My Wife My Maid

My Wife My Maid
Pesta



Pagi hari


Danial bangun dari tidurnya, dia melihat ada selimut yang menyelimuti badannya, padahal tadi malam dia tidak memakai selimut.


'Ternyata masih punya hari nurani juga gadis itu.' batin Danial.


Cassandra keluar dari kamar, dia berniat ingin membuat sarapan, namun itu di cegah oleh Danial.


"Hei, apakah kamu yang memberikan aku ini." (sambil menunjuk selimut)


"Ah ya."


"Terima-"


"Sebenarnya aku sedang mengeringkannya di sofa, tapi aku lupa kalau ada kamu."


"Mengeringkannya?"


"Ya, tadi malam Dhefin pipis di selimut, lalu aku menjemurnya di sofa, aku lupa jika kamu tidur di sana."


"Apa kamu bilang, jadi ini.... iuh."


"Kenapa?, kamu jijik?, itukan pipis anakmu sendiri bukan pipisku, ngapain kamu jijik. Ya sudah aku mau masak dulu, bajumu ad di kamar mandi, sudah aku siapkan."


"Hei dasar, CASSANDRA." ucap Danial marah.


'Hahaha, rasain kamu, suruh sapa kamu ngerjain aku kemarin ya sudah aku kerjain balik. Lagian kamu tu bodoh apa-apa sih, masak iya anakmu Segede itu bisa pipis di selimut, dasar bapak tidak sayang anak.' batin Cassandra.


Sebenarnya selimut yang dipakai oleh Danial itu adalah selimut Cassandra, dia memberikannya bukan karena itu terkena pipis Dhefin, tapi karena Cassandra merasa kasian melihatnya kedinginan tadi malam, dan Cassandra tidak mau mengakuinya.


Mereka sarapan dengan tenang, meskipun Danial masih kesal dengan perlakuan Cassandra tadi padanya, tapi dia terlalu lapar untuk berdebat jadinya dia memutuskan untuk diam.


"Cassandra, nanti bawakan aku makan siang."


"Oke."


'Hah, aku tidak salah dengar?, kenapa dia mau, apakah dia tidak curiga akan sesuatu?' batin Danial.


'Kamu mau mengerjai ku lagi kan Danial, itu tidak mempan, tunggu saja nanti, aku akan membuatmu terkesan.'


Siang hari


Cassandra pergi untuk mengantarkan makan siang Danial, namun dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dia sudah mempersiapkan segalanya.


Cassandra masuk keruangan Danial dengan tenang, tidak terjadi kekacauan sedikitpun. Dia sampai di depan ruangan Danial, Danial terkejut melihat Cassandra masuk dengan keadaan baik-baik saja.


'Bagaimana mungkin?, bukannya dia lewat di depan staf yang kemarin. Jika tidak mau lewat mana lagi.' batin Danial.


"Ada apa bapak Danial yang terhormat, apakah anda terkejut melihat kedatangan saya yang baik-baik saja?, jika itu yang ingin kamu tanyakan baiklah akan aku jelaskan."


Flashback....


Sebelum pergi ke kantor Danial, Cassandra sudah menyiapkan semuanya, dia sudah membawa kunci masuk bersamanya, sapa lagi kalau bukan Dhefin. Dan dia sudah memakai pakaian yang menurutnya paling bagus, dan dia diantar oleh Tomy, paket komplit kan.



(Pakaian Cassandra.)


"Permisi, saya ingin menemui Danial."


"Astaga gadis ini datang lagi, apakah kamu tidak tidak tau malu. Kamu pikir hanya merebah penampilanmu bisa mengubah derajat mu, sadarlah gadis kecil."


"Apa yang kamu katakan, apakah kamu menghina ibuku?, aku akan melaporkanmu pada ayah. Tomy, pecat wanita ini."


"Baik tuan muda."


"Tuan muda, mohon maafkan kami, kami tidak tau jika dia ibu anda."


"Tunggu apalagi, cepat minta maaf padanya."


"Nona.... kami minta maaf, kami sudah salah menilai anda."


"Aku memaafkanmu, tapi lain kali jika kalian salah menilaiku lagi, resikonya lebih parah dari ini."


"Baik-baiklah nona, saya tidak akan salah menilai anda lagi."


"Ayo Dhefin kita temui ayahmu."


End...


"Bagaimana dengan ceritaku, bagus bukan. Asalkan kamu tau, aku bukan gadis yang bisa kamu tindas seenaknya, aku ini manusia, aku punya hak untuk dihargai, jadi mengertilah akan hal itu."


'Ternyata dia cukup pintar, pantas saja dia mau aku suruh pergi ke sini.'


"Baiklah ini makan siang mu, oh ya, aku akan kembali bekerja denganmu, tapi aku punya sarat."


"Apa itu."


"Syaratnya sangat mudah, kamu hanya perlu membayar ku lebih besar."


"Kenapa begitu."


"Alasannya itu karena kamu menindasku, jadi jika kamu mau mengerjai ku lagi, gajiku akan naik seperempat gaji utamaku, bagaimana?"


"Tidak."


"Ayah."


"Apa?, dia ingin mengambil uang ayah, di sini ayah yang menderita."


"Tapi uang ayah kan kelewat banyak, jadi tidak apa-apa dong Mama mengambilnya sedikit."


"Baiklah."


"yang kedua-"


"Hanya tiga, jika kurang akan aku tambah."


"Tidak-tidak, cepat katakan."


"Yang kedua itu adalah, kamu harus membelikan ku baju, bukankah kamu bilang penampilanku biasa saja."


"Oke."


"Yang ke tiga, kamu tidak boleh menggangguku ketika aku sedang di sekolah."


"Baiklah aku menyetujui semuanya, tapi kamu harus menemaniku jika ada sebuah pesta, sekarang pergi bersama Dhefin untuk membeli baju, nanti malam kita akan pergi ke pesta."


"Apa?, aku tidak mau."


"Ayolah Ma, aku ingin memamerkan ibuku pada teman-teman ku."


"Oke baiklah."


Cassandra dan Dhefin pun pergi untuk memilih baju, mereka juga di temani oleh Tomy. Danial menyuruhnya untuk menemani mereka supaya tidak terjadi apa-apa.


"Baju apa yang akan aku kenakan ya."


"Mama pakai baju apapun juga cantik."


"Itu memang betul, tapi selera ayahmu sangat aneh."


"Bagaimana jika nona mencoba baju yang anda suka terlebih dahulu, sebentar lagi tuan akan kemari."


Cassandra memilih baju yang dia sukai, dia pun mencobanya, namun Danial mengatakan tidak pada semua baju yang dipilihnya. Danial pun memilihkannya beberapa baju untuknya, dan meminta Cassandra untuk mencobanya.



(Baju pertama.)


"Terlalu menggoda."



(Baju kedua)


"Terlalu simpel."


Dan akhirnya gaun yang ketiga.


"Sangat bagus."


Mereka pun akhirnya pulang, Danial tidak hanya membelikan satu baju, tapi membelikan semua baju yang dicoba oleh Cassandra.


Pesta


"Aku tidak ikut deh." ucap Cassandra sambil berbalik ingin pergi.


"Eh mau kemana kamu, tidak boleh ada yang pergi."


"Iya Ma, tenang saja ada Dhefin kok Ma."


"Tapi kenapa kamu mengajakku, bukankah kamu punya tunangan."


"Terserah aku dong mau bawa siapa."


"Tapi apakah pantas jika aku berada di pesta ini?, aku hanya pembantu, dan kalian."


"Sangat pantas, karena Mama sekarang adalah keluarga kami, Mama sekarang adalah bagian dari kami."


"Tapi..."


"Sudah-sudah, ayo pergi, wartawan sudah menunggu kita, bersikaplah yang anggun, pegang tanganku oke."


"Iya, aku tidak akan mengecewakanmu."





Mereka masuk ke dalam pesta, banyak orang yang memperhatikan mereka, ya sapa yang tidak kenal dengan seorang Danial Bramantyo, CEO yang di kenal sangat dingin dan tidak pernah membawa pendamping bersamanya hari ini malah membawa seorang gadis. Itu menyita perhatian semua orang, mereka penasaran dengan gadis itu, sampai-sampai bisa meluluhkan hati Danial.


Plak


Semua orang kaget melihatnya.


"Apa-apaan kamu gadis kampung, kenapa kamu bisa bersama tunanganku, oh aku tau, kamu pasti menjual tubuhmu padanya kan."


"Aleena, jaga omongan mu."


"Aku memang betulkan."


"Dasar nenek lampir, kamu bilang ibuku apa, gadis kampung yang menjual tubuhnya?, dari penampilan saja semua orang juga tau siapa yang menjual tubuh, ayahku tidak pernah suka denganmu, tapi kenapa kamu selalu datang ke rumahku dan menggoda ayahku, jadi siapa sebenarnya yang murahan, ibuku atau kamu."


"Kamu-"


"Apa yang kamu lakukan, apakah kamu mau menampar anakku."


"Tidak Danial, ak... aku hanya-"


"Menyingkir lah jika tidak ingin wajahmu rusak."


"Danial, Danial....."


Hay semua, jangan lupa untuk like dan komen ya....Terimakasih, sampai jumpa lagi:)