My Wife My Maid

My Wife My Maid
Amnesia



"Maafkan saya, saya sudah berusaha sekuat tenaga, tapi pasien...." ucap Dokter itu.


"Kenapa dengan putraku Dok, hiks... hiks... tolong selamatkan dia Dok, saya tidak ingin dia kenapa-napa." ucap Sandra sambil menangis.


"Maaf ibu, saya sudah berusaha sekuat tenaga, tapi kondisi pasien terlalu parah, detak jantungnya sempat berhenti, namun kami dapat menyelamatkannya, tapi saya tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar dari komanya." jelas Dokter.


"Apa... bagaimana mungkin bisa begini...." ucap Sandra shock.


"Sut... sabarlah sayang, kita harus yakin bahwa Danial akan baik-baik saja, bukankah Danial tadi sempat kehilangan nyawanya, tapi karena dia punya keinginan yang kuat hingga dia dapat kembali lagi." ucap Jovan menenangkan istrinya.


"Kakak benar kakak ipar, kita tidak boleh terpuruk seperti ini, itu tidak akan membawakan hasil apa-apa, yang bisa kita lakukan hari ini hanyalah berdoa, berdoa supaya Danial bisa cepat siuman dan kembali sehat seperti sedia kala." kata Dewo.


"Dewo benar sayang, kamu harus tegar, jika kamu seperti ini bagaimana Danial akan sadar, dia pasti sangat khawatir melihat kondisimu ini." kata Jovan.


Setelah di nasehati oleh suami dan adik iparnya Sandra pun akhirnya tenang, tapi namanya juga seorang ibu, ibu manapun tidak akan tidak khawatir melihat putranya yang dalam kondisi antara hidup dan mati.



Keluarga Danial bergantian untuk menjaganya, karena mereka tidak ingin melewatkan waktu sedikitpun dengan Danial, Meraka takut sewaktu-waktu bisa saja Danial pergi meninggalkan mereka.


.


.


.


.


.


6 bulan kemudian


Danial masih setia dengan tidur panjangnya, tapi itu tidak membuat keluarganya menyerah, mereka masih yakin suatu hari nanti Danial pasti akan sadar.


Hari sudah siang, matahari masuk ke celah-celah jendela di sana, dan sinar itu tanpa sadar menyinari wajah Danial, dan entah keajaiban dari mana, Danial yang tertidur selama 6 bulan itupun tersadar dari komanya, dia membuka kelopak matanya dan melihat sekeliling, dia tidak menemukan seorangpun di sana.


Ceklek


Suara pintu itu terdengar dan Danial pun langsung menolehkan kepalanya ke arah suara itu, dia bisa melihat pamannya yang baru saja masuk ke kamarnya, dan tidak hanya itu, Dewo pun terkejut melihat Danial membuka matanya, dia masih tidak yakin bahwa keponakannya itu telah sadar, dan dia pun memeriksanya sendiri, Dewo menghampiri Danial, dia pun bertanya padanya.


"Apakah kamu benar-benar Danial?" tanya Dewo, dan Danial hanya menganggukkan kepalanya karena dia malas untuk berbicara.


"Apakah kamu sudah sadar?" tanya Dewo lagi.


"Hm." jawab Danial singkat.


"Apakah ini benar?, bagaimana keadaan mu?, apakah ada yang sakit?." tanya Dewo bertubi-tubi.


"Paman ini kenapa sih, aku hanya kelelahan bekerja saja." ucap Danial.


"Kelelahan apanya?, kamu itu hampir kehilangan nyawa mu gara-gara di tabrak mobil." jelas Dewo.


"Bagaimana mungkin, sehari ini aku hanya sibuk di kantor, dan aku kelelahan hingga aku pingsan." ucap Danial.


"Apa?, apakah kamu gila?, kamu sudah koma selama 6 bulan, dan lihat kepalamu, jika hanya kelelahan itu tidak akan luka." ucap Dewo.


Danial pun menyentuh kepalanya dan betapa terkejutnya dia ketika memegang dahinya yang terluka.


'Bagaimana bisa begini, aku hanya pingsan karena kelelahan, sepertinya ada sesuatu yang aneh.' ucap Danial dalam hati.


"Paman, berapa umur Dhefin sekarang?" tanya Danial.


"Untuk apa kamu bertanya seperti itu?" kata Dewo.


"Jawab saja Paman." kata Danial.


"Sekarang dia berusia 8 tahun." ucap Dewo.


"Apakah kepalamu terbentur?" tanya Dewo.


'Astaga itu tentu saja, kepalanya terbentur dengan keras hingga mengeluarkan banyak darah, dan aku masih mempertanyakan hal itu.' ucap Dewo dalam hati.


"Jangan bilang kalau kamu hilang ingatan?" ucap Dewo.


"Ini bukan drama paman, bagaimana mungkin aku bisa amnesia, paman ini ada-ada saja." ucap Danial tak percaya.


"Jika kamu tidak percaya aku bakal telfon kakak untuk kesini, dan aku akan memanggil dokter terlebih dahulu." kata Dewo.


Keluarga Danial pun sudah ada di sana, dia juga terkejut melihat Dhefin yang sudah tumbuh besar, sepertinya benar apa yang di katakan pamannya, dia benar-benar kehilangan ingatannya.


Dokter pun selesai memeriksa Danial, dan dia juga bilang bahwa Danial mengalami amnesia, tapi hanya separuh ingatannya, dan mungkin itu juga ingatan yang pahit untuk dia ingat. Keluarganya pun mengerti, mungkin Danial kehilangan ingatannya karena Cassandra, mungkin saja dia tidak bisa menerima jika Cassandra pergi dari hidupnya hingga dia ingin melupakannya.


"Kalau begitu bagaimana cara menyembuhkannya?" tanya Jovan.


"Masalah seperti ini sangat sulit, dan saya sarankan supaya pasien melupakan semua memorinya itu, bukankah dia masih mengingat kalian?" tanya dokter itu.


"Tidak, dia melupakan Mama." ucap Dhefin, dan semua orang pun menatap Dhefin.


"Aku tidak pernah melupakan Mama mu Dhefin, aku tidak akan pernah melupakan kenangan bersamanya." ucap Danial, dan itu membuat semua orang terkejut.


"Apakah kamu masih mengingatnya Danial?" tanya Sandra.


"Yah dia adalah cintaku, meskipun dia telah pergi dari hidupku." kata Danial.


"Bisakah kau sebutkan siapa namanya?" tanya Dewo.


"Apakah itu masih harus di pertanyakan?, kalian semua mengenalnya, sapa lagi kalau bukan Rayna." ucap Danial.


"Tidak Ayah, bukan Rayna, orang yang ayah cintai bernama Cassandra, apakah Ayah melupakan Mama?" tanya Dhefin.


"Cassandra?, siapa Cassandra?" tanya Danial.


"Apakah kamu tidak mengingatnya?, dia adalah..." dan ucapan Sandra terhenti, dia tau jika dia memberi tau Danial tentang Cassandra itu pasti akan membuatnya terpuruk, mungkin lebih baik jika dia melupakannya.


"Ah tidak ada apa-apa kok, ya sudah kalau begitu kamu istirahat terlebih dahulu, dan yang lain ayo kita keluar, biarkan Danial istirahat." kata Sandra.


Setelah mereka semua keluar Sandra pun membuka suara, dia bilang pada semuanya untuk tidak mengatakan hal apapun tentang Cassandra pada Danial, karena itu akan menyakitinya. Dewo sangat tidak setuju akan hal itu, karena Danial harus merasakan sakitnya patah hati seperti apa yang Cassandra rasakan, tapi kakaknya terus memohon untuk tidak ada yang mengungkit pasal Cassandra, dan akhirnya mereka pun setuju untuk tidak memberitahu tentang Cassandra pada Danial.


"Aku setuju dengan kalian, tapi jika sesuatu terjadi nantinya, aku tidak akan ikut campur, jika Danial sudah mengingat semua tentang Cassandra dan membenci kalian karena tidak ingin mengatakannya, jangan pernah menyalahkan aku." ucap Dewo.


"Kami tau apa yang kami lakukan, dan aku sendiri yang akan memastikan agar Danial tetap melupakan Cassandra." ucap Sandra.


"Tapi... itu sangat jahat, Bagaimana jika nantinya Mama kembali kesini, dan jika dia bertemu dengan Ayah, dan mengatakan cinta padanya, bukankah itu akan menyakiti Mama." ucap Dhefin sedih.


"Nenek tau itu Dhefin, tapi hanya ini yang bisa menolong ayahmu." ucap Sandra.


"Itu semua terserah kalian, tapi ketahuilah apa yang kamu tanam itulah yang akan kamu panen." ucap Dewo, kemudian dia pun pergi.


**Hai para readers sekalian, Bagaimana ceritanya, apakah seru?, komen di bawah ya kalian, kalian timnya siapanih.



Cassandra & Danial


Cassandra & Dewo


Cassandra & Kevin


Cassandra & Bima


Dan jangan lupa untuk terus bantu author supaya novel author semakin di kenal banyak orang, caranya yaitu dengan vote novel author ini sebanyak-banyaknya ya, see you 👋**