
Bruk...
Dewo pun terpental ke belakang, dia ditinju oleh seseorang, dan orang itu adalah ponakannya sendiri.
"Apa kamu gila?, ngapain kamu pukul aku?" ucap Dewo sambil memegang bibirnya yang luka.
"Kamu tuh yang apa?, aku gak nyangka yah kamu bisa ngelakuin ini sama ponakan mu sendiri. Aku ini ponakan mu, dan kamu malah nyembunyiin istri ponakan mu sendiri, tega kamu ya." ucap Danial emosi.
'Gawat, kenapa Danial bisa tau. Tidak tidak, aku harus tetap menyembunyikan cassandra.' ucap Dewo dalam hati.
"Apa maksudmu?, kenapa aku harus nyembunyiin istrimu, aku tidak ada hubungannya dengan istrimu, dan ya, jika dia pergi itu salahmu sendiri, kamu yang telah menyakitinya dan menyia-nyiakannya." ucap Dewo.
"Gak usah bacot kamu." ucap Danial langsung menuju ke mobil Dewo untuk memeriksa seseorang di dalam mobil itu.
Dewo menghalangi Danial, dia tidak ingin Danial bertanya sesuatu pada Emily tentang Cassandra, jika itu sampai terjadi, Cassandra akan kembali pada Danial.
"Apa yang kamu lakukan, kamu membuatnya takut." ucap Dewo.
"Apa maksudmu, aku suaminya, mana mungkin dia takut padaku, minggir kamu." ucap Danial dan mendorong Dewo menjauh. Danial pun membuka pintu mobil itu, dan betapa terkejutnya dia.
"Siapa kamu?" ucap Danial pada Emily.
"Saya.... saya murid pak Dewo." ucap Emily takut.
'Jadi dia yang paman sembunyikan dariku?, aku pikir itu Cassandra. Dan ternyata paman menyukai muridnya sendiri, astaga, betapa jahatnya aku telah memukulnya.' ucap Danial dalam hati.
"Sudah puas sekarang?, cepat pergi." usir Dewo.
"Tunggu, aku masih punya pertanyaan padanya." ucap Danial.
'Sial, pertanyaan apa yang akan Danial tanyakan pada Emily, aku harap itu bukan tentang Cassandra.' batin Dewo.
"Sudahlah Danial, kamu sudah membuatnya takut, dan ya dia harus pergi ke kelasnya sekarang." ucap Dewo menghalangi usaha Danial.
"Tidak, ini hanya sebentar." ucap Danial, Danial pun mendekatkan diri ke gadis itu, lalu dia melontarkan pertanyaan padanya. "Hei, aku cuma mau nanya, jangan takut oke. Apakah semalam kamu di rumahnya?" ucap Danial sambil menunjuk Dewo.
"Ah... iya" ucap Emily.
'Astaga Paman, ternyata kamu tidak sepolos yang aku pikir.' batin Danial.
"Ah baiklah, apakah kamu juga yang mengintip di jendela itu?" tanya Danial.
'Bagaimana dia bisa tau klo aku mengintip ke dalam.' ucap Emily dalam hati.
"I... iya" ucap Emily gugup.
"Hahaha, tidak perlu gugup begitu, aku hanya bertanya saja. Kalau begitu aku permisi dulu, dan maaf soal tinjuan tadi. Ah aku hampir lupa, Mama mengundangmu makan malam, bawa gadis itu nanti ya, see you." ucap Danial dan pergi begitu saja.
'Jadi orang itu Emily?, aku pikir Cassandra, tapi bukankah Emily datang pada saat Cassandra sudah pingsan karena Danial?, apa yang sebenarnya terjadi, aku harus bertanya pada Emily.' batin Dewo.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dewo pada Emily.
"Iya, saya tidak apa-apa Pak, tapi luka bapak?" ucap Emily.
"Tak perlu khawatir, ini hanya luka ringan saja. Oh ya, bisakah kamu ceritakan padaku kejadian kemarin, kenapa kamu sampai mengintip jendela?" tanya Dewo.
"Ah itu..."
Tadi malam Emily datang ke rumah Dewo, dia sudah memencet bel beberapa kali, namun tidak ada tanda-tanda Cassandra, dia menelfon Cassandra dan terdengar bunyi ponsel di dekat pintu. Emily pun penasaran, alhasil dia pun mengintip ke jendela, karena jendela itu masih terbuka sedikit, setelah melihat Cassandra terbaring di dekat pintu dia pun memanggil pelayan yang ada di sana, setelah itu Dewo pun menelfonnya.
"Jadi begitu pak ceritanya." ucap Emily.
'Untujg saja Emily ngintip lewat jendela, jika tidak Danial akan datang kerumah dan membawa Cassandra pergi.' batin Dewo.
.
.
.
.
.
.
Malam hari
Dewo pulang kerumahnya, dan dia bersiap-siap untuk pergi ke acara makan malam di rumah Danial, mungkin kakaknya itu sedang mengadakan acara kecil-kecilan yang hanya di hadiri anggota keluarga dan teman dekat saja.
Dewo pergi ke rumah Emily, karena dia tadi mengajak Emily untuk ikut bersamanya, dan Emily pun dengan senang hati menerimanya, sapa juga yang bakal menolak jika di ajak sama gebetan.
Dewo sampai di depan rumah Emily, dia hendak menelfon Emily, namun sayangnya gadis itu yang lebih dahulu keluar dari rumahnya, Emily menghampiri Dewo, dan Dewo pun menyuruhnya masuk ke mobil.
Di perjalanan, Dewo meminta tolong kepada Emily untuk mengikuti alur cerita yang dia sampaikan padanya, ya di sini Dewo dan Emily akan berperan sebagai seorang ke kasih.
"Emily, bisakah kamu menolongku?" ucap Dewo.
"Tentu saja Pak, ada apa ya pak?" kata Emily penasaran.
"Jadi begini, kita akan pergi ke rumah kakakku, dan aku minta tolong padamu untuk berakting di depan mereka sebagai kekasihku, apakah kamu mau?" tanya Dewo.
'Jangankan cuma akting, beneran pun aku mau pak' ucap Emily dalam hati.
"Iya pak, saya mau." ucap Emily.
"Baiklah kalau kamu setuju." ucap Dewo.
Dewo dan Emily pun sampai di rumah orang tua Danial, mereka berdua masuk ke dalam sambil bergandengan tangan layaknya seorang pasangan. Mereka berdua menjadi pusat perhatian, yah itu karena setau mereka Dewo belum pernah dekat dengan seseorang, dan sekarang malah berani menggandeng seorang wanita ke pesta.
"Apakah ini pacarmu Dewo?" ucap Aditama ayah Kevin.
"Ah iya kak." ucap Dewo.
"Bukankah dia sangat cantik." ucap Aditama pada Jovan.
"Yah, dia sangat cantik. Siapa namamu sayang?" tanya Jovan pada Emily.
"Nama saya Emily Rose, panggil saja Emily." ucap Emily sopan.
"Gadis yang baik." ucap Jovan.
"Apakah Papa tau, gadis inilah semalam yang Danial lihat di dalam rumah Paman." ucap Danial.
"Apakah itu benar?, pantas saja dia langsung pulang tanpa pamit, sepertinya sangat rindu padamu ya Emily." ucap Jovan.
"Eh tidak-" ucap Emily terhenti oleh Dewo.
"Sudahlah, jangan merayunya, lihatlah wajahnya sudah memerah karena malu." ucap Dewo, kemudian menarik Emily untuk pergi dari 2 orang itu.
"Lebih baik kamu di sini bersama kakak ipar, bantulah dia, dan ya jika ada seseorang yang menanyai mu, bilang apa saja, terserah kamu, intinya jangan sampai ketahuan." ucap Dewo.
"Baik Pak saya mengerti." ucap Emily.
"Jangan panggil Pak, panggil namaku saja." ucap Dewo.
"Ta-tapi, bapak kan..." ucap Emily terhenti oleh Dewo.
"Hanya di sini saja, di sekolah km bisa kembali memanggil ku Pak." ucap Dewo.
"Baiklah." ucap Emily pasrah.
"Emily, sini sayang. Bantu kakak menyiapkan ini." ucap Sandra.
"Eh iya." kata Emily dan langsung menuju ke tempat Sandra.
"Kalau boleh tau berapa usia mu?" tanya Sandra.
"Usia saya 20 tahun." ucap Emily.
"20, kamu seusia menantuku, tapi aku tidak tau dimana dia sekarang." ucap Sandra.
"Menantu anda memangnya pergi kemana?" ucap Emily.
"Lihatlah dia." ucap Sandra menunjuk Danial, "Dia putraku satu-satunya, dia sekarang tak terawat, hidupnya berantakan." ucap Cassandra.
"Apakah ini karena ulah menantu kakak." ucap Emily.
"Dia seperti itu karena kehilangan istrinya, tapi itu bukan salah menantuku, itu salahnya sendiri, dia yang telah menyakiti hatinya, sehingga dia pergi, dan sekarang kami hanya bisa membantunya dengan cara mencarinya." ucap Sandra.
"Kalau boleh tau siapa namanya?" kata Emily.
"Cassandra." ucap Sandra.
Halo semua, maaf ya episode kemarin di review nya sangat lama, author sendiri bingung, semoga tidak terjadi kesalahan seperti kemarin lagi. Jangan lupa untuk like komen dan vote author sebanyak-banyaknya ya, see you 👋😘