My Wife My Maid

My Wife My Maid
Bawang Merah



Cassandra dan Dewo pun selesai memasak, mereka menyiapkan hidangan itu di meja makan. Cassandra pergi memanggil Danial untuk ikut makan bersama, tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat Danial tertidur di ruang tamu.


"Dasar bocah." ucap Cassandra.


Cassandra pun pergi ke kamarnya untuk mengambil selimut, kemudian dia menyelimuti tubuh Danial dengan selimut itu.


"Tidurlah yang nyenyak, mimpi indah. Dan jangan lupa, mimpikan aku ya." ucap Cassandra mengelus rambut Danial, kemudian dia mengecup dahi Danial.


Dewo yang berniat keluar untuk mencari Cassandra pun hanya bisa mematung di tempatnya, ketika dia menyaksikan pemandangan itu.


'Aku tidak tau aku harus senang atau tidak. Tapi ketahuilah Danial, Cassandra sangat menyayangimu, jangan buat dia menderita. Jika kamu membuatnya sakit sedikit saja, jangan salah aku jika aku merebutnya darimu.' ucap Dewo dalam hati.


Dewo melanjutkan langkahnya, dan menghampiri Cassandra.


"Apakah dia tidur?" ucap Dewo pada Cassandra.


"Iya Paman, sepertinya dia kelelahan." ucap Cassandra.


"Yasudah kita makan saja dulu, kamu tidak boleh sampai telat makan, itu akan membuat lambung mu sakit." ucap Dewo.


"Baiklah Paman, ayo kita makan." ucap Cassandra.


Dewo dan Cassandra pun makan dengan tenang, dan tanpa Cassandra sadari, Dewo selalu memperhatikannya.


'Betapa manisnya gadis ini, aku selalu menyukaimu, tapi aku tidak ingin kamu mengetahuinya, terlebih aku adalah dosen mu. Umur kita terpaut sangat jauh, dan mungkin aku hanya bisa mengagumimu dari jauh. Karena cinta tidak untuk bersama, tapi cinta mengajarkan kita untuk bahagia. Dan aku bahagia jika kamu juga bahagia, tapi jangan salahkan aku ketika aku menyakiti seseorang yang menyakitimu, walaupun itu ponakanku sendiri.' ucap Dewo dalam hati.


Setelah selesai makan, Dewo pun mencuci piringnya, sebenarnya itu di tolak oleh Cassandra, namun Dewo tetap bersikeras untuk melakukannya.


Cassandra pergi meninggalkan Dewo di dapur, di lewat ruang tamu, dan tatapannya beralih melihat Danial yang sedang tertidur. Dia menatapnya begitu lama kemudian dia pun melanjutkan langkahnya.


.


.


.


.


.


Malam hari


Cassandra terbangun dari tidurnya, dia bangun dan pergi untuk membersihkan dirinya sebelum turun ke bawah. Setelah selesai mandi, Cassandra pun turun, dia berniat untuk membuat makan malam.


Saat Cassandra turun, Danial dan Dewo pun menoleh ke arahnya. Ya Danial sudah bangun dari tadi, dia sedang duduk nonton bola bersama Dewo.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Cassandra.


"Tak ada, kami hanya sedang menonton bola saja." ucap Dewo.


"Baiklah, aku ke dapur dulu." ucap Cassandra.


Dan kemudian Danial buru-buru bangun dan menyusul Cassandra ke dapur. Cassandra terkejut dengan keberadaan Danial di sampingnya, karena seingatnya Danial tadi tengah sibuk menonton bola pada saat dia pergi ke dapur.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Cassandra bingung.


'Lihatlah dia, dia mempertanyakan keberadaanku di sini. Sedangkan dengan Paman, dia malah mengijinkannya membantunya.' batin Danial.


"Tentu saja membantumu masak." ucap Danial. Cassandra terkejut mendengar perkataan Danial


"Apakah kamu yakin?" tanya Cassandra.


"Tentu saja, jika aku tidak yakin aku tidak akan berada di sini " ucap Danial.


"Baiklah." ucap Cassandra.


"Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Danial.


"Potonglah bawang itu." ucap Cassandra sambil menunjuk bawah merah.


"Baiklah."


"Apakah kalian sedang memasak?" ucap Dewo tiba-tiba datang.


'Bukan, kita lagi berkebun. Tentu saja kita masak, masih nanya lagi.' ucap Danial dalam hati.


'Lihatlah gadis ini, dia bersikap lembut pada Paman, dan dia memperlakukan aku dengan kejam.' batin Danial tak terima.


"Bisakah aku membantumu?" ucap Dewo.


"Tentu saja Paman, Paman bisa membantu kami dengan duduk saja di ruang tamu." ucap Danial dengan tersenyum, tapi senyumannya mengandung makna lain.


"Tapi aku ingin membantu Cassandra, bukankah jika di kerjakan bersama-sama pasti akan terasa ringan." ucap Dewo.


"Baiklah Paman, Paman bisa membantuku memotong wortel itu." ucap Cassandra.


Mereka memasak dengan tentram hingga tiba-tiba.


"Hiks... hiks...." suara orang menangis.


"Eh apa ini?, masak seorang CEO di perusahaan Bramantyo menangis hanya karena memotong bawang." ucap Cassandra meledek.


"Diam kamu, kamu pikir hiks... hiks... ini tidak perih." ucap Danial sambil mengelap ingus dan air matanya.


"Hahaha, sudahlah Danial, lebih baik kamu duduk saja di ruang tamu, biar aku dan Cassandra yang memasak." ucap Dewo.


"Tidak mau, hiks... aku bisa kok memasak, hiks... hanya saja, aku tidak suka bawang, mereka membuat mataku perih." ucap Danial membela diri.


Tapi Danial memang bisa memasak, masakan yang dia buat juga sangat enak, tapi sayangnya dia tidak pernah memasak menggunakan bawang merah, karena itu membuat matanya perih.


"Lihatlah wajahmu Danial, seperti anak kecil yang menangis karena tidak di belikan eskrim." ucap Cassandra sambil tertawa.


"Tertawalah sesukamu, dan lihat saja, aku pasti bisa mengupas semua bawang-bawang ini." ucap Danial.


Beberapa menit kemudian, Danial menyerah. Matanya sudah sangat perih, padahal dia baru mengupas 3 bawang.


"Sudahlah, aku menyerah. Berikan aku pekerjaan lain." ucap Danial.


"Baru 3 bawang kamu sudah menyerah?" tanya Dewo.


"Sepertinya paman sangat jago mengupas bawang, kalau begitu kenapa tidak Paman saja yang melakukannya, biar aku yang memotong wortelnya." ucap Danial.


"Bagaimana bisa begitu, tentu saja kamu yang harus melanjutkannya, itu kan tugasmu, sedangkan tugasku adalah memotong wortel." ucap Dewo.


"Bilang saja kamu tidak mau kan?, kamu takut matamu perih dan mengangis juga nantinya." ucap Danial.


"Kata sapa. Aku hanya tak ingin saja." ucap Dewo.


"Sudahlah men-" ucap Danial terpotong.


"Bisakah kalian berhenti bertengkar?, kalian membuatku tidak fokus. Sekarang lebih baik kalian keluar, mengganggu saja." ucap Cassandra emosi.


"Tapi kan- " ucap Danial dan Dewo.


"Aku bilang keluar." ucap Cassandra dengan tegas.


"Baiklah." ucap keduanya.


"Dasar, padahal mereka itu sudah dewasa, tapi kenapa masih bertengkar seperti anak kecil." ucap Cassandra.


Sedangkan di sini lain, Danial dan Dewo pun masih melanjutkan pertengkaran mereka.


"Ini semua salah Paman, jika paman tidak mengejekku pasti Cassandra tidak akan marah." ucap Danial.


"Salah ku?, tentu saja salahmu, jika kamu memotong bawang dengan benar Cassandra pasti tidak akan marah." ucap Dewo.


"Aku memang tidak bisa memotongnya, harusnya kan Paman yang potong." ucap Danial.


"Aku bisa saja memotongnya, tapi aku masih punya tugas untuk memotong wortel." ucap Dewo.


"Kan aku bilang-" ucap Danial pun kembali terhenti.


"BUKANKAH SUDAH AKU BILANG UNTUK DIAM." ucap Cassandra dari dalam dapur.


"Suuut... diam lah, jika kita tidak diam dia akan marah lagi." ucap Dewo.


Hai semua, nih author udh dobel up, sebagai gantinya yang kemarin. Jangan lupa untuk like, komen dan vote ya, see you 👋