
Setelah selesai makan Cassandra menuju ke kamar Danial, dia sedikit takut tapi dia berusaha memberanikan diri, itu juga untuk kepentingan Dhefin. Cassandra masuk ke kamar Danial, dia tidak melihat Danial di sana.
"Danial, dimana kamu?"
"Dikamar mandi, kamu pakai saja baju yang ada di sana."
'Baju?, baju yang mana?' batin Cassandra
"Apakah bajunya ada di kotak ini?"
"Ya, cepat pakai."
"Oke."
Setelah beberapa saat kemudian, Danial pun sudah selesai mandi, dia sudah tidak sebar melihat penampilan Cassandra. Cassandra sangat bingung, kenapa Danial menyuruhnya memakai baju yang sangat aneh ini, dia tidak menyangka kalau Danial menyukai model pakaian seperti ini.
'Kita lihat saja penampilannya, pasti dia terlihat aneh memakainya. Oh astaga, kenapa dia sangat imut, ini jauh dari dugaan ku, aku berharap dia akan merasa di permalukan, tapi apa ini, kenapa baju itu sangat pas untuknya. Kenapa aku selalu gagal untuk menyiksanya, tapi tak apa, kita lihat saja besok, apa kata orang-orang ketika melihat penampilanmu.' batin Danial.
"Baju apa ini, kenapa sangat aneh?"
"Sudahlah, kamu besok harus pakai baju itu."
"Apa?, tidak mau."
"Ya sudah aku tidak akan datang."
"Kamu tu ingin menyiksaku ya, mana ada orang keluar rumah pakai baju seperti ini."
"Keputusan ada di tanganmu, kalau kamu pakai baju itu aku akan datang bersamamu, tapi jika tidak, aku akan pergi ke kantor."
"Oh ayolah, jangan mengerjai ku, kamu boleh meminta apapun, tapi tidak yang ini."
"Hanya itu yang aku inginkan."
"Hah.... baiklah, aku akan memakainya besok, tapi kamu harus menuruti semua yang di inginkan oleh Dhefin."
"Tentu saja."
.
.
.
.
.
Pagi hari
Cassandra bangun pagi seperti biasanya, namun dia tidak ingin keluar kamar, dia sangat malu jika keluar kamar menggunakan baju itu.
Sedangkan Dhefin, dia sudah menunggu Cassandra di meja makan, dia bingung kenapa Cassandra tidak ada di meja makan, biasanya jam segini dia sudah menyiapkan sarapan.
"Ayah, dimana Mama?"
"Entah, mungkin di kamarnya."
"Aku panggil Mama dulu ya Ayah."
"Hm..."
Tok tok tok
"Ma... ayo sarapan, kita akan terlambat jika tidak sarapan sekarang."
"Ya... baiklah, Dhefin tunggu di meja makan saja."
"Baiklah, Dhefin pergi dulu ya Ma."
Cassandra sampai di meja makan, semua orang melihat padanya, Dhefin, Danial dan para pelayan memperhatikan pakaian Cassandra. Dia sangat tidak suka diperhatikan seperti itu, itu membuatnya merasa tidak nyaman.
'Aku sudah tau kalau penampilan ini sangat aneh, tapi demi Dhefin, aku harus bertahan. Awas saja kamu Danial, aku akan membalas mu nanti.' batin Cassandra.
"Mama kenapa pakai baju seperti itu."
"Ayah mu yang menyuruhku."
"Selera ayah memang sangat bagus, aku sangat menyukainya."
"Ukhuk, apa maksudmu?"
"Mama sangat pantas memakai baju itu, dia terlihat lebih muda dan sangat imut. Baju ini seperti di ciptakan memang untuk Mama."
"Ya, Mama jadi terlihat lebih muda."
"Terimakasih Danial atas pakaiannya."
'Apakah sebagus itu?, kita lihat aja, bagaimana pendapat yang lain nanti, aku harap ada dari mereka yang tidak menyukai penampilan mu Cassandra.' batin Danial.
Cassandra, Danial dan Dhefin pergi ke sekolah, mereka sudah siap untuk menghadiri festival itu. Danial sudah menantikan Cassandra menjadi bahan omongan orang yang hadir di sana, sedangkan Dhefin, dia sudah tidak sabar untuk mengikuti semua lomba yang ada. Dan Cassandra, dia sangat khawatir dengan penampilannya itu.
"Selamat datang tuan dan nyonya Bramantyo, Dhefin akhirnya orang tuamu bisa menghadiri acara ini."
"Iya Bu guru, Dhefin sangat senang akhirnya orang tua Dhefin bisa menghadiri acara ini."
"Istri anda sangat imut tuan, dia terlihat lebih muda."
"Benarkan ibu guru, aku juga sependapat dengan ibu, Ayah sendirilah yang memilihnya."
"Ternyata seleranya tuan sangat unik ya."
"Ya, saya hanya bisa menuruti kemauan suami saya."
"Sepertinya ibu dan Ayah mu sangat romantis ya."
"Ya sudah kita pamit dulu ya Bu, ayo Dhefin."
Acara pun dimulai, begitu banyak orang tua murid yang menghadiri acara itu, dan begitu banyak pula yang menatap Danial dengan tatapan cinta, sedangkan untuk Cassandra, mereka menatapnya dengan benci.
"Ada apa?"
"Kenapa ibu-ibu itu semua menatapmu?, aku pikir mereka menyukaimu."
"Tentu saja, siapa yang tidak mencintaiku, aku tampan begini."
"Tidak bisakah kamu tidak terlalu percaya diri, aku bosen dengernya."
"Hei, apakah kamu lihat wanita itu, bukankah dia sangat kekanak-kanakan, pakaian apa yang dia pakai, sama sekali tidak bermerk."
'Apa mereka sedang membicarakan aku?' batin Cassandra.
'Oh akhirnya dimulai juga, tunggulah Cassandra, sebentar lagi mereka akan semakin mengolok-olok dirimu.' batin Danial.
"Dasar tidak tau diri, apakah dia pikir dirinya bisa bersanding dengan Tuan Bramantyo, sungguh memalukan."
"Ya, dia sangat tidak pantas berada di samping Tuan Bramantyo, apalagi dengan pakaian seperti itu."
"Dia pikir jika berpakaian seperti itu dapat menarik perhatian Tuan Bramantyo, dasar ******."
'Apa mereka bilang?, mereka mengataiku ******?, asal mereka tau, aku berpakaian seperti ini tu karena Danial sendiri yang memilihnya, aku akan membungkam mulut ember mereka semua.' batin Cassandra.
"Maaf ibu-ibu semua, apakah kalian sedang membicarakan aku?"
"Mau apa kamu." ucap salah satu dari mereka dengan tatapan sinis.
"Aku hanya tidak begitu suka dengan pekerjaan kalian yang selalu membicarakan orang di belakangnya, jika kalian berani silahkan bicara di depanku."
"Sapa yang takut sama wanita buluk kek kamu, udah miskin rata lagi."
'Rata?, astaga meraka menghina tubuhku, aku akan membalasmu ibu tua.'
"Betul banget tuh jeng, apa yang mau dia berikan pada tuan Bramantyo, tubuhnya saja tepos."
"Ya, aku memang tepos, tapi masih oke dari pada kalian, sudah melorot semua kulitnya."
"Apa kamu bilang, dasar ****** tidak tau diri, wanita macam kamu tu tidak pantas berada di samping tuan Bramantyo-"
"Terus jika aku tidak pantas, apakah kalian yang kelewat seksi ini pantas?"
"Kamu bilang kita gendut hah?, pria itu lebih suka wanita berisi dari pada tepos kek kamu."
"Jika benar begitu kenapa suami kalian pada menatap ku, apakah mereka tergoda olehku, dengar ya ibu-ibu sekalian, pakaian yang saya pakai itu dipilih oleh tuan Bramantyo sendiri, jika kalian menghina pakaianku sama aja kalian menghinanya."
"Itu tidak mungkin, bagaimana bisa seorang seperti tuan Bramantyo memilih pakaian yang kekanakan itu, terlebih dia memberikannya padamu, jika bukan kamu yang menggodanya dan memintanya untuk membelikan pakaian itu untukmu."
"Baiklah akan aku buktikan."
Cassandra yang kelewat marah pun segera pergi menuju tempat Danial, dia menarik lehernya dan kemudian...
Cup
Jangan lupa untuk like, komen dan vote ya.
Sampai jumpa lagi:)