
Cup
'Oh astaga, apa yang sedang terjadi?, apakah Cassandra menciumku, oh tidak, bagaimana bisa dia menciumku di depan banyak orang.' batin Danial.
"Apa yang kau lakukan?, apakah kamu gila?, bagaimana bisa kamu menciumku dengan sengaja?" ucapnya sambil mendorong Cassandra agar menjauh darinya.
"Bukankah aku istrimu tuan Danial, apakah aku tidak boleh mencium suamiku sendiri?"
"Siapa yang suamimu?"
"Apa tadi yang kamu bilang hm..." (sambil menginjak kaki Danial).
"Auwww, apakah kamu sengaja?"
"Aku tidak sengaja, cuma mengingatkan saja."
"Baiklah semuanya, kita akan memulai lombanya, jika kalian memenangkan banyak perlombaan kalian akan mendapatkan sebuah hadiah. Dan perlombaan pertama adalah lari bersama, lari ini di ikuti oleh kedua orang tua, kalian harus mengikat kaki kalian ke kaki anak kalian, dan kalian maju bersama sampai ke garis fhinis, apakah kalian mengerti." ucap pembawa acara.
"Ayo kita ikut."
"Tidak, buat apa aku mengikutinya, sangat kekanak-kanakan, aku ini seorang CEO terpandang, bagaimana bisa aku mengikuti perlombaan yang kekanak-kanakan seperti itu."
"Bukankah kamu tadi sudah berjanji akan menuruti semua kemauan Dhefin."
"Tapi bukan Dhefin yang memintanya."
"Oh ayolah, walaupun dia tidak memintanya apakah kamu tidak melihat tatapan matanya itu, dia sangat menginginkannya, tapi dia tidak bisa memintanya karena dia sudah tau bahwa kamu tidak akan mau melakukannya."
Danial pun melihat Dhefin, dia dapat melihat tatapan sendu Dhefin, dia tidak ingin membuat Dhefin kecewa.
'Hah sudahlah, hanya sebuah perlombaan saja, aku bisa melakukannya.' batin Danial.
"Dhefin, bagaimana jika kita ikut lomba itu?, apakah kamu mau?"
"Apakah itu benar ayah?" ucapnya dengan gembira.
"Ya, kita akan memenangkan semua perlombaan itu dan mendapatkan hadiahnya."
"Baiklah, ayo kita mulai. Semangat." ucapnya dengan senang.
Mereka memenangkan semua permainan, Dhefin sengat senang, dia tertawa di setiap permainan, Danial yang melihatnya juga ikutan senang.
"Apakah kamu senang?"
"Tentu saja ayah."
"Bukankah itu hanya sebuah alat tulis?, ayah bisa memberimu lebih banyak dan lebih bagus dari itu."
"Apakah kamu bodoh, walaupun itu hanya alat tulis tapi cara mendapatkannya berbeda, itulah yang membuatnya merasa senang."
"Tidak bisakah kamu bertindak manis sehari saja?, sangat tidak sesuai dengan penampilanmu itu."
"Bukan aku yang memilih pakaian ini, kamu sendiri yang memilihnya."
"Ya, aku berharap kalau kamu bisa menjaga sikapmu itu."
"Sudahlah ayo kita pulang, aku sudah sangat capek."
Danial, Dhefin dan Cassandra pun pulang ke rumah mereka, mereka sangat lelah karena seharian ini mengikuti perlombaan yang sangat menguras tenaga.
"Dhefin ingin makan apa sayang?"
"Terserah Mama."
"Biarkan chef aja yang masak, kamu istirahat saja."
"Iya Ma, Mama pasti capek kan."
"Baiklah, ya sudah Mama mau ke kamar dulu ya."
Makan malam
Danial masih terngiang-ngiang dengan kejadian tadi pagi, dimana Cassandra menciumnya, dia terus memikirkan itu, pada saat dia sedang makan, dia memperhatikan Cassandra, lebih tepatnya bibir Cassandra.
'Apakah itu bibir yang menciumku tadi?, kenapa sangat menggoda.' batinnya.
"Ada apa denganmu?, kenapa dari tadi terus memperhatikan aku?"
"Idih, sapa juga yang memperhatikan kamu, kurang kerjaan banget aku."
"Aku heran aja kenapa makanmu banyak tapi gak gendut gendut, kan percuma jadinya makananku itu."
"Hei, apakah kamu tidak tau, tubuh sepertiku ini sangat di idam-idamkan oleh semua wanita, aku jadinya tidak perlu diet untuk bisa mendapatkan tubuh yang bagus."
"Di idam-idamkan?, apakah tidak salah, tubuh kurus kerempeng kek gitu?"
"Apa kamu bilang?, dasar pria arogan yang yang dingin, gak punya perasaan maunya menang sendiri."
"Hei, aku hanya mengatai kamu kurus kerempeng dan kamu membalasnya lebih dari dua ejekan, oh astaga."
"Salah sendiri, kenapa kamu mengejekku."
"Sudahlah, kupingku sakit mendengar suaramu yang cempreng itu."
"Apa kamu bilang?, hei mau kemana kamu."
Danial pergi meninggalkan Cassandra yang sedang mengoceh, dia sudah tidak tahan melihat bibir Cassandra tadi yang sedang menciumnya.
'Ada apa denganku?, kenapa aku bisa terbayang-bayang bibirnya, oh ayolah jangan gadis itu, apakah tidak ada wanita yang lebih baik dari dia?, sadarlah Danial, banyak sekali wanita di luar sana, jangan pikirkan gadis itu, masih banyak gadis yang lebih cantik dan lebih seksi darinya, jadi berhentilah memikirkan gadis itu.' batin Danial.
Danial masih memikirkan ciuman tadi pagi, dia tidak bisa tidur, setiap dia memejamkan mata kejadian tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya, dia memutuskan untuk mengalihkan pikirannya dengan mengerjakan tugas kantor, dia pergi ke ruang kerjanya dan mengerjakan dokumen-dokumen yang ada di sana.
Pagi hari
Cassandra bangun dari tidurnya, dia berniat ingin pergi ke dapur untuk minum, tapi dia tersesat lagi, dia malah masuk ke ruang kerja Danial.
"Sepertinya aku salah masuk deh, ini tempat apa ya?"
Cassandra terkejut melihat Danial tertidur di ruang kerjanya, dia tertidur di atas dokumen-dokumen, Cassandra yang merasa kasian pun membereskan dokumen-dokumen itu dan kembali ke kamarnya untuk mengambil selimut.
"Dasar monster kerja, tidak bisakah dia hidup tanpa memikirkan pekerjaannya itu?, sampai-sampai tertidur seperti ini. Bagaimana mungkin Dhefin bisa dekat denganmu jika kamu selalu sibuk dengan urusanmu sendiri."
Cassandra pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk Danial dan Dhefin, dia bangun sangat pagi karena hari ini dia harus kuliah dan harus mampir ke kosannya terlebih dulu.
Cassandra sudah pergi, dia meninggalkan pesan untuk Dhefin di kamarnya, dia tidak ingin Dhefin mencarinya nanti. Dia pergi tidak di antar oleh supir Danial, karena dia tidak ingin membuat mereka sibuk hanya untuk dirinya yang hanya seorang pembantu, oleh karena itu dia menyuruh Kevin menjemputnya.
"Selamat pagi Cassandra."
"Pagi Kevin, kita ke kosan ku dulu ya, ada yang ingin aku ambil di sana."
"Baik tuan putri."
"Oh ayolah, aku sedang tidak ingin bercanda."
"Apakah ada masalah?"
"Tidak, aku hanya tidak ingin bercanda saja, ayo cepetan, kalau tidak kita bakal telat nanti."
"Baiklah-baiklah."
Cassandra dan Kevin sampai di kampus, mereka langsung menuju kelas mereka, karena sekarang pelajaran pak Dewo yang terkenal killer itu, dan dia adalah paman Danial.
"Cassandra, selesai pelajaran kamu ke kantor saya, mengerti."
"Baiklah Pak."
"Ada apa Cassandra?, apakah kamu tidak mengerjakan tugas pak Dewo?" tanya Kevin.
"Tentu saja tidak, aku kan selalu mengerjakan tugas yang beliau berikan, aku juga tidak mengerti kenapa beliau memanggilku ke kantornya."
"Yasudah, lebih baik kamu segera pergi, jangan sampai membuat beliau menunggu."
"Baiklah, aku pergi dulu ya Kevin, tunggu aku di taman oke."
"Oke."
Cassandra sampai di depan kantor pak Dewo, dia mengetuknya dan masuk ke dalam.
"Permisi pak, ada apa ya pak?, kenapa anda mencari saya?"
"Apakah kamu mau menikah dengan Danial?"
Hai, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.
See you di bab selanjutnya:)