
Cassandra dan Bima telah keluar dari perusahaan Bramantyo, mereka hendak masuk ke mobilnya, tapi sayangnya ada seseorang yang memegang tangan Cassandra.
"Apakah Mama akan pergi lagi?, Mama sudah tidak sayang lagi ya sama Dhefin?. Dhefin tau Dhefin nakal, tapi Dhefin tidak ingin Mama pergi, Dhefin ingin Mama terus berada di Sampang Dhefin, jika mana pergi tolong bawa Dhefin bersama Mama.' ucap Dhefin pilu.
Cassandra yang tidak tega mendengar perkataan Dhefin pun hanya bisa duduk menyamakan tingginya dengan Dhefin, kemudian dia memeluknya.
"Mana mungkin Mama melupakan anak Mama satu-satunya ini, Mama pergi juga karena satu alasan Dhefin, dan Mama juga tidak mungkin membawamu, Mama bukanlah keluarga mu, jika Mama membawamu itu sama saja dengan Mama menculik anak orang. Apakah Dhefin ingin Mama masuk penjara?" tanya Cassandra pada Dhefin.
"Tidak, Dhefin tidak ingin Mama masuk penjara, tapi Dhefin juga tidak ingin Mama pergi hiks.... hiks..." ucap Dhefin dan air matanya pun mengalir.
"Suuuut sudahlah, Mama tau Dhefin hanya ingin tinggal bersama Mama, tapi keadaannya membuat kita tidak dapat bersama. Mama juga sangat ingin tinggal bersama Dhefin, tapi mau bagaimana lagi, kita tidak akan bisa seperti dulu." kata Cassandra.
"Kenapa Ma, kenapa kita tidak bisa seperti dulu?" ucap Dhefin.
"Mama masih tidak bisa kembali seperti dulu, mama masih takut, dan terlebih orang yang Mama cintai bahkan tidak menganggap Mama sama sekali." ucap Cassandra.
Yah, Cassandra tidak tau bahwa Danial mengalami amnesia, yang dia tau Danial telah mengabaikannya selama ini, bahkan dia bertindak seakan-akan dia tidak pernah kenal dengan Cassandra. Itu sakit, sangat sakit, bayangkan saja orang yang kalian sayang dengan sepenuh hati tiba-tiba melupakan kalian, sakit bukan?. Itulah yang Cassandra rasakan.
"Baiklah, Dhefin mengerti. Tapi bisakah Mama nanti datang ke rumah Dhefin?" tanya Dhefin.
"Mama tidak tau Dhefin." ucap Cassandra.
"Tenang saja Ma, Dhefin bakal bantuin Mama, Dhefin akan menutupi identitas Mama yang sebenarnya, jadi Mama tidak perlu khawatir tentang masalah itu." ucap Dhefin meyakinkan Cassandra.
"Baiklah, Mama akan datang." ucap Cassandra dengan senyuman yang indah.
"Dhefin akan menunggu Mama di rumah, sampai jumpa nanti malam Mama." ucap Dhefin kemudian dia pun melambaikan tangannya pada Cassandra.
Cassandra pun pergi ke rumah Bima, ternyata di depan rumah Bima sudah ada sahabatnya yang tengah menunggu dirinya di sana.
"Hai Cassy." ucap Emily.
"Halo juga Emy, apakah kamu menunggu ku dari tadi?" tanya Cassandra.
"Tidak, baru saja aku sampai." kata Emily.
"Kalau begitu masuklah, kita bicara di dalam." ajak Cassandra.
"Lebih baik kalian bicara di kamar Cassandra, bukankah kalian ingin mencurahkan isi hati masing-masing, aku akan pergi ke rumah sakit terlebih dahulu." ucap Bima.
"Baiklah Bim, dan ya jangan terlalu capek, kamu itu seorang dokter, bukankah aneh jika kamu sakit nantinya." ucap Cassandra pada Bima.
"Bukankah aku memilikimu yang akan menjaga dan merawatku?" ucap Bima.
"Yah, kamu memang benar, tapi tetap saja kamu harus menjaga dirimu." ucap Cassandra.
"Baiklah-baiklah, sekarang aku akan pergi, jika tidak kamu pasti akan terus menceramahi ku." ucap Bima kemudian dia pun pergi.
"Hei, apa kamu mengatakan aku cerewet, Bima... apakah kamu mendengar perkataanku." teriak Cassandra pada Bima, tapi sayangnya Bima menutup kupingnya seakan-akan mengisyaratkan bahwa dia tidak mendengar perkataan Cassandra.
"Hahaha, sudahlah, lebih baik kita masuk. Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan padamu." kara Emily.
Mereka berdua pergi ke kamar Cassandra, Cassandra sangat penasaran dengan apa yang akan sahabatnya ini ceritakan.
"Nanti malam ada acara keluarga di rumah keluarga Bramantyo, dan aku di undang." ucap Emily.
"Benarkah itu?, aku juga di undang." kata Cassandra.
"Apa kamu menerimanya?" tanya Emily.
"Aku ingin menolak, tapi Dhefin memintaku untuk datang." kata Cassandra.
"Apakah kamu sudah melupakan hal yang lalu?" tanya Emily.
"Tidak, aku tidak bisa melupakan hal itu, itu terus saja menghantui pikiranku." ucap Cassandra.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Emily.
"Bukankah kamu bilang kamu akan datang ke sana, jadi aku akan meminta sedikit bantuan dari mu, apakah kamu mau?" tanya Cassandra.
"Tentu saja, apa yang bisa aku bantu?" ucap Emily.
"Bantu aku menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya, panggil aku dengan sebutan Putri, dan kamu harus bertingkah seolah-olah kita tidak saling kenal, mengerti?" ucap Cassandra.
"Siap, aku mengerti." ucap Emily.
"Lalu apa masalahmu?" tanya Cassandra.
"Aku... aku sudah mulai berpacaran dengan kak Dewo, tapi aku selalu merasa tidak pantas jika bersamanya." ucap Emily.
"Tidak pantas gimana?" ucap Cassandra bingung.
"Yah, bukankah kamu tau, aku hanya gadis biasa, wajahku juga pas-pasan. Aku merasa tidak cocok jika bersamanya." kata Emily.
"Apakah Paman sendiri yang mengatakan hal itu padamu?" tanya Cassandra.
"Tidak." kata Emily.
"Lalu bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu?" kata Cassandra.
"Hanya perasaanku saja." ucap Emily.
"Emy, kamu tidak perlu berpikir seperti itu, Paman bukanlah pria yang menilai seseorang dari penampilannya, tapi dia menilai seseorang dari hatinya, bukankah kalian sudah berpacaran, berarti paman sudah menerimamu, menerima semua kekurangan dan kelebihan mu." kata Cassandra.
"Tapi..." ucap Emily terhenti.
"Sudahlah jangan pikirkan hal itu, yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana membuat paman terkesan dengan penampilan mu nanti." ucap Cassandra.
"Kamu benar Cassy, lebih baik sekarang kita shoping, aku sudah sangat rindu berbelanja dengan mu." kata Emily.
"Baiklah." ucap Cassandra.
'Sepertinya dia akan memborong semua pakaian yang dia lihat untukku, dan aku akan menjadi manekin nantinya, yang harus mencoba semua baju-baju yang dia suka.' ucap Cassandra dalam hati.
Hai semuanya, jangan lupa untuk terus vote novel author ini ya. Dan terimakasih buat yang sudah vote novel author, see you again 👋