
Setelah kejadian malam itu, hubunganku dengan Mika semakin lengket walaupun kami masih berstatus hanya sebatas teman bukan sedang berpacaran.
Hal ini juga membuat Ryuu semakin tidak menyukaiku dan kerap menantangku untuk bertarung 1 lawan 1 di tengah lapangan, tetapi sayangnya tidak pernah mendapat izin dari Kapten Edward.
Jika kau tanya aku, aku menanggapinya dengan biasa saja. Aku sama sekali tidak tertarik bertarung hanya karena alasan tidak jelas seperti itu, jika kau ingin mendapatkan hatinya lakukan dengan memperlakukan perempuan dengan lembut dan kau akan mendapatkannya.
Sampailah akhir bulan di bulan ke 2 pusat pelatihan, sampai sejauh ini kemampuan True Element Warrior milikku masih tidak terdeteksi. Tapi aku sudah tidak terlalu memikirkan hal itu, karena aku percaya itulah keunikan Warriorku.
Tidak terasa kami sudah akan memasuki bulan terakhir pusat pelatihan, di bulan ini kami dijadwalkan akan mendapatkan misi atau tugas-tugas tertentu untuk mendapatkan KLW.
"Selamat untuk kalian semua, saya sangat bangga dengan peningkatan kalian semua!" ucap Kapten Edward yang berdiri di atas sebuah mimbar.
Kami semua bertepuk tangan dengan bangga. Kebanyakan teman-temanku berhasil menemukan skill baru termasuk Mika dan Artizy dan sisanya berhasil meningkatkan kemampuan dari skill mereka termasuk aku juga sih.
"Wah Muzzy, aku tidak sabar lagi untuk mendapatkan KLW!" ujar Artizy lalu tersenyum lebar.
"Kita semua pasti bisa, betul bukan Mika!" sahutku.
Mika mengangguk. "Kuharap kita bisa satu kelompok nanti, Muzzy"
"Tunggu dulu, akhir-akhir ini kalian berdua semakin lengket saja, Muzzy dan Mika?" ucap Karin.
"Jangan-jangan kalian berdua sudah berpacaran ya?" kata Lumia sambil menarik tangan Mika.
Aku dan Mika saling menatap lalu tersenyum bersama tanpa menjawab pertanyaan Karin dan Lumia dan membiarkan mereka menebak bagaimana hubungan kami.
※※※
Mr. Jack dan Ibu guru Mikado serta Kapten Edward sedang berunding untuk menentukan misi apa yang akan di dapat setiap orang. Misi tersebut bertujuan khusus, ada yang meningkatkan kerja sama tim, ada yang menambah ketangkasan diri, dan banyak hal lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknik Warrior.
...
Akhirnya pengumuman pun keluar, aku mendapatkan misi dengan berkelompok tetapi sayang sekali aku tidak satu kelompok dengan Mika.
"Yah kita tidak satu kelompok, Mika!" ujarku cemberut karena tidak satu kelompok dengan Mika.
"Hmm iya, aku malah satu kelompok dengan Ellen, Lumia dan Karin. Jaga dirimu ya Muzzy!"
"Tentu saja, Mika! Kau juga jaga dirimu," ucapku lalu aku memandang Karin. "Ketua Karin tolong jaga Mika ya!"
"Iya-iya, Romeo dan Cinderella!" sahut Karin lalu memutarkan matanya.
"Ah kalian berdua manis sekali!" ucap Lumia sambil menggoyangkan tangannya.
Aku mendekat ke arah Artizy yang menjadi anggota satu timku, kami berdua seperti tidak bisa di pisahkan.
"Sobat ayo kemari, aku perkenalkan kau dengan anggota tim lain!" teriak Artizy sambil melambaikan tangannya.
Aku mengangguk lalu bergegas ke arahnya.
Artizy memperkenalkan dua orang perempuan dari kelompok kami berdua, yang satu adalah ketua kelas dari kelas sebelah, memiliki rambut dengan gaya Apple dengan warna rambut kecoklatan dan satunya lagi memiliki gaya rambut kepang dua dengan rambut berwarna merah muda terang.
"Perkenalkan ini Muzzy!" kata Artizy memperkenalkan ku.
"Hallo, mohon kerja samanya ya!" sahutku sambil menjabat tangannya secara bergantian.
"Hallo Muzzy, Perkenalkan namaku Sakuya. Aku ketua kelas dari kelas sebelah, maaf sepertinya Ryuu sering membuat masalah dengan mu, atas nama sekolah dan kelas, aku mengucapkan mohon maaf sedalam-dalamnya," sahut Sakuya lalu menundukkan kepalanya seraya meminta maaf.
"Ah tidak apa-apa, salam kenal Ketua Sakuya. Mohon kerja samanya," sahutku lalu tersenyum.
"Nah kalo yang ini-" ujar Artizy menunjuk anggota selanjutnya.
"Hallo, namaku Hima. Mohon kerja samanya, Muzzy!"
"Salam kenal Hima dan juga mohon kerja samanya," balasku tersenyum.
Kami berempat berunding untuk siapa yang menjadi ketua kelompok agar mudah untuk berkoordinasi dan rupa-rupanya mereka malah memilihku sebagai ketua kelompok.
Ini pengalaman pertamaku menjadi menjadi seorang pemimpin dan semoga saja aku bisa memenuhi tanggung jawab ini walaupun kelompok ini hanya sementara.
Untuk hari ini kami berempat tidak mendapatkan misi, jadi kami hanya berkumpul sebentar lalu melakukan pemanasan ringan dan kembali ke kamar asrama.
Begitu pula dengan kelompok Mika, mereka juga belum mendapatkan misi ataupun tugas apapun untuk hari ini.
※※※
Selang 2 minggu kemudian akhirnya kami berempat mendapatkan tugas, kelompok Mika juga bersamaan dengan kami mendapatkan tugas yang hasilnya apakah kami akan dinyatakan lulus lalu mendapatkan KLW atau kami gagal dan harus mengulang tahun yang akan datang.
"Muzzy! Kau dengan kelompok mu juga dapat misi hari ini?" tanya Mika.
"Iya, kau dan yang lain juga mendapatkan misi apa hari ini?"
"Hmm katanya sih kami disuruh untuk mencari Silver Feather milik Lugia Bird. Kalo Muzzy dan Artizy mendapat misi apa?"
"Kalo tidak salah kami harus menangkap salah satu Quil Boar, lokasi yang dituju arah barat dari Roasted Lake. Oh iya Lugia Bird memiliki habitat di sekitar danau mungkin saja kita akan bertemu nanti,"
Mika mengangguk. "Hati-hati ya, yang aku dengar Quil Boar sangat berbahaya dan durinya itu beracun!"
Aku tersenyum sambil mengelus kepalanya. "Jangan khawatir aku kan kuat hehe, kau juga jaga diri mu walaupun Lugia Bird tidak berbahaya tetapi di sekitar danau adalah area yg cukup berbahaya!"
Mika tersenyum lalu memberikanku dua buah jimat. "Hehe iya, ini jimat untukmu dan berikan juga ini untuk Artizy!"
"Buatan sendiri?" sahutku sambil memegang jimat yang diberikannya.
Mika mengangguk lalu tersenyum dan aku pun membalas dengan senyuman serta ucapan terima kasih.
...
Sakuya memiliki Warrior Moon Ranger dari Clan Heart Moon bertipe Offensive Ranger dengan senjata T12 Tactilite Blue Moon (Rare) sebuah sniper berwarna biru bersinar, sedangkan Hima memiliki Warrior Dark Shepherd dari Clan Executor Libra bertipe Semi Offensive dan Semi Tank dengan dua senjata yang berbeda yaitu sebuah Great Shield atau tameng besar dengan warna yang di dominasi hitam dan memiliki lambang Libra di tengahnya bernama Blacksteel Shield (Super Rare) sedangkan senjata selanjutnya yaitu sebuah pedang besar bernama Aquila Slasher (Rare).
"Baiklah sesuai instruksi Kapten Edward tadi, kita di perintahkan untuk membawa satu ekor anak Quil Boar ke out post yang sudah di letakkan di tengah hutan di kawasan Roasted Lake," ucapku sambil memegang sebuah kertas perintah.
"Oke teman-teman, ayo kita berangkat!" sahut Artizy sambil menyalakan lampu senter miliknya.
Kami berempat pun berangkat menuju lokasi dimana sarang Quil Boar itu berada, saat itu jam sudah menunjukkan jam 9 malam yang artinya mereka saat itu tengah beraktivitas seperti biasa.
"Semakin ke dalam hutan semakin gelap saja," ucap Sakuya sambil menenteng senjatanya.
"I-iya semakin ngeri saja! Apa kau bisa menembakkan obat bius di senjata mu itu, Sakuya?" sahut Artizy.
Sakuya tersenyum pahit. "Kurasa senjataku tidak bisa melakukannya."
Aku tersenyum mendengar percakapan mereka. "Tenang saja, yang perlu kita lakukan adalah menjebaknya saja lalu menangkapnya dengan perangkap."
"Tapi Ketua, menjebak dengan apa?" tanya Hima sambil menggaruk kepalanya.
"Pertanyaan yang bagus! Kita akan menjebak dengan makanan kesukaan mereka yaitu buah-buahan, aku sudah mengumpulkan beberapa buah di kantongku saat di perjalanan tadi," sahutku lalu menunjukkan kantong yang sudah berisi beberapa buah-buahan.
"Wah kau jenius Muzzy, aku kira tadi kau mengambil buah-buahan itu untuk kita makan hehe," kata Artizy lalu tertawa kecil.
※※※
Setelah semakin dalam menuju hutan, aku berinisiatif meninggalkan jejak berupa cat yang dapat bernyala di gelapnya malam lalu mencek WarriorNav untuk mengetahui apa kami sudah memasuki kawasan Quil Boar.
Aku memperingatkan rekan-rekanku untuk berhati-hati terhadap lendir ingus milik mereka, karena efeknya seperti lem tikus jika terkena akan sangat susah di lepaskan.
"Artizy! gunakan penciuman mu itu untuk mengetahui keberadaan mereka, oke!" perintahku kepada Artizy.
Artizy langsung mengangguk dan berjalan ke depan mendahului kami.
Selang beberapa menit akhirnya kami menemukan kawasan dari Quil Boar, benar saja mereka sedang beraktifitas karena mereka masuk kategori monster Nocturnal atau yang biasa beraktivitas di malam hari.
Aku memerintahkan Sakuya untuk mengambil posisi yang nyaman untuk menembak dan juga sebagai pemantau, sedangkan Aku, Artizy dan Hima secara mengendap-endap meletakkan sebuah perangkap kecil yang targetnya memang anak dari Quil Boar.
"Bagus ayo ke arah semak-semak itu dan kita tunggu!" perintahku setelah meletakkan buah-buahan di tengah perangkat itu.
Belum beberapa menit kami meninggalkan perangkat itu, sudah ada anak Quil Boar yang terperangkap.
Anak Quil Boar itu bersuara seperti meminta pertolongan kepada rekan-rekannya dan mencoba menghancurkan jebakan itu tapi usaha anak dari Quil Boar itu sia-sia karena perangkap itu terlalu rumit untuk dia.
Aku memberikan perintah kepada Artizy dan Hima untuk cepat-cepat mengambil perangkap itu sebelum induk ataupun kawanan mereka tiba kesana.
"Aku melihat pergerakan! Tinggalkan tempat itu!" ucap Sakuya lewat saluran radio.
"Ucapkan sekali lagi, ganti!" sahutku sambil melihat sekitar.
Tiba-tiba saja Artizy dan Hima berteriak seperti melihat sesosok hantu saja.
Sambil menenteng keranjang perangkap, Artizy lari terbirit-birit sedangkan Hima berlari sambil meletakkan perisai besarnya ke kepalanya karena induk Quil Boar mulai menembakkan duri-durinya ke arah kami.
"Menghindar dari durinya!" teriakku sambil berlari menghindari dari duri-duri yang beterbangan.
Saat itu kami layaknya dihujani duri-duri, Artizy dengan kemampuannya melompat-lompat di pepohonan untuk menghindari duri-duri itu.
Lalu dengan tenangnya Sakuya melepaskan tembakan yang langsung mengenai dada dari Quil Boar itu.
Tetapi tembakannya sama sekali tidak berpengaruh.
"A-apa?" ucapnya di radio, seperti tidak percaya bahwa tembakannya tidak melukai Quil Boar itu.
Kami bertiga berlari ke arah out post untuk meletakkan keranjang perangkap itu, tapi naas sebuah duri kecil menusuk bokong Artizy yang mengakibatkan Artizy melonglong seperti layaknya seekor serigala.
"Aaaaaaaaa!"
Another POV
Mika, Karin, Lumia, dan Ellen yang saat itu sedang berada di kawasan pesisir danau mendengar suara longlongan seekor serigala yang sebenarnya itu Artizy.
"Aaa i-itu serigala! Tetap berjaga-jaga teman-teman!" ucap Karin sedikit ketakutan.
Sambil mengawasi sekitar mereka mengambil salah satu helai bulu milik Lugia Bird dan misi mereka selesai.
Another POV end
※※※
Artizy mencabut duri itu lalu mengosok-gosok bokongnya yang tertusuk tadi. "A-aduh-duh, untung saja durinya kecil!"
Artizy sudah meletakkan keranjang itu di out post lalu langsung melepaskan Quil Boar kecil itu.
Aku sama sekali tidak paham apa tujuan misi ini tetapi syukur saja kami berhasil menyelesaikannya tanpa terluka, walaupun Artizy merasakan tertusuk duri kecil dari Quil boar.
Kami pun memberi laporan bahwa sudah menyelesaikan misi dan akan segera kembali ke pusat pelatihan.
-Tbc-
Pojok Fyi
● Quil Boar adalah sejenis Monster yang mirip dengan **** hutan tetapi mereka mempunyai duri di punggung mereka. Selain di persenjatai duri, mereka juga menggunakan ingus mereka sebagai senjata mereka.
Karena sifat mereka yang terkenal agresif, makanya mereka dikategorikan sebagai Monster yang lumayan berbahaya.
● Lugia Bird adalah sejenis burung kecil yang berwarna silver dan ketika bulan purnama bersinar maka kecantikan bulunya semakin indah. Mereka kategori monster yang ramah dan tidak suka menyerang manusia tetapi jika mereka di usik maka mereka akan sangat berbahaya.