
Cassandra sedang mempersiapkan keperluannya, dia mengajak Danial untuk pergi ke toko perhiasan dan butik untuk membeli keperluan pernikahan.
"Ayolah Danial, kita sudah telat nih, masih banyak yang harus kita beli, cepatlah sedikit."
"Iya-iya, sabar dong, ini juga bentar lagi sudah selesai."
"Kamu tu siap-siap apa ngapain sih, jangan bilang kamu tidur ya, lama banget, aku aja yang cewek lebih cepet dari pada kamu."
"Gak usah bawel deh, pusing aku dengerin kamu ngoceh terus."
"Makanya buruan."
Ceklek
"Sudahkan, ayo berangkat."
Mereka pergi untuk memilih cincin terlebih dahulu, Cassandra bingung dengan semua cincin yang ada, banyak sekali cincin yang bagus di toko itu, keberadaan Danial sama sekali tidak membantunya, dia hanya bilang 'Iya' pada apapun yang ditanyakan Cassandra padanya.
"Bisakah kamu membantuku memilihnya?"
"Aku sudah membantumu."
"Membantu apanya, dari tadi kamu selalu bilang iya, kan jadi bingung akunya."
"Suruh sapa kamu nanyak ke aku, sudah tau aku tidak mengerti perhiasan, harusnya kamu yang perempuan lebih tau."
"Bukankah kamu tau, aku bukan wanita sosialita yang kerjanya megang perhiasan aku hanya gadis biasa yang hanya bisa megang sapu, bagaimana bisa aku memilih perhiasan."
"Lalu bagaimana, aku juga tidak tau."
"Baiklah aku akan memilih tiga cincin yang menurutku paling bagus, nanti kamu tinggal memilih salah satu di antara mereka, aku harap kamu tidak kecewa dengan pilihanku."
"Ya terserah mau mu, aku ngikut aja."
Cassandra memilih tiga cincin yang menurutnya bagus, ketiga cincin itu ada yang mahal dan juga ada yang murah, Cassandra tidak melihat dari harga, tapi dari modelnya, karena baginya harga tidak begitu penting untuk Danial, jadi dia tidak usah memikirkan itu. Karena jika dia memikirkannya itu justru semakin membuatnya bingung.
"Tuh, pilih salah satu dari mereka yang menurutmu paling bagus, jika tidak ada kamu saja yang pilih."
"Aku lebih suka yang nomer dua, Bagaimana denganmu."
"Aku juga begitu."
"Baiklah kita ambil yang itu saja, sekarang kita kemana lagi?" tanya Danial.
"Tentu saja beli gaun."
"Ayo cepat pergi, keburu telat ini."
"Kita telat juga karena sapa, karena dirimu sendiri Pak Danial Bramantyo."
"Apakah kamu menyindirku?"
"Tidak, aku hanya memberitahumu."
"Sudahlah, ayo cepat."
Sampai di tempat selanjutnya, Cassandra sedang sibuk memilih gaun yang akan dia pakai nanti, dia tidak ingin gaun yang mewah, dia hanya ingin gaun yang sederhana dan yang penting nyaman.
Pada saat Cassandra sedang memilih baju, Danial mendapat telepon dari kantor, dia sedang menerima telepon sehingga dia meninggalkan Cassandra sendiri memilih baju.
"Kamu pilih saja dulu, aku mau angkat telepon terlebih dahulu, kalau sudah nanti coba saja, akan aku lihat kok."
'Yah gini deh nasibnya, kenapa aku mau sih nikah kontrak dengannya, jadinya ditinggalkan, ya sudah aku pilih sendiri saja, nanti aku coba tanya pendapatnya.' batin Cassandra.
Cassandra memilih beberapa baju yang direkomendasikan oleh pelayan di sana, dia sangat kagum melihat gaun itu, dia berniat mencobanya, selesai mencoba Cassandra memanggil Danial.
"Bagaimana dengan ini, apakah cocok denganku?"
'Astaga, gaun apa itu, itu memang cocok dengannya, tapi itu memperlihatkan belahan dadanya, tapi sepertinya dia sangat menyukainya, sudahlah turuti saja kemauannya.' batin Danial.
"Ya, itu sangat cocok untukmu, kamu terlihat cantik memakainya."
"Benarkah itu?"
"Tentu saja."
"Kita ambil yang ini ya."
"Sesuai keinginanmu."
Cassandra dan Danial kembali ke rumah, mereka merasa capek seharian memilih pakaian dan cincin pernikahan, mereka memutuskan untuk beristirahat karena besok adalah hari pernikahan.
.
.
.
.
.
Cassandra sudah siap dengan gaun yang iya pilih kemarin, dia terlihat bak seorang putri, sangat cantik. Di ruang sebelah ada Danial yang sedang mempersiapkan dirinya, dia terlihat gagah menggunakan jas, yah memang jas adalah baju sehari-harinya.
Danial pergi ke tempat akad nikah terlebih dahulu, kemudian Cassandra datang, Danial terkejut melihat Cassandra.
'Kenapa dia terlihat sangat cantik.' batin Danial.
Akad nikah pun dimulai, dan akhirnya Cassandra resmi menjadi milik Danial. Mereka berdua pergi ke gedung resepsi untuk menyambut para tamu, di sana juga hadir keluarga Danial, teman bisnisnya, dan disana juga ada Aleena, dia juga turut menghadiri pesta itu, dia sangat benci melihatnya, namun demi nama baiknya, dia harus menghadirinya.
"Ayah, kenapa bukan aku yang menjadi nyonya Bramantyo, kenapa malah pembantu itu, ini tidak adil Ayah." ucap Aleena.
"Sudahlah, kita tidak bisa melakukan apapun, lagian kamu sendiri, kenapa kamu tidak bisa merebut hati anak itu."
"Bukan salahku, bocah itu sangat nakal, aku tidak tahan dengan kelakuannya."
"Sudahlah, kita lihat saja nanti, ayah membuatkan hadiah terbaik untuk mereka kamu lihat saja nanti."
"Apa yang Ayah rencanakan?, sepertinya pesta ini akan menjadi menarik."
Acara itu berlangsung dengan meriah, para tamu juga memberikan hadiah dan ucapan selamat kepada mempelai itu, Dhefin sangat senang melihat Ayah dan Mamanya menikah, karena itulah yang dia inginkan, hingga sesuatu terjadi.
"Danial, kenapa kamu menikah dengan wanita ini, apakah kamu tidak lagi mencintaiku?"
Danial dan semua orang di sana terkejut melihat wanita itu, mereka saling berbisik, Cassandra yang tidak tau tentang wanita itupun bertanya pada Danial.
'Kenapa semua orang terdiam, apakah ada sesuatu dengan wanita itu?, tapi apa?' batin Cassandra.
"Danial, bisakah kamu memberi tahuku siapa wanita itu?"
"Rayna, dia Rayna Mavisha." ucap Danial " Dia mantan kekasihku, dan juga..... ibu kandung Dhefin." lanjutnya.
Hai, Bagaimana ceritanya, apakah makin seru?, jangan lupa untuk like, komen dan vote ya. Salam hangat dari author untuk pembaca sekalian. See you 👋