
Danial pun sampai di rumah sakit, dia memarkirkan mobilnya lalu pergi ke kamar inap Cassandra.
"Apakah Mama sudah datang?, aku harap begitu." kata Danial.
Danial berniat untuk masuk, tapi ada suara yang menghentikannya.
"Danial." ucap Dewo.
"Eh Paman, ada apa Paman?" kata Danial.
"Apakah kamu berniat untuk masuk ke dalam?, jika iya ayo kita masuk sama-sama." ucap Dewo.
"Baik Paman." ucap Danial.
Danial melihat barang yang di bawa oleh Dewo, dan dia tahu bahwa itu sebuah coklat. Coklat yang berbentuk hati.
'Apa yang akan dia lakukan dengan coklat itu?, apakah itu untuk Cassandra?' ucap Danial dalam hati.
Ceklek
"Eh semuanya sudah ada di sini, sepertinya aku telat." ucap Dewo.
"Tidak Paman, kamu tidak telat." ucap Cassandra.
"Bagaimana kondisi mu Cassandra?, apakah masih sakit?" tanya Dewo.
"Tidak Paman, aku sudah merasa mendingan, mungkin karena ada orang yang membawaku ke rumah sakit tepat waktu dan dia juga menjagaku semalaman." ucap Cassandra.
Semua orang pun menoleh ke arah Danial, Danial yang dilihat oleh semuanya pun merasa bingung.
"Kenapa?" tanya Danial.
"Ayah, apakah ayah tadi malam yang membawa Mama?" tanya Dhefin.
"Iya." ucap Danial cuek.
"Bisakah ayah menunduk." ucap Dhefin.
"Untuk apa?" tanya Danial, dan dia pun menunduk. Dhefin pun langsung mencium pipi Danial.
"Terimakasih Ayah, mungkin jika Ayah tidak membawa Mama, Mama pasti akan merasa kesakitan sepanjang malam." ucap Dhefin.
'Apakah tadi Dhefin menciumku?' tanya Danial pada dirinya sendiri.
"Iya sayang." ucap Danial membalas ciuman Dhefin.
"Ah iya Cassandra, aku membawakan coklat untukmu." ucap Dewo. Dan seketika Danial pun ikut menoleh kearah mereka.
"Coklat?, aku sangat menyukainya. Wah, apakah ini semua untukku?" tanya Cassandra gembira.
"Ya itu semua untukmu." ucap Dewo.
"Terimakasih Paman." ucap Cassandra.
'Apa bagusnya itu, hanya sebuah coklat saja.' ucap Danial dalam hati.
"Danial, apakah kamu tidak membawa sesuatu untuk Cassandra?." tanya Sandra.
'Jika aku memberikan ini sekarang, pasti semua orang akan mentertawaiku.' batinnya.
"Tidak." ucap Danial.
"Dasar tidak tau sopan santun, kamu itu kalau mau menjenguk seseorang harus membawa buah tangan. Bukannya datang terlambat dan gak bawa apa-apa." ucap Sandra.
"Ini juga bukan kemauanku, Mama yang menyuruhku ke sini." ucap Danial.
"Tapi setidaknya kamu bawa sesuatu." ucap Sandra.
"Ya, aku akan membawanya lain kali." ucap Danial.
"Ya sudah kalau begitu, ini sudah malam, waktunya Dhefin tidur. Mama pulang dulu, Danial, kamu di sini saja, temani Cassandra. Ini perintah, tidak ada penolakan." kata Sandra.
"Baiklah." ucap Danial.
"Tenanglah kakak ipar, aku juga akan di sini menemaninya." ucap Dewo.
"Apakah itu tidak menggangu pekerjaan mu?" tanya Sandra.
"Tidak kakak ipar, aku besok berangkat siang, jadi bisa menemani Cassandra sampai pagi." ucap Dewo.
'Idih, ngapain Paman malah di sini sih, aku kan mau ngasih gelang ini untuk Cassandra. Dasar pengganggu.' batin Danial.
"Apakah kamu keberatan Danial, jika aku ikut menemani Cassandra di sini?" tanya Dewo.
"Tentu saja tidak, bukankah lebih baik jika kamu juga di sini." ucap Danial memberikan senyum yang dia paksakan.
"Baiklah jika begitu, Mama tenang mendengarnya. Cassandra, Mama pulang dulu ya sayang, cepat sembuh, besok pagi Mama akan ke sini." ucap Sandra.
"Iya Ma..." ucap Cassandra.
"Mama pulang dulu, kalian berdua harus jagain Cassandra. Mengerti!" kata Sandra pada Danial dan Dewo.
"Ya Ma..." ucap Danial.
Sandra dan Dhefin pergi meninggalkan Cassandra, dia sebenarnya ingin sekali merawat Cassandra, tapi dia tidak bisa membiarkan Dhefin sendirian di rumah.
Jam menunjukkan pukul 10 malam, Cassandra sudah siap untuk tidur, tapi tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi telfon.
"Maaf ya, sepertinya aku tidak bisa menginap di sini, besok pagi ada rapat di kampus, jadi aku harus berangkat pagi-pagi sekali." kata Dewo.
"Tak apa Paman, lagian di sini juga masih ada Danial." ucap Cassandra.
"Baiklah kalau begitu. Danial, aku titip Cassandra, jangan tinggalkan dia, mengerti?" ucap Dewo.
'Titip dia katanya, emang dia sapanya Cassandra. Pacar juga bukan.' ucap Danial dalam hati.
"Ya, pergilah." ucap Danial.
Dewo pun pergi, tinggal Cassandra dan Danial saja. Cassandra sudah menutup matanya, karena dia merasa mengantuk sekali.
"Cassandra, apakah kamu tidur?" ucap Danial.
"Hampir." kata Cassandra.
"Bisakah kamu bangun, sebentar saja." kata Danial.
Danial yang bingung ingin mengatakannya pun hanya diam, dia memikirkan kata-kata yang tepat, tapi dia tidak menemukannya. Cassandra menunggu Danial dari tadi, namun Danial tidak kunjung bereaksi sama sekali.
'Kenapa dia diam saja, jangan bilang dia mengerjai ku.' ucap Cassandra dalam hati.
Tiba-tiba Cassandra merasakan ada sesuatu di tangannya, dan dia pun memutuskan untuk membuka matanya, dan betapa terkejutnya dia.
"Ini...." ucap Cassandra.
"Itu sebagai ucapan maaf dan terimakasih ku padamu. Maaf sudah menyakiti hati mu, dan terimakasih, kamu mau Merawat Dhefin meskipun aku menyakitimu." ucap Danial.
"Aku memaafkanmu, dan untuk Dhefin, aku sudah menganggapnya seperti anak ku sendiri. Kamu tidak perlu memberikan aku hadiah." ucap Cassandra.
"Ya aku tau itu, itu hanya gelang murahan, jika kamu tidak suka kamu bisa membuangnya." ucap Danial.
"Tentu saja tidak akan aku buang, kamu memberikan ini tulus kepadaku, jadi aku tidak akan pernah membuangnya. Dan walaupun ini bukan barang berharga, tapi arti di balik gelang ini sangat berharga bagiku." ucap Cassandra.
"Apakah kamu menerimanya?" ucap Danial.
"Tentu saja." ucap Cassandra.
"Aku senang mendengarnya." kata Danial.
Tiba-tiba telfon Danial pun berbunyi.
"Halo." ucap Danial.
"Sayang, kamu dimana?. Kenapa belum pulang juga, aku takut di rumah sendirian." ucap Rayna.
"Aku sedang di rumah sakit, aku menjaga Cassandra, dia sendiri di sini." ucap Danial sambil menoleh ke arah Cassandra.
"Apa?, kamu memilih untuk menemaninya dan membiarkan aku tinggal sendirian di rumah." ucap Rayna marah.
"Bukankah di situ masih ada bibik, dan di sana juga ada bodyguard ku. Jadi kamu tidak sendirian." kata Danial.
"Jadi kamu menyuruhku untuk tinggal bersama mereka. Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus pulang, sekarang juga!" ucap Rayna.
"Huh... baiklah." ucap Danial.
Danial menutup teleponnya dan pergi ke arah Cassandra.
"Maaf Cassandra, aku harus pulang. Rayna sedang menunggu ku, apakah kamu tidak apa-apa aku tinggal?" ucap Danial.
"Ya tak apa. Pergilah, dia pasti menunggumu." ucap Cassandra.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik, besok pagi aku akan ke sini, selamat malam Cassandra." ucap Danial, dan dia pun pergi.
"Tidak bisakah aku senang, baru saja aku bahagia bersama Danial, dan sekarang aku pun di tinggalkan." ucap Cassandra. "Sudahlah, lebih baik aku tidur." lanjutnya.
Danial pergi dari rumah sakit, tapi sebelum itu, dia menitipkan Cassandra pada suster yang hpnya dia lempar.
"Sus, tolong jaga dia ya. Bisakah kamu menjaganya?" tanya Danial.
"Tentu saja pak, sudah tugas kami merawat dan menjaga pasien, bapak tidak perlu khawatir." ucap suster itu.
"Baiklah, jika terjadi sesuatu, kamu bisa menelfon ku. Ini kartu namaku." ucap Danial.
"Baik pak." ucap suster itu.
Beberapa jam kemudian
Seseorang masuk ke kamar Cassandra dengan diam-diam, dia tidak sendiri. Di samping jendela ada temannya yang menggunakannya dari luar.
"Ayo kita bawa dia." ucap pria 1.
"Apakah di luar aman?" ucap pria ke2.
"Aman, ayo cepetan sebelum ada yang lihat." ucap pria 1.
Lelaki itu pun membawa Cassandra, namun Cassandra terbangun karena ada yang mengganggu tidurnya.
"Diam gadis kecil." ucap pria ke 2.
Cassandra memberontak dan berteriak, namun dengan lihainya, pria itu membekap mulutnya, dan setelah itu dia pun pingsan.
Suster yang mendengar keributan di kamar Cassandra pun memutuskan untuk mengeceknya, dan betapa terkejutnya dia melihat tempat tidur Cassandra kosong.
"Astaga, kemana gadis itu?, apakah dia di culik?" ucap suster itu. "Aku harus memberi tahu tuan Danial." lanjutnya.
Danial sedang tertidur bersama Rayna, dia terbangun karena mendengar bunyi telepon.
"Siapa sayang?" tanya Rayna.
"Tidak tau, nomernya tidak dikenal. Mungkin saja suster tadi." ucap Danial.
Danial pun mengangkat telfonnya.
"Siapa?" tanya Danial.
"Tu... tuan, ini saya, suster yang menjaga nona Cassandra." ucap Sunter itu.
"Ya ada apa?" tanya Danial.
"Dia.... dia di culik tuan." ucap suster itu takut.
"APA?, bagaimana mungkin. Apakah kamu tidak menjaganya?. Sialan." ucap Danial marah. "Baiklah, tunggu aku, aku akan segera ke sana." lanjut Danial.
Danial mematikan telfonnya dan bangun bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
"Ada apa sayang?" tanya Rayna.
"Cassandra, dia di culik. Aku harus ke sana." ucap Danial khawatir.
"Apa?, bagaimana bisa?" ucap Rayna dramatis.
"Aku juga tidak tau, kamu tidurlah, jangan takut oke." ucap Danial.
"Baiklah, hati-hati sayang." ucap Rayna.
Danial pun pergi dengan kecepatan tinggi, dia sudah sangat khawatir, karena kondisi Cassandra masih belum sembuh.
"Hahaha, sepertinya rencana ku berhasil." ucap Rayna.
Hai, jangan lupa untuk, like komen dan vote ya. Jangan lupa untuk follow akun Instagram author ya @Fafawilona. See you👋