My Wife My Maid

My Wife My Maid
Pesta 2



"Danial, lebih baik kita pulang deh."


"Kenapa?"


"Aku merasa tidak nyaman."


"Tidak nyaman kenapa?"


"Lihatlah, semua orang memperhatikan aku, dan lihat para wanita itu, seperti ingin menerkamku saja."


"Sudahlah, mereka hanya iri padamu."


"Iri padaku yang hanya pembantu ini."


"Tentu saja bukan, mereka iri karena kamu bisa ada di sebelahku."


"Emang kenapa?"


"Aku itu pemuda tampan yang kaya raya, mana ada wanita yang tidak tertarik padaku."


"Aku tidak tertarik padamu."


"Ya kecuali wanita yang seleranya rendah."


"Apa kamu bilang, bukan aku yang seleranya rendah, tapi semua wanita itu yang seleranya rendah hingga bisa suka padamu."


"Hei, kalo ngomong itu mulutnya di filter ya mbak, biar gak asal nyerocos."


"Ayah, Mama sudahlah, jangan bertengkar terus, banyak yang liat tuh."


"Tau nih Ayah kamu, emosian mulu, lagi PMS pak."


"Kamu ya..."


"Ayah, tahan dong emosinya, jika tidak lebih baik kita pulang."


"Ya sudah ayo pulang, lagian disini juga tidak menyenangkan."


Mereka bertiga hendak pulang, tapi mereka di halangi oleh Kusuma Wijaya. Ya, dia adalah ayah dari Aleena, dia menghalangi Danial karena Danial telah membuat putrinya di permalukan.


"Danial, bukankah yang harusnya berada di sampingmu itu Aleena. Siapa gadis ini."


"Terserah aku mau membawa siapa, tidak ada hubungannya denganmu."


"Tapi sepertinya kamu sudah melupakan kesepakatan kita."


"Aku tidak pernah membuat kesepakatan satupun denganmu, jadi tidak usah menghalangiku."


"Ya, itu memang benar, tapi orang tuamu sudah setuju akan pertunangan ini."


"Yang setuju adalah orang tuaku, bukan diriku, jadi kalian bertunangan dengan mereka bukan denganku."


"Terserah kamu mau mengelaknya, tapi kenyataannya, Aleena adalah tunanganmu."


"Hanya sebatas tunangan, belum tentu menjadi istriku, dan dia hanya menyandang status itu, tapi yang akan menjadi istriku bukan dia, tapi orang lain."


"Apa maksudmu?, apakah kamu berani menghina keluarga Wijaya?"


"Kapan aku menghina kalian, bukankah kalian sendiri yang meminta orang tuaku untuk menjadikan putrimu ini sebagai tunanganku, padahal orang tuaku tidak berniat untuk membuatku bertunangan, jadi dari awal yang salah adalah kalian. Jika tidak ada yang penting aku pulang dulu."


"Danial, apakah karena perempuan ini? gadis kampungan ini?, apakah kamu buta, jelas-jelas lebih cantik aku dari pada dia."


"Ayahku tidak buta, ayahku memilih perempuan yang cantik, seperti ibuku, tidak sepertimu. Cantik yang di pilih ayah bukan dari penampilan, tapi dari hati."


"Apa kamu bilang."


"Lihat saja putrimu, dia bahkan tidak bisa menahan emosinya kepada putraku di depanku, apa lagi di belakangku. Apa yang akan terjadi jika dia yang menjadi istriku, akan jadi apa putraku nantinya."


"Danial, maafkan aku, lain kali aku akan mengontrol emosiku, aku akan membuat putramu nyaman denganku, lihat saja nanti, dan kamu gadis kampung, aku harap kamu tau dimana posisimu seharusnya."


Cassandra hanya bisa terdiam, dia tidak tau ingin mengatakan apa, karena di sini dia hanya pembantu, jadi dia memang harus tau posisinya.


"Aku pergi dulu, aku harap anda tidak menghalangiku pak Wijaya."


"Baiklah silahkan."


'Ada apa dengannya?, apakah perkataan Aleena tadi menyakiti hatinya?, seharusnya dia melawan bukan, kenapa hanya diam saja.' batin Danial.


Danial tidak suka melihat Cassandra diam dan termenung, akhirnya dia mengajaknya berbicara, walaupun nantinya dia yang bakal kena marah.


"Kamu kenapa?, kesambet?"


Cassandra tidak menjawabnya, dia hanya menoleh dan mengabaikannya.


"Apakah kamu tuli, aku berbicara padamu."


Cassandra tetap saja diam dan tidak mengubis perkataan Danial.


"Apakah kamu marah padaku, jika iya kenapa kamu malah diam saja, bukankah seharusnya kamu marah-marah padaku?"


Cassandra tidak mendengarkan perkataan itu, dia hanya diam, dan menatap keluar jendela. Sesampainya di kediaman Bramantyo Cassandra langsung pergi ke kamar Dhefin, dan dia langsung pergi berganti pakaian.


'Ada apa dengannya?, apakah semarah itu hingga dia tidak ingin bicara padaku. Tapi kenapa aku malah tidak senang ya, harusnya kan aku bahagia tidak mendengar omelan nya, entahlah.'


"Mama, mama kenapa diam saja, apakah Dhefin berbuat sesuatu yang membuat mama marah, Dhefin minta maaf Ma."(sambil menangis).


"Tidak sayang, Dhefin tidak salah, Mama hanya malas saja, ya sudah kita tidur ya."


Dhefin mengangguk dan naik ke tempat tidur, mereka tidur berpelukan, sedangkan di kamar sebelah, tepatnya di kamar Danial, dia masih memikirkan apa yang membuat Cassandra terdiam.


Pagi hari


Seperti biasa, Cassandra bangun pagi, dia menyiapkan sarapan dan bekal untuk Dhefin. Danial menghampirinya, dia baru saja selesai olahraga, dan dia berniat untuk menyapa Cassandra dan menanyakan kenapa dia tidak berbicara sedikut pun.


"Cassandra, bisakah kamu membuatkan aku kopi."


Cassandra tidak menjawabnya, tapi dia langsung membuatkan Danial kopi.


"Ada apa dengan mu, kenapa kamu diam saja, bicaralah padaku, aku tidak menyukai ini."


Sama seperti tadi, Cassandra tidak berbicara dan dia malah memberikan Danial kopi.


"Oh ayolah Cassandra, bicaralah padaku, kamu membuatku frustasi."


Cassandra malah pergi meninggalkan Danial sendiri, dia pergi ke kamar Dhefin dan membangunkannya.


"Dhefin, ayo bangun sayang, waktunya pergi sekolah."


"Hm... iya Ma, Dhefin bangun nih."


Setelah berpakaian Dhefin pun pergi ke dapur, dia melihat Ayahnya yang terus memperhatikan Cassandra.


'Ada apa dengan Ayah?, kenapa dia terus memperhatikan Mama, jangan bilang Ayah mulai tertarik pada mama, tenang saja Ayah, aku akan membantumu.' batin Dhefin.


"Ini sarapanmu Dhefin, dan ini bekal untukmu."


'Tunggu-tunggu, aku tidak berhalusinasi kan, tadi Cassandra berbicara, oh astaga, baiklah aku akan mencobanya.'


"Cassandra, jangan lupa untuk mengantarkan makan siang untuk ku, dan jangan sampai telat oke."


Danial menunggu jawaban dari Cassandra, namun Cassandra tidak menjawabnya, dia langsung memberikan kode pada Dhefin supaya bertanya sesuatu pada Cassandra.


"Mama, nanti pulang sekolah kita ke taman ya."


"Tidak, kita langsung pulang."


"Hm... baiklah."


'Ada apa ini, jadi dia hanya mengabaikan ku saja, oh astaga, kenapa dia mengabaikan ku, punya salah apa aku padanya.'


Cassandra pergi untuk mengantar Dhefin ke sekolah, sedangkan Danial, dia pergi ke kantornya.


Di kantor, Danial tidak bisa fokus pada pekerjaannya, dia terus memikirkan kesalahan apa yang dia perbuat hingga membuat Cassandra mengabaikannya.


Tomy masuk ke ruangan Danial, dia melihat tuannya sedang memikirkan sesuatu, dia bingung, karena Danial tidak pernah berpikir sampai seperti itu.


'Ada apa dengan tuan, apakah terjadi sesuatu padanya?, kenapa dia sampai seperti itu, setauku perusahaan sedang baik-baik saja, entahlah, mungkin masalah pribadinya.'


Hai semua.... bagaimana ceritanya? makin serukan, jadi jangan lupa untuk like, komen dan vote ya, supaya author juga makin semangat nulisnya, salam hangat dari author untuk kalian semua:)