
Malam hari
"Apakah kamu sudah siap Cassandra?" tanya Bima sambil merapikan bajunya.
"Yah aku sudah siap." ucap Cassandra yang baru selesai make-up.
Bima memperhatikan Cassandra, dan betapa terkejutnya dia melihat gadis itu terlihat sangat menawan dengan baju itu, seakan-akan baju itu di ciptakan memang untuknya. Dan jangan lupa riasan tipis di wajahnya, tapi itu tidak membuatnya terkesan berlebihan, wajahnya masih terlihat natural, yah itu karena Cassandra memang tidak begitu suka riasan yang tebal.
'Cantik, sangat cantik. Betapa bodohnya Danial, dia bahkan menolak gadis se cantik dan sebaik kamu dulu, bahkan hanya untuk wanita murahan yang hanya memandang hartanya saja.' batin Bima.
"Kenapa kamu terus menatapku?, apakah aku tidak cocok dengan baju ini?" tanya Cassandra.
"Apakah kamu bercanda?, kamu sudah seperti seorang princess, yah walaupun kamu memang seperti princess, tapi kali kamu jauh-jauh lebih cantik dari pada kamu yang biasanya my princess." kata Bima.
"Mulutmu sangat manis, aku bahkan sangat terkejut, kenapa bisa orang sepertimu masih tidak memiliki pasangan, padahal mulutmu selalu bisa membuat hati setiap wanita meleleh." kata Cassandra.
'Karena yang aku cinta hanyalah kamu seorang, bagaimana mungkin aku mencari gadis lain, sedangkan di sampingku ada gadis yang begitu luar biasa, dan asalkan kamu tau, aku sudah memendam perasaan ini dari beberapa tahun yang lalu. Aku ingin mengungkapkannya, tapi aku tidak ingin kamu menjauh dariku hanya gara-gara perasaanku ini.' ucap Bima dalam hati.
"Sudahlah, ayo kita berangkat, pasti semua orang sudah menunggu kita." kata Bima.
"Oke." kata Cassandra.
Cassandra dan Bima sudah sampai di kediaman Bramantyo, mereka masuk ke dalam dan di sambut oleh Dhefin. Dhefin mengantarkan mereka ke tempat acara, di sana semua orang sudah berkumpul, tidak hanya ada keluarga Danial saja, tapi di sana juga ada keluarga Kevin dan keluarga Aleena.
"Akhirnya kamu datang juga, aku pikir kamu tidak akan datang." kata Danial.
"Tentu saja aku datang, bukankah tuan Danial sendiri yang sudah mengundangku, tidak enak rasanya jika aku menolak undangan anda." kata Bima.
"Eh bukankah kamu dokter yang pernah menyelamatkan nyawa Dhefin dulu." kata Sandra.
"Bukan saya yang menyelamatkannya, saya hanya mengobatinya, orang yang menyelamatkannya adalah Cassandra, gadis itulah yang telah menyelamatkan nyawa Dhefin." kata Bima.
'Cassandra lagi, siapa sebenarnya gadis itu, dan menyelamatkan Dhefin?, emang apa yang terjadi pada Dhefin?' ucap Danial dalam hati.
"Ah ya... kamu benar, tapi jika bukan pertolonganmu juga Dhefin pasti tidak bisa seperti sekarang." ucap Sandra.
"Nyonya terlalu memuji saya." ucap Bima.
"Oh ya, siapa yang kamu bawa?, apakah dia pacarmu?" tanya Sandra.
"Ya... dia adalah pacar saya sekaligus sekertaris saya." kata Bima.
"Siapa namamu?" tanya Sandra pada Cassandra.
"Saya Putri." ucap Cassandra.
"Ah... nama yang cantik, seperti orangnya." ucap Sandra.
"Memangnya Mama tau dari mana kalau dia cantik?, padahal dia pakai topeng." kata Danial.
"Entahlah, tapi Mama punya filing klo dia gadis yang cantik." kata Sandra. 'Dan entah mengapa aku seperti mengenalnya, dia terlihat seperti... CASSANDRA.' ucap Sandra dalam hati, dan dia pun langsung memperhatikan Cassandra dengan lekat.
'Apakah dia benar-benar Cassandra?, apakah itu benar dia?, dia sudah kembali?. Tidak tidak, dia adalah pacar dokter ini dan dia juga sekertaris nya. Dan Cassandra tidak mungkin bekerja di bidang kesehatan, dia mengambil jurusan menejemen, jadi sangat tidak mungkin jika dia bekerja di rumah sakit.' ucap Sandra dalam hati.
Yah Sandra memang tidak tau kalau Bima adalah seorang pengusahawan, yang dia tau Bima adalah seorang dokter muda yang pernah menyelamatkan nyawa cucu tersayangnya.
"Oh ya nak Putri, kamu bisa bergabung dengan calon adik ipar ku, dia masih muda sama sepertimu." ucap Sandra pada Cassandra.
"Ah baiklah." kata Cassandra dan kemudian dia pun menghampiri Emily.
"Eh hai juga, siapa namamu?" ucap Emily mengikuti akting Cassandra.
"Namaku Putri, aku datang bersama tuan Bima." kata Cassandra.
"Oh... salam kenal Putri, aku Emily." ucap Emily sambil tersenyum manis, mereka masih berakting karena ada Dewo dan Aleena di samping mereka, mereka tidak ingin rahasia tentang Cassandra terbongkar.
"Hai manis." ucap Dewo pada Emily, dan seketika itu juga Emily pun merona.
'Astaga... apakah itu Paman yang aku kenal?, bukankah dia tidak pernah berbuat seperti itu pada wanita manapun. Kamu memang wanita yang luar biasa Emy, kamu sudah berhasil mendapatkan hati pamanku.' batin Cassandra.
"Ah maaf mengganggu, aku permisi dulu." ucap Cassandra yang sadar situasi.
Cassandra pergi menghampiri Kevin yang tengah duduk sendiri di sana.
"Hai... bolehkah aku duduk?" tanya Cassandra.
"Tak perlu seperti itu, tidak ada orang lain di sini." ucap Kevin.
"Ah... aku lelah memainkan drama ini." ucap Cassandra.
"Tapi kamu sangat hebat, bahkan kamu bisa mengubah suaramu." ucap Kevin.
"Itulah yang membuatku lelah." kata Cassandra sambil mengambil minuman di sana.
"Jangan yang itu, yang ini saja." ucap Kevin pada Cassandra, dan di pun memberikan Cassandra jus. Dia tidak ingin Cassandra mabuk karena meminum wine di sana, karena dia tau bahwa Cassandra tidak pernah minum alkohol.
"Kenapa yang ini, bukankah yang itu warnanya bagus." kata Cassandra.
"Yah, tapi itu beralkohol, aku tidak ingin kamu mabuk." kata Kevin.
"Oh... lalu ini apa?" tanya Cassandra sambil mengangkat gelas yang di pegang nya.
"Itu hanya jus." kata Kevin.
"Kamu melarangku untuk minum alkohol, sedangkan kamu sendiri minum." ucap Cassandra sebal.
"Oh ayolah, aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa, alkohol tidak baik untuk kesehatanmu." kata Kevin.
"Lalu bagaimana denganmu?" kata Cassandra.
"Itu tidak penting." kata Kevin.
Yah... sudah kebiasaan Kevin seperti itu, dia melarang Cassandra untuk kebaikannya sendiri, tapi sayangnya dia sendiri tidak menjaga dirinya.
"Kamu tidak berubah yah Kev, tapi ingatlah, tubuhmu juga perlu kamu rawat." kata Cassandra.
"Aku tau batasanku, jadi kamu tidak perlu khawatir." kata Kevin.
"Yasudahlah, percuma aku menasehatimu, kamu tidak pernah mau mendengarkan aku, intinya aku sudah mengingatkan mu ya, jangan bilang nanti kamu malah memarahiku gara-gara tidak mencegahmu melakukan hal itu." kata Cassandra.
Dan tanpa mereka ketahui dari tadi ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka, dia terus memperhatikan Cassandra, seakan-akan dia tengah menyelidiki tentang gadis itu.
"Siapa kamu sebenarnya?, apakah kamu benar-benar Cassandra?." ucap orang itu.
Hai semua, maaf ya author telat update, author meminta maaf sebesar-besarnya 🙏🏻. Beberapa hari ini author tengah sibuk, jadi tidak bisa update tepat waktu, maaf ya. Dan buat kalian jangan pernah lupa untuk terus like, komen dan vote novel author ini, see you di bab selanjutnya 👋