
"Apakah kita ketahuan." ucap Emily khawatir.
"Apa yang kalian lakukan di sini." ucap Dewo.
"Astaga, ternyata bapak, kami kira siapa." ucap Emily.
"Sedang apa ka-" ucap Dewo terhenti karena tiba-tiba tangannya di tarik oleh Emily.
"Kita pergi ke tempat yang lebih aman dulu." kata Emily.
"Apa yang sedang terjadi?, kenapa kalian begitu panik?." ucap Dewo.
"Keponakan bapak sedang menunggu Cassandra di depan gerbang, kita melarikan diri darinya." kata Emily.
"Astaga, kalian membuatku khawatir saja." ucap Dewo.
"Apakah kalian ingin pergi?" tanya Dewo.
"Iya pak, aku berencana membawa Cassandra untuk tinggal di apartemenku, lumayan dekat dari sini." kata Emily.
"Itu ide yang bagus, kalau begitu kamu tinggal saja di rumah Emily, bukankah kamu juga tidak ingin bertemu dengan Danial." ucap Dewo.
"Benar kata pak Dewo, lebih baik kamu tinggal bersamaku." ucap Emily.
"Tidak tidak, lebih baik aku kembali ke panti asuhan saja." ucap Cassandra.
"Tidak, Danial pasti menemukanmu jika kamu pergi ke sana." kata Dewo.
"Ayolah Cassandra, aku juga tinggal sendirian di sana, apakah kamu tidak mau menemaniku." ucap Emily dengan wajah memelas.
"Bukan begitu Emily, aku hanya tidak ingin merepotkan mu." ucap Cassandra.
"Merepotkan apanya, kamu itu sahabatku, dan sudah tugas seorang sahabat untuk membantu yang sahabatnya jika sedang kesusahan." kata Emily.
"Tapi Em-." ucap Cassandra.
"Sudahlah, ayo kita pergi ke rumah pak Dewo dan mengambil semua barang-barang mu." kata Emily dan langsung membawa Cassandra masuk ke mobilnya.
Sedangkan disisi lain, Danial tengah berjuang melepaskan diri dari kerumunan gadis-gadis itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa wanita-wanita ini menempel padaku." ucap Danial.
Danial mendorong semua wanita itu, dan akhirnya dia pun terbebas dari sana, dia pergi ke kantor Dewo untuk menanyakan kelas Cassandra.
"Permisi." ucap Danial sambil membuka pintu perlahan.
"Eh Danial, ada apa kamu ke sini." ucap Dewo.
"Aku gak mau basa-basi lagi, dimana kelas Cassandra." ucap Danial.
"Oh..., kelasnya berada di samping tangga sebelah timur." ucap Dewo, dan setelah itu Danial pun pergi dari ruangan Dewo.
"Sudah bertanya bukannya bilang makasih gitu, malah langsung pergi." kata Dewo.
Dan tiba-tiba terdengar bunyi telepon.
"Halo." ucap Dewo.
"Holo Dewo, ini kakak." kata Sandra.
"Oh kakak ipar, ada apa kak?" kata Dewo.
"Nanti malam datanglah ke sini, dan jangan lupa bawa pacarmu." kata Sandra.
"Baiklah kak, aku akan ke sana nanti." ucap Dewo.
"Jangan lupa untuk mengajak Emily ya." kata Sandra.
"Iya kak." ucap Dewo.
"Ya sudah kalau begitu, kakak tutup dulu telfonnya. Selamat tinggal" kata Sandra.
"Sepertinya aku harus mengabari Emily, baiklah aku akan mengirimkan nya sebuah pesan." ucap Dewo kemudian dia pun mengirim pesan pada Emily.
Danial mencari Cassandra di kelasnya, namun dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Cassandra di sana, dia pun memutuskan untuk bertanya pada salah satu siswa di sana.
"Hei, apakah kamu kenal siswi yang bernama Cassandra?" tanya Danial.
"Oh gadis pindahan yang cantik itu." ucap siswa di sana.
'Apa dia bilang?, awas saja jika kamu berani menggoda istriku, akan aku cabik cabik mukamu.' ucap Danial dalam hati.
"Ya, dimana dia?" kata Danial.
"Dia sudah pulang, baru saja dia pergi bersama Emily." kata siswa itu.
"Pulang?, tapi kenapa aku tidak melihatnya sama sekali, padahal aku tadi..." ucap Danial terhenti karena mengingat kejadian tadi.
"Sial." ucap Danial, dan dia pun pergi dari kelas Cassandra, dan mencari Cassandra.
Danial berlari sekencang mungkin, dia pergi ke gerbang sekolah dan mencari Cassandra di sana, namun juga tidak menemukan keberadaan Cassandra.
"Sial, pasti ini ulah gadis itu, dia pasti yang merencanakan hal itu lalu pergi dari sini. Astaga Kenapa aku begitu bodoh." ucap Danial kesal. "Kemana lagi aku harus mencarinya?" lanjut Danial.
Cassandra sudah memindahkan barang-barangnya ke apartemen Emily, sekarang mereka berdua sedang merapikan barang-barang Cassandra.
"Cassandra, bukankah kamu berutang sebuah penjelasan padaku." ucap Emily.
"Hm... baiklah, tapi aku tidak tau harus mulai dari mana?" ucap Cassandra.
"Jelaskan kenapa kamu bisa berpisah dengan Danial, dan kenapa kamu bisa tinggal bersama pak Dewo, padahal kamu tau bahwa dia adalah paman Danial." kata Emily.
"Baiklah, aku berpisah dengan Danial karena dari awal kita memulai hubungan ini karena sebuah perjanjian saja, tapi sayangnya aku terlalu mencintainya, dan aku melupakan bahwa Danial sudah memiliki seorang kekasih dan seorang anak. Aku tau aku bodoh, tapi aku juga tidak bisa mengontrol keinginanku untuk tidak cinta dengannya. Dan masalah dengan Paman, aku memang sudah tau kalau paman adalah paman Danial, dan kenapa aku tinggal bersamanya, itu karena, aku ingin pergi jauh dari Danial, dan dia memintaku untuk tinggal bersamanya, karena pasti keluarga Danial tidak akan menyangka jika aku berada dekat dengan mereka, dan orang yang percaya padaku hanyalah Paman, jadi aku pun memutuskan untuk menerima tawarannya untuk tinggal bersamanya." ucap Cassandra panjang lebar.
Emily hanya diam dan memahami semua yang Cassandra ceritakan padanya. Cassandra menunggu respon dari sahabatnya, namun Emily hanya mematung di tempatnya, kemudian dia langsung memeluk Cassandra, dan menangis di pelukannya, Cassandra merasa bingung, dia tidak tau apa yang membuat sahabatnya menangis, dan akhirnya dia pun bertanya pada Emily.
"Emily, kenapa kamu menangis, siapa yang telah menyakitimu?" tanya Cassandra khawatir.
"Hua..... bagaimana bisa kamu mengalami semua ini Cassandra, hiks... hiks.... jika aku yang berada di posisimu, aku pasti sudah bunuh diri." ucap Emily di sela tangisannya.
"Hahaha, aku juga berpikir demikian. Namun, Bundaku pernah berkata seperti ini padaku, disaat orang lain membencimu masih banyak orang diluar sana yang mau menerimamu. Dan itulah yang membuatku selalu bersabar untuk menerima semua ini, karena aku percaya pada kata-kata Bunda, dan benar saja, mungkin jika aku bunuh diri, aku tidak akan bertemu sahabat sebaik kamu." ucap Cassandra.
"Kamu benar Cassandra, kita harus menerima semua itu, karena jika kita tidak ingin berjuang, kita akan terus berada di titik itu, dan asalkan kamu tau, di balik badai yang dahsyat, akan ada pelangi yang menyambut mu setelah badai itu berakhir." ucap Emily.
"Yah, kamu benar." kata Cassandra.
"Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" ucap Emily gugup.
"Tanyakan saja." kata Cassandra.
"Apakah kamu menyukai pak Dewo?" ucap Emily ragu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?, tidak mungkin aku menyukai Paman, hubunganku dan paman hanya sebatas keluarga, dan di hatiku hanya ada Danial." ucap Cassandra.
"Lalu bagaimana jika suatu saat pak Dewo melamar mu?, apakah kamu akan menerimanya?" tanya Emily.
"Emily, aku tau kamu menyukai Paman, dan aku akan berusaha mempersatukan kamu dan paman, aku akan melakukan apapun untukmu, dan jika paman melamarku, aku akan langsung menolaknya. Aku berjanji padamu." ucap Cassandra.
"Baiklah, aku percaya padamu." Kata Emily, dan tiba-tiba saja terdengar notifikasi telfon.
"Siapa Em?" tanya Cassandra.
"Pak Dewo." ucap Emily terkejut.
"Benarkah?, kalau begitu tunggu apalagi, cepat buka." ucap Cassandra tak percaya.
"Dia bilang, dia mengajakku untuk makan malam di rumah keluarga Bramantyo." kata Emily sambil membaca pesan.
"Benarkah itu?, kalau begitu ayo kita bersiap." ucap Cassandra, kemudian dia menarik Emily ke kamarnya.
Hai semua, jangan lupa untuk like komen dan vote sebanyak-banyaknya, see you again 👋.