
Sekitar jam 12 siang, aku dan Mika akhirnya sampai di tempat kolam renang itu. Kondisi di kolam renang cukup ramai karena saat ini sedang berlangsung Golden Week, orang-orang kebanyakan menghabiskan waktu untuk mereka untuk bersantai bersama keluarga atau bersama teman-teman mereka ketika Golden Week berlangsung.
"Setelah ganti baju, kita berkumpul disini lagi ya!" ucap Mika lalu memasuki ke ruang ganti khusus perempuan.
Aku mengangguk dan juga masuk ke ruang ganti khusus laki-laki. Di hari ini hubunganku dengan Mika telah di setujui oleh kedua orang tuanya tetapi aku sama sekali belum menyatakan perasaanku secara langsung ke Mika jadi untuk sementara aku di nyatakan menjadi seorang bodyguard atau penjaga Mika sebelum kami resmi menjadi pasangan suatu hari nanti. Itulah yang dikatakan Ayah dan Ibu Mika kepadaku.
Setelah selesai berganti baju aku langsung ke tempat pertemuan yang di janjikan tadi, tapi entah kenapa hatiku tiba-tiba berdetak sangat kencang.
"Maaf membuat mu menunggu, Muzzy!" ucap Mika dengan suara lembutnya.
Mika datang dengan memakai baju renang berwarna kebiruan dihiasi bunga yang berwarna biru pula, ditambah lagi dengan rambut hitam lurusnya yang diberi pita kucing di atasnya menambah kecantikannya saja. Membuatku terdiam seakan-akan waktu berhenti pada saat itu karena terpesona akan kecantikan Mika.
Mika menutup wajahnya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memukul bahuku. "J-jangan di pandang-pandang terus, malu tau!"
"Hehe maaf, tapi kau sangat cantik Mika dan juga baju renang mu sangat cocok dengan mu," sahutku sambil menggaruk kepala.
Wajah Mika menjadi semakin merah. "Terima kasih, ayo kita ke kolam sekarang!"
Aku langsung turun ke kolam duluan agar berinisiatif membantunya turun namun saat aku melihat Mika mulai memasuki kolam renang, aku melihat pemandangan yang luar biasa dan membuat para lelaki pasti gairahnya meningkat drastis.
"Ada apa Muzzy?" tanya Mika kebingungan melihat tingkahku.
Aku menggeleng cepat. "Tidak ada apa apa hehe."
Lengkungan tubuh Mika sangat jelas terlihat saat ia menuruni tangga, tahan Muzzy tahan, batinku di dalam hati.
Mika lalu mempraktikkan cara berenang yang ia pelajari dari ayahnya dulu kepadaku. Mulai dari menahan napas di dalam air lalu bagaimana cara tetap mengapung di air.
"Baiklah selanjutnya aku akan memegangi tangan mu lalu kau berenang perlahan oke, Muzzy!"
Aku mengangguk dan langsung memegang tangannya untuk berenang secara perlahan.
Setelah bolak-balik lumayan banyak, Mika berinisiatif untuk melepas tanganku dan membiarkanku berenang dengan sendirinya.
...
Akhirnya aku bisa berenang karena Mika mengajariku dengan sabar, ternyata berenang lebih mudah dari pada belajar mengendarai sepeda. Dulu aku harus memerlukan waktu lebih dari 2 minggu untuk bisa mengendarai sebuah sepeda.
Wah seperti ini rasanya bisa berenang, sangat mengasyikkan, batinku didalam hati.
Dulu aku sering meminta ke ayahku diajari berenang, tetapi ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya menjadi seorang The Guardian.
"Wah aku bisa! Ayo kita lomba, siapa yang kalah mendapatkan hukuman, bagaimana Mika? Apa kau berani?!" tantangku kepada Mika.
"Siapa takut, kau pasti bisa ku kalahkan dengan mudah, Muzzy!"
Dengan penuh semangat aku berenang, tetapi walau dengan penuh semangat, aku masih tetap tidak bisa mengalahkan Mika yang sudah mahir berenang.
"Yah, rupanya aku yang kalah," ujarku sambil merapikan rambutku yang menutup wajahku karena basah.
"Hehe berarti kau yang mendapat hukuman!" Mika tersenyum sambil menyatukan tangannya.
"Jadi apa hukumannya, Mika?" sahutku pasrah karena kalah lomba berenang tadi.
Kalah berenang dengan perempuan adalah sesuatu hal yang memalukan bagiku dan di tambah lagi dengan harus menerima hukuman dari si pemenang menambah kekalahan yang terasa sangat memalukan.
"Hmm nanti aja dulu masih mikir-mikir, apa kau lapar? Ayo kita beli makanan dulu!" ajak Mika.
"O-oke, aku sedikit lapar," sahutku menggaruk pipiku.
Syukurlah dia masih bingung, semoga saja hukumannya tidak terlalu berat, batinku di dalam hati.
Aku berinisiatif untuk memesan makanan serta minuman untuk kami berdua.
Aku memesan dua bungkus mie goreng yang kata pelayan disini adalah makanan sangat favorit serta dua gelas soda.
...
"Maaf menunggu lama, tadi antriannya lumayan panjang," ucapku sambil menyerahkan makanan dan minuman untuk Mika.
Mika mengikat rambutnya. "Tidak apa-apa kok, terima kasih banyak Muzzy!"
Kami berdua makan sambil berbicara sedikit masalah kolam renang yang kami kunjungi ini, tetapi ada yang aneh dengan Mika. Ketika dia mencoba meminum es soda itu, wajahnya seperti menahan sakit dan terkadang ia memejamkan matanya.
"Mika kau tidak tahan meminum soda ya?"
Dia mengangguk. "Tapi kau sudah membelikannya jadi aku harus meminumnya!"
Dia meminum soda itu dan ekspresinya lagi-lagi seperti menahan sakit. Aku jadi tidak tega melihatnya dan langsung mengambil gelas miliknya.
"Aku belikan jus ya dan air mineral, tunggu di sebentar!" ujarku lalu berlari untuk membelikan Mika minuman.
Beruntungnya aku, saat itu antrian tengah kosong. Setelah membelikan Mika jus dan air mineral aku langsung kembali dan menyerahkan minuman itu kepada Mika.
"Ini minumlah, maaf aku tidak tau kau tidak tahan terhadap minuman bersoda. Sekali lagi aku minta maaf!"
Mika menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa-apa kok, tapi kan nanti mubazir kalo tidak di minum."
"Biar aku saja yang meminumnya!" sahutku lalu meminum soda milik Mika tadi.
Wajah Mika memerah padahal kami duduk di bawah payung, sepertinya dia sedikit kepanasan.
...
Setelah kami selesai menghabiskan makanan tadi dan beristirahat sebentar, kami berdua memutuskan untuk bersenang-senang sebentar lagi dengan menaiki wahana yang ada.
"Wah tinggi sekali! Apa kau tidak takut, Mika?" tanyaku sambil melihat kearah bawah.
"T-tentu saja tidak hehe!" tepisnya padahal kakinya sedikit gemetaran.
Aku menarik tangannya yang lembut. "Ayo kita lakukan bersama-sama!"
Setelah menaiki wahana itu rupanya aku yang malah lemas dan dia menertawakanku dengan riang pada saat kami sudah di bawah.
"Haha kau lemas, Muzzy?!"
"T-tidak aku hanya terkejut, aku belum pernah naik perosotan sebelumnya,"
"Haha kau manis sekali Muzzy!"
Entah kenapa aku yang saat itu malu-malu karena di tertawakan olehnya padahal tadi aku yang berani menaiki wahana itu.
"A-aku ke kamar kecil dulu, tunggu di disini ya!" ucapku sambil keluar dari kolam.
※※※
Setelah dari kamar kecil, aku segera menuju dimana Mika berada tetapi dari kejauhan aku melihat Mika sepertinya sedang di ganggu oleh tiga orang remaja.
"Ayo lah ikut dengan kami manis!" rayu remaja berkepala botak.
"Iya, cantik! Ikutlah dengan kami bertiga!" ucap remaja berambut pirang.
Aku langsung berlari kearah Mika lalu menarik tangan Mika dan langsung mendekapnya. Aku juga menepis tangan salah satu remaja yang mencoba menyentuh tubuh mulus Mika.
"Menjauh! Jangan sentuh!" ucapku sambil menepis tangan remaja berambut coklat lalu mendekap tubuh Mika.
"Siapa kau?! Menganggu saja!" ucap remaja berambut coklat yang terlihat kesal.
"Kau tidak apa-apa Mika?" kataku sambil memperhatikan Mika yang gemetaran.
Melihat Mika yang gemetaran karena ketakutan, aku menatap ketiga remaja tadi dengan tatapan yang aku pelajari dari Artizy dan ya mereka langsung ketakutan setengah mati ketika melihatku menetap mereka.
"M-maaf Mika, seharusnya aku tidak meninggalkan mu tadi. Sekali lagi aku minta maaf,"
Mika menggeleng perlahan lalu tersenyum kearahku. "Tidak apa-apa tapi bisa lepas pelukannya aku sedikit malu hehe."
Mendengar hal itu aku lantas melepas pelukanku dan tersenyum lebar kearahnya.
"Lagi-lagi kau berhasil menyelematkanku, Muzzy!"
"Hehe i-iya, aku kan sekarang jadi bodyguard mu Mika berarti itu sudah menjadi tugasku," sahutku sambil mengaruk pipiku lalu tersenyum.
...
Kami memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore. Saat kami tengah berada di bus, ayah Mika hampir tiap menit memberi pesan ataupun menelpon Mika. Tidak kusangka rupanya ayah Mika begitu mencintai anaknya walaupun beliau begitu keras terhadapnya.
Aku berkata kepadanya akan mengantarkannya sampai kedepan rumahnya atau bisa dibilang sampai di depan kuil kucing.
...
Akhirnya kami berdua sudah tibadi depan kuil kucing atau bisa dibilang ini rumah Mika juga sih setelah menaiki bus. Ayah Mika menunggu di depan gerbang sambil berdecak pinggang dan tatapannya sungguh mengerikan.
Mika langsung masuk ke dalam sambil melambaikan tangannya kearahku.
"Jadi, kalian berdua melakukan apa saja hari ini!?" tanya ayah Mika sambil menatap tajam kearahku.
"K-kami hanya berenang dan bersenang-senang lalu makan siang di sana paman," sahutku dengan senyum pasrah.
Jika aku mengatakan Mika tadi di ganggu oleh orang lain, mungkin aku akan kena RKO atau Choke Slam beliau.
"Hmm, Nak Muzzy. Jangan kecewakan kepercayaanku!" ucap ayah Mika.
"I-iya paman, kalo begitu saya pamit. Selamat sore paman!"
Ayah Mika tersenyum. "Hmm."
...
Di perjalanan pulang menuju rumah, aku jadi teringat ayah yang dulu sering menunggu aku dan kakakku ketika habis pulang dari latihan bersama di pinggir hutan.
Aku terkadang iri melihat orang lain yang keluarganya masih lengkap, ada ayah dan ibu. Tertawa bersama saat makan, ataupun saat hari-hari santai melakukan hal yang menyenangkan bersama.
Saat tepat di depan pintu rumah, handphoneku berdering menandakan ada email masuk.
You get mail!
Saat ku cek, rupanya email dari Mika. Dia mengucapkan terima kasih sudah menyelamatkannya tadi dan juga berterima kasih untuk hari ini yang menyenangkan.
Aku membalas emailnya dan berkata bahwa akulah yang harus berterima kasih karena sudah di ajari berenang dan juga aku meminta maaf atas insiden tadi.
Belum semenit aku mengirim balasan, Mika langsung membalas emailku.
"Nanti temani aku ke pantai ya saat liburan semester nanti, kita ajak teman-teman yang lain seperti akan sangat menyenangkan jika di lakukan bersama-sama!" Isi email yang Mika kirim.
"Baiklah nanti kita ajak mereka, tapi sebaiknya kamu harus minta izin dulu sama orangtua mu, sekali lagi terima kasih untuk hari ini. Selamat sore Mika!" balasku.
Ketika di dalam rumah, keadaan rumah kosong tidak ada kakakku. Mungkin dia sedang ada pekerjaan mendadak itulah pikirku.
Tertempel di pintu kulkas sebuah catatan memo yang tertulis bahwa kakakku sedang ada kerjaan mendadak, ada investigasi mengenai aktivitas aneh yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat di perbatasan distrik dengan kawasan monster.
Kakakku juga berpesan untuk makan malam pesan saja makanan lewat aplikasi Wo-food dan ambil uangnya di dekat tv.
"Hati-hati Kakak!" gumamku berharap kakakku baik-baik saja.
Aku naik ke lantai 2 dan berjalan menuju kamarku, rupanya Nala sedang tidur di ranjangku, biasanya dia tidur di samping kulkas atau di sofa ruang tv.
Kepalaku kembali bertanya-tanya, ada apa yang sedang terjadi saat ini. Banyak isu-isu berterbangan, ada yang berkata bahwa monster itu di pimpin oleh sosok manusia dan ada juga yang berkata bahwa ada sesosok iblis yang menjadi raja mereka yang saat ini sedang mencari suatu benda yang ada di dunia manusia.
Sambil mengelus bulu Nala yang tengah terlelap, aku merasa ada yang janggal dengan semua ini, satu pertanyaanku yang paling menonjol adalah apa tujuan mereka di dunia ini, apa mereka di sisi baik atau kami yang manusia lah memang di sisi jahat karena keegoisan kami semua.
-Tbc-