
Setelah bekerja paruh waktu selama 10 hari, akhirnya aku berhasil mengganti kerusakan yang telah aku perbuat tempo hari yang lalu dan sekarang kantong ku sudah benar-benar kering dan hanya tersisa uang tabungan yang ada di bank.
Namun untung saja kakakku merasa begitu iba ketika melihatku yang bekerja keras untuk bertanggung jawab memperbaiki apa yang telah ku perbuat akhirnya dia mau memberiku uang tambahan, dia memang kakak yang sangat terbaik sepanjang masa.
Sudah hampir 2 minggu sejak Rubick berkembang, aku tidak pernah bertemu dengan paman Grey. Ketika aku mencoba memasuki alam bawah sadarku terasa seperti ada sesuatu yang menghalangiku dan hal itu persis seperti waktu aku pertama kali bertemu dengan paman Grey di pondok kecil itu.
Aku ingin sekali bertemu dengannya dan menanyakan masalah seputar Mythical Rubick lebih banyak lagi, tapi sepertinya aku tidak bisa dan harus menunggu waktu yang tepat dulu.
"Rubick-chan, kenapa Paman Grey bilang bahwa kita hanya akan bertemu beberapa kali saja lagi?" tanyaku yang tengah berbaring di sofa ruang tamu sambil menunggu kakakku bersiap-siap.
"Paman Grey mungkin punya batasan tertentu, ya karena kita berada di alam yang berbeda dengan beliau, Tuan. Ngomong-ngomong Tuan tidak mau berlibur seperti teman-teman Tuan?"
Ngomong-omong rahasiaku bisa berbicara dengan Rubick sudah ketahuan oleh kakakku, entah mengapa kakakku rupanya juga bisa mendengar apa yang di katakan oleh Rubick dan entah mengapa Nala juga akhir-akhir ini suka bermain kejar-kejaran dengan Rubick.
Flashback on
Aku tengah mencoba beberapa trik menirukan benda-benda dengan Rubick di dalam kamarku, saat itu aku benar-benar lupa mengunci pintu kamarku. Ketika aku berbicara dengan Rubick, kakakku masuk ke kamar berniat memberitahu bahwa makan malam sudah siap.
"Kau berbicara dengan senjata mu dan senjata mu juga bisa berubah-rubah bentuk!?" kata kakakku yang kaget melihat keanehanku dan juga senjata Warriorku.
Aku menjelaskan bahwa itu semua adalah kemampuan khusus warriorku, padahal kemampuan berubah-ubah bentuk itu sudah sejak lama namun hanya beberapa benda saja yang bisa di tiru dan sekarang malah aku bisa meniru bermacam-macam benda seperti pistol sampai pisau dapur.
Aku juga menjelaskan bahwa senjata milikku memang bisa berbicara dan alangkah terkejutnya aku ketika Rubick berbicara.
"Tuan, apa aku seaneh seperti yang Kakak Tuan katakan?"
Kakakku berdiri karena terkejut bukan main, ia bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Rubick.
"D-dia b-benar-benar bisa bicara!" ucap kakakku gagap.
"Hah Kakak juga bisa mendengar suara Rubick?"
"Sepertinya saya juga terhubung dengan hati Kakak Tuan,"
"H-hebat, ini benar-benar aneh dan juga hebat. Baru pertama kali ada senjata Warrior yang bisa berbicara!" ujar kakakku terkagum-kagum sambil tertawa ringan.
Mau bagaimana lagi, akhirnya aku memperkenalkan Rubick dengan kakakku.
"Namanya Yui tapi dia lebih suka dipanggil Rubick!"
"Halo Rubick-chan, perkenalkan aku Kakaknya Muzzy, Erina MacTavish. Salam kenal Rubick-chan!"
"Halo Kakak, salam kenal juga. Oh iya sebenarnya seluruh senjata milik warrior itu bisa berbicara tapi hanya pengguna tertentu saja yang bisa berkomunikasi dengan mereka,"
"Wah benarkah itu, Rubick-chan!" sahut kakakku lalu mengeluarkan senjatanya Twins Moon Light Sword. "Tapi kenapa aku tidak bisa berbicara dengan Twins ya?"
Rubick menjelaskan jika ingin berkomunikasi harus memiliki ikatan yang kuat dan harus percaya satu sama lain dengan senjata yang di miliki oleh warrior itu namun kesempatan berbicaranya sangatlah tipis.
"Tolong kasih tau rahasianya, Rubick-chan!"
Rubick memberi tips yaitu harus memfokuskan diri sendiri agar bisa berkomunikasi langsung dengan senjata milik Warrior tersebut.
Kakakku menuruti dan mencoba untuk memfokuskan diri dengan memejamkan kedua matanya.
"Wah berhasil, Rubick-chan! Mereka kembar seiras sangat manis sekali!"
Aku yang mendengar hal itu langsung tidak habis pikir dan hanya bisa mengangguk sambil menggaruk pipiku.
Flashback off
※※※
Sejak hari itu kakakku selalu terlihat ceria dan lebih bersemangat bekerja, ia memberi nama yang unik yaitu Plus dan Minus padahal mereka juga sudah pasti memiliki nama masing-masing.
Hari ini Kakakku akan pergi ke pantai bersama dengan kekasihnya, Dokter Lute. Dokter Lute adalah dokter spesialis Warrior, dulu dia sering merawatku ketika aku mengalami masalah dengan warrior milikku Mythical Rubick, namun tetap saja tidak mampu menjawab semua pertanyaan yang ada dikepalaku tentang Mythical Rubick.
Mereka berdua juga mengajakku dan menyuruhku untuk mengajak teman-temanku karena kakakku ingin menemui mereka, terlebih lagi dia sangat ingin bertemu dengan Mika setelah ia tau aku memiliki hubungan spesial dengan Mika.
"Ayo cepat mereka pasti sudah menunggu!" ucap kakakku yang sudah selesai siap-siapnya.
Aku dan kakak harus menjemput Mika terlebih dahulu baru ke tempat yang di janjikan oleh Dokter Lute.
...
Baru 1 menit mereka berdua bertemu, Mika dan kakakku sudah sangat akrab layaknya ibu dan anak saja.
"Aku tidak menyangka bahwa anak kecil manis yang dulu di selamatkan Muzzy tumbuh menjadi perempuan yang sangat manis dan juga sangat cantik," puji kakakku yang duduk bersebelahan di kursi depan mobil sedangkan aku duduk di belakang dengan Nala.
Mika tersenyum malu karena semua pujian yang di lontarkan kakakku.
Sekitar 15 menit di perjalanan, akhirnya kami sampai di tempat penyewaan bus yang akan kami pakai. Tempat penyewaan bus itu adalah milik temannya Dokter Lute, jadi kami bebas untuk memilih bus mana yang akan kami pakai.
"S-suatu kebanggaan bisa bertemu dengan anda J-jendral Erina!" ucap Artizy gagap, ia sangat gugup saat itu.
Kakakku tertawa. "Haha, kamu ini jangan panggil aku jendral, panggil saja Kak Erina. Lagi pula kau itu temannya Muzzy bukan?"
Artizy tersenyum canggung. "Hehe i-iya Kak Erina."
Kakakku juga berterima kasih kepada teman-temanku karena telah menjadi teman yang baik untuk Muzzy.
"Ayo kita berangkat sekarang, aku sudah menelpon pihak penginapan juga disana!" ajak Dokter Lute.
pria dengan kacamata kotaknya yang khas dan selalu tersenyum ini adalah calon kakak iparku. Dia sangat baik kepadaku dan selalu memantau kesehatanku jika kakakku sedang sibuk. Aku sangat beruntung bisa dikelilingi orang-orang baik dan juga ramah.
Kami semua akan berlibur ke pantai di timur Distrik, yaitu pantai White Coral. Kenapa di namakan White Coral ya karena terdapat banyak temburu karang yang berwarna putih. Seperti biasa, nama suatu tempat biasanya menggambarkan keadaan di sana.
...
Baru sampai beberapa menit di pantai itu, Artizy sudah berlari-lari seperti monyet yang kegirangan mendapatkan pisang yang banyak. Bukan hanya Artizy yang kegirangan, Kakakku juga ikut kegirangan karena ia juga sudah lama tidak berlibur dari aktivitas bekerjanya yang padat.
Kami berbagi tugas, aku dan dokter Lute memasang payung pantai agar tidak terlalu kepanasan sedangkan Reznov dan Artizy mengangkat barang konsumsi seperti air minum dan makanan untuk di makan nanti sedangkan para perempuan langsung ke penginapan untuk meletakkan tas bawaan dan juga mau bersiap mengganti baju.
Rencananya kami akan menginap beberapa hari dan kembali sebelum hari liburan usai, jadi ketika kembali ke sekolah tidak terlalu kelelahan.
Setelah para perempuan berganti baju ada pemandangan yang luar biasa. Mika benar-benar cantik dengan balutan baju renang berwarna merah muda bunga sakura, sampai-sampai aku tidak bisa melepas pandanganku terhadapnya apalagi di bagian tengahnya itu:v.
Dokter Lute juga terpesona dengan kecantikan kakakku sampai sampai ia menjatuhkan kacamatanya.
Berbeda dengan kami berdua, Artizy sama sekali tidak terpesona dengan baju renang milik Karin dan Ellen. Dia hanya memandang sebentar lalu kembali berjalan cepat ke penginapan. Lain lagi dengan Reznov, ia memuji pakaian yang dikenakan oleh teman-temannya tetapi ia masih berharap bahwa Crystalesia juga ikut ke pantai.
※※※
Another POV
Artizy yang tengah berjalan cepat wajahnya memerah karena melihat baju renang milik Karin yang sangat cantik.
"Karin rupanya manis juga," gumam Artizy lalu meletakkan tasnya dan segera melepas bajunya.
Setelah semua berganti baju, Muzzy dan teman-temannya bermain di pantai sedangkan Erina dan Dokter Lute pergi jalan-jalan berdua sambil bergandengan tangan.
"Ayo Muzzy, kita berenang!" ajak Mika sambil menarik tangan Muzzy.
Muzzy dan Mika asik bermain air sedangkan Reznov membuat sebuah lubang besar yang ia gali untuk menjebak Artizy.
Lain lagi dengan Artizy yang tengah asik bermain bola pantai dengan Ellen dan Karin, mereka membuat sebuah lomba kecil yang dimana jika salah satu peserta selalu menjatuhkan bola ke tanah akan mendapat hukuman dan hukuman itu akan diberi oleh si juara 1 atau yang paling sedikit menjatuhkan bola.
Namun perlombaan akhirnya dimenangkan oleh Artizy dan yang akan kena hukuman adalah Karin.
...
Setelah bersenang-senang cukup lama, Muzzy dan kawan-kawannya memutuskan untuk bersantai sambil menikmati hembusan angin pantai di bawah payung yang telah di siapkan tadi.
Baru beberapa menit bersantai sambil tertawa bersama muncul dihadapan mereka seorang perempuan cantik bersurai pendek dan 2 orang laki-laki dibelakangnya.
Dengan sombongnya perempuan itu menghina Artizy yang tengah memakan kue buatan Mika dan Karin.
"Apa ini rank tertinggi dikelas F, lihat cara ia makan!" ucap perempuan itu lalu tertawa bersama dengan kedua laki-laki tadi.
"Hah?" sahut Artizy kebingungan.
"Rank 1 nya saja bodoh apalagi rank di bawahnya, bisa-bisa mereka semua tidak punya otak!" ucap salah satu laki-laki yang ikut bersamanya.
Ellen akhirnya naik pitam sampai-sampai kaleng soda yang tengah ia pegang remuk. "APA KATA MU, BRENG*EK?!"
Muzzy dan Mika dengan sigap menahan tubuh Ellen yang ingin memukul wajah perempuan itu.
Tiba-tiba saja Artizy mengeluarkan aura serta tatapan mengerikan. "Kau boleh menghinaku bodoh atau tidak punya otak ... tapi jika kalian menghina teman-temanku, aku tidak akan memaafkannya!"
"Aku datang kesini memang ingin mengajak mu berduel, ayo kita bertarung!"
"Aku terima tantangan mu, ayo kita bertarung!" sahut Artizy lalu berdiri dihadapan perempuan itu.
Perempuan itu tersenyum lalu berjalan sambil tertawa. "Hahaha aku tunggu kau di arena dekat pantai ini, jangan sampai kabur!"
Artizy hanya memandang punggung perempuan itu dengan penuh amarah di dalam hatinya. Tangannya mengepal dengan kuat sampai-sampai membuat suara yang cukup mengerikan bagi sebagian orang.
"Artizy kau benar-benar yakin akan melawan perempuan itu?" tanya Karin dengan raut wajah khawatir.
"Tenang saja, aku percaya Artizy akan mengalahkan perempuan itu dengan mudah!" ucap Muzzy sambil menepuk pundak Artizy.
-Tbc-