My Wife My Maid

My Wife My Maid
Ketahuan



Hai semua, author mau mengucapkan terimakasih buat yang sudah like, dan author harap para pembaca tidak bosan membaca novel gak jelas ini. Selamat membaca:)


Satu bulan kemudian


Masalah bulan lalu masih terngiang di kepala Cassandra, dia menjadi lebih pendiam dan sering terlihat murung. Kevin yang melihatnya sangat kasihan, dan dia hanya bisa menghibur sahabatnya itu walaupun Cassandra tetap sedih, namun setidaknya Cassandra masih bisa tersenyum.


"Cassandra." ucap Kevin lembut.


"Ya?" jawab Cassandra.


"Kenapa kamu jadi begini. Sudahlah Cassy, jangan pikirkan masalah itu lagi. Bukankah kamu tidak melakukannya, jadi abaikan saja." kata Kevin.


"Bagaimana mungkin itu terjadi Kev, aku juga ingin berhenti untuk memikirkannya, namun aku tidak bisa. Aku tidak bisa melihat orang lain mengejekku, menuduh diriku sebagai pencuri, padahal itu bukan perbuatanku." ucap Cassandra sedih.


"Sudahlah, kita lupakan saja. Bagaimana jika kita pergi menemui Dhefin?, bukankah kamu merindukan dirinya?" ucap Kevin menenangkan Cassandra.


"Apakah kamu gila?, bukankah kamu sendiri tau kalau Danial melarangku untuk dekat dengan keluarganya, kamu malah mengajakku menemui Dhefin." ucap Cassandra tak percaya.


"Hei itu tidak akan terjadi." ucap Kevin.


"Apa maksudmu?" tanya Cassandra bingung.


"Kita akan menemui Dhefin di sekolahnya, tidak akan ada yang dapat mengetahuinya bukan?" ucapnya.


"Tapi jika kita ketahuan Bagaimana?" kata Cassandra.


"Serahkan saja itu padaku." ucap Kevin.


"Baiklah." ucap Cassandra pasrah.


Kevin dan Cassandra pergi ke sekolah Dhefin, mereka melakukan penyamaran terlebih dahulu, supaya tidak diketahui oleh bodyguard Danial.



"Apakah kamu yakin kita tidak akan ketahuan jika begini?" ucap Cassandra.


"Tentu saja." kata Kevin percaya diri.


"Aku merasa tidak yakin." kata Cassandra ragu.


"Tenanglah, tidak akan ada yang bisa menganali kita." ucap Kevin.


"Baiklah. Tapi Kev..." ucap Cassandra.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Aku tidak dapat melihat apa pun." ucap Cassandra.


"Sudahlah dari pada kita ketahuan." ucap Kevin menenangkan.


"Tapi aku takut menabrak orang." kata Cassandra.


"Tenanglah, kita ikuti filing kita saja." ucap Kevin dengan yakinnya.


"Baiklah aku percaya padamu. Sekarang kita ke arah mana?" tanya Cassandra.


"Apakah itu arah yang benar menuju kelas Dhefin?, aku rasa ke kanan." ucap Cassandra.


"Bukankah sudah aku bilang kita harus mengikuti filing kita." jelas Kevin. "Dan filing ku mengatakan bahwa kita harus ke kiri." ucapnya.


"Tapi aku pernah ke sini, dan harusnya itu kita ke kanan." ucap Cassandra.


"Apakah kamu tidak percaya padaku?" tanya Kevin.


"Tentu saja aku percaya padamu." kata Cassandra.


Beberapa jam kemudian, mereka masih belum menemukan kelas Dhefin, karena mereka hanya mengikuti filing. Padahal benar apa yang Cassandra katakan, harusnya mereka ke arah kanan, tapi dia lebih percaya pada temannya itu.


"Kev, berapa lama lagi?, kakiku sudah tidak kuat. Sepertinya kita salah jalan deh." ucap Cassandra.


"Tidak mungkin salah, filing ku mengatakan begitu, jika kamu tidak percaya kita bisa menanyakannya pada seseorang di sana." ucap Kevin.


"Baiklah ayo kita tanya." ucap Cassandra.


"Permisi pak." ucap Kevin pada seorang OB di sana.


"Ya ada apa?" ucap OB itu.


OB itu merasa aneh melihat Kevin dan Cassandra, karena penampilan mereka yang terbilang cukup lucu.


"Bisakah anda memberi tau dimana kelas 3A?" tanyanya.


"Oh, harusnya kalian belok kanan, bukannya belok kiri. Kelas 3A ada di sebelah kanan." ucap OB itu.


"Oh benarkah, terimakasih pak." ucap Kevin.


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu sih dibilangin suruh ke kanan malah ke kiri." ucap Cassandra kesal.


"Aku kan mengikuti filing ku, dan biasanya itu tidak pernah salah." ucapnya masih membela dirinya.


"Sudahlah, lain kali jangan gunakan lagi filing mu itu, sungguh merepotkan." ucap Cassandra sebel.


Akhirnya mereka kembali ke tempat yang tadi dan mengambil arah ke kanan, dan benar saja, tidak butuh waktu yang lama untuk menemukan kelas Dhefin.


"Akhirnya kita sampai juga." ucap Cassandra.


Tet..... Tet..... Tet.....


Bel pun berbunyi, dan itu bertanda bahwa sekolah telah selesai. Mereka menunggu Dhefin keluar dari kelas, mereka melihat Dhefin dan memanggil nama Dhefin, lalu Dhefin pun menoleh ke arah mereka namun dia tidak menghiraukannya.


"Sepertinya dia tidak mendengar kita" ucap Kevin.


"Ya sudah kita samperin saja." ucap Cassandra.


Namun sebelum mereka hendak menghampiri Dhefin, ada tangan yang menyentuh bahu mereka.


"Aduh mati. Kita ketahuan." ucap Kevin.


Hai semua, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Dan vote sebanyak-banyaknya, vote kalian sangat bernilai. Sampai jumpa di bab selanjutnya 👋.