My Wife My Maid

My Wife My Maid
Alasan



Setelah mengantar Dhefin Cassandra pergi membuatkan makan siang untuk Danial, namun dia tidak ingin mengantarkannya, mungkin dia akan menyuruh salah satu supir Danial untuk mengantarnya. Cassandra bukan marah terhadap Danial tapi dia hanya ingin menjaga jarak dengannya, dia tidak ingin orang lain menyebutnya tidak tau diri.


Danial mendengar suara ketukan pintu, dan dia melihat jam di pergelangan tangannya, dia pikir bahwa yang datang itu Cassandra, namun.


"Masuk."


"Ini tuan makan siang anda."


' Tunggu deh, ada apa dengan suara Cassandra?, kenapa suaranya seperti seorang pria, bukannya tadi baik-baik saja.' batin Danial.


Danial pun memutuskan melihatnya, ternyata itu bukan Cassandra, tetapi supirnya. Dia terkejut dan cukup kecewa, karena dia ingin melihat wajah Cassandra dan ingin menanyakan alasannya, dia sudah tidak tahan, dia tidak bisa melihat Cassandra diam.


"Baiklah, nanti malam aku akan membuatmu berbicara padaku Cassandra."


Malam hari


Cassandra sudah menyiapkan makan malam, dan dia pergi untuk memanggil Dhefin. Danial pulang dari kantornya, dia berniat untuk mandi, namun dia melihat makanan di atas meja, dan dia berbuat sesuatu pada makan itu.


'Lihat saja, kamu akan bicara nanti.'


Cassandra dan Dhefin pun pergi ke ruang tamu, mereka terkejut melihat Danial yang sudah duduk disana.


"Kenapa kalian lama sekali, aku sudah lapar."


Cassandra menyajikan makanan untuk Danial dan Dhefin, barulah untuk dirinya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Danial memuntahkan makanannya.


"Makanan apa ini, kenapa asin sekali?, kamu berniat membunuhku."


'Asin, setauku tidak deh, aku sudah mencobanya tadi, dan itu baik-baik saja, apakah dia berbohong.' batin Cassandra.


Danial yang mendapat tatapan dari Cassandra seakan tau bahwa dia mungkin tidak percaya padanya.


"Jika kamu tidak percaya coba saja sendiri."


Cassandra pun mencobanya, dan dia terkejut, karena masakan yang dia masak sangat asin.


'Kenapa bisa begini, tadi tidak seperti ini, apakah....' batin Cassandra.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu, apa kamu pikir aku yang melakukannya, untuk apa?, tidak ada untunganya aku melakukan ini, sepertinya kamu benar-benar benci ya padaku, sampai-sampai menyiapkan makan yang begitu asin, jika kamu benci padaku kamu bisa memarahiku, atau kamu bisa memukulku, kenapa mengutak-atik makanan ini."


"Hei Danial, jika aku menang ingin membuatmu kenapa-kenapa, aku tidak akan memberikan garam pada makanan ini, tapi aku akan memberimu racun, dan ingat satu hal ya, ini bulan perbuatanku aku tidak akan pernah membuat makanan seasin ini." ucap Cassandra dengan emosi.


"Akhirnya kamu bicara juga, ternyata rencanaku berhasil."


"Apa kamu bilang?"


"Ya ini semua perbuatanku, aku hanya ingin kamu bicara lagi, dan sepertinya aku berhasil, sekarang jawab aku, kenapa kamu seharian ini tidak mau berbicara padaku, apa salahku?"


"Tidak ada."


"Oh ayolah, jika tidak ada, kenapa kamu seperti tidak menganggap keberadaanku."


"Sudahku bilang-"


"Katakan Cassandra."


"Baiklah, aku melakukan semua ini karena aku sadar akan posisiku, aku seorang pembantu, jadi aku bersikap layaknya pembantu yang lain, aku mendiami kamu karena aku ingin membuat jarak denganmu."


"Aku memang menganggap mu sebagai pembantuku, tapi apakah pantas seorang pembantu mendiami majikannya."


"Jika majikan itu kamu, seperti sangat pantas."


"Cassandra."


"Apa?, bukankah kamu suka jika aku marah padamu, baiklah aku akan marah padamu setiap hari, Bagaimana?"


'Oh tidak, masalah yang satu sudah selesai, kenapa ada masalah lain.' batin Danial.


"Bukankah katamu tadi lebih baik aku marah ketimbang aku diam."


"Ya, karena aku pikir kamu marah padaku, tapikan aku tidak berbuat salah, jadi kamu tidak boleh memarahiku."


"Jadi jika kamu berbuat salah aku boleh memarahimu."


"Tentu saja tidak, bukankah kamu bilang ingin menjadi pembantu pada umumnya, pembantu mana yang memarahi tuannya."


"Terus apa maumu, aku diam tidak boleh, aku marah juga tidak boleh."


"Menjadi dirimu seperti biasanya, tapi kurangi marah-marahnya."


"Hah sudahlah, tapi bagaimana dengan makan malam ini, ini terlalu asin untuk dimakan."


"Ayo makan diluar."


"Baiklah."


Mereka pun memutuskan untuk pergi makan malam di luar, Danial berencana untuk membawa Cassandra pergi ke restoran favoritnya.


"Sudah sampai, turun."


"Santuy kali Pak."


Mereka masuk ke dalam restoran mewah itu, Danial dan Dhefin sudah memesan pesanan mereka, dan mereka menunggu Cassandra selesai memesan.


"Makanan macam apa ini, kenapa mahal sekali."


"Sudahlah, pilih saja yang kau mau."


"Tapi ini terlalu mahal."


"Aku yang membayarnya, jangan khawatir."


"Hai Danial, eh si pembantu juga ada di sini, ngapain, mau cuci piring?, klo mau cuci piring di belakang, bukan di sini." ucap Aleena.


"Tidak bisakah mulutmu itu diam."


"Ups pembantu marah, tapi bukannya emang tempat pembantu itu disana ya, bukannya malah duduk makan bersama majikannya, dasar pembantu tidak tau diri."


'Oh astaga, kenapa wanita sialan ini datang lagi, nanti jika Cassandra tidak mau bicara lagi padaku gimana, aku harus mengusirnya.'


"Pergilah."


"Tuh, apakah kamu tidak dengan kata majikanmu."


Cassandra hendak pergi namun....


"Bukan kamu, dia yang harus pergi."


"Apa?, kenapa justru aku Danial, aku ini-"


"Sudah aku bilang, kamu bukanlah tunanganku, terserah mau mu, aku tidak peduli jika kamu menyebarkan ke pada teman-teman mu itu bahwa kamu


tunanganku, tapi, jika nantinya aku menikah dengan wanita lain, jangan sampai kamu malu, kamu sendiri yang menyebarkan, dan kamu sendirilah nanti yang rugi."


"Danial, kenapa kamu seperti itu padaku."


"Kamu sudah tau kan, aku tidak pernah mencintaimu, tapi justru kamu sendirilah yang melakukan hal itu. Dan aku membiarkanmu bukan berarti aku sayang padamu, tapi aku masih menghormati keluargamu, aku harap kamu tidak pernah menggangguku lagi, pergilah.


'Apakah Danial tadi melindungi ku dari wanita itu?, tapi kenapa?, aku hanya pembantunya, sedangkan dia tunangannya.' batin Cassandra.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya....


Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya 👋