My Wife My Maid

My Wife My Maid
Pakaian



Keesokan harinya


Tomy sudah menyuruh babysiter profesional untuk membujuk Dhefin, namun tidak ada dari mereka yang berhasil. Danial mulai khawatir dengan hal itu, karena dari kemarin Dhefin tidak mau membuka kamarnya, dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Dhefin.


"Astaga apa yang gadis itu buat terhadap putraku, kenapa tidak ada satupun orang yang bisa mengambil hatinya. Dan kenapa kalian masih disini saja, cepat bujuk putraku, jika salah satu dari kalian berhasil, akan aku berikan upah yang setimpal."


Semua babysiter itu pun menyerah, tidak ada yang bisa meluluhkan hati Dhefin, Danial yang tidak ingin menyerah pun menyuruh semua karyawan kantornya untuk membujuk Dhefin, namun sama seperti tadi, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil. Akhirnya Danial menyerah, dia pergi ke kamar Dhefin dan membujuknya sendiri.


"Dhefin, Dhefin sayang, keluar dulu ya, ayah ingin ngomong sama Dhefin."


Tidak ada sahutan dari dalam, Danial pun menjadi cemas.


"Dhefin ayolah keluar, bukankah kamu ingin mencari Cassandra, kita akan mencarinya oke, tapi Dhefin harus keluar dulu, bagaimana mungkin kita bisa mencarinya."


Dhefin pun keluar dari kamarnya, dia keluar dengan mata yang sembab, Danial terkejut melihat mata Dhefin, dia tidak pernah melihat Dhefin menangis bahkan sekalipun, tapi apa yang dia lihat, Dhefin menangis hanya untuk gadis itu.


"Ayo kita pergi ke rumahnya."


"Apakah ayah tau rumah Mama?"


"Tentu saja, ayah sudah pernah pergi ke sana."


"Ya sudah ayo cepat pergi."


"Baiklah-baiklah, tapi kamu harus makan dulu, Cassandra pasti akan khawatir jika kamu belum makan."


"Tapi ayah..."


"Tidak ada tapi tapian, jika kamu tidak makan ayah tidak akan mencarinya."


"Iya ayah."


Setelah Dhefin selesai makan, mereka berangkat ke rumah Cassandra, namun Danial tidak ingin Dhefin bertemu dengannya, jadi dia mengajak Dhefin untuk jalan-jalan.


"Ayah, kenapa kita cuma muter-muter di sini saja?"


"Ah itu...."


"Apakah ayah tidak tau rumahnya?"


"Ah ya, seperti ayah lupa."


"Lebih baik ayah minta Tomy untuk mencari alamat Mama."


"Ah ya baiklah."


Mereka akhirnya sampai di rumah Cassandra, Danial masih tidak ingin turun dia ingin mengulur waktu, tapi Dhefin memaksanya. Dhefin sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Cassandra, dia tidak mengerti kenapa ayahnya tidak ingin turun.


"Ayolah ayah, kita temui Mama, Dhefin sudah sangat rindu padanya."


"Tapi..... bagaimana kalau Dhefin saja yang menemuinya."


"Tidak mau, ayah juga harus minta maaf sama Mama, dan menerima Mama untuk kembali bekerja."


"Bagaimana jika Cassandra tidak ingin bekerja lagi?"


"Ayah harus memohon padanya."


'Apa?, memohon kepada gadis culun itu, tidak mungkin, mana mungkin seorang Danial Bramantyo memohon pada seseorang, terlebih lagi itu Cassandra, aku tidak akan melakukannya.' batin Danial.


"Ayah, rumah Mama yang mana?"


"Yang itu."


"Ayo kita cari Mama dan membawanya pulang."


Danial dan Dhefin pergi ke rumah Cassandra, mereka mengetok rumah Cassandra, namun tidak ada seorangpun. Dhefin tetap menunggu dan terus mengetuknya,dia harap Cassandra ada di rumah.


"Ayah, apakah ini benar-benar rumah Mama, ayah tidak mencari rumah kosong untuk kita datangi kan."


"Tentu saja tidak, ayah tau betul jika ini rumahnya, mungkin saja dia sedang berada di luar, Bagaimana kalau kita pulang dulu, besok kita ke sini lagi."


"Tidak mau, kita sudah sampai di sini ayah, kita harus menunggunya."


"Baiklah, kita ketok saja sekali lagi, jika memang tidak ada orang kita pulang oke."


"Oke."


Mereka mengetok sekali lagi rumah Cassandra, namun tetap saja tidak ada perubahan. Danial dan Dhefin pun memutuskan untuk pulang, namun ketika mereka hendak pergi, pintu rumah Cassandra terbuka.


Ceklek


"Ya ada apa?"


Danial terkejut dengan penampilan Cassandra yang begitu seksi, dia tidak habis pikir, kenapa wanita itu bisa keluar dengan baju seperti itu.



(Anggap saja seperti itu ya)


'Ada apa dengan pakaiannya, kenapa bajunya memperlihatkan belahan dadanya, pakah dia berniat menggodaku?, sial.' batinnya.


Danial yang terkejut dengan penampilan Cassandra langsung mengalihkan pandangannya, namun Dhefin juga melihatnya, dia bengong melihat penampilan Cassandra. Danial yang sadar jika Dhefin sedang memperhatikan Cassandra pun menutup matanya.



"Tutup matamu, kamu tidak boleh melihatnya. Dan kamu, pakaian macam apa itu?, apakah kamu terbiasa keluar dengan pakaian itu?, sungguh memalukan."


"Ada apa denganmu kenapa selalu marah-marah, jika kamu datang kesini hanya untuk memarahiku lebih baik kamu pulang, mengganggu waktu tidurku saja. Dan masalah penampilanku, itu urusanku."


"Ya itu memang urusanmu, tapi kamu memakai pakaian terbuka seperti itu di depan Dhefin?, sungguh tidak tau malu."


"Apa kamu bilang?, aku memakai ini karena aku baru saja bangun tidur, aku mendengar suara ketukan pintu dan aku membukanya, apakah ada yang salah dengan itu."


"Jika tadi bukan aku yang mengetuk tapi seorang laki-laki mesum, kamu pasti sudah dihabisi."


"Apa urusannya dengan mu."


"KAMU YA-"


"Ayah, kita disini untuk menjemput Mama, bukannya ingin bertengkar." ucap Dhefin memotong pembicaraan Danial.


"Tapi apakah kamu lihat penampilannya."


"Ayo Dhefin kita masuk, tinggalkan saja orang itu."


Cassandra tidak mendengarkan ocehan Danial, dia langsung masuk dengan Dhefin, Danial yang merasa di abaikan pun tidak bisa melawan, jika tidak dia akan berada di luar. Mereka masuk ke rumah Cassandra, Cassandra menyuruh Dhefin duduk, sedangkan dia berniat untuk mengganti baju.



"Dhefin kenapa kamu ke sini?"


"Aku merindukan Mama, bisakah mama tinggal di rumah bersama Dhefin?"


"Maaf Dhefin, tapi Mama tidak bisa."


Dhefin pun menjadi murung, Cassandra yang melihatnya jadi tidak tega.


"Bagaimana jika Dhefin yang tinggal di sini."


"Apakah boleh?" tanyanya kepada Danial.


"Tidak boleh."


"Tapi ayah...."


"Tidak ada tapi tapian."


Dhefin pun menjadi sedih, dia sudah ingin menangis namun sebelum itu.


"Baiklah, tapi hanya sehari."


"Baiklah, Tapi ayah juga menginap di sini."


"Apa?, tidak Dhefin ayah..."


"Ya sudah aku akan menginap disini selamanya."


"Baiklah baiklah, tapi ayah pulang dulu, kita harus menyiapkan pakaian."


"Tidak mau, nanti jika kita pulang ayah tidak mungkin mau ke sini lagi, pokonya tidak ada yang boleh pulang."


Akhirnya Danial dan Dhefin pun menginap di rumah Cassandra, Dhefin sangat senang bisa bertemu dengan Cassandra lagi, sedangkan Danial, dia sangat tersiksa.


"Dhefin ayo kita tidur, tapi kamu mandi dulu, mama akan siapkan pakaian untukmu."


"Oke Ma."


Dhefin sudah mandi, dan dia hendak tidur bersama Cassandra, namun Danial menghalanginya.


"Dhefin tidak tidur bersama ayah?"


"Tidak, aku akan tidur bersama Mama."


"Lalu ayah bagaimana?"


"Kamu tidur di sofa."


"Apa?, tidak mau. Aku di sini sebagai tamu, tamu adalah raja, jadi kamu harus melayaniku dengan baik."


"Tapi ini rumahku, terserah aku mau memperlakukan tamuku bagaimana, jika kamu tidak suka kamu bisa pulang ke rumahmu."


"Dan jika ayah pulang, Dhefin akan tinggal di sini selamanya."


'Oh astaga, kenapa aku disiksa oleh kedua orang ini, aku ini pengusaha kaya yang terkenal, dikagumi banyak orang, dan apa ini, aku di buat tersiksa oleh dua orang ini. Aku harus menjauhkan Dhefin dari Cassandra, jika tidak, gadis itu akan mencuci otaknya.' batin Danial.


"Baiklah aku akan tidur di sofa, aku akan mandi dulu, tolong siapkan pakaianku."


"Oke."


(Selesai mandi)


"Cassandra, dimana bajuku?"


"Tuh."



(Bayangin aja Danial pakek baju itu ya)


"Pakaian macam apa ini?, ini pakaian perempuan, bagaimana mungkin aku memakainya."


"Aku tidak memiliki pakaian laki-laki, jadi gunakan seadanya saja, hanya itu pakaian paling besar yang aku punya."


"Tapi bagaimana dengan Dhefin?"


"Aku membelikannya kemarin pada saat keluar bersama Kevin."


"Kenapa tidak membelikan ku juga."


"Karena kemarin aku dihina, katanya pakaian ku tidak berkelas, bagaimana mungkin aku membelikan mu baju yang berkelas, uangku tidak cukup untuk itu."


"Tapi bagaimana mungkin aku pakai baju ini."


"Jika tidak mau kamu bisa telanjang saja."


"Dimana bajuku yang tadi?"


"Aku mencucinya."


"Apa?"


"Sudahlah jangan berisik aku mau tidur, jika tidak mau aku ambil kembali."


"Tidak tidak, akan aku pakai."


Danial pun memakai pakaian yang diberikan Cassandra. Dhefin dan Cassandra pun tertawa melihat Danial memakai pakaian itu, bagaimana mungkin mereka tidak tertawa, pakaian itu sangat pas di tubuh nya, lebih tepatnya kekecilan, baju itu memperlihatkan sebagian perutnya.


"Apakah kalian senang hah?"


"Tentu saja, ayo Dhefin kita tidur."


'Rasakan itu Danial, itu pembalasanku akan perbuatan mu kemarin, hahaha.' batin Cassandra.


'Lihat saja Cassandra, aku akan membalaskan perbuatanmu padaku hari ini.' batin Danial.


Hai semua, bagaimana ceritanya, makin seru apa gimana, komen ya dibawah:).