
"Danial, bisakah kamu memberi tahuku siapa wanita itu?"
"Rayna, dia Rayna Mavisha." ucap Danial " Dia mantan kekasihku, dan juga..... ibu kandung Dhefin." lanjutnya.
'Apa maksud Danial, jadi dia ibunya Dhefin?, apa yang akan terjadi, apakah aku akan bercerai di hari pernikahanku?.' batin Cassandra.
"Kenapa kamu diam saja Danial, apakah kamu tidak mencintaiku lagi?, apakah aku sudah tidak ada di hatimu?" ucap Rayna.
"Diam kau gadis brengsek, kenapa kamu kembali ke sini, bukankah kamu sendiri yang pergi dan meninggalkan Dhefin dan Danial, Apakah kamu ingin bersama dengan mereka?, jangan harap, Danial sudah menikah dan dia tidak akan pernah memilihmu lagi." ucap Jovan, Ayah Danial.
"Sudah Ayah, jangan hiraukan keberadaannya, kita lanjutkan saja pestanya."
"Kenapa kamu jadi begitu dingin Danial, ini bukan Danial ku."
"Dasar tidak tau diri, apa kamu masih menanyakan keberadaan Danial mu, Danial yang kamu kenal sudah mati ketika kamu pergi meninggalkannya." ucap Jovan.
"Tidak, aku masih sangat yakin kalau kamu masih mencintaiku, benarkan Danial?"
Danial hanya diam dan membisu, Cassandra dari tadi memperhatikannya, dia ingin sekali mengusir wanita itu, tapi dia hanya seorang pelayan yang menjelma menjadi nyonya Bramantyo. Rayna berlari memeluk Danial, Danial hanya diam saja, dia tidak bereaksi sedikitpun.Cassandra mulai kesal dengan keadaan seperti ini, dia pun angkat bicara.
"Menyingkir lah dari suamiku, kamu tidak pantas memeluknya."
"Tidak pantas?, lalu siapa yang pantas?, apakah kamu yang hanya seorang pembantu?"
"Dia bukan pembantu, dia Mamaku, kamu tidak boleh menghinanya." ucap Dhefin.
"Dhefin, apakah itu kamu sayang?, ini Mama, ibu kandung kamu."
"Ibu kandungku sudah meninggal jadi kamu tidak berhak mengaku sebagai ibuku, sekarang ibuku adalah dia, dia ibuku dan bukan kamu, dan asal kamu tahu, dia yang akan menjadi ibuku dan juga istri ayah, jadi jangan pernah mengganggu kehidupan kami lagi."
"Apa yang kamu katakan?, apakah kamu mengusir Mama?, aku ibu kandungmu, aku yang melahirkanmu, dan kamu malah mengusir Mama dan memilih pembantu itu."
"Dia bukan pembantu, dia Mamaku, jangan pernah kamu sebut dia pembantu, dan pergilah dari sini. Tomy, bawa wanita ini keluar, dia sudah mengganggu acara pernikahan ini."
"Baik tuan muda."
"Hei apa yang kamu lakukan, lepaskan aku, aku adalah ibumu Dhefin, dan apa yang kau perbuat, lepaskan aku."
"Lepaskan dia." ucap Danial.
"Apakah kamu mau membelanya?, dan apakah kamu akan menceraikan ku?" tanya Cassandra.
"Jika itu yang diperlukan, maka itu yang akan aku lakukan."
"Kenapa kamu begitu tega, ini hari pernikahanku, kamu tidak bisa menceraikan aku di hari pernikahanku."
"Maafkan aku, aku tau aku salah, tapi memang dari awal pernikahan ini tidak boleh terjadi."
"Lalu kenapa kamu mengajakku untuk menikah?, apakah ini juga permainanmu?, hah aku harusnya tau akan hal itu, kenapa aku bodoh sekali, seorang pembantu hanyalah pembantu, sampai kapanpun aku akan menjadi pembantu."
Air mata Cassandra pun terjatuh, dia sudah tidak tahan membendung air matanya, Dhefin pun berlari memeluknya.
"Mama tidak boleh menangis, Dhefin juga ikut sedih jika Mama menangis."
"Ini salah ku Dhefin, harusnya dari awal aku tidak perlu datang kesini, benar kata Kevin, orang sepertiku sampai kapanpun tidak pantas berada di antara kalian. Mulai sekarang aku akan pergi, semoga kalian bahagia." ucap Cassandra.
Dia pergi berlari ke luar gedung itu, dia pergi dengan taksi, dia pergi kerumah Kevin, namun dia mengurungkan niatnya, dia meminta supir itu untuk mengantarnya ke sebuah taman, dan disitulah dia sekarang, dia sering pergi ke sana pada saat dirinya mendapat masalah.
"Kenapa hidupku seperti ini, apakah aku tidak bisa merasa bahagia sedikit saja, aku pikir Danial akan menerimaku, tapi kenyataannya.... di hatinya hanya ada seorang perempuan saja, dan itu adalah ibu Dhefin, harusnya aku tau itu. Kenapa kamu sangat bodoh Cassandra." ucapnya pada dirinya sendiri.
"Ayah jahat, Ayah bukan ayahku lagi, kamu bukan lagi ayahku, ayahku tidak mungkin melakukan hal itu pada Mama, aku membencimu, sampai kapanpun aku akan membencimu." ucapnya diiringi tangisan.
"Dhefin tenang ya sayang, Dhefin di sini dulu sama nenek, kita akan mencari Mama oke, tapi Dhefin tidak boleh marah, apalagi membenci Ayah." ucap Maria, ibu Danial.
"Dia bukan ayahku, aku tidak memiliki ayah sepertinya, ayahku tidak akan menyakiti Mamaku, dan aku akan pergi mencari Mama."
"Berhenti di tempatmu Dhefin, kamu tidak boleh pergi ke manapun. Tomy, cepat bawa dia pulang, dan jangan biarkan dia keluar dari rumah."
"Aku tidak mau, aku ingin mencari Mama, lepaskan aku, dengar ya sampai kapanpun aku tidak akan mau berbicara ataupun berinteraksi dengan kalian semua, aku membenci kalian." ucapnya marah.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya.
Dhefin dikurung oleh ayahnya di dalam rumah, dia tidak bisa keluar sedikitpun, dia sudah mencoba berbagai cara, namun tidak ada yang berhasil, akhirnya dia memutuskan untuk berdiri diri di dalam kamar, dia mengunci kamarnya, dia tidak ingin siapapun masuk ke dalam, dia hanya ingin Cassandra, dan dia sangat merindukannya, dia sangat sedih melihat Cassandra pergi dengan air mata di matanya.
Cassandra tidak tau mau kemana lagi, dia tidak ingin ditemukan, dia ingin menghilang dari dunia ini, dia tidak sanggup jika bertemu dengan seorangpun, karena itu akan membuatnya malu, Cassandra akhirnya memutuskan untuk pergi ke panti asuhan, dia pergi ke sana untuk menenangkan diri, dan disana tidak ada seorangpun yang tahu akan masalah itu.
Sedangkan Danial, dia sangat bingung, dia bingung dengan keadaan yang menimpanya, dia merasa kasihan terhadap Cassandra, karena di hari pernikahannya dia juga harus bercerai dengannya, Danial tidak menginginkan hal itu, tapi hatinya juga tidak ingin meninggalkan Rayna, dia sangat membencinya namun dia tidak dapat menahan rasa rindu kepadanya.
'Maafkan aku Cassandra, aku tau aku menyakitimu, aku memang brengsek, aku tidak pantas untukmu, harusnya aku tidak menyuruhmu untuk menikah denganku, dan sekarang, aku bingung harus berbuat apa, kamu pergi entah kemana, Dhefin juga membenciku, dan aku juga tidak bisa hidup dengan Rayna, karena hatiku masih terluka dan belum siap menerimanya. Apa yang harus aku lakukan Cassandra.' batin Danial.
Hari demi hari pun berlalu, Dhefin masih setia tetap di kamarnya, dia tidak mau berbicara dengan siapapun, dia menjadi anak yang lebih dingin dari pada sebelumnya, dia juga menutup dirinya dari keluarganya, karena yang dia inginkan hanya Cassandra, dan semua keluarganya lah yang bertanggung jawab atas penderitaan yang dialami oleh Cassandra.
Danial mulai resah, dia bingung harus berbuat apa, dia tidak terbiasa dengan sifat Dhefin, dia ingin berbicara dengannya, dan dia ingin sekali mendengar tawa dan ucapan ayah darinya.
"Dhefin, bisakah kamu berbicara pada ayah?, ayah akan mengabulkan semua keinginanmu, apapun itu, tapi ayah harap Dhefin tidak lagi marah pada ayah."
Dhefin hanya terdiam, dia terdiam sejenak kemudian membuka suara.
"Cassandra, aku hanya ingin dirinya."
"Tidak, tidak akan ada lagi Cassandra di rumah ini, sudah cukup Dhefin, dia bukan ibumu, kenapa kamu terus-terusan mencarinya, ibumu sudah kembali, harusnya kamu senang akan hal itu."
"Dia bukan ibuku, dia meninggalkan aku sendiri, dia tidak pernah memberiku sebuah kasih sayang, dan karenanya juga aku dijauhi teman-teman di sekolah, dan kamu menyuruhku untuk menganggapnya sebagai ibuku, tidak akan pernah, sampai kapanpun Cassandra yang akan menjadi ibuku, dia ibu terbaik di dunia ini, hanya dia yang menyayangiku dengan tulus, bahkan ibuku saja membuangku."
Plak
Danial tanpa sadar menampar Dhefin, dia sendiri tidak sadar akan perbuatannya itu, dia sangat shock ketika menyadari bahwa dia menampar pipi Dhefin.
" Maafkan ayah Dhefin, Ayah.... ayah benar-benar tidak sengaja." ucapnya takut.
"Kamu memang tidak pernah menyayangiku, yang kamu tau hanya menyakitiku, aku benci padamu, aku tidak akan pernah mau punya ayah sepertimu, aku akan pergi mencari Mama, karena hanya dia yang bisa membuatku bahagia."
Dhefin kemudian pergi dari rumah itu, dia berlari keluar rumah, namun Danial menahannya, dia menyuruh bawahannya untuk mengejar Dhefin dan memasukkannya kedalam kamar.
"Kamu ingin mengurungku di sini?, baiklah akan aku kabulkan permintaanmu, aku tidak akan keluar dari kamar ini sampai kapanpun."
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya. Terimakasih:)