My Wife My Maid

My Wife My Maid
Pilihan



Keesokan Paginya


Cassandra tengah berada di kantor Danial, dia tengah memberikan berkas-berkas yang di perlukan oleh Danial.


"Baik pak Danial, ini berkas-berkas yang bapak perlukan, jika tidak ada urusan saya kembali." ucap Cassandra.


"tunggu sebentar Cassandra." ucap Danial mencegah kepergian Cassandra.


"Ada apa tuan." ucap Cassandra tanpa mengubah nada bicaranya.


"Apakah gelang ini punyamu?" tanya Danial.


'Ge... gelang itu..., bagaimana bisa ada padanya.' ucap Cassandra dalam hati.


"Apakah ini punyamu?." ucap Danial memastikan.


"Yah itu punya saya, sudah lama hilang. Bagaimana tuan bisa memilikinya?." tanya Cassandra.


"Aku menemukannya waktu itu, tapi aku tidak tau siapa pemiliknya." kata Danial.


Cassandra hendak mengambil gelangnya namun Danial menahannya.


"Tapi Cassandra, entah mengapa aku merasa familiar dengan gelang ini, apakah ini benar-benar punyamu?" ucap Danial.


"Tentu saja itu punyaku, dan jika tuan Danial merasa familiar itu mungkin saja terjadi, karena gelang ini sangat murah harganya, di toko pinggir jalan pun ada." kata Cassandra menyakinkan.


"Benarkah begitu??, lalu bagaimana mungkin orang berkelas sepertimu memakai gelang murahan seperti ini?" kata Danial.


'Entahlah mengapa begitu bodohnya aku dulu menerima gelang pemberian darimu, padahal aku tau kalau gelang itu harganya tidak seberapa.' ucap Cassandra dalam hati.


"Entahlah, harga mungkin tidak penting tapi entah mengapa ada orang bodoh yang memberikan ini kepadaku seperti mengartikan bahwa diriku sama seperti gelang ini, MURAHAN." ucap Cassandra menekan kata terakhirnya.


'Tidak Cassandra, aku tidak memiliki maksud seperti itu, dulu aku terlalu di buatkan akan cintaku pada Rayna hingga aku tidak sadar akan perasaanku padamu.' batin Danial.


"Benarkah?, apakah dia mengatakan hal itu kepadamu??, aku rasa dia memiliki maksud lain, bukan seperti yang kamu fikirkan." kata Danial.


"Itu terserah ku ingin berfikiran seperti apa, lagian apa hubungannya dengan tuan Danial yang terhormat." ucap Cassandra yang langsung mengambil gelang itu dan langsung pergi.


"Cassandra tunggu...." ucap Danial mencegahnya.


Danial berusaha mengejar Cassandra, namun sayang dia di tahan oleh Tommy karena dia masih harus menghadiri rapat.


"Sial." geram Danial.


Siang harinya Danial memutuskan membelikan Cassandra buket bunga mawar dan mengatakan bahwa dia mendapatkan ingatannya kembali, dan di situ juga dia ingin sekali melamar Cassandra.


Di dalam telepon


"Ada apa tuan Danial?, apakah berkas-berkasnya ada yang salah." tanya Cassandra.


"Tidak tidak, aku hanya ingin mengundangmu untuk makan malam nanti." ucapnya.


"Maaf tuan. saya sibuk." ucap Cassandra hendak mematikan telfonnya.


"Tunggu tunggu, ada yang ingin aku omongin masalah proyek ini." ucap Danial bersikeras.


"Baiklah, silakan tuan tentukan tempat dan waktunya." ucap Cassandra lalu mematikan telepon secara sepihak.


"Huh.... syukurku aku bisa mengajaknya makan malam. kata Danial.


"Lihat saja Cassandra, aku akan mendapatkan mu, dan aku tidak akan membuatmu pergi dariku. Aku juga berjanji akan selalu membuatmu bahagia." ucap Danial.


Siang pun berganti malam, Danial sudah memesan restoran, dan dia tidak hanya memesan satu kursi saja, melainkan 1 restoran penuh. Dia menyuruh pelayanan di sana untuk mendekorasi restoran tersebut seindah mungkin. Karena restoran tersebut akan menjadi bukti cinta dan ketulusan hati Danial.


Cassandra sedang bersiap-siap untuk berangkat, dia juga telah ijin kepada Bima, dan Bima pun dengan berat hati menyetujui.


Jam telah menunjukkan pukul 8, dan Danial sudah berada di sana sejak pukul 6. Dia sudah tidak sabar menantikan kedatangan Cassandra.


"Oh sabarlah Danial, jangan gugup, dia pasti datang." ucap Danial menyakinkan hatinya.


Cassandra dan Bima telah sampai di depan restoran, tapi tiba-tiba ada telepon masuk ke hp Bima.


"Halo?, iya kenapa mah?" tanya Bima pada lawan bicaranya.


Cassandra yang hendak keluar pun jadi terhenti, dia penasaran apa yang membuat ibunya Bima menelfonnya.


"Ada apa Bima?" tanya Cassandra.


"Kakakku, kak Brayen, dia... kecelakaan." ucap Bima dengan nada gemetar.


Bima sangat dekat dengan kakaknya, karena kakaknya itu dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi seorang dokter, dan pada saat mendengar bahwa kakaknya mengalami kecelakaan itu membuatnya merasa sangat khawatir.


Cassandra maaf bila aku membuat mu bingung, tapi aku harus menanyakan ini. Apakah kamu masi ingin di sini dan bertemu dengan Danial, atau ikut aku kembali ke Prancis. Keputusan ada di tangan mu, jika kamu memilih tinggal keluarlah dari mobil ini, dan jika km ingin ikut bersamaku kamu tetap tinggal di sini." kata Bima.


'Bagaimana ini, apa yang harus aku pilih..., bukannya aku sudah tidak ada rasa lagi dengan Danial, tapi... tapi mengapa hatiku berat untuk meninggalkannya, apa yang harus aku pilih.' batin Cassandra.


Cassandra di berikan sebuah pilihan bisa bisa di katakan sangat sulit untuk dia pilih, antara pria di masa lalunya atau melanjutkan hidup yang baru dengan pria yang ada di depannya saat ini.


"Maaf Bima..."


**Hai semua, maafkan author yang lama sekali update, author juga ingin sekali melanjutkannya, tapi sayangnya author sangat sibuk dan Masi belum bisa mengatur waktu. tapi insyaallah setelah ini author akan update terus, doakan semoga author bisa mengatur waktu sebaik mungkin, supaya tidak keteteran dan lupa untuk menulis novel lagi. Dan untuk para readers yang setia menunggu author, author benar-benar mengucapkan terimakasih banyak.


Salam manis dari author untuk para readers semuašŸ˜˜ā™„ļø**