
Pagi hari
Cassandra sudah sibuk di dapur untuk membuat sarapan, dia bangun pagi untuk bisa masak, karena hari ini Dhefin akan sekolah, dan dia harus pergi ke kampus. Danial yang bangun dari tidurnya pergi ke dapur karena haus, betapa kagetnya dia melihat Cassandra memasak. Karena dia masih belum terbiasa dengan keberadaan seorang wanita di rumahnya, yah memang sih semua pembantu di sini laki-laki, termasuk chef nya pun laki-laki, itulah mengapa Dhefin tidak begitu menyukai bubur, karena tidak di buat menggunakan kasih sayang.
'Ngapain perempuan ini?, sudahlah terserah dia.' batin Danial.
Cassandra yang tidak mendengar langkah kaki pun tidak tau kalau Danial berada di sebelahnya, Danial membuka kulkas dan itu membuat Cassandra kaget bukan main, karena yang dia tau tidak ada seorang pun di dapur kenapa bisa terdengar bunyi kulkas terbuka.
"Hei, kamu mengagetkanku, setidaknya kamu beri tau kek kalo ada di sini."
"Untuk apa?, ini rumahku, jadi terserah aku mau pergi kemana."
Cassandra yang sudah bosan dengan pertengkaran pun memilih mengalah, dia melanjutkan kegiatan memasaknya. Setelah selesai memasak, Cassandra langsung membangunkan Dhefin.
"Sayang, ayo bangun, sudah pagi."
"Ah Mama, aku masih ngantuk."
"Apakah kamu tidak mau berangkat ke sekolah?"
"Baiklah-baiklah, aku bangun."
Dhefin memilih untuk mandi sendiri, karena dia tidak terbiasa dimandikan oleh seseorang, terlebih itu perempuan, dia merasa malu jika Cassandra memandikannya. Cassandra sudah menyiapkan seragam dan tas Dhefin, setelah Dhefin selesai mandi, dia kemudian memakaikan dia baju, Dhefin sedikit risih namun dia menyukainya.
Cassandra dan Dhefin pun sedang sarapan di meja makan, mereka melihat Danial yang pergi bekerja tanpa makan, Cassandra tidak ingin membuat Dhefin sedih dan menyuruh Danial untuk ikut sarapan.
"Hei, ayo makan bersama, lagian ini terlalu pagi untuk berangkat bekerja."
Danial pun yang mengerti kode dari Cassandra pun duduk dan ikut makan bersama. Danial sangat menyukai makanan yang dibuat oleh Cassandra, dia sedikit bingung, kenapa makanan yang dibuat Cassandra terasa lebih enak.
'Apakah ini buatannya?, kenapa bisa seenak ini?'. batin Danial.
"Cassandra, mulai sekarang kamu yang akan menyiapkan makanan untuk kita."
"Apakah kamu menyukai masakan ku?"
"Tidak, tapi Dhefin menyukainya."
"Jika begitu aku akan memasak untuk Dhefin saja."
"Lalu aku Bagaimana?"
"Bukankah chef di sini ada, kamu juga yang mempekerjakan mereka, jadi suruh saja mereka membuatkan makanan untukmu."
"Aku yang menggajimu, jadi terserah aku mau makan masakan siapa."
"Bukankah aku sudah bilang, aku disini bekerja untuk Dhefin, bukan untuk mu."
"Tapi aku yang membayarmu, jadi kamu itu pembantuku, bukan pembantu Dhefin."
"Apa yang ayah bilang?, dia ibuku bukan pembantuku."
"Apa maksudmu Dhefin?, kamu memanggil pembantu ini dengan sebutan ibu?, aku harap dia tidak mencuci otakmu."
"Hei dasar kau-"
"Apa?, mau apa kamu?"
"Huh."
"Nanti siang antarkan makan siang ke kantorku."
'Lihatlah Cassandra, aku akan mempermalukan mu.'
"Tidak, aku sibuk."
"Kau harus melakukannya, itu perintah, jika tidak aku bisa saja memecatmu, atau memotong gajimu."
"Baiklah-baiklah."
Cassandra mengantarkan Dhefin pergi ke sekolah, sebelum itu dia meminta izin kepadanya, soalnya nanti dia akan pergi ke kampus dan memasak makanan untuk Danial. Dhefin pun mengerti, dan memperbolehkannya, Dhefin pun pergi ke kelasnya, dan Cassandra pun pergi ke kampus.
"Oh astaga, kenapa hari ini aku sibuk sekali."
"Ada apa Cassandra?, apa kamu capek?"
"Tidak, ayo kita kerjakan tugasnya."
"Baiklah ayo pergi ke perpus."
Siang hari
Cassandra sudah selesai menyiapkan makan siang untuk Danial, dia sudah siap untuk mengantarnya. Cassandra membuatnya di rumahnya sendiri, karena rumahnya tidak bugitu jauh dari kantor Danial. Dia langsung pergi ke kantor Danial, karena dia tidak mau telat dan dimarahi oleh Danial.
'Kenapa semua orang memperhatikan aku, apakah ada yang salah denganku?' batin Cassandra.
Cassandra langsung menemui resepsionis, dia menanyakan Danial, dan dia mengatakan bahwa Danial lah yang menyuruhnya datang. Resepsionis itu hanya tertawa.
"Apakah kamu gila?, mana mungkin tuan yang menyuruhmu untuk datang ke kantornya, apakah kamu pikir kita bodoh, banyak sekali gadis yang kesini dan mencari tuan, tapi kami baru bertemu yang seperti kamu."
"Apakah ada yang salah denganku?"
"Apakah kamu masih mempertanyakan hal itu?, lihatlah sendiri penampilanmu."
"Apakah kamu tidak mengerti juga, lihatlah dirimu, sangat tidak berkelas, bagaimana tuan Danial bisa menyuruh orang sepertimu kekantor ya."
"Apakah ada yang salah dengan itu?, ya sudah kalau tidak percaya, aku akan menelfonnya."
Cassandra menelfon Danial berulang kali, namun Danial tidak mengangkatnya sama sekali.
'Astaga, kenapa dia tidak mengangkat telfonnya?' batin Cassandra.
"Kenapa nona?, apakah tuan Danial mencampakkan mu." ejek resepsionis itu.
"Hei, apakah kamu tidak percaya?, Danial sendiri yang menyuruhku tadi pagi, apakah kamu tau itu?"
"Aku tidak tau hal itu, tapi mungkin yang kamu maksud bukan tuan Danial kami."
"Aku disuruh oleh Danial, Danial Bramantyo, CEO di perusahaan ini, jika kalian tidak percaya kalian bisa memanggilnya."
"Maaf ya gadis kecil, halunya sampai di sini saja." ejek resepsionis itu beserta karyawan lain yang ikut menertawakannya.
"Kenapa kalian menertawai ku, aku benar-benar-"
Plak
"Dasar ******, kamu itu selalu mengikuti tunanganku kemanapun dia pergi hah, dasar murahan, wanita sepertimu itu tidak pantas untuk Danial. Jika kamu hanya ingin harta dan ketenaran, banyak di luar sana om-om kaya yang memilikinya, kamu hanya perlu menjual tubuhmu saja." ucap Aleena dan diiringi suara tawa semua karyawan.
"Apa maksudmu, aku tidak akan menjual tubuhku, bahkan untuk Danial sekali pun, dan aku harap kalian berhati-hati dengan omongan kalian."
"Dasar wanita tidak tau diri, satpam cepat seret dia keluar!"
"Tidak lepaskan aku."
Prangggg
Makanan yang dibuatnya susah payah kini tumpah, mereka menginjak-nginjak makanan itu, dan mereka juga menertawakannya.
'Danial, apakah ini tujuanmu menyuruhku ke kantormu. Kamu ingin melihatku di permalukan, kurasa kamu masih memiliki hati, namun apa ini.' batin Cassandra.
Cassandra pun pergi meninggalkan perusahaan Bramantyo, dia pergi menemui sahabatnya Kevin. Sedangkan di lain sisi, Danial tengah merayakan kemenangannya, dia merasa senang melihat Cassandra di permalukan.
"Tuan, itu sepertinya terlalu berlebihan."
"Apakah kamu menyalahkanku?"
"Bukan begitu tuan, hanya saja-"
"Sudahlah ayo lanjut bekerja, tontonannya sudah selesai." (sambil terus tersenyum)
'Aku harap anda tidak akan menyesalinya tuan.' batin Tomy.
🌸🌸🌸🌸🌸
Cassandra menemui Kevin di apartemen nya, Kevin yang terkejut melihat Cassandra menangis pun langsung menyuruhnya masuk.
"Ada apa?"
Cassandra tidak menjawab apapun, dia hanya menangis, Kevin pun memeluknya untuk menenangkannya. Setelah beberapa lama, akhirnya Cassandra berhenti menangis.
"Kev, bisakah Aku meminjam uangmu sebentar, aku akan menggantinya nanti."
"Tentu saja."
Cassandra dan Kevin pun datang ke kediaman Bramantyo, Cassandra menemui Dhefin dan mengucapkan salam perpisahan.
"Dhefin, maafkan Mama, Mama tidak bisa berasa di sampingmu."
"Kenapa?, bukannya mama sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Dhefin."
"Tapi mama sudah dipecat, jadi Mama harus mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan Mama."
"Dhefin akan ikut Mama, Dhefin tidak ingin berpisah dengan Mama."
"Maaf Dhefin, tapi kita tidak bisa, maafkan Mama, Mama pergi dulu ya, selamat tinggal Dhefin."
Cassandra pergi dari rumah itu, Dhefin sudah menangis memanggilnya terus menerus, tapi dia tidak ingin terus di permalukan, jadi dia memutuskan untuk mengundurkan diri, dia mengembalikan uang yang diberikan oleh Danial kepadanya, dan dia berharap untuk tidak bertemu dengannya lagi.
Dhefin pun menangis tidak mau berhenti, para pelayan sudah melaporkan hal itu pada tuannya. Danial yang mendengar hal itupun langsung pulang ke rumahnya, dia langsung menemui Dhefin.
"Dhefin, tenang sayang, ada Ayah disini, buat apa kamu menangisi wanita itu."
"Kamu bukan ayahku, dan wanita itu adalah ibuku."
Dhefin pergi ke kamarnya, dan dia mengunci pintu kamarnya.
"Dhefin, dengarkan penjelasan ayah dulu, dia tidak pantas menjadi ibumu, dia hanya seorang pelayan, dia hanya membutuhkan uang, dia tidak benar-benar menyayangi mu."
"Kamu tidak akan pernah tau yang artinya cinta, dia memang hanya pembantu, tapi hanya dia yang mengerti apa yang aku inginkan, dan dia benar-benar tulus menyayangiku, kamu tidak akan tau perasaan itu, orang egois sepertimu tidak akan bisa mengerti."
'Kenapa Dhefin bisa berkata seperti itu, apakah aku benar-benar sudah kelewatan?, tidak, gadis itu saja yang lebai. Tapi bagaimana caranya aku membuat Dhefin keluar dari kamar dan menganggap ku sebagai ayahnya lagi, apa yang harus aku perbuat, baiklah, jika gadis itu saja bisa meluluhkan hati Dhefin, kenapa tidak dengan yang lain, aku akan menyuruh Tomy untuk mencari pengganti Cassandra. Lihat saja Cassandra, aku dan Dhefin tidak akan menyesal akan kepergian mu.' batin Danial.