
"Baiklah rekan-rekan Warrior sekalian, kita sudah melewati bulan pertama pelatihan dengan sangat bagus dan lancar. Aku merasa sangat bangga kepada kalian karena kalian semua berhasil meningkatkan statistik fisik kalian!" ujar Kapten Edward tersenyum bangga kepada kami semua.
Sudah 1 bulan sejak kami memasuki pusat pelatihan, tidak terasa kami sudah memasuki bulan ke 2 yaitu bulan pemusatan kemampuan Warrior.
Aku mencek daftar statistikku yang hanya meningkat pada table straight menjadi D. Aku hanya bisa terdiam sambil meratapi daftar kekuatan fisik Warriorku.
"Hasilnya mengecewakan ya, Muzzy?" tanya Mika dengan ekspresi cemberut.
Aku menghela napas. "Iya nih, perkembangan fisikku tidak signifikan. Hanya meningkat pada table Straight"
Mr. Jack mendekat kepadaku dan mencoba menghibur anak muridnya yang satu ini. "Sudahlah Nak Muzzy, jangan jadikan sebuah angka atau kertas menjadi penghalang untuk mu menjadi seorang Warrior yang hebat. Yang kau perlukan saat ini adalah kepercayaan diri dan semangat untuk berjuang!"
"Apa yang diucapkan Mr. Jack itu benar Muzzy! Statistikku juga rendah kok Muzzy tetapi itu bukan alasan aku harus berhenti berjuang untuk menjadi lebih baik lagi!" sahut Mika agar aku kembali bersemangat.
Kalau di pikir-pikir apa yang di ucapkan Mika ada betulnya juga, dia juga memiliki rata-rata kekuatan fisik Warrior rata-rata D tetapi dia tetap bersemangat dan pantang menyerah. Seharusnya aku malu kepada diriku.
Aku tersenyum kepada Mika dan Mr. Jack. "Terima kasih Mika, Mr. Jack. Aku akan berjuang lebih keras lagi!"
"Hehe itu baru Muzzy yang aku kenal!" kata Mika sambil menyatukan kedua tangannya lalu tersenyum manis.
Mr. Jack menepuk-nepuk pundakku sambil mengacungkan jempolnya kearahku.
"Aku boleh menanyakan satu hal, Mika?" tanyaku kepadanya.
"Hmm silahkan Muzzy!" sahutnya lalu tersenyum.
"Alasanmu untuk terus berjuang seperti ini, apa karena anak laki-laki yang dulu pernah kau ceritakan?"
Mika menutup kedua matanya lalu memandang langit biru pagi yang cerah. "Hehe iya, dia adalah alasanku untuk terus berjuang dan entah mengapa dia mirip sekali denganmu, Muzzy!"
Aku terkejut bukan main, di benakku apa dia orang yang dulu pernah aku temui saat malam festival itu.
Belum sempat aku berkata apa-apa.
"Muzzy! Mika! Ayo cepat ke sini!"
"Tunggu Karin! Ayo Muzzy kita kesana!" ajak Mika sambil menarik tanganku.
Aku merasakan lembutnya tangan Mika, persis seperti anak perempuan itu.
...
"Oy kawan, kenapa kau dari tadi hanya diam saja!" tanya Artizy yang kebingungan melihatku hanya diam tanpa berbicara sepatah katapun sejak dari tadi.
"Iya nih, Kau kenapa Comrade? Apa lagi-lagi Ryuu mengganggu mu?" sahut Reznov terlihat cemas.
"A ... maaf! Aku hanya merasa kurang enak badan," elakku agar mereka tidak bertanya lagi.
"Sebaiknya kau istirahat saja dulu, Muzzy!" pinta Artizy.
Aku mengangguk dan beristirahat di bawah pohon di dekat taman. Kepalaku terasa panas karena memikirkan hal itu, ini pertama kalinya aku merasakan kegelisahan seperti ini.
Aku mencoba memejamkan kedua mataku dan merasakan hembusan angin sejuk yang sewaktu-waktu menerbangkan rambutku.
"Muzzy! Aku dengar dari Artizy kau kurang enak badan," ujar Mika khawatir kepadaku.
"Hanya sedikit pusing, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku!" sahutku tersenyum kecil kepada Mika dan Karin.
"Sebaiknya kau istirahat di kamar saja Muzzy!" perintah Karin.
"Apa tidak apa-apa aku kembali ke kamar?"
"Tentu saja tidak apa-apa! Mika tolong antarkan Muzzy kembali ke kamarnya," pinta Karin.
Dalam perjalanan menuju kamar, Mika memandangku dengan tatapan amat khawatir karena mukaku berubah menjadi pucat.
"Apa kau baik-baik saja, Muzzy? Wajahmu pucat sekali!"
"I-iya aku tidak apa-apa, setelah aku istirahat aku pasti akan pulih kembali!" kataku tersenyum kepadanya.
Sesampai di dalam kamar, Mika mengeluarkan senjata Warrior miliknya.
"[Healing Ward]," Mika merapalkan skill miliknya.
Mika mengeluarkan sebuah pelita kecil yang mengeluarkan aura penyembuh dan penenang.
Aku yang terbaring lemas dikasur langsung merasakan efek dari skill milik Mika yang begitu kuat menembus hatiku.
"Terimakasih Mika! Maaf merepotkanmu," ucapku kepada Mika.
"Hehe sama-sama, sekarang kau bisa beristirahat!" sahutnya tersenyum kepadaku.
Mungkin saatnya untuk bercerita tentang anak perempuan itu, batinku di dalam hati.
"Mika! Dulu aku pernah menyelamatkan seorang anak perempuan saat usiaku 7 tahun dan -"
Belum selesai aku berkata bel berbunyi nyaring sekali, menandakan istirahat pertama.
"Ah maaf Muzzy, aku harus ke kantin soalnya hari ini aku ada piket disana! Nanti jika ada waktu seperti ini lagi kita bisa cerita-cerita oke!" ucap Mika beranjak dari kamar.
Sial sekali padahal sedikit lagi, aku cuman ingin bertanya apakah anak perempuan itu adalah salah satu anggota Clan milik Mika.
Dari pada kepalaku semakin panas karena terlalu banyak berpikir, aku memutuskan untuk tidur saja dan memasang alarm untuk bangun di sore hari.
※※※
Makan malam pun tiba, kondisiku jauh lebih baik sekarang karena tadi aku tidur sangat pulas seperti bayi.
"Bagaimana kondisimu, Muzzy?" tanya Artizy sambil menyantap makan malamnya.
"Sudah jauh lebih baik, tumben kau perhatian seperti ini?!" sahutku.
"Muzzy jika kau tau, tadi di lapangan dia terlihat seperti tidak bersemangat dan terus saja bertanya kepada Mika dan Karin tentang kondisimu," ucap Robin tersenyum.
Artizy memalingkan wajahnya lalu kami bertiga tertawa bersama-sama.
"Haha ... terimakasih sudah mengkhawatirkanku sobat!" ujarku sambil menepuk pundak Artizy.
...
Setelah makan malam, aku mendapat piket untuk membersihkan kantin bersama Karin dan Reznov.
"Muzzy!" Karin memanggilku sambil mempel lantai.
"Ada apa ketua?" sahutku berhenti membersihkan meja makan.
Reznov pun ikut berhenti membersihkan meja, karena ekspresi Karin yang terlihat begitu serius. Seperti ada sebuah masalah yang sedang dia pikirkan.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanya darimu, oh iya! Reznov kau juga jawab jika kau mengetahui sesuatu!"
"Okay! Tapi apa pertanyaannya Ketua Karin?" tanya Reznov kebingungan.
Oh iya setelah memasuki hari ke 3 di pusat pelatihan ini, kami memutuskan untuk memanggil Karin dengan sebutan Ketua Karin karena dia memang ketua kelas kami.
"Tapi rahasiakan ini, ini pertanyaan sangat serius dan jika diketahui oleh orang lain maka kalian akan ku gantung di tiang bendera selama seharian penuh!"
Aku dan Reznov saling menatap satu sama lain lalu mengangguk cepat kearah Karin.
"Berjanjilah kalian berdua!" ujarnya sambil mengepal kedua tangannya sampai berbunyi.
"I-iya kami berjanji!" ucap kami kompak.
Karin tersenyum. "Bagus, pertanyaannya adalah -"
Karin sengaja berhenti berbicara dan membuat kami benar-benar penasaran, sampai-sampai Reznov bercucuran keringat dan aku selalu saja menelan ludahku sendiri karena tekanan yang dilakukan Karin.
"A-apa A-Artizy itu p-punya seorang p-p-pacar?!" lanjut Karin malu-malu seperti layaknya seorang tsundere.
Aku sangat terkejut dan hanya bisa terdiam seperti terkena stun, sedangkan Reznov menjatuhkan kain lapnya ke lantai karena terkejut.
"HAH!?" ucap kami berdua dengan kompak.
"Ayo jawab, dia punya p-pacar atau belum!" ucap Karin mendekat kearah kami berdua.
Reznov mendorong-dorong tubuhku dengan bahunya lalu membisikkan sesuatu ketelingaku. "Kita harus jawab apa, ini antara hidup dan mati! I don't want to die in here Comrade!"
"Aku juga bingung Reznov!" bisikku kepada Reznov.
"Kalian ini apasih bisik-bisik!" protes Karin.
Tubuhku tiba-tiba saja seperti tersengat listrik, jika kami menjawab dia sudah mempunyai pacar sudah bisa diprediksi kami akan kena batunya dan jika menjawab dia belum punya pacar yang ada masalah makin rumit.
"Ketua Karin, jika di lihat dari kelakuan anak itu sepertinya tidak ada yang menyukai Artizy jadi bisa di simpulkan anak itu Jones atau Jomblo Ngenes, betul bukan Comrade Muzzy!"
"Betul kata Reznov, anak itu saja kelakuannya bisa membuat perempuan jadi ilfeel ... kemungkinan dia seperti yang di bilang Reznov tadi,"
Maafkan aku Reznov kita akan mati disini, batinku di dalam hati.
Oh Neptunus, Comrade Muzzy maafkan aku kita sudah masuk terlalu dalam, batin Reznov di dalam hati.
Kami berdua tersenyum lebar berharap jawaban kami memuaskan Karin.
"Hmm jangan menghinanya seperti itu ... kalian tau sebenarnya aku itu -"
Ya tuhan kenapa harus di potong-potong seperti ini sih, batinku dalam hati.
Aku memandang Reznov lalu memberikan kode bahwa kita sudah tamat.
"Menyukainya, walaupun dia bodoh, ceroboh, dan terkesan aneh tetapi entah kenapa aku menyukainya!" lanjut Karin.
Aku dan Reznov saling memandang dengan mulut terbuka, yang benar saja Karin menyukai Si Kunyuk Artizy. Dia memang memiliki wajah yang tampan dan tubuhnya juga sangat atletis.
"This is turn into a difficult situation," ucap Reznov.
"Hehe kalian berdua tolong bantu aku ya untuk lebih dekat dengannya, dan juga tolong jangan katakan kepadanya dan juga yang lain bahwa aku menyukainya. Kalian tadi sudah janji bukan!"
"Ah tentu kami akan membantumu ketua Karin, tetapi sebaiknya kita selesaikan dulu pekerjaan kita yang satu ini, betul kan Reznov!" ucapku tersenyum palsu karena jika kami berdua menolak yang ada menambah kekacauan.
"B-betul yang dikatakan Comrade Muzzy, sebaiknya kita selesaikan ini agar cepat istirahat!" sahut Reznov lalu mengambil kain lapnya yang jatuh tadi.
"Hehe tolong bantuannya ya teman-teman!" kata Karin sambil tersenyum riang.
Aku memandang Reznov lalu mengangguk kearahnya, mengisyaratkan bahwa kami masih selamat dan tidak jadi mati.
...
Setelah semua telah bersih kami pun segera ke kamar masing-masing, Karin memberi pesan kepada kami bahwa dia juga akan membantu aku dan Reznov nanti. Dia ingin membantuku supaya dekat dengan Mika dan Reznov dekat dengan Crystalesia.
Di koridor menuju kamar, aku dan Reznov sedikit berbincang mengenai hal tadi.
"Syukurlah kita selamat Comrade Muzzy, tadi itu sungguh menegangkan," ujar Reznov sambil mengelus-elus dadanya.
"Haha iya, aku tidak menyangka bahwa Karin menyukai Artizy. Ku kira dia membencinya karena si Kunyuk itu sering berbuat masalah,"
"Haha itulah the power of love, Comrade Muzzy. Jika sudah menyukai seseorang, hal-hal konyolnya pun bisa menjadikan orang itu semakin mencintainya,"
"Haha kau benar juga, ayo kita lakukan yang terbaik Reznov! Aku tidak ingin di gantung oleh ketua Karin,"
"To right Mate," sahut sambil merangkulku.
-Tbc-
Pojok Fyi
● Seorang Warrior bisa saja tanpa melakukan Summoning untuk mengeluarkan senjatanya tetapi dengan syarat yaitu dia harus sangat akrab dengan Warrior miliknya atau memiliki ikatan yang kuat antara Warrior dengan si pengguna Warrior tersebut.