
"Aku tanya padamu, kamu kemari menjemputku sebagai istrimu atau sebagai pembantumu?, jawabanmu akan memutuskan aku untuk pergi bersamamu atau tidak." ucap Cassandra.
Danial diam, sampai beberapa saat kemudian dia membuka suara.
"Aku menjemputmu sebagai ibu Dhefin." jawab Danial.
"Itu tidak ada dalam pilihan."
"Aku tidak tau Cassandra, aku ingin bilang bahwa aku menjemputmu sebagai istriku, tapi hatiku tidak bisa melakukannya. Aku juga ingin mengatakan bahwa aku menjemputmu karena kamu pembantuku tapi aku takut kamu menolak untuk pergi denganku." ucap Danial frustasi.
"Jadi...... di matamu aku hanya sebatas pembantu?, hahahaha, harusnya aku tau itu. Aku akan kembali tapi tidak denganmu, aku akan kembali sendiri tapi bukan sekarang, aku masih butuh waktu."
"Tapi Cassandra-"
"Jangan paksa aku Danial, atau aku tidak akan pernah kembali."
"Baiklah jika itu keinginanmu, ingatlah untuk kembali, Dhefin sangat merindukanmu."
Danial pun pergi dari panti asuhan itu, sedangkan Cassandra, dia langsung terjatuh dan menangis di sana.
"Aku pikir kamu kesini untuk menjemputku dan mengatakan bahwa kamu sangat merindukanku, aku pikir kamu akan mengatakan bahwa kamu sangat mencintaiku, tapi apa?, kamu hanya menganggapku sebagai pembantu saja. Aku tidak ingin kembali, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Dhefin, apa yang harus aku lakukan." ucapnya disela tangisan.
Pemilik panti asuhan itu kemudian menghampiri Cassandra, dia tau apa yang Cassandra alami, walaupun gadis itu sangat tertutup tapi dia tidak mungkin bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Ada apa nak?"
"Eh Bunda, tidak ada apa-apa Bun." ucap Cassandra sambil mengusap air matanya.
"Sudahlah nak, jangan sembunyikan lagi, sampai kapan kamu akan memendam semua itu sendiri, ceritakanlah pada Bunda, walaupun Bunda bukan ibu kandungmu tapi Bunda sangat menyayangimu nak."
Cassandra yang mendengar itupun langsung menangis di pelukan Bunda Tania, dia menangis melepaskan semua kesedihannya.
"Cassandra tidak tau Bun, Cassandra sangat sedih mendengar ucapannya tadi." ucap Cassandra.
"Tapi nak, Danial belum tentu bilang seperti itu kan, dia hanya bingung akan keputusannya." ucap Tania.
"Bingung apanya Bun, siapapun tau bahwa aku hanyalah seorang pembantu, dan dihatinya hanya ada Rayna seorang."
"Apakah kamu mencintainya?"
Deg
Cassandra yang mendengar hal itupun menjadi diam, dia tidak tau harus berkata apa, dia juga bingung terhadap perasaannya sendiri.
"Aku tidak tau Bun."
"Baiklah, biar bunda tanya. Jika kamu disuruh untuk memilih kamu akan memilih yang mana, Danial dengan Rayna, atau Danial dengan dirimu?"
"Apa maksud Bunda." ucap Cassandra mengalihkan pertanyaan.
"Jawablah Cassandra."
"Tentu saja dia dengan Rayna." ucapnya ngasal.
"Apakah kamu yakin?"
"Ten, tentu saja."
"Jika seperti itu lalu kenapa kamu menangis?" tanya Tania menyakinkan.
"Sudahlah Bunda."
"Hahahaha, ternyata gadis bunda sedang jatuh cinta."
"Apa yang Bunda katakan, sapa juga yang lagi jatuh cinta." ucap Cassandra mengelak.
"Benarkah?, lalu kenapa kamu merona?"
"Bunda...." ucap Cassandra.
"Jika kamu bingung akan perasaanmu kamu bisa membuktikannya sendiri, pergilah temui mereka, jika kamu memang hanya ingin ke sana demi Dhefin kamu tidak akan merasa sakit hati jika Danial dekat dengan Rayna, tapi jika sebaliknya, kamu gapailah apa yang kamu inginkan."
"Apakah bunda lupa siapa Danial?, dia adalah seorang CEO perusahaan Bramantyo, orang terkaya dan terpandang, sedangkan aku, aku hanya gadis biasa yang tidak jelas asal-usulnya."
"Baik Bunda, Cassandra akan mengingat hal itu."
"Lalu, kapan kamu akan kembali?" tanya Tania.
"Cassandra juga tidak tau Bunda."
"Tinggallah di sini lebih lama, tapi kamu harus ingat akan kebahagiaanmu, jika kamu merasa sedih, kamu bisa datang kesini lagi, kami semua akan menyambutmu kapanpun itu."
"Baiklah Bunda, Cassandra akan pergi setelah 3 hari."
"Keputusan yang bagus, jangan lupa pesan bunda untukmu oke?"
"Oke Bunda."
.
.
.
.
.
Tiga hari kemudian
Cassandra pun memutuskan untuk kembali ke kediaman Bramantyo, dia sekarang sudah berada di depan gerbang, namun dia masih ragu untuk masuk, pada saat dia berniat untuk pergi ada seseorang yang menahannya.
"Cassandra, apa itu kamu?" ucap Danial.
Cassandra pun berbalik dan melihat kearah Danial, tiba-tiba dia melihat.
"Sayang, siapa dia?, apakah mantan istrimu?"
Sakit, itulah yang Cassandra rasakan, tapi dia berusaha untuk menepisnya, dia meyakinkan dirinya bahwa dia tidak apa-apa, dan dia disini demi Dhefin.
"Cassandra, kenapa kamu diam saja, ayo masuk."
"Danial, aku ingin berbicara denganmu, hanya kamu seorang."
"Hm... baiklah."
Danial mengajak Cassandra pergi ke taman belakang, dan dia menyuruh bodyguard nya untuk menjaga kawasan itu.
"Ada apa?"
"Aku ingin kamu tidak lagi menemuiku, tidak lagi berkomunikasi denganku, baik di depan Dhefin atau pun di depan semua orang."
"Kenapa begitu."
"Aku tidak tau, aku hanya menginginkan itu, jika kamu keberatan tak apa, aku akan kembali ke panti asuhan."
"Baiklah-baiklah, tapi bagaimana jika aku memerlukan bantuanmu?"
"Aku hanyalah pembantumu, jika kamu membutuhkan pembantumu masih ada pembantu yang lain, tapi jika kamu membutuhkanku tentang hal lain, bukankah sudah ada Rayna yang posisinya sebagai pacarmu?"
"Cassandra, apakah kamu masih marah padaku?"
"Aku tidak berhak marah terhadapmu, aku juga tidak ingin melakukannya, tapi itulah yang terjadi."
"Aku minta maaf-"
"Dan jangan pernah mengatakan hal itu lagi, aku muak mendengarnya."
"Tapi Cassandra-"
"Kita akhiri saja, mulai sekarang jangan pernah berbicara atau mengajakku untuk berbicara, aku tidak akan pernah menanggapi mu." ucap Cassandra sambil pergi meninggalkan Danial sendiri.
'Ada apa denganmu Cassandra?, apakah sebenci itu kamu padaku?, aku tau aku salah, aku juga tau aku sudah menyakitimu, tapi tidak bisakah kamu memaafkanku?" ucap Danial dalam hati.
Hai semua, maaf telat update T_T, aku harap kalian masih setia membaca ceritaku, jangan lupa untuk like, komen dan vote ya:). Dan juga follow akun author biar author semakin semangat menulisnya XD.