
"Siapa kamu sebenarnya?, apakah kamu benar-benar Cassandra?." ucap ayah Danial.
Yah, sedari tadi ayah Danial tengah mencurigai Cassandra, itu karena Sandra bilang kepadanya bahwa ada seseorang yang begitu mirip dengan Cassandra, dan mau tidak mau dirinyapun terus memperhatikan gadis itu.
"Jika dia bukan Cassandra, lalu kenapa dia terlihat begitu akrab dengan Kevin, lebih baik aku mendekati mereka, supaya aku lebih jelas mendengarnya." ucap Jovan, dan dia pun menghampiri Kevin dan Cassandra, namun mereka tidak sadar bahwa ada yang tengah menguping pembicaraan mereka.
Jovan mendengarkan perkataan Cassandra dan Kevin, dia begitu terkejut ketika mendengar bahwa gadis yang di bawa oleh dokter tersebut memanglah Cassandra, dan tanpa menunggu lama dia pun menghampiri Cassandra dan langsung memanggil namanya.
"Cassandra... apakah itu benar-benar kamu sayang?" ucapnya pada Cassandra.
Cassandra yang terkejut pun hanya terpaku di tempatnya, dia tidak tau harus bagaimana lagi, dia sudah berusaha untuk menutupi identitasnya, tapi mengapa begitu mudah dia ketahuan.
"A..apa maksud anda Tuan, Cassandra?" ucap Cassandra masih berpura-pura.
"Tidak usah berpura-pura lagi Cassandra, aku sudah mendengar perkataanmu dengan Kevin." kata Jovan.
"Paman, Kevin mohon padamu untuk tidak membongkar rahasia ini pada semuanya." ucap Kevin angkat suara.
"Untuk apa?, aku sudah lama mencarinya, dan pada saat dia sudah Paman temukan apakah Paman akan diam begitu saja?" kata Jovan.
"Maaf Tuan Bramantyo, tapi saya benar-benar memohon kepada anda untuk tidak memberitahukan pada semua orang bahwa saya adalah Cassandra." ucap Cassandra dingin.
'Tuan Bramantyo?, kenapa kamu memanggilku dengan sebutan itu nak, bukankah kamu menganggap aku sebagai Papamu sendiri, tapi kenapa kata-kata mu seakan-akan membuktikan bahwa kita bukanlah keluarga. Apakah sebegitu bencinya kamu terhadap kami semua?, aku tau perbuatan kami salah, tapi aku tidak menyangka kamu akan memanggil ku dengan sebutan seperti itu.' ucap Jovan dalam hati.
"Kenapa aku harus menyembunyikannya?, Papa telah mencarimu selama ini, Papa selalu yakin suatu saat akan menemukanmu, dan sekarang apa?, kamu ingin Papa tidak mengatakannya pada siapapun?, kenapa begitu sayang?" ucap Jovan lembut pada Cassandra.
"Maaf Tuan, tapi saya memang benar-benar Putri, Cassandra yang kamu kenal sudah mati, aku bukan lagi putri mu, putrimu telah mati 3 tahun yang lalu, dan yah... tidak ada lagi gadis yang bernama Cassandra, gadis bodoh itu telah mati bersama cintanya, jadi saya harap anda dapat bekerja sama dengan saya." ucap Cassandra.
'Kamu berubah sayang, tatapanmu... kemana perginya tatapan lembut itu?, kenapa sekarang hanya ada tatapan dingin yang ada di matamu?, dan kenapa nada bicaramu bisa begitu tajam, padahal kamu dulu tidak pernah mengucapkan hal-hal yang begitu tajam, bahkan pada musuh mu sendiri pun tidak pernah, apakah selama ini hidupmu tidak begitu baik?, apa ini semua karena ulah kami?. Maafkan Papa Cassandra, Papa tidak dapat melindungimu, bahkan saat kamu kembali pun papa tidak bisa membuatmu bahagia.' ucap Jovan dalam hatinya.
"Cassandra... jangan seperti ini nak, sampai kapanpun kamu adalah putriku, entah itu kamu sebagai seorang Cassandra ataupun sebagai Putri, kamu akan tetap menjadi putriku." ucap Jovan pada Cassandra.
"Ucapan anda begitu manis, pantas saja Cassandra begitu sayang pada anda, anda telah menipunya dengan perkataan manis itu, tapi saya ingatkan sekali lagi pada anda tuan, saya Putri, dan saya tidak mengenal anda dan keluarga anda, dan ya... jika anda terus memanggil saya dengan sebutan Cassandra, itu terserah anda, tapi intinya gadis bodoh yang kau sebut sebagai putrimu itu sudah tidak ada lagi, dan aku harap anda dan keluarga anda tidak akan mengganggu hidupku. Aku bukanlah Cassandra yang dengan bodohnya percaya akan perkataan manis kalian, jadi jangan pernah anda mengungkit hal yang lalu, karena itu tidak ada gunanya." ucap Cassandra dan kemudian dia pun melangkah pergi.
Cassandra pergi dari rumah Danial, tapi pada saat dia sudah berada di taman, dia berpapasan dengan Danial.
"Eh... kenapa kamu pergi?, acaranya masih belum selesai." kata Danial.
"Maaf Tuan Danial, tapi saya memiliki sedikit masalah di luar." kata Cassandra.
'Kenapa dari dulu selalu perkataan seperti ini yang selalu aku dengar... yang aku dengar hanyalah perkataan kamu tidak ingin aku pergi, bukannya untuk putramu, tapi untuk dirimu sendiri, tapi aku sadar, walau sampai kapanpun aku dan kamu tidak akan pernah bersatu, meskipun sekarang sudah tidak ada lagi Rayna, cinta pertamamu, karena kenyataannya adalah... hatimu tidak akan pernah menjadi milikku.' ucap Cassandra dalam hati.
"Maafkan saya Tuan, tapi saya benar-benar tidak bisa." ucap Cassandra dan dia pun berlalu pergi.
Dengan cepat Danial memegang tangan Cassandra, dia menahan gadis itu.
"Tunggulah sebentar lagi, aku mohon padamu." kata Danial.
'Untuk apa aku di sini, bukanlah kamu sangat setuju saat aku pergi.' batin Cassandra.
"Maaf tuan, tapi saya benar-benar tidak bisa menunggu lagi." kata Cassandra.
"Tunggulah dia sebentar, dia ada di kamarnya, temuilah dia dulu sebelum kamu pulang, aku akan memberikan kamu bayaran atas waktu yang kamu luangkan untuknya." ucap Danial, dan tanpa Danial sadari perkataannya itu justru menyakiti hati Cassandra.
'Kenapa selalu seperti ini, apakah kamu menganggapku sebagai perempuan yang gila akan uang?, kamu benar-benar membuatku kecewa Danial. Bahkan setelah apa yang kamu lakukan padaku tempo hari, kamu masih bisa menghinaku dengan cara yang seperti ini, tega kamu Danial.' batin Cassandra.
"Maaf, tapi aku bukan wanita yang gila akan uang." ucap Cassandra kemudian dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Danial.
Setelah berhasil melepaskan diri dari Danial, Cassandra pun berlari ke depan gerbang rumah keluarga Danial, dan dia pun mencari taksi di sana.
Danial bingung dengan perlakuan Cassandra tadi, memangnya apa salahnya, jika gadis itu benar-benar tidak ingin uang kenapa dia marah. Tapi bukankah semua orang pasti menginginkan hal itu?, sungguh gadis yang aneh, ungkap Danial. Danial berniat ke dalam tapi tak sengaja kakinya menginjak sesuatu, Danial membungkuk untuk mengambil benda itu.
"Gelang?, gelang siapa ini?" ucap Danial, kemudian ingatan tentang gelang tersebut muncul di kepalanya.
"Siapa sebenarnya pemilik gelang ini?, apakah gadis itu pemiliknya?, tapi mengapa gelang ini mengingatkan aku akan seseorang?, tapi siapa dia?, kenapa aku tidak bisa melihat wajahnya." ucap Danial sambil memegang kepalanya.
Danial terus merasakan pusing di kepalanya, dan dia pun memutuskan beristirahat di kamarnya, dia juga membawa gelang itu bersamanya, mungkin dia akan menanyakan benda itu pada Mamanya besok.
Disisi lain Cassandra tengah menunggu taksi di sana, dan pada saat dia berada di dalam taksi tak sengaja dia menyentuh pergelangan tangannya, tangan yang tadi di genggam erat oleh Danial.
"Sama seperti dulu, kamu tidak berubah, yang kamu bisa hanyalah menyakitiku." ucap Cassandra melihat pergelangan tangannya yang berwarna merah karena ulah Danial.
"Tunggu, sepertinya ada yang hilang, tapi apa?." ucap Cassandra yang lupa akan gelangnya. " Sudahlah, mungkin itu hal yang tidak penting." ucap Cassandra, padahal benda itu sangat penting untuknya, bagaimana tidak penting, itu benda pertama yang Danial berikan untuknya, memang tidak begitu mewah tapi dia bisa melihat kehangatan dan keseriusan Danial ketika dia memberikan itu padanya, dan dia terus memakainya karena benda itu sangat berarti untuknya, meskipun orang yang memberinya selalu saja menyakitinya.
Hai semua, jangan lupa untuk like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya, dan jangan lupa untuk terus menjaga kesehatan kalian, see you again 👋