
Danial kembali ke rumahnya, dan dia di sambut oleh kekasihnya itu. Rayna langsung memeluk Danial begitu di sampai, tapi ada yang aneh dari Danial. Karena biasanya dia akan membalas pelukan yang Rayna berikan padanya, namun kali ini tidak.
"Danial... kenapa kamu mengabaikan aku." rengek Rayna.
"Ah, maafkan aku sayang. Aku sedang banyak pikiran, aku ke atas dulu ya." ucap Danial pada Rayna, dan kemudian dia pun pergi ke kamarnya.
"Ada apa denganya?, biasanya dia tidak akan mengabaikan ku. Apakah terjadi sesuatu di kantor?, aku akan tanya Tomy." ucap Rayna.
Rayna pun masuk ke dalam rumah dan pergi mencari Tomy.
"Tomy.... Tomy.... Dimana kamu?" kata Rayna.
"Iya nyonya." ucap Tomy.
Tomy memanggil Rayna nyonya karena itu perintah dari Rayna sendiri, padahal panggilan itu hanya untuk istri Danial, dan dia bukanlah nyonya di rumah itu. Tapi dia seolah-olah seperti nyonya di rumah itu yang bisa mengatur apa pun sesuka hatinya.
"Apakah di kantor ada masalah?" tanya Rayna.
"Tidak Nyonya." ucap Tomy.
'Tidak?, lalu apa yang sedang di pikiran oleh Danial?' batin Rayna.
"Kemana dia 2 hari terakhir?, apakah dia pergi ke luar kota untuk bertugas?" kata Rayna.
"Tidak Nyonya, dan saya tidak tau kemana tuan pergi." ucap Tomy berbohong, karena dia tidak ingin jika Rayna nantinya berbuat sesuatu pada Cassandra. Tomy berbuat seperti itu bukan karena dia suka terhadap Cassandra, tapi karena dia merasa gadis itu adalah gadis yang baik, dan tuannya juga menyukainya, hanya menunggu dia menyadari perasaannya, maka Cassandra lah yang akan menjadi Nyonya di rumah ini. Dan dia lebih senang jika Cassandra yang menjadi istri tuannya ketimbang wanita songong itu.
'Jika Danial tidak pergi ke kantor, lalu selama ini dia pergi ke mana? jangan bilang dia pergi menemui gadis culun itu. Dasar tidak tau diri, padahal aku sudah memberinya peringatan, sepertinya kamu lupa akan hal itu gadis kecil. Lihat saja apa yang akan aku perbuat padamu karena kamu berniat merebut Danial dariku.' ucap Rayna dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Malam hari
Cassandra sudah berada di rumah orang tua Danial, mereka menyambut Cassandra dengan senang hati. Cassandra merasa bahwa di sinilah dia dapat menemukan sebuah keluarga yang dapat menerimanya dengan tulus dan penuh kasih sayang.
Sandra dan Jovan merawat Cassandra seperti putri mereka sendiri, mereka bahkan memanjakan Cassandra, seperti saat ini.
"Ayo sayang makan yang ini, Mama membuatkan ini khusus untukmu." ucap Sandra sambil memberikan makanan itu ke piring Cassandra.
"Ya sayang, makan yang ini juga, Papa jamin rasanya enak. Dan ini juga, kamu harus makan daging yang banyak, lihatlah tubuhmu begitu kurus." ucap Jovan dan ikut mengisi piring Cassandra dengan begitu banyak makanan.
'Bagaimana caraku menghabiskan semua makanan ini, mereka ingin memberiku makan atau membunuhku. Ini bukan porsi satu orang tapi untuk porsi 3 orang sekaligus. Sepertinya besok pagi aku tidak perlu sarapan dan makan siang deh.' ucap Cassandra dalam hati.
Pagi hari.
Cassandra berniat untuk pergi berbelanja dengan Dhefin, sekalian gua juga ingin menghirup udara segar. Dia dan Dhefin tidak memakai mobil, karena dia ingin menghabiskan waktu yang lama bersama Dhefin sehingga dia tidak ingin di antar oleh supir. Sebenarnya Sandra sangat tidak setuju dengan kemauan Cassandra, namun dia juga tidak bisa menolaknya dan akhirnya dia pun menyetujuinya.
"Dhefin, kita mau pergi ke mana sayang?" tanya Cassandra pada Dhefin.
"Dhefin juga tidak tau Ma." ucap Dhefin.
"Hm... bagaimana kalau kita ke supermarket, Mama ingin membeli bahan-bahan untuk membuat cookies." ucap Cassandra.
"Cookies?, Dhefin sangat suka cookies, kalau begitu Let's go." ucap Dhefin begitu senang.
Cassandra dan Dhefin pun memutuskan untuk pergi ke supermarket, mereka membeli keperluan untuk membuat cookies. Setelah selesai mereka berniat untuk memanggil taksi, namun sayangnya ada orang yang menabrak Cassandra hingga dia terjatuh, dan barang-barang belanjaannya pun berserakan dimana-mana.
"Aw...." keluh Cassandra.
"Mama tidak apa-apa?" tanya Dhefin khawatir.
"Tak apa Dhefin." ucap Cassandra.
Cassandra berusaha untuk berdiri, namun ternyata kakinya terkilir. Dhefin yang melihat itu pun merasa tidak tega, sehingga dia menyuruh Cassandra untuk duduk di sana, dan dia lah yang mengambil barang-barang itu.
Cassandra menolak permintaan Dhefin, karena itu sangat berbahaya, tapi Dhefin tidak mendengarkannya dan langsung mengambil barang-barang itu. Cassandra masih berusaha untuk berjalan walau kakinya sakit hingga tiba-tiba.
BRAK
Terdengar suara tabrakan, Cassandra pun langsung menoleh, dan begitu kagetnya dia melihat Dhefin yang sudah tak sadarkan diri bersimbah darah di tengah jalan. Cassandra yang terkejut pun berlari ke arah Dhefin walaupun kakinya sedang terkilir.
"DHEFIN......." teriak Cassandra.
Hai semua, bagaimana ceritanya, komen di bawah ya. Jangan lupa untuk like komen dan vote, dan follow akun manga author ya, see you 👋