My Wife My Maid

My Wife My Maid
Pertemuan



Keesokan harinya


Cassandra dan Bima pergi ke kantor Danial untuk membahas tentang proyek yang sedang mereka kerjakan. Mereka masuk ke perusahaan Danial, dan Cassandra mengalami jeda vu dengan tempat itu, pikirannya terus mengingat tentang kejadian-kejadian dulu yang pernah di alaminya, entah itu kejadian yang buruk ataupun tidak. Bima yang melihat reaksi wajah Cassandra pun hanya bisa menghiburnya dan mengalihkan perhatiannya.


"Ada apa princess, apakah aku terlalu tampan hingga kamu tidak ingin wanita-wanita itu melihatku?" ucap Bima.


"Jangan kepedean, lagian sapa juga yang tertarik dengan wajahmu itu." ucap Cassandra ketus.


'Astaga, tanpa kamu sadari kamu semakin membuatku ingin memilikimu Cassandra. Kamu selalu membuatku tertarik, dan aku juga sangat ingin tau seperti apa aku di matamu.' ucap Bima dalam hati.


Mereka sampai di depan kantor Danial, dan asisten Danial pun membukakan pintu untuk mereka.


"Silahkan masuk Tuan Putra dan Nona..." ucap Tomy terhenti karena dia tidak tau harus memanggil Cassandra apa.


"Putri." ucap Cassandra.


"Ah baiklah, silahkan masuk Nona Putri." kata Tomy.


Tomy cukup terkejut melihat perubahan Cassandra, tidak hanya bertambah cantik, gadis itu juga terlihat semakin dewasa, dan dia juga mengeluarkan aura yang sangat mencekam, seakan-akan menandakan bahwa tidak ada yang bisa meremehkannya.


Mereka berdua masuk ke kantor Danial, dan di sana Danial sudah berdiri di hadapan mereka, tapi sayangnya dia masih belum bisa melihat Cassandra karena Cassandra berada di belakang tubuh Bima.



"Silahkan duduk." ucap Danial pada Bima dan Cassandra.


Bima pun akhirnya maju dan duduk di depan Danial, begitupun dengan Cassandra. Danial tidak ingin melewatkan melihat gadis itu, dan dia pun terus memperhatikan gerak-gerik Cassandra, dan akhirnya dia bisama melihat wajah gadis itu.


"Siapa wanita ini?" ucap Danial.


"Dia adalah sekertaris ku, namanya adalah Putri." ucap Bima.


'Jadi dia bukan Cassandra?, sepertinya aku gagal lagi untuk dapat melihat wajah gadis itu.' ucap Danial dalam hati.


Danial tidak tau bahwa gadis yang ada di depannya adalah Cassandra, yah bagaimana mungkin dia bisa mengenalnya, dia telah melupakan beberapa ingatannya dan sayangnya semua itu menyangkut tentang gadis itu.


Mereka memulai rapat itu, hanya ada pembicaraan masalah perusahaan tidak ada pembicaraan tentang pribadi masing-masing.


Mereka dikejutkan dengan seseorang yang membuka pintu itu, dan pandang mereka tertuju pada seseorang yang membuka pintu itu.


Danial dan yang lain cukup terkejut melihat seorang anak kecil yang masuk ke ruangan itu.


'Tumben sekali Dhefin datang ke kantorku, apakah ada sesuatu yang penting.' batin Danial.


'Astaga.... itu Dhefin, bagaimana ini.' batin Cassandra gelisah.


'Ada apa dengan wajah mereka berdua?, ah aku ingat, bukankah anak ini adalah anak yang pernah aku obati.' batin Bima.



Dhefin pun kemudian berhambur ke pelukan Cassandra, dia menangis di sana, dia tidak tau lagi harus berkata apa. Intinya dia sangat senang bisa menemukan Mamanya, orang yang paling dia sayangin di dunia ini.


Danial terkejut melihat pemandangan itu, kenapa bisa putranya begitu dekat dengan wanita itu, padahal jika dengannya, berbicara saja tidak mau, apalagi sampai memeluknya.


'Ada apa ini, kenapa Dhefin terlihat akrab dengan wanita itu. Apa yang sebenarnya terjadi?' ucap Danial dalam hati.


Cassandra melihat wajah bingung Danial, meskipun ia juga ingin sekali memeluk Dhefin, tapi dia tidak ingin penyamarannya ketahuan. Dan akhirnya dia hanya mengelus kepala Dhefin dan kembali memulai sandiwaranya.


"Hai tampan, siapa namamu?. Apakah kamu putra tuan Danial?" ucap Cassandra sambil mengedipkan satu matanya pada Dhefin, dan Dhefin pun mengerti dengan isyarat Cassandra, dan dia pun mengikuti permainan Cassandra.


"Ah maaf Tante, tadi aku pikir Tante adalah Mama, maaf ya Tante. Namaku Dhefin, aku putra dari tuan Danial Bramantyo." ucap Dhefin.


'Sepertinya sampai kapan pun aku tidak akan bisa dekat dengannya. Dia memanggil gadis ini dengan sebutan Tante, sedangkan denganku, dia memanggilku dengan sebutan Tuan, seakan-akan kita bukanlah keluarga.' ucap Danial dalam hati.


"Pantas saja wajahmu begitu tampan seperti ayahmu ya." ucap Cassandra tanpa sadar memuji Danial.


Tanpa Cassandra ketahui ucapannya itu membuat Danial bahagia, Danial sendiri tidak tau kenapa hatinya begitu bahagia mendengar perkataan wanita itu padanya.


'Ada apa dengan diriku, aku sering mendengar perkataan ini dari berbagai wanita tapi aku tidak pernah sekalipun merasakan perasaan yang seperti ini.' batin Danial.


Bima yang mengerti situasi tersebut pun langsung mengikuti alur Permainan Cassandra.


"Bukankah rapat ini sudah selesai?, kalau begitu kami pamit dulu tuan Danial." ucap Bima.


"Ah baiklah, dan ya. Aku mengundangmu dan sekertaris mu ke acara makan malam di rumahku." ucap Danial.


'Apa?, bagaimana mungkin aku pergi ke acara itu, itu sama saja aku membongkar penyamaran ku, dan jika aku menolak pasti itu akan membuatnya semakin penasaran denganku, aku harus bagaimana?' ucap Cassandra dalam hati.


"Kami akan pergi jika kami memiliki waktu, tapi kami tidak janji." kata Bima.


Bima dan Cassandra pergi dari sana, dan kemudian di ikuti oleh Dhefin, dia tidak ingin lagi terpisah dari Cassandra, dia sangat merindukan gadis itu, Bagaimana mungkin dia melepaskannya, dia sangat menyayangi Cassandra, dan dia ingin terus berada di dekatnya.


"Dhefin, mau kemana kamu sayang?" ucap Danial.


"Pulang." ucap Dhefin dingin.


"Bukankah kamu kesini untuk bertemu dengan Ayah?" tanya Danial lembut.


"Bukankah kita sudah bertemu." ucap Dhefin kemudian dia pergi dari ruangan Danial.


"Sampai kapan kamu akan membenci ayah Dhefin?, ayah ingin sekali dekat denganmu, ayah ingin kamu bersikap seperti anak pada umumnya yang akan selalu bermanja pada ayahnya." ucap Danial sedih.


Hai semua, jangan lupa untuk like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya see you next timeđź‘‹