My Wife My Maid

My Wife My Maid
Ayah Yang Buruk



Keesokan harinya


Cassandra sudah siap untuk berangkat ke kantor, dia sudah menyiapkan sarapan untuk Bima juga, dan sekarang sudah waktunya dia untuk membangunkan Bima. Cassandra masuk ke kamar Bima, dan dia cukup terkejut melihat Bima masih tidur di sana.


"Astaga... kapan ni bocah gedenya, ujan jam 7 juga masih belum bangun, untung dia yang punya perusahaan, coba dia yang jadi bawahan, udah di pecat berkali-kali ni orang." ucap Cassandra.


Cassandra pun menghampiri Bima, dia membangunkan Bima dengan cara menggoyangkan tubuhnya, tapi tetap saja dia tidak bangun, alhasil Cassandra pun menggunakan cara kasar. Dia menarik selimut Bima kemudian dia melayangkan beberapa pukulan padanya.


"Woi kebo, bangun, astaga... kamu itu tidur apa mati sih." omel Cassandra, dan caranya pun berhasil, memang harusnya seperti itu.


Bima terbangun dari tidurnya dan dia pun masih menguap seakan-akan menandakan bahwa dia masih ingin tidur.


"Tidak bisakah kamu membangunkan aku menggunakan cara yang halus?, kenapa kamu selalu kasar padaku." ucap Bima.


"Aku sudah melakukan itu, tapi sayangnya kamu tidak bergerak sedikitpun, aku pikir kamu mati, ya sudah aku melakukan hal itu." ucap Cassandra cuek.


"Dasar gadis bar-bar." ucap Bima pelan.


"Apa kamu bilang?" ucap Cassandra lantang.


"Aku tidak mengatakan apa pun, kamu salah dengar saja." kata Bima.


"Sudahlah cepat bangun, dan bersihkan mulutmu, mulutmu bau sekali." ucap Cassandra sambil melemparkan sikat gigi padanya.


"Tapi walaupun aku belum mandi aku masih ganteng kan?" kata Bima dengan percaya dirinya.



"Sudahlah jangan mengada-ngada, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu." ucap Cassandra kemudian dia berlalu pergi, namun sayangnya Bima langsung menarik tangannya dan tanpa sengaja pun Cassandra jatuh ke pelukan Bima.


"Bagaimana?, apakah aku terlihat tampan?" ucap Bima yang wajahnya sudah berada dekat sekali dengan wajah Cassandra.


Cassandra gugup, dia tidak tau harus bagaimana, dan entah mengapa jantungnya berdegup dengan kencang.


'Astaga... ada apa dengan diriku ini?' ucap Cassandra dalam hati.


"Ada apa Princess?, sepertinya kamu sangat betah berada di pelukanku ya." ejek Bima pada Cassandra, dan dengan begitu cepat Cassandra menyingkir dari sana.


"Cepat mandi, jika kamu lama akan aku tinggal kamu." ucap Cassandra sambil berlari.


"Hahaha, lucu sekali wajahnya, sepertinya aku harus sering-sering mengerjainya." kata Bima dan diapun pergi ke kamar mandi sebelum dirinya di tinggal beneran oleh Cassandra.


.


.


.


.


.


Cassandra dan Bima pun sudah berada di kantor Danial, mereka tengah berunding tentang perencanaan proyek yang sedang mereka bangun. Cassandra sedari tadi tidak menoleh atau pun melihat wajah Danial, dia masih mengingat kejadian tadi malam, yang bisa dia lakukan hanyalah diam dan terus menunduk memperhatikan makalah yang ada di depannya.


Danial sadar dengan perilaku Cassandra yang sedang berusaha menghindarinya, dan dia yakin itu pasti karena ulahnya semalam.


'Apakah sebegitu parahnya aku berbuat buruk padanya, sepertinya aku hanya menawarkan uang saja padanya. Lebih baik aku menyapanya, mungkin saja itu dapat membuatnya tidak menghindariku.' ucap Danial dalam hati.


"Bagaimana menurutmu nona Putri?" ucap Danial pada Cassandra.


"Sepertinya itu saran yang bagus." ucap Cassandra yang masih menatap makalahnya, tapi itu tidak membuat Danial menyerah, dia terus menanyakan beberapa pertanyaan pada Cassandra, namun sampai rapat itu selesai pun dia masih tidak bisa membuat gadis itu menatapnya.


'Astaga, kenapa begitu sulit?, padahal biasanya para gadis dengan sendirinya akan menatapku, apakah aku sudah tidak begitu mempesona lagi?' batin Danial.


"Oke, rapatnya sudah selesai, kalau begitu kami undur diri terlebih dahulu, sampai ketemu minggu depan." ucap Bima.


'Ah... akhirnya berakhir juga, aku sudah tidak sanggup berada di sini bersamanya.' ucap Cassandra dalam hati.


"Bisakah kita makan siang bersama?, anggap saja itu permintaan maaf untukku pada nona Putri." ucap Danial, Cassandra terkejut dengan ucapan Danial dan tanpa sadar dia pun menoleh ke arah Danial.


'Akhirnya menoleh juga kamu Putri.' ucap Danial dalam hati.


'Sial, pakek ngajak makan siang bersama lagi.' batin Cassandra.


"Sepertinya kami tidak bisa, kami memiliki sesuatu yang akan kami urus nanti." ucap Bima.


'Hahaha, bagus sekali Bima.' batin Cassandra.


"Baiklah, Bagaimana dengan makan malam?" tanya Danial tidak ingin menyerah.


"Begitupun malam ini." kata Bima.


"Kalau boleh tau urusan apa itu hingga membuat kalian menghabiskan banyak waktu?" tanya Danial.


"Urusan yang begitu penting, dan itu sangat pribadi." kata Bima, dan setelah mendengar kata pribadi pun Danial tidak bisa menanyakannya lagi, karena itu pribadi, orang luar sepertinya tidak boleh mengetahuinya.


"Ah baiklah." ucap Danial pada akhirnya.


Cassandra dan Bima pun keluar dari perusahaan itu, dan Cassandra mendengar seseorang yang tengah memanggilnya.


"Tante Putri." ucap Dhefin kegirangan.


"Dhefin, kamu di sini sayang." ucap Cassandra menyambut Dhefin dengan pelukan yang hangat.


"Kenapa kamu ada di sini?, apakah kamu berniat menemui ayah mu?" kata Cassandra.


"Tentu saja tidak, aku ke sini karena ingin bertemu dengan Mama." ucap Dhefin.


"Ah... mama juga begitu merindukanmu." ucap Cassandra kemudian memberikan pelukan hangat pada Dhefin.


'Kenapa penampilan Dhefin bisa seperti ini?, sepertinya Danial tidak becus mengurusnya.' ucap Cassandra dalam hati.



"Dhefin... kenapa kamu berpakaian seperti ini sayang?" tanya Cassandra.


"Kenapa?, apakah ada yang salah dengan baju Dhefin?" tanya Dhefin pada Cassandra.


"Ah tidak, tapi itu sangat tidak bagus, Mama tidak suka melihat kamu berpakaian seperti ini." ucap Cassandra.


"Baiklah, Dhefin akan membuang semua baju yang seperti ini nanti." kata Dhefin.


'Semua baju?, berapa baju lagi yang dia punya, kenapa Danial tidak memperhatikan Dhefin, dia bahkan membiarkan anaknya berpakaian seperti ini.' batin Cassandra.


"Baiklah sayang, Mama pamit dulu ya." kata Cassandra.


"Secepat itu?, apakah Mama tidak merindukan Dhefin?" kata Dhefin.


"Mama merindukanmu, tapi kita tidak bisa bertemu di sini, kamu bisa menemui Mama di rumah paman Bima, ini alamatnya, dan itu nomer telpon Mama." ucap Cassandra, kemudian memberikan selembar kertas pada Dhefin.


"Baiklah, Dhefin akan mengunjungi mama nanti." kata Dhefin.


"Baiklah, tapi ingat, jangan beritahu siapa pun, mengerti?" kata Cassandra.


"Ya... Dhefin mengerti." ucap Dhefin.


"Kalau begitu Mama pergi dulu, selamat jumpa lagi Dhefin." ucap Cassandra sambil melambaikan tangannya.


"Selamat jumpa lagi Mama." balas Dhefin.


Dhefin pun berniat kembali ke rumahnya, tapi sayangnya dia melihat Danial yang baru saja keluar dari perusahaan, dan dia tidak ingin Ayahnya tau kalau dia ke sini hanya untuk menemui Cassandra.


"Lebih baik aku menemuinya, sebelum dia menyadari sesuatu." kata Dhefin.


Dhefin pun menghampiri Danial dengan malas, dan Danial pun terkejut melihat putranya yang datang menghampirinya.


"Dhefin?, ada apa kamu kesini sayang?." ucap Danial lembut.


"Aku ingin menemui Tomy." ucap Dhefin dan dia pun menarik tangan Tomy.


"Ada apa tuan muda?" tanya Tomy.


"Bisakah kamu menemaniku ke acara yang ada di sekolahku?" kata Dhefin.


"Tentu saja tuan muda." ucap Tomy.


"Dhefin... kenapa kamu tidak mengajak Ayah?" kata Danial.


"Bukankah kamu selalu sibuk dengan pekerjaan mu, lagian selama ini hanya Tomy yang selalu menemaniku." kata Dhefin dan dia pun pergi dari sana.


"Ah, maaf tuan, harusnya saya tadi menolak permintaan tuan muda." ucap Tomy merasa bersalah.


"Tidak, itu bukan salah mu, akulah yang telah gagal menjadi Ayah yang baik untuknya." ucap Danial.


Hai semua, jangan lupa untuk terus dukung novel ini dengan cara like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya, see you 👋😘