My Wife My Maid

My Wife My Maid
Taman Bermain



Pagi hari


Dhefin mengajak Danial dan Cassandra untuk pergi ke taman bermain, Cassandra sebenarnya ingin menolak, tapi melihat tatapan mata Dhefin, dia jadi tidak bisa menolaknya.





Mereka pun sampai di taman bermain, Dhefin sudah turun terlebih dahulu, dia sudah tidak sabar untuk mencoba semua wahana itu. Danial hendak turun, tapi dia melihat Cassandra yang masih diam di tempatnya.


"Ada apa?, ayo turun, kalau tidak aku kunci dari luar."


"Itu ide yang bagus, aku akan tunggu di mobil."


"Apakah kamu gila." Danial yang tidak sabar pun langsung menarik Cassandra keluar.


"Ih... gak usah tarik-tarik juga kalik."


"Suruh sapa kamu diem di situ, lihat tu, Dhefin udah gak sabar pen main, lah kamu malah diem aja di situ."


"Bisakah Aku disini saja, aku akan jagain mobil kalian, bagaimana?"


"Kamu itu babysister nya Dhefin, bukan mobil."


"Tap-tapi...."


"Sudahlah, ayo."


Mereka pun pergi untuk menaiki wahana, Dhefin terlihat sangat senang sekali, dan Danial pun yang melihatnya juga begitu, mereka berdua terlihat sangat bahagia, terkecuali Cassandra.


"Ma, kita naik itu yuk."


"Dhefin, ini sudah siang, kita makan dulu ya."


"Tapi Ma, Dhefin ingin naik itu."


"Nanti kita main lagi, oke."


"Iya Dhefin, nanti kita lanjut lagi, sekarang waktunya kita makan."


"Baiklah."


Mereka mencari tempat makan di area itu, mereka tidak sempat membawa bekal karena tidak terencana sebelumnya, jadi mereka langsung pergi takut keburu kesiangan.


"Mau makan dimana?"


"Aku juga tidak tau, Dhefin mau makan apa sayang?"


"Dhefin pengen makan ayam goreng Ma."


"Ya sudah ayo kita pergi ke restoran cepat saji aja."


Mereka makan dengan tenang, setelah selesai makan Dhefin mengajak mereka untuk main lagi, namun Cassandra menolaknya.


"Ayo kita lanjut."


"Dhefin main sama Ayah saja ya."


"Tidak, Dhefin pengen main sama Mama."


"Tapi Mama sudah capek, mama istirahat dulu ya."


"Sudahlah, biarkan saja Cassandra istirahat, kita lanjut main oke."


"Hem... baiklah." ucap Dhefin tidak senang.


Danial sebenarnya tidak ingin melihat Dhefin murung, tapi apalah daya, Cassandra bilang bahwa dia capek, jadi dia tidak bisa menyuruhnya untuk ikut bermain, dan terpaksa hanya mereka berdua yang melanjutkan menaiki wahana.


Dhefin yang tadinya murung sekarang malah tertawa terbahak-bahak, dia sangat senang bisa menaiki semua wahana yang dia inginkan.


"Ayah, Mama dimana?"


"Ada di restoran itu mungkin."


"Ayo kita samperin yah."


"Oke."


Danial dan Dhefin pun pergi ke restoran itu, namun Cassandra tidak ada di sana, mereka juga menanyakan pada pelayan di sana, dan mereka bilang bahwa Cassandra baru saja pergi.


"Ayah, Mama pergi ke mana, Dhefin takut jika Mama nantinya tidak balik lagi."


"Tenang Dhefin, ayah telfon Cassandra dulu ya."


(Ditelefon)


"Cassandra, dimana kamu?"


"Aku sedang mencari mu, kalian dimana?"


"Kita di restoran yang tadi."


"Oke aku ke sana."


Cassandra menuju restoran, tadinya dia berniat untuk menyusul Danial dan Dhefin, eh ternyata mereka malah menjemputnya.


"Mama, Mama kemana saja."


"Maaf sayang, tadi Mama berniat untuk mencari kalian, ternyata kalian malah yang mencari Mama, maaf ya."


"Dhefin pikir Mama bakal ninggalin Dhefin."


"Tentu saja tidak sayang."


"Ya sudah, ayo kita pulang."


"Tidak, aku dengar tadi kalau hari ini hari terakhir, jadi mereka merayakan pesta kembang api."


"Benarkah, ya sudah kalau begitu, kita jalan-jalan dulu."


Malam hari


Mereka menunggu pesta kembang api, dan katanya lebih indah jika melihatnya di atas bianglala, Dhefin berniat untuk mengatakannya pada Mamanya, karena itu pasti akan indah sekali.


"Mama, kita naik bianglala yok."


"Apa?, tidak Dhefin, kita tidak akan naik itu."


"Tapi kenapa Ma... mereka bilang pasti sangat bagus jika kita melihatnya dari atas bianglala."


"Ta-tapi Dhefin."


"Ayo."


Danial tidak mau mendengar penolakan dari Cassandra, dia langsung menarik tangan Cassandra untuk naik bianglala.


"Tung-tunggu dulu, bagaimana jika kalian saja yang naik oke."


"Tidak, Dhefin maunya kita bertiga naik bersama."


"Ta-tapi Dhefin, Mama-"


"Ayo naik, aku sudah memesan tiketnya."


"Aku tidak ikut."


"Mama..."


"Maaf Dhefin tapi Mama tidak bisa." (ucapnya lembut.)


"Tapi Dhefin ingin seperti teman Dhefin, dia naik bianglala bersama kedua orang tuanya, sedangkan Dhefin."


Cassandra tidak bisa menolak Dhefin, terlebih lagi jika dia sudah berbicara seperti itu, tapi Cassandra tidak bisa menaikinya karena....


"Baiklah, ayo kita naik."


Mereka naik bianglala bersama, Cassandra sudah pucat, dia bukan takut ketinggian, namun ada hal lain, Dhefin sangat senang dapat naik bianglala bersama Ayah dan Mamanya, ya walaupun Cassandra bukan ibu aslinya, tapi bagi Dhefin dialah ibunya.


Danial dari tadi memperhatikan wajah Cassandra, dia bingung kenapa dari tadi dia tidak ingin naik ini, dan sekarang wajah Cassandra juga pucat.


"Apakah kamu baik-baik saja?"


"Ya."


"Lalu kenapa wajahmu pucat?"


"Tak apa."


"Apakah kamu takut ketinggian?"


"Tentu saja tidak."


"Lalu kenapa-"


Ucapan Danial terhenti, itu karena Cassandra tiba-tiba pingsan, dia sangat bingung apa yang akan dia lakukan, dia langsung meminta petugas bianglala untuk menghentikannya, dia langsung keluar dengan menggendong Cassandra ala bridal style.


"Cassandra, Cassandra ayo bangun."


Tidak ada pergerakan dari Cassandra, danial pun meletakkan Cassandra di kursi belakang bersama Dhefin, Dhefin sudah menangis dari tadi, dia tidak ingin Mama kenapa-kenapa.


"Mama, ayo bangun, Dhefin takut Mama, ayo buka mata Mama." ucap Dhefin sambil menangis.


"Cassandra, buka matamu, jangan bikin kita khawatir." Danial yang ikut khawatir pun melaju dengan kencang menuju rumah sakit, dia tidak ingin jika sesuatu terjadi pada Cassandra, karena hanya Cassandra lah yang bisa meluluhkan hati Dhefin.


'Cassandra, aku harap kamu tidak apa-apa, jangan sampai kamu membuat Dhefin kecewa, aku tidak akan pernah memaafkanmu.' batin Danial.


Danial pun memarkirkan mobilnya, dia langsung menggendong Cassandra menuju rumah sakit, dia berteriak memanggil dokter disana, dokter yang kenal dengan Danial pun langsung menyuruhnya untuk meletakkan Cassandra di bangsal, mereka langsung menangani Cassandra.


Cassandra berada di ruang UGD, Dhefin menangis sejadi-jadinya, dia sangat sedih melihat Cassandra seperti itu, Danial yang melihatnya sampai tidak tega, dia memeluk Dhefin supaya dia merasa lebih tenang.


'Cassandra, jangan sampai kamu kenapa-kenapa, apakah kamu tega melihat Dhefin seperti ini, jika kamu baik-baik saja, aku akan sedikit lebih lembut padamu, jadi jangan sampai terjadi sesuatu padamu.' batin Danial.


Hai guys, gimana ceritanya?, eh BTW Cassandra kenapa ya.... ayo tebak, kenapa Cassandra bisa pingsan?


Jawab di kolom komentar ya see you 👋