
Cassandra masih memikirkan ucapan Danial kemarin, dia bingung apakah itu pertanda bahwa Danial menyukainya, tapi dia tidak ingin kepedean, dia masih beranggapan bahwa itu mungkin hanya sebuah bualan saja.
"Ma, kenapa Mama bengong."
"Ah, tidak apa-apa Dhefin."
"Oh ya, apakah ucapan Ayah kemarin itu sebuah lamaran untuk Mama?"
Ukhuk
Keduanya terbatuk mendengar ucapan dhefin, Cassandra dan Danial pun saling tatap, mereka sama-sama bingung, Cassandra juga penasaran, dia penasaran dengan jawaban Danial nantinya.
"Hm... kalau menurut Dhefin itu sebagai lamaran atau bukan."
"Dhefin tidak tau, Dhefin kan masih kecil jadi Dhefin tidak mengerti akan hal itu."
"Ayah juga tidak tau, ayah mau tanya sama Dhefin, apakah Dhefin memperbolehkan Ayah menikah?"
"Tentu saja, karena ayah berhak bahagia."
"Menurut Dhefin siapakah yang pantas untuk dijadikan istri sekaligus ibu Dhefin."
"Mama, Dhefin sangat ingin Mama menjadi Mama Dhefin, dan menurutku Mama juga sangat pantas menjadi istri ayah."
"Bagaimana menurutmu Cassandra?"
"Apa?, aku?, kenapa kamu bertanya padaku?"
"Apakah kamu bersedia menjadi istriku."
'Astaga, apakah aku bermimpi?, bagaimana mungkin Danial melamarku, sepertinya ada yang tidak beres.' batin Cassandra.
"Akan aku pikirkan."
"Oh ya Cassandra, nanti siang datang ke kantorku."
"Baiklah, apakah Dhefin mau ikut?"
"Tenang saja, aku tidak akan membuatmu di permalukan, jika kamu tidak percaya kamu bisa pergi bersama Tomy, dia akan menjemputmu nanti."
"Baiklah."
.
.
.
.
.
Siang hari
Cassandra pergi kekantor Danial, dia pergi bersama Tomy, tapi benar kata Danial, para karyawan kemarin tidak ada yang mencemoohnya, jangankan mencemoohnya melihatnya saja mereka tidak berani.
"Nona, silahkan masuk."
"Oke."
Cassandra masuk ke kantor Danial, dia dapat melihat pria itu sangat sibuk dengan dokumen-dokumennya.
'Dia memanggilku tapi dia sendiri sibuk dengan urusannya, lebih baik aku pergi.' batin Cassandra.
Cassandra handak pergi, namun Danial memanggilnya dan menyuruhnya duduk.
"Ada apa?"
"Aku menyuruhmu ke sini untuk ini." ucap Danial sambil menyerahkan sebuah dokumen.
"Dokumen apa ini?"
"Baca saja."
Cassandra membaca dokumen itu, itu adalah perjanjian pernikahan, itu berisi semua perjanjian dan di sana berisi tiga syarat yang kosong.
"Apa ini?"
"Seperti yang tertulis di dokumen itu, Bagaimana jika kita menikah kontrak, aku tau ini terdengar aneh, namun ini untuk kebaikan Dhefin, dan kamu juga mendapatkan posisi sebagai nyonya Bramantyo."
"Aku tidak ingin hal itu."
"Aku harap kamu memikirkannya baik-baik, karena kamu disini sangat di untungkan, dan tiga syarat kosong itu untukmu, kamu bisa meminta syarat kepadaku, terserah apapun itu."
'Bagaimana ini, apakah aku harus menerimanya?, tapi aku tidak ingin, ini sangat aneh dan aku masih muda, aku masih ingin kuliah dan melanjutkan masa mudaku, tapi aku juga ingin membuat Dhefin bahagia, bagaimana ini.' batin Cassandra.
"Kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu, aku tidak terburu-buru, jika kamu setuju kamu bisa langsung menemuiku, kapanpun itu."
"Lalu bagaimana dengan Aleena?"
"Aku sudah memutuskan hubungan dengannya."
"Apakah kamu tidak khawatir jika nantinya dia akan menyakitiku dan Dhefin."
"Aku bisa menjamin itu."
"Baiklah, aku akan memikirkannya, aku pergi dulu."
Cassandra pergi ke kosannya, dia sudah memberitahu Dhefin bahwa dia akan tinggal di kosannya sementara, Dhefin sebenarnya tidak mau, tapi dia juga tidak bisa menahan Cassandra, dan akhirnya dia mengizinkan Cassandra untuk tinggal di kosannya.
.
.
.
.
.
Cassandra sudah memikirkannya, dia setuju untuk menikah dengan Danial, dan dia sudah siap dengan syarat-syarat itu, dia pergi menemui Danial di kantornya.
Ceklek
Cassandra masuk kedalam, seperti biasa Danial sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya, namun dia sempat melihat Cassandra.
"Ada apa?"
"Hm... aku menyetujuinya."
"Apakah kamu yakin?"
"Ya."
"Baiklah, apa syaratmu?"
"Aku tidak ingin dikekang."
"Oke."
"Aku ingin pernikahan ini berakhir pada saat salah satu dari kita sudah memiliki pasangan, supaya kita memiliki alasan yang akan kita berikan pada Dhefin."
"Baiklah."
"Dan yang terakhir, kamu harus merubah sikapmu, kamu harus bersikap baik padaku."
"Akan aku pikirkan."
"Yak, kenapa begitu?"
"Terserah padaku kan."
"Kenapa begitu, kamu harus setuju dengan semua syarat yang aku berikan."
"Begini saja, aku akan bersikap baik padamu ketika ada Dhefin, Bagaimana?"
"Hm... baiklah."
'Aku akan mengerjai mu ketika aku bersama Dhefin, dan aku pastikan Dhefin tidak akan pergi dariku, hahaha.' batin Cassandra.
"Pernikahannya seminggu lagi."
"Apa?, kenapa begitu cepat?"
"Lebih cepat lebih baik."
"Tapi itu terlalu cepat."
"Jika tidak mau aku majukan jadi besok."
"Baiklah-baiklah, Minggu depan saja."
"Kamu persiapkan sendiri bagianmu, sedangkan untuk tempat, dan tamu, itu bagianku."
"Maksudnya?"
"Kamu pilih sendiri baju dan cincinnya, bawa Tomy bersamamu."
"Tidak mau, kamu harus ikut juga, yang menikah denganku itu kamu bukan Tomy."
"Baiklah, aku akan ikut jika aku tidak sibuk."
"Ya sudah aku mau pulang."
"Tunggu, kita pulang bersama saja, sekalian kita bilang kabar ini pada Dhefin, dia pasti sangat senang, dan ingat ya, kita harus berakting di depan Dhefin, jangan sampai dia curiga akan pernikahan ini."
"Baiklah itu masalah yang mudah."
Cassandra Dan Danial pun pulang bersama, mereka mengajak Dhefin untuk makan malam di luar, mereka juga berniat mengatakan tentang pernikahan itu.
"Dhefin, Ayah punya kabar gembira untukmu, Ayah rasa kamu pasti sangat senang mendengarnya."
"Kabar apa itu Ayah?"
"Apakah kamu penasaran?"
"Tentu saja."
"Baiklah, Cassandra kamu saja yang bilang."
"Dhefin, aku akan menikah dengan Ayahmu, apakah kamu setuju?"
"Aku sangat setuju, apakah itu benar?"
"Iya itu benar."
"Yey, akhirnya Cassandra akan menjadi ibuku yang sesungguhnya, aku akan membuatmu bertemu dengan teman-temanku, dan aku akan memamerkannya pada semua orang."
"Apakah kamu sesenang itu?"
"Tentu saja, aku sudah menunggunya, aku sangat ingin mempunyai seorang ibu."
"Syukurlah jika kamu senang."
"Kapan Ayah dan Mama menikah?"
"Minggu depan."
"Aku harap Ayah akan mengumumkannya di depan publik, supaya tidak ada lagi yang merayu ayah nantinya."
"Baiklah, sesuai keinginanmu pangeran ku."
Jangan lupa untuk like, komen dan vote ya.
Sampai ketemu di bab selanjutnya:)