
Mereka mendengarkan penjelasan dokter tanpa menghiraukan kondisi Cassandra yang terjatuh di lantai. Tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan tangannya, Cassandra pun menoleh ke arah pria itu.
"Paman." ucap Cassandra.
"Sini aku bantu berdiri." ucap Dewo sambil membantu Cassandra berdiri.
"Terimakasih Paman."
"Jadi begini, pasien mengalami luka di kepalanya, itu tidak besar. Tapi karena posisinya di kepala membuat darah yang keluar sangat banyak. Kondisi pasien sebenarnya baik-baik saja, hanya kekurangan darah. Masalahnya adalah kita kehabisan darah yang sama dengan darah pasien." jelas Dokter itu.
"Ambil saja darah saya Dok, saya Ayahnya." ucap Danial.
"Apa golongan darah Bapak?" tanya dokter itu pada Danial.
"Golongan darah saya O." ucap Danial.
"Maaf pak, tapi darah Bapak tidak cocok dengan pasien." ucap dokter.
"Kalau begitu dia saja." ucap Sandra sambil menunjuk Rayna. "Dia adalah ibunya, pasti darahnya sama." lanjut Sandra.
"Apa golongan darah anda?" tanya dokter pada Rayna.
"Golongan darahnya adalah A." ucap Danial.
"Apa?, apa kalian yakin kalian adalah orang tuanya?. Bagaimana mungkin golongan darah kalian tidak sama dengan anak kalian?" tanya Dokter itu.
"Apa maksudmu?, kamu bilang Dhefin bukan anakku?, itu tidak mungkin, dia anakku." ucap Danial.
"Maaf pak, jika anda ayahnya pasti golongan darah pasien akan sama dengan anda atau ibunya, tapi saya tidak akan mempertanyakan ibunya, karena dia yang melahirkannya, tapi yang di pertanyakan adalah ayah dari pasien. Saya sarankan anda untuk melakukan tes DNA." jelas Dokter.
"Apa maksudmu?" ucap Danial sambil mencengkram kerah baju dokter itu.
'Sial, jika Dhefin bukan anak kandung Danial berarti dia anak Brayen. Jika semua itu terbongkar habislah aku.' ucap Rayna dalam hati.
"Maaf Pak, saya hanya menyarankan saja. Semua keputusan ada di tangan anda." kata Dokter itu.
"Jangan percaya perkataannya Danial, dia hanya ingin memeras uangmu saja. Bagaimana mungkin Dhefin bukan anakmu, padahal kamu sendiri yang pertama kali menyentuh tubuhku." ucap Rayna sambil berekting menangis.
Ya memang benar, Danial lah yang telah merebut kesucian Rayna, namun itu karena Rayna sendiri yang mau. Dia telah mencampurkan minuman Danial dengan obat perangsang. Dia ingin dirinya hamil dan akhirnya Danial akan menikahinya dan dia akan menjadi nyonya di rumah Danial. Namun sayangnya selain berhubungan dengan Danial dia juga sering melakukannya dengan pacarnya yaitu Brayen.
"Tenanglah, aku tidak akan melakukannya." ucap Danial.
"Lakukan Dok, saya ingin tau apakah dia anak kandung Danial atau tidak." ucap Sandra.
'Dasar tua Bangka, jika dia melakukan tes DNA, semuanya akan terbongkar.' batin Rayna.
"Danial apakah kamu tidak percaya bahwa Dhefin adalah putramu?" ucap Rayna.
"Tidak sayang aku percaya. Mah, kita tidak usah melakukan tes DNA. Bukankah Mama tau bahwa dia adalah anak Danial." kata Danial.
"Ya terserah Mama dong, klo kamu gak mau ya sudah, Mama hanya ingin mengetesnya. Lakukan saja Dok, dan berikan hasilnya nanti pada saya." ucap Sandra.
"Baiklah, tapi siapa di sini yang memiliki golongan darah B?" tanya dokter itu.
Semua orang pun terdiam, karena ayah dan ibu Danial memiliki golongan darah O. Tiba-tiba seseorang pun angkat bicara.
"Saya, golongan darah saya B. Saya akan mendonorkannya." ucap Cassandra.
"Tidak. Dokter, ambil saja di bank darah." ucap Danial.
'Danial, apakah sebegitu bencinya kamu padaku hingga darahku saja kamu tidak ingin berada di tubuh Dhefin. Aku hanya ingin menyelamatkannya, bukan menyakitinya.' ucap Cassandra dalam hati.
"Maaf Pak, tapi bank darah sedang kehabisan golongan darah B. Kami sudah menyuruh bawahan kita untuk mengambil kantong darah lagi, dan mungkin mereka sampai besok siang. Jika kita menunggu selama itu saya tidak yakin pasien bisa selamat." ucap Dokter.
"Apa maksudmu?, cepat selamatkan anakku." ucap Danial.
"Hanya itu satu-satunya cara. Hanya nona itu yang dapat menolong anak bapak." jelas Dokter.
"Danial, aku mohon padamu. Biarkanlah aku mendonorkan darah ku pada Dhefin, aku berjanji setelah aku mendonorkan darahku pada Dhefin aku akan pergi dari hidup kalian, aku akan menjauh dari hidup Dhefin. Jadi tolong izinkan aku mendonorkannya." ucap Cassandra pilu.
"Danial biarkan saja dia mendonornya, bukankah dia juga harus bertanggung jawab, jadi biarkan saja, aku tidak ingin jika hiks...." ucap Rayna dengan aktingnya yang luar binasa.
"Suuut tenanglah, tidak akan terjadi sesuatu pada Dhefin." ucap Danial menenangkan Mak lampir itu.
"Tapi nona ini hanya bisa mendonorkan 1 kantung saja, sedangkan pasien butuh 2 kantung." ucap Dokter.
"Lalu kenapa jika dia mendonorkan 2" tanya Rayna.
"Kemungkinan dia akan pingsan, dan kemungkinan terbesarnya dia akan mengalami kejang-kejang, dan jika itu terjadi, dia bisa mati kekurangan darah." jelas Dokter.
"Ya sudah ambil saja, dia pantas mendapatkannya. Jika bukan karenanya Dhefin tidak akan seperti ini, jadi dia harus menanggung akibatnya." ucap Rayna.
"Tidak, dia hanya akan mendonorkan 1 kantong saja." ucap Dewo.
"Tapi bagaimana nanti dengan nasib Dhefin?. Sayang aku tidak ingin Dhefin kenapa-kenapa?" ucap Rayna.
"Tidak, saya akan mendonorkan 2 kantong darah." ucap Cassandra.
"Apa maksudmu?, apakah kamu sudah bosan hidup?. Jika kamu mendonorkan 2 kantong kamu bisa meninggalkan." kata Dewo pada Cassandra.
"Aku ikhlas Paman, lagian Dhefin seperti ini juga karena ku." ucap Cassandra.
"Tapi Cassa-" ucap Dewo terhenti.
"Bukankah dia ingin mendonorkan 2 kantong, jadi lakukan saja." ucap Danial dingin.
Cassandra terkejut mendengar perkataan Danial, dia memang ingin mendonorkan 2 kantong pada Dhefin, tapi dia tidak menyangka bahwa Danial bisa melakukan hal itu, padahal dia tau akan akibatnya nanti.
'Aku tidak tau kenapa, tapi hatiku begitu sakit ketika kamu mengatakan hal itu padaku. Tapi aku tetap akan mendonorkan 2 kantong darah tanpa kamu suruh. Aku hanya tidak percaya bahwa kamu ternyata sangat tidak peduli padaku.' ucap Cassandra dalam hati.
"Dokter, tolong lakukan. Saya yang akan menanggung akibatnya sendiri, anda tidak perlu khawatir." kata Cassa pada Dokter itu.
"Hah baiklah jika itu keputusanmu. Mari ikut saya keruang sebelah." kata Dokter itu pada Cassandra.
Cassandra pun melangkahkan kakinya, namun kakinya begitu sakit hingga dia terjatuh. Tapi untungnya Dewo dengan tanggap langsung menangkapnya.
"Kamu tak apa?" tanya Dewo.
"ya tak apa." jawab Cassandra.
Dokter itu menghampiri Cassandra dan memeriksa kakinya.
"Tak apa apanya, kakimu terkilir, lihatlah. Bagaimana mungkin kamu tidak merasakan sakit, kakimu sampai bengkak begini. Jika ini di biarkan kakimu bisa patah." jelas Dokter. "Cepat bawa dia ke ruang sebelah, aku akan mengobatinya." lanjutnya.
Dewo pun langsung menggendong Cassandra ke ruang sebelah. Danial merasa sakit hati melihat pemandangan itu, ingin rasanya dia merebut Cassandra dari gendongan Dewo.
Cassandra telah di obati kakinya, dan sekarang dia telah di ambil darahnya. Ketika pengambilan darah ke dua, Dokter itu masih mempertanyakan apakah dia masih ingin mendonornya atau tidak.
"Saya rasa kamu tidak perlu mendonorkan 2 kantong, berat badan dan tensi darah kamu sudah menurun." jelas Dokter itu.
"Tak apa, lakukan saja. Aku ingin menyelamatkannya, aku akan merasa bersalah jika sesuatu yang buruk terjadi padanya." ucap Cassandra.
"Kamu seperti ibunya saja." ucap Dokter itu.
"Aku memang menyayanginya, walaupun aku bukan ibunya." kata Cassandra.
"Siapa namamu?" tanya dokter itu.
"Cassandra, namaku Cassandra Putri." kata Cassandra.
"Kenalkan, namaku Bima Saputra. Kita seumuran, jadi panggil aku Bima saja." ucap Bima.
'Gadis yang manis.' ucap Bima dalam hati.
Bima mengambil darah Cassandra, namun tidak penuh, dia tidak ingin gadis itu jatuh pingsan nantinya.
Cassandra keluar dari ruangan itu, dia melihat ke semua orang, tapi sayangnya tidak ada yang menoleh sedikitpun padanya. Dia berjalan di bantu oleh Dewo, karena kakinya masih sakit.
Tiba-tiba Cassandra merasa pusing, dan pandangannya pun mulai buram. Cassandra berpegang pada Dewo hingga akhirnya dia pun jatuh pingsan.
"Cassandra." ucap Dewo segera menangkap Cassandra dan kembali membawa Cassandra ke ruangan sebelah.
Salah satu suster di sana masuk ke ruang rawat Dhefin dan memanggil Bima untuk memeriksa Cassandra.
"Aku tidak tau apa salah gadis itu pada kalian, tapi ketahuilah dia gadis yang baik, dia telah mengorbankan hidupnya demi anak itu. Dan ya, sedari *** pasien selalu memanggil namanya. Dan jika gadis itu sampai kenapa-kenapa, itu adalah perbuatan kalian." ucap Bima pada Danial dan keluarganya.
Bima memeriksa keadaan Cassandra, dia sangat terkejut melihat kondisi Cassandra yang menurun drastis. Dia pun kembali ke kamar inap Dhefin dan mengambil satu kantong darah yang tidak penuh tadi. Namun Rayna menahannya.
"Apa yang kamu lakukan?, kenapa kamu mengambil darah ini lagi?" ucap Rayna.
"Gadis itu sedang kritis, jika dia tidak mendapatkan darahnya kembali aku tidak yakin dia bisa bertahan selama 1 jam." ucap Bima.
"Dia pantas mendapatkannya." ucap Rayna.
Tiba-tiba suster yang sedang merawat Cassandra keluar dan menghampiri Bima.
"Dokter, pasien mengalami kejang-kejang." ucap suster itu.
Hai, jangan lupa untuk like, komen dan vote sebanyak-banyaknya. Dan juga bagikan ke teman-teman kalian yang menyukai novel romantis seperti ini, supaya semakin banyak yang suka dengan novel ini. Dan bagaimana dengan pemeran barunya, cocok kah dengan selera kalian semua, komen di bawah ya. See you😘❤️