
Hai semua, cerita ini aku persembahkan untuk Jeju. Selamat membaca:)
Danial sudah menemukan Cassandra, dia sudah mendapatkan alamat Cassandra, sebenarnya dia masih belum yakin bahwa dia bakal berada di sana namun tidak ada salahnya untuk mengeceknya.
"Cassandra, aku tidak tau kamu berada di mana, aku harap kamu ada di tempat itu, hanya tempat itu yang aku tau, dan aku harap kamu juga akan memaafkanku."
Tidak butuh waktu lama Danial pun sudah sampai di tempat itu, ya itu adalah sebuah panti asuhan, tempat dimana Cassandra beradaan, Danial tidak tau pasti jika Cassandra berada di sana, namun pada saat melakukan penyelidikan, bawahannya menemukan tempat dimana Cassandra dulunya tinggal sehingga Danial memutuskan untuk pergi mengeceknya.
"Apakah dia akan ada di sini?, aku harap begitu. Jika dia tidak ada di sini aku tidak tau kemana lagi harus mencarinya."
Danial masuk ke halaman panti asuhan itu, di sana sangat banyak sekali anak-anak yang bermain, dia sangat risih dengan keberadaan anak-anak itu, hingga sesuatu terjadi.
"Aduh." ucap Helena.
"Apa yang kamu lakukan, apakah kamu tidak punya mata, bagaimana bisa kamu menabrak ku?, apakah kamu buta." cecar Danial.
Helena yang mendengar omelan Danial pun menangis, semua anak-anak di sana yang terkejut mendengar omelan Danial pun menghampiri Helena, mereka mencoba menenangkan Helena yang menangis.
"Hei, apa yang kamu lakukan pada Helena?" ucap Tino.
"Ada apa hah, dia sendiri yang salah, dia yang menabrak ku hingga dia terjatuh, aku hanya memarahinya bukankah itu pantas untuk dia dapatkan."
"Dasar gila, awas saja ya kamu, aku akan memanggilkan pahlawan kami." ucap Toni dengan berani.
"Hah, Apa?, pahlawan?, dasar bocah, panggil saja pahlawanmu, aku tidak takut." ucap Danial menantang.
Tino dan anak-anak panti pun berteriak memanggil 'Kakak' dan tidak butuh waktu lama pun orang yang dipanggil merekapun datang.
"Ada apa kalian memanggilku?, apakah kalian mau mengerjai ku lagi?" tanya Cassandra.
"Tidak kakak, tapi dia, orang ini sudah membuat Helena menangis, lihat itu." ucap Tino.
"Eh Helena, ada apa denganmu?, siapa yang membuatmu sampai seperti ini."
"Dia," ucap Helena sambil menunjuk Danial. "Paman jahat itu yang membuatku seperti ini hiks... dan dia juga memarahiku, hiks.... hiks." ucapnya sambil menangis.
Cassandra pun menoleh melihat orang yang di tunjuk oleh Helena, dan betapa terkejutnya dia.
'Danial?, apa yang dia lakukan di sini?, akakah dia mencariku?, itu tidak mungkin, bagaimana mungkin seorang Danial mencariku, oh astaga apa yang aku pikirkan, dia pasti mencariku karena ingin menceraikan aku.' batin Cassandra.
"Ada apa kamu kesini?"
"Cassandra aku tau aku salah, aku minta maaf akan hal itu, tapi aku mohon padamu kamu jangan meninggalkan aku dan Dhefin, dia tidak bisa hidup tanpamu, bukankah kamu sudah berjanji padanya untuk menjadi ibunya yang sesungguhnya."
"Itu janjiku pada Dhefin karena aku pikir ibunya tidak akan pernah kembali, namun sekarang dia sudah memiliki ibunya, ibu kandungnya, jadi buat apa lagi aku berada di sana, keberadaan ku sudah tidak lagi di perlakukan, jadi aku harap kamu pergi dari sini dan jangan ganggu aku lagi."
"Tidak Cassandra, Dhefin sangat membutuhkanmu, aku harap kamu mau pergi bersamaku."
Cassandra tidak mengubis perkataan Danial, dia pergi meninggalkan Danial sendiri di sana, Danial yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan pun langsung menahan kepergian Cassandra.
"Tidak bisakah kamu sedikit lebih lembut, bahkan di posisi seperti ini pun kamu masih berbuat kasar, aku akan mengobati Helena dulu, jika kamu memang mau menunggu jawaban dari ku, tunggu saja di sini." ucap Cassandra sambil berlalu untuk masuk kedalam.
.
.
.
.
.
Danial tetap menunggu Cassandra di luar, di sana sudah cukup panas, Danial sudah menunggu Cassandra berjam-jam lamanya, namun dia masih tidak ingin pergi, dia masih ingin berusaha membujuk Cassandra.
Cassandra sebenarnya dari tadi memperhatikan Danial, dia berharap bahwa Danial akan pergi, namun ternyata dia masih menunggunya meski itu lama, Cassandra yang merasa kasihan pun pergi untuk menemuinya.
"Apakah sudah selesai?, butuh waktu berapa jam kamu mengobati luka goresan itu, dokter profesional pun hanya butuh beberapa menit, sedangkan kamu-"
"Bisakah kamu diam, jika tidak aku akan kembali masuk."
"Baiklah-baiklah, Bagaimana?, apakah kamu mau ikut denganku?" uacap Danial penuh harapan.
"Berikan alasan mengapa aku harus ikut."
"Alasan yang pertama karena Dhefin, yang kedua karena kamu sudah berjanji padanya akan menjadi ibunya dan yang ketiga...."
'Apakah kamu akan mengatakan karena aku adalah istrimu?.' batin Cassandra.
"Karena kamu sudah menandatangani kontrak dengan ku." ucap Danial.
Seketika Cassandra merasa sedih, dia seharusnya tau bahwa sampai kapanpun seorang pembantu hanya akan menjadi pembantu.
'Harusnya aku tau itu, aku hanya pembantu baginya, tidak lebih dari itu.' batin Cassandra.
"Bagaimana jika aku tidak ingin ikut denganmu."
"Kamu tidak boleh melakukan itu, aku sudah susah payah mencarimu, dan apa ini kamu dengan santainya menolak ku, aku ini sangat sibuk, tapi aku rela datang sendiri ke sini untuk menemuimu dan mengajakmu untuk pulang. Aku juga sudah panas-panasan menunggumu berjam-jam di luar." keluh Danial.
"Apakah hanya itu?, apakah kamu tidak tau apa yang sudah Aku alami?, kamu membuatku berharap untuk menjadi istrimu walaupun itu palsu, tapi apa yang kamu lakukan?, kamu mempermalukan aku di hari dimana harusnya aku merasa bahagia atas pernikahanku, apakah kamu tidak tau itu?. Aku pergi dari sana, aku menjadi bahan omongan orang-orang, aku dibilang perebut suami orang, perusak rumah tangga orang, mereka bahkan mengataiku wanita penggoda. Apakah kamu pikir aku tidak merasa sakit hati dikatakan seperti itu, padahal aku ini hanyalah korban, korban dari keegoisanmu, aku tidak akan mau lagi kembali bersamamu, tolong biarkan aku bahagia, aku hanya ingin hidup dengan tenang tanpa harus mendengar ocehan orang-orang, bisakah kamu tidak menggangu ku lagi." (Sambil menangis).
"Maafkan aku Cassandra, aku tau aku salah, tapi aku juga tidak bisa melepaskanmu, orang tuaku dan Dhefin sangat menyukaimu, aku juga sangat ingin melepaskan mu, tapi aku tidak bisa."
"Aku tanya padamu, kamu kemari menjemputku sebagai istrimu atau sebagai pembantumu?, jawabanmu akan memutuskan aku untuk pergi bersamamu atau tidak."
Bagaimana ceritanya, apakah seru?, jangan lupa tinggalkan jejak kalian:)