My Wife My Maid

My Wife My Maid
Taman Hiburan



Cassandra dan Bima pergi ke sebuah taman hiburan, yah mereka berencana menghabiskan waktu di sana bersama dengan Emily dan Dewo. Mereka sampai terlebih dahulu, dan mereka memilih menunggu di sebuah kafe yang ada di sana.


"Jam berapa Emily akan ke sini?" tanya Bima.


"Tadi aku telfon katanya mereka sedang ada di jalan." kata Cassandra.


"Kalau begitu kita tunggu sebentar lagi." kata Bima.


Tiba-tiba telepon Cassandra berbunyi, tapi sayangnya itu nomer yang tidak dia kenal.


"Siapa yang menelepon mu?" kata Bima.


"Aku juga tidak tau, sepertinya ini nomer baru." kata Cassandra.


"Lebih baik kamu angkat dulu, mungkin saja itu seseorang yang kamu kenal." kata Bima, dan Cassandra pun mengangkat telfonnya.


"Halo?" kata Cassandra.


"Halo." ucap seseorang yang ada di sana.


"Siapa ini?" tanya Cassandra.


"Ini Dhefin Mama, Dhefin sekarang ada di rumah Mama, tapi kata satpam Mama tidak ada di rumah, mama sedang pergi ke mana?" ucap Dhefin.


"Kamu ada di rumah Mama sayang?, tapi maaf Mama sedang keluar." kata Cassandra.


"Mama ada di mana?, bisakah Dhefin menyusul?" kata Dhefin.


"Mama sedang ada di taman hiburan bersama paman Bima, kalau Dhefin mau menyusul juga tidak apa-apa." kata Cassandra.


"Ah tidak Mah, Dhefin tidak mau mengganggu waktu Mama dan Paman Bima." ucap Dhefin.


"Ah baiklah kalau begitu, lain kali kalau Dhefin mau ke rumah Mama Dhefin kabari mana dulu ya, biar Mama bisa stay di rumah, kalau kek gini kan kasian kamunya sayang." kata Cassandra.


"Iya Mah, lain kali Dhefin akan telfon Mama terlebih dahulu." ucap Dhefin.


"Baiklah, Mama tutup dulu telfonnya ya sayang. Bye Dhefin." ucap Cassandra.


"Bye Mah." kata Dhefin.


Telfon pun berakhir, dan kemudian Bima pun bertanya pada Cassandra.


"Siapa yang nelfon?" kata Bima.


"Ah.. ini Dhefin, dia ada di rumah." kata Cassandra.


"Eh, dia ada di rumah?, lalu bagaimana?, apakah kita perlu kembali ke rumah?" kata Bima pada Cassandra.


"Tidak perlu, dia sudah pulang." kata Cassandra.


"Maaf ya... gara-gara aku mengajakmu ke taman hiburan kamu jadi tidak bisa menemui Dhefin." ucap Bima sedih.


"Astaga ada apa dengan wajahmu ini, kamu bukan anak kecil lagi, berhentilah bertingkah imut seperti itu." ucap Cassandra yang gemas melihat wajah sedih Bima.


"Jangan mengalihkan perhatian." ucap Bima.


"Utu utu... bayi besarku marah." ucap Cassandra mencubit pipi Bima dengan gemas. "Dia sudah pulang Bima, tadi aku menawarkan dia untuk menyusul ke sini, tapi dia tidak ingin ikut, mungkin saja dia tidak memiliki waktu." kata Cassandra.


"Benarkah begitu?" kata Bima.


"Hm... tentu saja." ucap Cassandra, dan tidak lama setelahnya datanglah orang yang sedang mereka tunggu.


"My Lovely." ucap Emily berteriak dari kejauhan sambil berlari, dan tanpa sengaja kakinya tersandung dan membuatnya hampir terjatuh, jika bukan karena Dewo yang menangkapnya tepat waktu, mungkin gadis itu sudah terluka.


"Bukankah sudah kubilang untuk berhati-hati, kenapa kamu selalu ceroboh." omel Bima pada Emily.



"Maaf." ucap Emily sambil menundukkan kepalanya, Dewo yang sadar akan ulah kekasihnya itu pun lalu meminta maaf padanya, dia sadar bahwa tadi dia menyakiti hati kekasihnya itu.


"Maaf, aku tidak berniat untuk memarahi mu, aku hanya tidak ingin kamu terluka." ucap Dewo sambil menangkup pipi Emily.



"Bisakah kalian tidak memamerkan kemesraan kalian." ucap Cassandra yang menghampiri mereka berdua.


"Cassy, Bagaimana kabarmu?" tanya Dewo.


"Kabarku baik Paman, dan sepertinya sebentar lagi bakal ada pesta pernikahan nih." ejek Cassandra pada Dewo dan Emily.


"Kamu ada-ada saja Cassy." ucap Emily sambil memukul tangan Cassandra.


"Bukankah itu benar Paman." ucap Cassandra pada Dewo.


"Hm.... bagaimana ya.." ucap Dewo pura-pura berfikir.


"Apakah kamu tidak mau menikahiku?" ucap Emily marah, dan itu membuat semua orang di sana tertawa karena sikapnya yang lucu.


"Hahaha... aku hanya bercanda sayang, aku hanya menggoda mu saja." kata Dewo sambil mencium pipi Emily.


"Bagaimana kalau kita mulai saja, ini sudah siang, takutnya kita tidak akan bisa mencoba semua wahana yang ada di sini nantinya." ucap Bima mencairkan suasana.


"Betul kata Bima, kita harus memulainya dari sekarang, dan kita mulai dari.... wahana rumah hantu..." ucap Cassandra yang sudah menarik tangan Emily.


"Tidak.... jangan rumah hantu, aku sangat takut dengan hantu." ucap Emily ketakutan.


"Bukankah kamu memiliki pahlawanmu di sampingmu, lalu buat apa kamu takut?" tanya Cassandra.


Mereka masuk kedalam, Cassandra bersama Bima, dan Emily bersama Dewo. Emily selalu berteriak di dalam sana, dan dengan sigap Dewo memeluknya dan memberikan ketenangan kepadanya. Dan situasi itu berbanding terbalik dengan pasangan Bima dan Cassandra, justru Bima lah yang ketakutan, dan Cassandra lah yang memenangkannya.


"Sudahlah, bukankah kamu laki-lak?, kenapa dengan patung saja kamu takut." omel Cassandra


"Hanya patung katamu?, jika itu patung biasa aku tidak akan takut, tapi sayangnya itu patung hantu, siapapun akan takut melihat itu, lihat saja sahabatmu itu, dia terus berteriak di belakang sana, masih mending aku hanya takut." kata Bima.


"Oh ayolah, kamu bukan anak-anak lagi, apa yang perlu di takutkan?" kata Cassandra.


"Aku bukan anak-anak." kata Bima tidak terima jika dikatain anak-anak.


"Ya kamu bukan anak-anak, kamu cuma bayi besar." ucap Cassandra.


"Kenapa kamu selalu mengejekku, aku hanya takut pada hantu, dan itu tidak aneh, yang harusnya aneh tu kamu, lihat semua wanita itu, mereka berteriak ketakutan, sedangkan kamu, jangankan berteriak, takut pun kamu tidak." kata Bima.


'Untuk apa aku takut hanya dengan patung-patung ini, manusia jauh lebih menakutkan dari pada mereka, dan aku pun sudah merasakan hal itu.' ucap Cassandra dalam hati.


Sedangkan di sisi lain, Dhefin tengah pulang ke rumah orang tua Danial, dia pulang dengan wajah lesu. Danial yang ada di sana pun terkejut melihat wajah putranya itu, dan dia pun memutuskan untuk mengikuti putranya ke kamarnya.


"Dhefin, ada apa dengan wajahmu?" kata Danial, dan dia tidak mendapatkan jawaban darinya, karena Dhefin mengabaikannya.


"Dhefin... ayah bertanya padamu." kata Danial lembut.


"Sejak kapan kamu peduli denganku?" ucap Dhefin ketus.


"Aku ini Ayahmu, tentu saja aku peduli padamu." kata Danial.


"Sudahlah, tidak usah bersandiwara." ucap Dhefin pada Danial.


"Dhefin, ayah tau kamu marah pada ayah, tapi ayah juga bingung kenapa kamu begitu membenci Ayah, apakah Ayah memperlakukan kamu dengan begitu buruk?, jika iya maafkan ayah, tapi Ayah tidak bisa mengingatnya." ucap Danial.


"Yah, kamu tidak mengingatnya, bahkan kamu juga melupakan semua hal tentang Mama." ucap Dhefin.


"Aku tidak melupakan Mamamu, aku mengingatnya." ucap Danial.


"Lalu mengapa kamu tidak mengejarnya." ucap Dhefin.


"Dia yang telah meninggalkan kita, Rayna pergi meninggalkan kamu dan aku." ucap Danial.


"Bukan nenek lampir itu yang aku maksud, yang aku maksud adalah Cassandra, istrimu, mungkin sekarang lebih tepatnya dia adalah mantan istrimu, orang yang selalu kamu sakiti meskipun dia sangat baik terhadapmu, kamu melupakannya, dan bahkan saat dia berada di depanmu pun kamu tidak dapat mengenalinya." ucap Dhefin.


"Cassandra?, apakah dia benar-benar istriku?, seperti apa wajahnya?, bisakah kamu memberitahuku semua tentang gadis itu?" kata Danial, dan Dhefin pun menceritakan semuanya.


Hai semua, jangan lupa untuk terus like, komen dan vote novel ini sebanyak-banyaknya ya. See you again 👋😘