga awalnya begitu kebingungan namun ada suara yang menjelaskannya dan itu adalah aku. Diriku yang satunya, atau lebih tepatnya sisi kebaikkanku.


Sisi itu yang selalu menemaninya setiap hari dan akhirnya diriku sepenuhnya masuk ke alam bawah sadarku yang entah berapa banyak alam bawah sadar yang aku miliki saat ini.


Dia berkata menganggapku sudah seperti adiknya sendiri, namun ia merasakan ada kegelapan yang terus memanggil namanya. Ia seperti kehilangan ingatannya terhadap suara itu, yang ia rasakan hanya lah kebencian dan kegelapan yang amat pekat.


Aku pun semakin pusing dibuatnya, belum selesai dengan apa yang dikatakan oleh Tree of Life sekarang aku harus memikirkan siapa sosok yang memanggil kak Sugumi dan kenapa kak Sugumi ada di dalam alam bawah sadarku, mungkin saatnya aku bertanya kepada paman Gray atau bertanya langsung dengan pohon besar yang suaranya serak-serak basah itu.


"Sepertinya waktu pertemuan kita sudah hampir habis, saatnya kau kembali ke dunia mu, dik Muzzy!" ucap kak Sugumi kepadaku sambil melambaikan tangannya dan tubuhku tiba-tiba terangkat begitu saja seperti kehilangan gaya gravitasi.


"Apa kita akan bertemu lagi, kak Sugumi?" tanyaku.


"Tentu saja, beri salam kepada Mika ya!" jawabnya sambil tersenyum.


Tunggu dulu bagaimana kak Sugumi bisa tau dengan Mika, apa ini kerjaan sisi kebaikanku. Rupanya dia seorang yang bermulut ember.


***


"Muzzy bangun!!!" teriak seseorang wanita namun kantukku begitu kuat yang membuat mataku menjadi sangat sulit untuk terbuka.


Tubuhku terasa seperti diguncang-guncang dengan hebat.


"Ayo bangun Muzzy!!!" teriaknya sekali lagi namun kali ini dengan pukulan di pipiku yang langsung membuatku kesakitan.


"A-aduh, oh kak Luceria. Ada apa kak?" ucapku yang masih setengah nyawanya.


"Distrik akan diserang!"


Mendengar hal itu kesadaranku langsung kembali 100%, detak jantungku yang awalnya berdetak dengan normal berubah menjadi kencang. Aku memandang keluar arah jendela dan mengingat kata tiap kata yang diucapkan oleh paman Gray seputar hal ini, rupanya benar apa yang beliau katakan saat aku berlatih dengannya.


"Kau akan ikut aku ke markas, disana akan sangat aman!"


"Aku ingin bertarung!"


"kondisi mu saat ini belum siap untuk bertarung dengan Monster sebanyak itu, terlebih kau baru saja bertarung habis-habisan bukan ketika pertandingan kemarin!"


Apa yang dikatakan kak Luceria benar, saat ini kondisiku tengah tidak direkomendasikan untuk bertarung karena trauma yang aku alami juga bisa mempengaruhi bertarungku.


"Aku ganti baju dulu dan membawa beberapa pakaian, kak Luceria tolong juga bawa Nala sepertinya ia tengah tidur di kamar kak Erina,"


Aku segera menganti bajuku dan menelpon teman-temanku untuk memberitahu mereka kondisi saat ini dan tidak ada satupun yang menggangkat telponku. Ini begitu aneh biasanya mereka selalu menggangkat telpon walaupun sudah dini hari.


Aku terus mencoba untuk menghubungi mereka sambil memasukkan baju ke dalam tasku.


"Tolong angkat telponku, Mika!"


Dan beruntungnya Mika mengangkat telponku.


"Mika! Cepat lakukan evakuasi, kakakku mengatakan bahwa distrik akan diserang oleh para monster!"


"I-iya aku sudah mendengar hal itu dari ayahku, dan saat ini aku sedang membantu ayahku untuk mengevakuasi para warga disekitar kuil!"


"Aku akan kesana Mika, tunggu aku!"


Lalu aku mencoba menelpon Artizy namun entah apa yang ada di pikiran anak satu ini, dia yang malah menelponku.


"Muzzy!"


"Artizy!"


Kami sama-sama memanggil nama satu sama lain.


"Apa kau akan memberitahuku tentang keadaan saat ini?" tanya Artizy.


"kau terlambat, saat ini Robin, Reznov, Karin, Ellen dan Lumia sudah ada di pengungsian yang ayahku ketuai. Kami sudah membuat penghalang yang sangat kuat jadi kau tenang saja!"


Mendengar hal itu membuatku merasa lega untuk sesaat.


Aku turun dari lantai dua dan langsung menuju pintu luar dan mengatakan kepada kak Luceria aku harus ke tempat Mika.


"Maaf kak Luceria, tolong jaga Nala dan juga katakan kepada kakakku bahwa dia harusnya mengkhawatirkan pasukannya dibanding dengan ku!"


Tanpa pikir panjang aku langsung mengeluarkan beberapa cube untuk melompat melawati atap rumah-rumah. Di dalam benakku, aku hanya memikirkan bagaimana caranya untuk bisa menyelamatkan semua orang.


"Kuharap Kakak mu tidak akan membunuh ku, Muzzy!" gumam kak Luceria sambil mengendong Nala yang saat itu masih tertidur pulas.