
(Beberapa jam yang lalu)
Danial sedang mengadakan rapat di kantornya, dia sedang menjelaskan dengan serius pada bawahannya. Tidak ada seorangpun yang berani mengalihkan perhatian kepadanya, tiba-tiba suara ponsel berdering.
' Siapa yang menelfon ku.' batin Danial.
Danial kemudian mengecek hp nya, ternyata pelayannya lah yang menelfonnya. Dia menutup panggilan itu, karena itu menggangunya, namun pelayannya kembali menelfonnya, dia pun mengangkatnya karena takut itu menyangkut Dhefin.
"Ada apa?"
"Itu tuan, tunangan anda bertengkar dengan nona Cassandra."
"Apa kamu bilang." (sambil teriak), semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.
"Iya tuan, tunangan anda memaksa masuk ke dalam rumah tapi kami menahannya, lalu nona Cassandra keluar untuk melihat apa yang terjadi, dan tunangan anda memukulnya."
"Baiklah aku akan kesana." (mematikan telfon)
"Rapat selesai." ucapnya lalu meninggalkan kantor.
Danial POV
Aku tidak mengerti kenapa bisa terjadi hal seperti itu, aku melaju dengan kecepatan tinggi, aku takut jika Cassandra kenapa-napa.
Aku memarkirkan mobil di halaman, dan aku melihat Aleena menarik rambut Cassandra, apa yang sebenarnya dia lakukan, kenapa dia tidak membalas perlakuan Aleena?. Aku langsung berlari ke rumah.
"Ada apa ini." ucapku pada mereka.
Semua pelayanku hanya bisa diam dan menunduk, tidak ada yang memberiku penjelasan, aku tarik tangan Aleena dan menjauhkannya dari Cassandra.
"Apakah kamu gila, kenapa kamu tidak melawannya?" tanyaku pada Cassandra.
"Kenapa kamu malah menyalahkan ku, aku di sini korban, aku datang kesini karena mendengar keributan, aku takut itu akan menggangu tidur Dhefin. Dan apa yang aku dapatkan, aku di jambak oleh tunanganmu dan dimarahi oleh mu. Aku tau aku bukan siapa-siapa, tapi setidaknya kamu mendengarkan kronologi kejadiannya terlebih dulu, bukan malah memarahiku. Sudahlah tidak ada gunanya aku mengatakan semua ini, aku pergi, urus sendiri putramu." ucapnya dengan marah.
'Ada apa dengannya, kenapa dia malah memarahiku, apa salahku padanya. Aku tidak mengerti jalan pikiran wanita ini.' batin Danial.
Cassandra pun pergi meninggalkan kediaman Danial, dia pergi dalam keadaan emosi, dia tidak menyangka apa yang diterima olehnya ketika sudah merawat Dhefin, bukan berarti dia menyesal telah merawat Dhefin, tapi dia kecewa dengan Danial.
"Kenapa aku yang selalu disalahkan, padahal kan wanita itu yang memukulku, aku yang menjadi korban disini, ya aku tau, aku hanya pembantu di sana, tapi aku juga manusia, aku punya hak untuk mendapatkan keadilan."
"Hei, kenapa kamu marah." ucap Kevin.
"Kevin, kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Aku hanya sedang jalan-jalan saja, dan aku melihat seorang perempuan berjalan, tapi aku heran kenapa di sekelilingnya terdapat api, aku pikir dia sedang terbakar."
"Tidak bisakah kamu serius."
"Baiklah baiklah, ada masalah apa?"
Cassandra hanya bisa terdiam, karena jika dia mengatakannya Kevin justru akan memarahinya, karena sudah dari awal Kevin menyuruhnya untuk tidak mengambil pekerjaan itu.
"Ya sudah kalau tidak mau cerita, ayo masuk ke mobil dulu, di sini panas, nanti kamu tambah item lagi."
"Yak Kevin." teriaknya.
Danial kemudian menyuruh Aleena untuk pergi dari rumahnya, dia berniat untuk masuk ke rumahnya, namun dia berhenti dan melihat rambut Cassandra yang rontok di bawah.
"Apakah ini rambutnya?, kenapa banyak sekali, mungkinkah dia tidak melawan karena Aleena merusak rambutnya?. Aku harus mencarinya."
Danial berlari keluar rumah dan mencari Cassandra, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Cassandra, dia kemudian kembali dan mengambil mobilnya, dia mencari Cassandra menggunakan mobil.
"Kemana perginya gadis itu?, kenapa cepat sekali. Dimana aku akan menemukan nya, jika aku tidak menemukannya, Dhefin pasti sangat marah, terlebih aku yang membuatnya pergi."
Danial kemudian menelfon Tomy untuk mencari alamat rumah Cassandra, dan kemudian dia langsung menuju rumah Cassandra.
"Apakah ini rumahnya? ini rumah atau apa, kenapa sama semua."
Danial menanyakan tempat tinggal Cassandra ke orang yang ada di sana, dan dia akhirnya menemukan rumah Cassandra. Danial mengetuk rumah Cassandra, namun tidak ada respon, dia terus mengetuknya dan itu tidak membuahkan hasil.
Danial mendengar suara pintu dibuka, dia langsung memeriksanya, namun bukan pintu rumah Cassandra yang terbuka.
"Ada apa ya?" tanya tetangga Cassandra.
"Dimana Cassandra?"
"Siapa?"
"Aku tidak tau siapa namnya, tapi dia lumayan tampan."
"Apakah kamu tau rumahnya."
"Tidak, kenapa kamu tidak menelfonnya?"
'Astaga bodohnya diriku, karena terlalu khawatir sampai tidak kepikiran untuk menelfonnya.' batin Danial.
"Ya sudah."
"Ada apa dengan pria ini, kenapa tidak bilang terimakasih, dasar tidak punya sopan santun."
Danial kemudian pergi, dia menelfon Cassandra, namun tidak di angkat, dia pergi ke kampus Cassandra, karena dia tidak tau lagi dimana tempat Cassandra, dia berencana mencari tau rumah teman Cassandra.
"Hei tunggu, apakah kamu tau Cassandra?"
"Ya." ucap salah satu mahasiswa di sana.
"Apakah kamu tau teman pria yang selalu nempel sama dia."
"Maksudmu Kevin, iya aku tau."
"Dimana dia tinggal?"
"Aku hanya tau apartemen nya, jika rumahnya aku tidak tau."
"Berikan padaku."
Setelah mendapat alamat Kevin Danial pun pergi ke apartemennya, dia sudah sampai di sana. Danial membunyikan bel apartemen itu, namun sama seperti rumah Cassandra, apartemen itu juga tidak ada orang.
"Kemana gadis itu pergi, awas saja kalau ketemu nanti. Baru kali ini aku mencari seorang gadis, dan dia bukan kekasihku melainkan pembantuku."
Malam hari
Danial tetap menunggu Cassandra di apartemen Kevin, dia berharap Cassandra ataupun Kevin pulang ke sana. Tadinya dia ingin pulang, namun kerena dapat telfon dari Tomy bahwa Dhefin marah, dia tidak jadi pulang, setidaknya Dhefin tidak akan menyalahkannya nanti.
Akhirnya Cassandra dan Kevin pun pulang, Cassandra berniat untuk menginap di rumah Kevin, karena dia mendapat tugas kelompok bersama Kevin, seharian ini mereka mencari bahan untuk tugas kelompok. Danial yang melihat mereka berdua pulang langsung menghampirinya.
"Sudah pulang?, sudah puas pacarannya hah, kamu tidak tau?, Dhefin marah-marah di rumah karena kamu tidak ada di sana, dan apakah kamu tau?, aku sudah mencarimu seharian, sedangkan kamu. Kamu malah sibuk berpacaran."
"Kenapa kamu selalu menyalahkan ku, kamu sendiri tadi yang menyalahkan ku, jadi buat apa lagi aku di sana jika aku selalu saja di salahkan. Aku akan kembali ke rumahmu, tapi kamu harus berjanji jangan pernah temui aku, aku muak melihat wajahmu."
"Apa kamu bilang?, kamu tau siapa yang kamu hina, aku adalah CEO perusahaan Bramantyo, Danial Bramantyo. Tidak ada seorangpun yang berani menatapku apa lagi menghinaku."
"Aku tidak tau siapa kamu, dan apa gelar mu, yang aku tau kamu hanyalah pria arogan dan selalu menyakiti anakmu."
"Apa kamu bilang?" Danial hendak memukul Cassandra namun itu di halang oleh Kevin.
"Apakah seperti ini caramu menghadapi wanita, tuan Bramantyo?, sungguh tidak jantan."
"Kamu." Danial pun ingin menghantam wajah Kevin namun itu dihalangi oleh Cassandra.
"Tidak bisakah kamu tidak mengandalkan kekuatan fisik, amarahmu terlalu berlebihan, pantas saja istrimu pergi."
"KAMU." Danial pergi dengan amarah yang besar, dia sangat benci jika seseorang mengungkit masa lalunya. Dia pergi ke tempat tinju dan melepaskan semua amarahnya di sana.
"Kamu tidak pantas menyebutnya Cassandra, awas saja kamu, aku benar-benar akan menyiksamu."
Cassandra pergi ke kediaman Bramantyo, dia langsung pergi menemui Dhefin, dia memeluk Dhefin dan menenangkan amarahnya.
"Maaf Dhefin, tadi aku sedang ada urusan, maafkan aku ya."
"Ya Mama, tidak apa, tadi Dhefin hanya takut Mama pergi."
"Aku tidak akan meninggalkan kamu seperti yang sudah Mamamu lakukan terhadapmu."
Cassandra memasak buat Dhefin, mereka makan malam bersama. Kemudian Danial pulang, Dhefin menyapanya tapi dia tidak menoleh sedikitpun.
'Ada apa dengannya, bukankah dia mencariku seharian untuk putranya, dan sekarang dia malah mengabaikan putranya, dasar aneh.' batin Cassandra.